
"Astaga!!" Saking terkejutnya Leonard tidak bisa mengeluarkan suaranya dan hanya mampu berteriak dalam hati. Dirinya langsung bangkit dari tempat tidur, lalu menyingkir swjauh maungkin dari ranjang Louisse, namun matanya masih tertuju pada Louisse yang masih terlelap. "Semoga Louisse tidak bangun dulu." Pikirnya.
"Padahal kemarin aku cuma berniat untuk rebahan sebentar saja, tapi malah ketiduran dan parahnya bisa-bisanya aku ketiduran sampai pagi..!!" Dalam hatinya Leonard jadi panik sendiri. Lalu sedetik kemudian ada sesuatu yang aneh menurut Leonard... Matanya terbelelak kaget melihat apa yang ia temukan.
"Tapi... Mengapa Louisse memakai pijama ya? Bukankan kemarin dia memakai..." Leonard menjeda apa yang sedang ia pikirkan dan menatap keadaan dirinya sendiri yang juatru menambah kepanikannya.
"Ugh... Kenapa tiba-tiba dingin? Lho.. Bajuku?!" Leonard terkejut karena kancing bajunya sudah terlepas semua sehingga dadanya yang bidang itu terlihat sempurna. Hal itu membuat pikirannya traveling kemana-mana. Dan kejadian tadi sebenarnya tadi malam yang tidak diketahui oleh Leonard adalah...
POV Louisse:
Malam itu Louisse yang terbangun sudah mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan pijama.
"Sepertinya dia tidak akan nyaman tidur seperti itu." Gumam Louisse yang melihat Leonard tertidur dengan pakainan kerja yang masih lengkap itu terlihat sesak.
"Setidaknya aku harus melepaskan semua kancingnya dulu." Dengan pikirannya itu Louisse langsung melepas kancing baju Leonard yang tertidur pulas.
POV Louisse Off...
Kembali ke suasana di kamar Louisse saat ini....
"Saat ini pertama-tama yang harus aku lakukan adalah keluar dulu dari sini!" Gumam Leonard dan langsung mengendap-endap membuka pintu kamar Louisse dengan sangat pelan. Leonard membuka sedikit pintu kamar Louisse dan diam-diam melihat ke sekelilingnya dahulu, berharap tidak ada seorang pun yang akan menyadari jika dia baru saja keluar dari kamar Louisse. Sekiranya semuanya aman dan mengira tidak ada seorangpun dari para pelayan yang ada di sana yang menyadari kebedadaannya, Leonard pun keluar dari kamar istrinya secepat mungkin. Namun masih beberapa langkah terdengar sebuah suara yang memanggilnya.... Dia adalah Redian yang sedang bekerja bersih-bersih di istana Putri.
"Lho... Yang Mulia kenapa bisa di sini? Mengapa anda keluar dari kamar Yang Mulia Put..." Belum sampai Redian menyelesaikan ucapannya, Leonard langsung menjitak kepalanya dengan keras dan lekas berlari begitu saja karena malu.
"Aduhh..!!" Teriak Redian kesakitan sambil memegang pucuk kepalanya yang benjol.
__ADS_1
"Ck.ck.ck... Seharusnya anda diam saja dan pura-pura tidak melihatnya." Celetuk Anne yang diangguki oleh Chlara dan para pelayan yang ada di sana, sebenarnya semua orang di sana melihat Leonard namun semuanya pura-pura tak melihatnya. Tapi beda dengan Redian si pria tidak peka.
Satu jam setelah kejadian itu, Louisse yang sudah bangun dari tidurnya kini sedang berias di kamarkanya dibantu oleh Anne, Chlara, Titi dan Luna.
"Tadi itu Yang Mulia Pangeran keluar dari kamar Yang Mulia Putri dengan wajah yang memerah. Kami tidak menyangka jika Yang Mulia Pangeran akan tidur di kamar Yang Mulia Putri padahal tadi malam kan bukan jadwalnya 'Kencan Malam'... " Celoteh Chlara yang sangat antusias menceritakan kejadian tadi pagi yang membuat istana Putri gempar.
"Sudah aku katakan jika apa yang kalian pikirkan itu tidak benar." Louisse menyangkalnya karena memang benar apa yang dipikrkan para pelayannya itu tidaklah benar. Mereka semua pasti sudah membayangkan adekan romantis terjadi di kamar Louisse.
"Kalian kan tidak tahu betapa polosnya Leonard..." Kata hati Louisse.
"Tapi sayangnya sir Redian tidak peka sama sekali. Seharusnya sir Redian pura-pura saja tidak melihat sehingga Yang Mulia Pangeran bisa pergi secara diam-diam." Ungkap Anne yang sedikit geram dengan ketidak pekaan Redian.
"Memangnya ada alasan lain kenapa Yang Mulia Pangeran Pertama keluar dari kamar Yang Mulia Putri? Seharusnya hal seperti itu tidak perlu ditanyakan lagi kan?!" Ujar Chlara yang ikut kesal dengan Redian.
"Itu benar. Aku sama sekali tidak suka dengan lelaki yang tidak peka!" Titi pun ikut meluapkan kekesalannya.
Dan akhirnya terjadilah pembicaraan antar perempuan yang saling membicarakan tentang kebribadian para kesatria Pangeran diantara para pelayan pribadi Louisse di sana.
"Dibandingkan sir Redian, sir Edmund lebih baik. Hanya dengan melihat wajahnya saja, hati saya jadi bisa tenang. Demi sir Edmund yang suka sekali makanan manis, saya jadi mempunyai hobby membuat kue." Ungkap Chlara dengan mata berbinar saat bercerita tentang Edmund.
"Ah... Kalau diingat-ingat sir Edmund selalu membawa kue di kantongnya, apa mungkin itu..." Louisse bari menyadari jika Edmund selalu memakan kue yang entah dari mana dimanapun dia berada diwaktu senggang, bahkan diwaktu bekerjapun dia masih sempat nyemil kikis yang dia bawa.
"Astaga... Ternyata Putri Louisse tidak tahu ya? Para pelayan wanita selalu memberikan makanan, terutama yang manis-manis setiap melihat sir Edmund. Karena kami ikut senang bila melihat sir Edmund senang." Tambah Chlara lagi yang tak henti-hentinya membicarakan Edmund.
"Ah... Rupanya begitu, aku baru tahu itu sekarang." Sahut Louisse menanggapinya sambil tersenyum geli melihat Chlara yang begitu menyukai Edmund.
__ADS_1
"Karena sudah membahas kesatria Pangeran Pertama, saya jadi teringat ini... Sir Rodrego juga tidak kalah keren. Ini terjadi ketika Yang Mulia Putri mengutus saya ke istana Pangeran Kedua... Waktu itu saya tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayangan Yang Mulia Pangeran Kedua. Beliau sangat marah pada waktu itu. Melihat saya yang ketakutan, sir Rodrego yang kebetulan pergi bersama saya justru bilang jika dialah yang memecahkan vas bunganya dan akhirnya sir Rodrego lah yang kena omel Pangeran Kedua." Ungkap Titi yang kini menceritakan tentang kebaikan Rodrego.
"Kalau masalah kebaikan, saya rasa sir Julian juga orang yang baik. Waktu itu saya tidak sengaja melihat sir Julian yang sedang memberi makan kucing liar yang ada di sekitar istana. Saya kira beliau asalah irang yang dingin, ternyata beliau mempunyai sisi yang hangat juga seperti itu." Luna pun tidak mau kalah bercerita tentang kehangatan Julian yang dia lihat. Setelah itu mengalirlah cerita-cerita yang lain tentang para laki-laki populer yang ada di istana...
"Kalau masalah kehangatan hati, Yang Mulia Pangeran Kedua tidak boleh ketinggalan... Dan tuan Doha yang bekerja di istana Pangeran Kedua pun demikian." Kata Anne menimpali.
"Ya, istana Pangeran Kedua memang tempat yang hangat." Sahut Luna yang setuju akan hal itu, demikian juga pemikiran para pelayan yang lainnya.
"Ternyata semuanya sangat populer ya... Aku jadi penasaran siapa diantara mereka yang paling populer. Aha! Aku jadi punya ide..!!" Ujar Louisse dalam hatinya dengan senyum yang mengembang. Terberesit ide gila di otak kecilnya.
"Bagaimana kalau kita juga melakukan pemungutan suara?" Kata Louisse memulai aksinya.
"Pemungutan suara??" Para pelayan pun membeo tak mengerti.
"Iya, pemungutan suara siapakan yang lelaki yang paling populer di istana? Kan tidak ada hukum yang mengatakan tidak boleh melakukan pemungutan suara selain di sidang Dewan Legislatif..." Jawab Louisse sambil tersenyum senang.
"Jadi... Siapakah lelaki yang paling populer di istana? Pasti seru..!!" Batin Louisse dengan senyum jahilnya.
Sementara di istana Putri sedang merencanakan hal yang menyenangkan... Lain halnya di istana Pangeran Pertama di waktu yang sama saat ini Leonard masih kepikiran apa yang sebenarnya terjadi di kamar Louisse. Leonard sampai menderita memikirkan hal itu dan tidak bisa berkonsenterasi bekerja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...