
Keesokan harinya pada waktu tengah malam...
Vianty terlihat berjalan menuruni anak tangga yang menuju ke sebuah lorong yang gelap. Dia berjalan hanya dengan bantuan lampu minyak yang dibawa oleh seorang pelayan pria sebagai pemandu jalannya. Jika dilihat-lihat tempat tersebut sangat mirip dengan ruang rahasia. Vianty yang dipandu oleh pelayan pria itu akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun disana cukup terang karena pencahayaan lampu yang dipasang di sana. Hanua terdapat satu meja dan tiga kursi di dalam sana seakan kursi tersebut sudah dihitung sesuai jumlah orang yang akan datang ke sana.
"Tolong anda tunggu sebentar di sini lady." Ucap pelayan itu dengan sopan. Hanya dengan mengangguk Vianty lalu duduk disalah satu kursi di tempat itu sementara si pelayan pergi entah kemana. Matanya melihat di sekeliling tempat itu.
"Tidak aku sangka ada ruang rahasia seperti ini yang terhubung langsung ke istana ke bagian luar." Gumam Vianty takjub.
Tidak lama kemudian terdengar derap langkah kaki yang mendekat ke tempat Vianty menunggu. Rupanya seseorang ia tunggu akan segera datang.
"Maaf, apa anda menunggu terlalu lama lady Zacard?" Sebuah suara membuat Vianty berdiri dari tempat duduknya.
"Lama tidak bertemu Pangeran Pertama, saya juga baru saja sampai." Vianty menjawabnya dengan sangat sopan, ternyata seseorang yang dia tunggu adalah Pangeran Pertama Eliador, Leonard.
"Aku juga minta maaf harus memanggilmu di tempat seperti ini, semua ini ku lakukan karena terlalu banyak mata yang mengawasi di istana." Ucap Leonard.
"Awalnya saya juga terkejut, palig tidak anda mengirim surat terlebih dahulu jika ingin membuat kesepakatan dengan saya. Tapi sepertinya anda tahu jika saya menyukai hal menarik seperti ini. Kalau begitu saya akan mendengarkan dulu inti pembicaraan ini terlebih dahulu." Ucapan Vianty itu mungkin terdengar seperti orang yang sedang protes, namun sebenarnya dia menyukai cara Leonard yang seperti itu karena sudah lama dia tidak melakukan hal-hal menarik seperti itu.
"Tentu saja, namun yang akan menjelaskannya adalah... "
"Saya yang akan menjelaskannya."
Ucapan Lenard terpotong dan dilanjutkan oleh Louisse yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Leonard dengan senyum cerianya.
Lalu sebebarnya apa yang terjadi? Mengapa mereka sampai harus bertemu di ruang rahasia istana Pangeran Pertama?
Flashback pagi tadi....
Leonard sedang menemui Louisse di istananya.
"Apa?! Kamu akan menjadikan Redian yang baru saja aku pecat sebagai pengawal istanamu?" Tanya Leonard tak percaya.
"He'em." Jawab Louisse santai.
"Tapi Red kan sudah menuduhmu..."
"Aku akan memberinya kesempatan." Louisse langsung memotong kata-kata Leonard.
"Bukankah...lebih banyak pengawal yang setia padaku itu akan lebih baik? Ya... Meski untuk sementara sir Redian harus menjadi pelayan di istanaku terlebih dahulu sebagai hukumannya." Lanjut Louisse dengan senyum ceria seperti biasanya.
__ADS_1
Leonard terdiam sesaat menatap Louisse dengan pandangan yang tampak cemas.
"Apa terjadi sesuatu? Ini tidak seperti kamu yang biasanya. Kenapa kamu begitu serius seperti ini?" Tanya Leonard penuh rasa cemas.
Louisse tersenyum lalu mendekati Leonard.
"Leonard... Bukankah aku selalu bilang ingin melihatmu menjadi Kaisar kan? Mulai saat ini aku akan serius membantumu agar kamu dapat menduduki kursi pewaris tahta." Ucap Louisse sembari menatap lurus ke mata Leonard.
Flashback off...
Kembali kesaat ini...
"Jadi pertemuan ini Yang Mulia Putri lah yang mengaturnya?" Tanya Vianty sedikit terkehut, dia tidak menyangka jika Louisse lah yang ingin menemuinya.
"Iya, itu benar." Jawab Louisse.
"Saya jadi lebih penasaran dengan apa yang anda inginkan." Ucap Vianty sambil tersenyum seakan menantikan hal menarik apa yang akan dia dapatkan dari Louisse.
"Kami berdua ingin bersekutu dengan keluarga Zacard." Jawab Louisse dengan mimik wajah yang serius. Dan benar saja, itu membuat Vianty terkejut, dia tidak menduga dengan apa yang ia dengar barusan dari Louisse.
"Sesuai yang kita ketahui, kita sama-sama tidak ingin menikah. Namun saya membutuhkan bantuan dari Duke Zacard untuk mendapatkan hak pewarisan tahta." Jelas Leonard pada Vianty.
"Saya masih ingat anda pernah berkata dengan saya jika anda ingin memiliki kekuasaan anda sendiri tanpa ada siapapun yang mampu merampasnya. Jika anda bersekutu dengan kami, kami akan membantu anda untuk mewarisi posisi Duchess secara legal." Jawab Louisse secara gamblang, dan lagi-lagi jawaban Louisse itu kembali membuat Vianty terkejut.
"Maksud anda... Apa mungkin anda akan memberlakukan hukum waris gelar bangsawan untuk wanita?" Tanya Vianty memastikan dugaannya.
"Iya, benar." Jawab Louisse membenarkannya.
Vianty terdiam seakan memikirkan sesuatu, dalam hatinya bertanya-tanya apakah itu bisa dilakukan? Hingga dia mengingat akan sesuatu.
"Mengubah Hukum... Aku jadi teringat kata-kata Tuan Putri di hari perlombaan berburu. Beliau mengatakan hal yang sama mengenai mengubah hukum. Dan karena itu aku jadi memikirkan bagaimana caranya melakukan itu?" Kata Vianty dalam pikirannya.
Kemudian Vianty tersenyum smirk ketika kembali melihat Louisse yang dengan serius menunggu jawabannya.
"Anda selalu mengejutkan saya Tuan Putri." Ujar Vianty sambil tersenyum.
"Eh?" Louisse terlihat sedikit bingung dengan reaksi Vianty.
"Ini sungguh tawaran yang menarik. Saya juga selalu memikirkan tentang mengubah hukum. Terlebih jika kerjasama ini dilakukan bersama Yang Mulia Putri pasti akan lebih seru." Ucap Vianty dengan mood yang terlihat bagus di wajah berserinya.
__ADS_1
"Jangan lupa denganku juga." Sela Leonard sambil melirik ke arah Vianty dengan wajah datarnya.
"Ya, tentu saja dengan Yang Mulia Pangeran juga." Sahut Vianty datar.
Vianty kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Louisse.
"Saya berjanji, jika saya berhasil mewarisi gelar dan menjadi Duchess maka keluarga Zacard akan setia berpihak pada kalian." Ucap Vianty mengucapkan janjinya sambil membungkuk hormat dengan tangan kanan menyilang di dadanya. Layaknya kesatria yang mengambil sumpah setia, itu sungguh mengejutkan Louisse.
"Aku lega dengan jawaban anda lady, berarti sekarang kita menaiki kapal yang sama." Ucap Louisse.
"Lalu Yang Mulia Putri pasti tahu untuk merancang undang-undang yang baru kita memerlukan biaya yang lumayan banyak. Jadi saya harap anda bisa membantu jalannya usaha bisnis saya. Saya suka dengan gaun yang anda pakai di pesta saya waktu itu, jadi saya berharap anda untuk sering-sering datang ke butik saya untuk memberikan ide model gaun, hohoho..." Pinta Vianty yang tidak ingin membuang kesempatan untuk jalan bisnisnya.
"Tentu dengan senang hati jika itu bisa membatu anda lady." Jawab Louisse.
"Tapi Louisse... Kamu kan tidak harus melakukannya sejauh itu." Kata Leonard sambil berbisik. Dia sedikit keberatan dengan permintaan Vianty yang telah disanggupi Louisse.
"Justru bagus kan memberinya rawaran satu kali lagi agar Vianty tetap berada dipihak kita." Jawab Louisse dengan berbisik pula. Dan Leonard tidak akan bisa membantah jika Louisse sudah memutuskan.
"Maaf, apa ada masalah?" Tanya Vianty yang melihat sepasang suami istri itu tengah berbisik di hadapannya.
"Tentu saja tidak, kami berdua akan membantu anda." Jawab Louisse segera.
"Kalau begitu jika anda ingin berkunjung di butik saya, saya akan mengirimkan kereta kuda yang mewah dan nyaman untuk anda. Saya sungguh tidak sabar dengan kerjasama kita, hohoho...." Kata Vianty dengan tawa penuh semangat.
"Dengan berakhirnya kesepakatan ini, bagaimana jika pertemuan kali ini kita akhiri dengan upacara sumpah? Meski ini tidak resmi tapi saya sudah menyiapkan bunga Lili ungu sebagai simbol." Ucap Louisse sambil mengambil bunga Lili ungu yang tadi ditinggalkan pelayan untuknya di balik dinding pintu penghubung. Di Kekaisaran Eliador, bunga Lili ungu digunakan untuk simbol upacara sumpah.
Mereka berdiri saling berhadapan dan masing-masung memegang bunga Lili ungu di tangan mereka. Lalu mereka mengatakan sumpah mereka untuk mewujudkan keinginan masing-masing. Leonard yang ingin menjadi Kaisar untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya. Vianty yang ingin menjadi Duchess Zacard untuk memperoleh kekuasaannya sendiri dan Louisse yang ingin hidup sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka bertiga mengatakan keinginan masing-masih dalam hati mereka dengan sangat tulus.
"Mulai saat ini kami barsumpah akan saling membantu satu sama lain dengan sungguh-sungguh demi mewujudkan tujuan dan keinginan kami masing-masing." Ucap Louisse memimpin ikrar sumpah mereka bertiga.
Dan saat itulah sejarah Kekaisaran Eliador dimasa mendatang dimulai dari tempat itu.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1