Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 24 Pesta Kemenangan


__ADS_3

Leonard memelukku dengan erat hingga napasnya yang hangat terasa di ceruk leherku yang terbuka, serindu inikah dia padaku? Ah... Ini benar-benar pelukan Leonard dan akupun juga merindukannya.


"Maaf, karena aku tidak menghadiri parade penyambutanmu." Ucapku dengan sangat menyesal. Aku yakin dia pasti sanhat kecewa.


"Tidak perlu kau pikirkan hal itu." Ujarnya tanpa melepaskan pelukannya. Ternyata dia tidak marah, mungkin selama empat tahun kami berpisah dia sudah tumbuh dewasa.


"Emm.... Leonard, bisakah kamu melepaskan pelukanmu?" Pintaku karena lama-lama ini terasa gerah.


Leonard akhirnya melepaskanku dan langsung membalik tubuhku untuk menghadapnya. Dia mengamatiku sesaat lalu memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan entah apa maksudnya.


"Padahal akulah yang berjuang keras hingga hampir mati, tapi mengapa kamu yang jatuh sakit?" Ujarnya dengan mengerutkan dahinya.


"Hmm... Wajahmu sudah lebih baik dari sebelumnya meski masih sedikit pucat." Lanjutnya dan itu langsung membuatku curiga.


"Tunggu dulu! Apa maksud kamu dengan sebelumnya?" Tanyaku.


"Eng...itu anu..." Leonard terlihat bingung dan salah tingkah. Ah, tidak salah lagi!


"Jadi yang waktu itu kamu? Kenapa kamu pegang-pegang wajahku di saat aku sedang tidur?!" Tuduhku langsung tanpa basa-basi.


"Ka kamu bicara apa sih? Aku gak ngerti." Leonard langsung mengelak dengan tergagap dan gelagat seperti orang yang sedang berbohong. Dia pikir aku tidak tahu itu? Kami kan sudah hidup bersama cukup lama, tentu aku tahu betul bagaimana gelagat dia jika sedang berbohong. Dia benar-benar tidak pandai berbohong di depanku.


"Jangan pura-pura tidak tahu, waktu aku sakit kamu diam-diam datang ke kamarku di malam hari karena khawatir kan?" Tanpa ba bi bu lagi aku lanhsung menyerang ke intinya dan karena terkejut dia langsung mengelak.


"Enggak kok!!" Dia mengelak dan tidak mengakuinya karena malu. Lihatlah telinganya menjadi merah dengan wajah yang salah tingkah. Hohoho... Sudah sebesar ini dia maaih saja malu-malu padahal jika aku tidak sakit kami pasti sudah berbagi tempat tidur yang sama. Meski sampai saat ini kami belum pernah melakukan 'apa-apa' sih...


"Tapi Louisse, apakah kamu benaran sudah sembuh? Lalu kenapa kamu memakai riasan yang tidak cocok denganmu? Ini sangat tebal sampai melekat di telapak tanganku." Tanyanta seraya memandangi telapak tangannya. Apa segitu tebalnya Anne memakaikan bedak ke wajahku sampai bisa menempel di tangan Leonard? Membuatku malu saja.


"Ini sih buka wajahmu yang pucat melainkan bedakmu yang terlalu tebal." Ungkapnya yang lagi-lagi membuatku malu.


"Aku memakai bedak yang tebal itu untuk menutupi pucatku! Tahu apa kamu tentang riasan wanita?!" Seruku dengan sebal dan juga malu.


"Astaga... Jangan marah-marah dulu, sebaiknya kamu perbaiki lagi riasanmu karena itu sudah luntur." Kata Leonard yang membuatku langsung terdiam. Kalau dipikir-pikir tadi aku habis menangis, pasti ini luntur karena itu.


"Sebaiknya pakai riasan yang natural saja." Tambahnya lagi.


"Aku kan sudah bilang ini untuk menutupi wajahku yang pucat!" Leonard masih saja membuatku sebal tapi masih saja menggodaku!


"Justru lebih bagus tanpa riasan." Gumamnya yang masih bisa aku dengar. Dan...apakah itu maksudnya wajahku lebih cantik tanpa riasan? Maaf, tapi itu omong kosong.


Beberapa saat setelah aku memperbaiki riasanku, akhirnya kami berdua memasuki gedung pesta. Sudah banyak tamu yang datang dan pandangan mereka padaku ketika kami masuk itu sangat menggangguku. Tatapan mencemooh mereka membuatku tidak nyaman. Seolah mengatakan 'Ah itu Pangeran yang pulang membawa prestasi setelah berperang dan wanita yang sebentar lagi akan diceraikannya', bukankah ini rumor yang menarik bagi mereka?

__ADS_1


"Leonard..."


"Ya..."


"Bukankah sudah lama kamu tidak jadi pasanganku di pesta seperti saat ini?" Ucapku sambil terus berjalan menggamit lengannya.


"Iya juga sih..." Jawab Leonard.


Sekedar informasi saja, selama Leonard tidak ada di istana empat tahun belakangan ini jika ada acara resmi Oscar lah yang menggantikannya untuk pasanganku. Itu karena Leonard yang meminta Oscar untuk menjagaku selama dia tidak ada. Dan untungnya Oscar belum memiliki tunangan.


Lalu tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Leonard.


"Pangeran..."


Dan kamipun berbalik. Di sana aku melihat empat orang dengan pakaian kesatria sedang tersenyum pada Leonard dan salah satu dari mereka wajahnya tidak asing bagiku. Julian de Aswan, salah satu orang kepercayaan Leonard dan tiga orang lainnya pasti kesatria yang dekat juga dengan Leonard.


"Ah, kalian semua ada di sini padahal kemari kalian bilang tidak akan datang." Ucap Leonard ketika melihat mereka.


Julian yang melihatku langsung menunduk hormat, sedangkan lainnya terlihat bingung.


"Wahh... Anda benar-benar terlihat seperti Pangeran jika berpenampilan rapi seperti ini hehe..." Celetuk lelaki berambut merah sambil tertawa.


"Apakah kau tak tahu Red? Jika ucapan yang barusan itu bisa dianggap sebagai penghinaan anggota Kekaisaran." Ujar Leonard yang aku rasa hanya bercanda saja.


"Tapi Yang Mulia, siapa wanita yang datang bersama anda itu?" Tanya salah satu lelaki yang terlihat lebih dewasa diantara mereka berempat.


"Oh, kalian pasti belum pernah melihatnya. Dia adalah Louisse de Eliador, istriku." Jawab Leonard memperkenalkanku.


"Ah jadi ini... Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda." Sapanya dengan hormat tapi dengan ekspresi yang kurang suka, bahkan tidak ada senyum basa-basi yang dia perlihatkan. Fix!! Orang ini tidak suka denganku.


"Senang juga bertemu denganmu." Balasku dengan senyum palsu yang biasa aku gunakan di hadapan orang-orang yang bersikap palsu juga padaku.


"Dia itu Putri? Aku kira dia tidak akan datang karena waktu parade penyambutan dia kan tidak hadir." Tanya orang yang bernama Red itu pada salah satu temannya yang terlihat cukup muda diantara mereka.


"Sepertinya dia merasa tidak enak hati jika tidak datang juga di pesta kemenangan." Jawab kesatria muda itu.


Astaga... Apa orang yang bernama Red dan kesatria kecil itu bodoh? Mereka berkata seperti itu seakan aku tidak bisa mendengarnya. Aku benar-benar terkesan buruk di mata mereka.


"Ah saya tiba-tiba jadi teringat kejadian sembilan tahun yang lalu. Waktu itu Yang Mulia Pangeran membatalkan janji dengan kami dan pergi begitu saja dengan terburu-buru." Ucap pria paling dewasa sambil tersenyum smirk menggoda Leonard.


"Ah, saya baru ingat! Jadi Tuan Putri adalah anak perempuan yang digandeng Yang Mulia waktu itu!" Seru Red tiba-tiba.

__ADS_1


Apa yang dimaksud mereka adalah ketika aku dan Leonard pergi diam-diam ke luar istana ketika kami masih kecil dulu? Itukan waktu awal-awal kami baru menikah.


"Jadi waktu itu kalian semua melihatnya? Kenapa kalian tidak pernah cerita dan pura-pura tidak tahu?!" Seru Leonard yang sepertinya malu karena diledek oleh teman-teman kesatrianya.


"Maaf Pangeran, karena waktu itu anda terlihat menggemaskan haha..." Ucap si pria besar.


"Diam kau Rodrego!!"


Ohh... Nama lelaki besar paling dewasa itu Rodrego. Hmm... Akan aku ingat.


"Iya, iya baiklah... Saya tidak akan membicarakan cerita itu lagi." Ujar Rodrego sambil tersenyum.


Melihat Leonard yang bisa bersikap apa adanya di hadapan mereka, tak salah lagi jika hubungan mereka cukuplah dekat. Ya... Mereka kan sudah saling mengenal sejak Leonard masih kecil.


"Oh iya, ada sesuatu hal yang penting yang harus kami bahas dengan anda Yang Mulia, bisakah anda meluangkan waktu?" Ucap Rodrego.


"Ah, tunggu sebentar... Louisse, apa tidak apa-apa jika aku tinggal sebentar?" Tanya Leonard padaku.


"Kamu pikir aku masih anak-anak? Jangan khawatir, pergilah... Aku akan menunggu di sini." Jawabku.


"Ya sudah, tunggulah di sini sebentar, aku akan segera kembali." Pamit Leonard padaku.


"Iya, iya..." Sahutku sambil melambaikan tangan.


Meskipun aku bilang untuk tidak khawatir sebenarnya aku merasa tidak nyaman jika harus sendiri, itu karena tatapan orang-orang padaku dan suara bisik-bisik mereka yang membicarakanku. Tapi aku kan tidak bisa menahan Leonard yang sedanga ada urusan penting. Jadi untuk sementara aku harus bisa bertahan sampai Leonard kembali.


"Lebih baik aku makan saja, kebetulan perutku sedang lapar."


Akupun mengambil beberapa kue dan dessert untuk aku makan. Namun saat aku sedang mengunyah makananku yang pertama sebuah suara yang tidak asing menyapaku.


"Kakak kenapa di sini sendirian? Orang-orang akan menganggap kakak menyedihkan lho..."


"Oscar?!"


POV Louisse off...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2