
Dukk!!
Tiba-tiba segelas bir mendarat tepat di depan antara Louisse dan Asrahan membuat keduanya terkejut. Dan itu adalah ulah Leonard.
"Hei... Lawanmu itu adalah aku!" Kata Leonard dengan tatapan tajamnya, dia tidak suka jika ada pria lain yang tertarik dengan istrinya.
"Maksudmu kamu menantangku minum? Aku ini sangat kuat minum, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Asrahan sambil tersenyum mengejek.
"Kamu akan menyesal karena meremehkanku." Sahut Leonard sengit. Dia sangat kesal karena sudah diremehkan.
"Haddaahh... Dia selalu kekanakan dan tidak mau kalah." Batin Louisse sambil tepok jidat jika sudah melihat Leonard yang seprti itu.
Dan setelah beberapa jam Louisse menunggu Asrahan dan Leonard berduel minum, mata Louisse yang sudah mengantukpun tidak bisa dipertahakan. Dia terus saja menguap dan para lelaki itu masih saling bertahan untuk sadar dari minuman.
"Huaam... Aku sudah ngantuk banget nih, mataku sudah tidak kuat. Aku pergi tidur duluan ya...!" Pamit Louisse seraya bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan dua lelaki yang sudah berniat mabuk itu.
"Ah, baiklah..." Sahut Asrahan sambil melambaikan tangannya ke Louisse.
"Leonard sudah bertekat untuk mengalahkan Asrahan, padahal dia kan paling lemah kalau disuruh minum alkohol. Dasar keras kepala dan sok kuat..!" Batin Louisse sambil geleng-geleng kepala meninggalkan keduanya.
Dan setelah kepergian Louisse ke kamarnya, kini hanya tinggal Asrahan dan Leonard di dalam bar itu. Sudah sangat larut waktu itu dan semua pengunjung sudah pulang atau kembali ke kamar penginapan masing-masing di sana.
"Kamu sungguh tidak apa-apa?" Tanya Asrahan pada Leonard, dia khawatir Leonard sudah memaksakan diri karena sangat terlihat jelas pangeran tampan itu sudah sangat mabuk.
__ADS_1
"Tentu saja." Jawab Leonard dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Meski sudah sangat mabuk Leonard tidak akan pernah menarik ucapannya.
"Tidak! Kamu tidak baik-baik saja. Sebaiknya kamu minum air ini dulu..!" Ujar Asrahan sambil menyodorkan segelas air putih untuk Leonard agar dia sedikit lebih baik. Namun bukannya mengambil gelas yang berisi air itu, Leonard malah fokus pada gambar bunga yang ada di gelas itu.
"Bunga itu... Ah, benar! Louisse kan bilang jika bunga Sweet Pea tumbuh di desa ini." Batin Leonard yang teringat akan kata-kata Louisse saat mereka baru saja tiba ke desa itu. Louisse mengatakan... " Katanya bunga Sweet Pea ungu hanya tumbuh di desa ini. Bunga itu memiliki harum yang enak dan juga cantik. Aku harap aku bisa melihatnya nanti, karena di ibu kota kan tidak ada." Itu kata-kata Louisse yang diingat Leonard tadi.
"Kau! Kau pasti tahu kan dimana bunga Sweet Pea ungu tumbuh? Tolong antarkan aku ke sana!" Ujar Leonard tiba-tiba pada Asrahan.
"Hehh?? Kenapa tiba-tiba bunga? Susah mencarinya malam-malam begini, mending bes... "
"Ya sudah kalau kamu gak bisa, aku akan cari sendiri..!" Potong Leonard yang langsung beranjak dari duduknya lalau tiba-tiba berlari ke arah pintu keluar.
"Hei sebentar... Tunggu..!!" Teriak Asrahan yang panik melihat Leonard tiba-tiba berlari keluar dalam keadaan mabuk.
Dan keesokan harinya...
"Apakah Leonard masih tidur ya? Tadi malam kan dia minum bir begitu banyak." Pikir Louisse yang kini tengah berada di depan kamar penginapan Leonard. Namun ketika Louisse hendak mengetuk pintu kamar tersebut, ternyata pintu yang tidak terkunci dan tertutup sempurna itu terbuka sendiri karena sedikit tersentuh tangan Louisse.
"Eh?? Pintunya tidak dikunci..?" Batin Louisse. akhirnya tanpa ragu Louisse masuk ke dalam kamar Leonard. Dan dia agak terkejut ketika melihat suatu pemandangan yang terlihat di dalam sana. Namun sedetik kemudian bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Jika dilihat seperti ini, mereka berdua terlihat sangat akrab." Ujar Louisse dalam hati. Bibirnya tersenyum melihat Leonard yang tertidur pulas dengan Asrahan yang juga tertidur di sampingnya. Lalu, Louisse kembali terkejut melihat Leonard yang tertidur sambil memegang sebuah bunga cantik berwarna ungu.
"Ah, pantas saja kamar ini begitu harum dan segar. Bunga Sweet Pea ungu. Ternyata dia masih ingat apa yang aku katakan kemarin." Batin Louisse sambil tersenyum menatap pangeran tidur dengan seikat bunga Sweet Pea ungu di tangannya.
__ADS_1
Hati Louisse begitu bahagia saat itu, karena di sana dia bisa berbuat apa saja sesuka hatinya tanpa harus memperdulikan pandangan orang lain. Karena di sana bukan istana dan dia kini hanya berperan sebagai orang biasa tanpa jabatan apapun.
"Yah... Karena hari ini jadwal kami kosong, jadi aku akan membiarkannya tidur lebih lama." Pikir Louisse yang kemudian keluar dari kamar meninggalkan Leonard dan Asrahan yang masih terlelap.
Beberapa jam kemudian, Leonard terjaga dalam tidurnya karena merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya namun dia masih belum mau membuka matanya.
"Tiba-tiba kok berat ya? Ah, situasinya sama seperti... Jangan bilang aku ketiduran di kamar Louisse lagi! Huff, tenang... Jangan sampai aku lari lagi seperti waktu itu. Aku harus bersikap lebih lembut..." Batin Leonard yang kini sudah begitu gugup tidak karuan. Lalu dengan perlahan dia membuka matanya dan melirik ke arah samping tempat tidurnya. Namun setelah kesadarannya benar-benar kembali, sedetik kemudian dia langsung menendang seseorang yang tidur di sampingnya hingga orang itu terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras. Maka keributanpun terjadi...
*Gdebukk...!!
Gubraakk*..!!
Suara itu terdengar sampai ke lantai bawah di mana di sana Louisse sedang duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Ahh... Ternyata mereka sudah bangun." Gumam Louisse dengan santainya sambil menyeruput teh hangatnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1