Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 80 Rahasia Yang Mulai Terkuak


__ADS_3

Saat ini di istana Bulan Ratu Media...


"Ibu dengar sudah satu bulan ini kamu menolak untuk masuk ke kelas suksesi. Kekeras kepalaanmu itu mau sampai kapan?" Tanya Media pada Oscar yang saat itu sengaja dia panggil ke istananya.


"Saya kan sudah mengatakan berulang-ulang kali bahwa saya tidak ada niat untuk menduduki tahta!" Jawab Oscar dengan tegas.


"Meskipun keputusan yang kamu ambil bisa membahayakan nyawamu?" Tanya Media lagi.


"Hah, lagi-lagi soal itu!" Batin Oscar dengan geram.


"Akan selalu ada pertumbuhan darah di setiap pergantian tahta... Ibu yakin kamu pasti sudah tahu itu. Dan bila kamu tidak bisa menjadi Kaisar selanjutnya, ibu tidak bisa menjamin keselamatan hidupmu." Ujar Media pada Oscar.


"Jangan katakan itu ibu! Baik saya ataupun kakak tidak menginginkan adanya perkelahian politi!" Seru Oscar yang begitu geram dengan sikap ibunya saat ini.


"kakakmu mungkin berpikir demikian, tapi apakah pemikiran para bangsawan itu juga sama?" Tanya Media berusaha mempengaruhi pendirian Oscar.


"para bangsawan itu bisa menyingkirkanmu kapan saja bila kakakmau naik tahta." Lanjut Media yang masih terus memprofokasi Oscar.


Oscar terdiam mendengar ucapan ibunya.


"Coba kamu pikirkan baik-baik... Siapa yang menyayangimu dengan tulus, dan siapa yang akan selalu berada di pihakmu sampai akhir?" Kata Media yang berharap putra satu-satunya itu merubah pendiriannya dan kembali menurut padanya.


"Huhh..! Dasar bocah ini, terlalu baik. Jika aku tidak bisa menjadi ibu dari seorang Kaisar dan terpaksa dikurung di istana terbengkalai, keluarga Willhem pasti akan mengabaikan kami. Meskipun Ian adalah kepela keluarga Willhem saat ini, namun posisinya itu belum stabil. Ck, kenapa anakku satu-satunya yang aku harapkan tidak paham sama sekali jika untuk bertahan hidup di istana ini maka dia harus serakah?!" Gerutu Media dalam hati. Dia saat ini sangat pusing memikirkan kekeraskepalaan Oscar serta nasibnya dan juga nasib adiknya kedepan.


"Sampai di sini saja hari ini. Pergilah!!" Perintah Media pada anaknya. Kepalanya akan terasa semakin meledak jika terus berdebat dengan Oscar yang semakin hari semakin membangkang.

__ADS_1


Lalu tanpa satu katapun yang terucap, Oscar langsung meninggalkan ruangan ibunya di istana Ratu. Dan saat ia keluar dari sana, tanpa sengaja Oscar berpapasan dengan pamannya, Marquess Ian de Willhem.


"Lama tidak bertemu Yang Mulia Pangeran..." Sapa Ian dengan hormat pada Oscar.


"Marquess Willhem..!" Dalam hatinya Oscar sedikit terkejut karena berpapasan dengan pamannya.


"Ha, hallo paman... Anda pasti ingin bertemu dengan ibu kan? Kalau begitu saya pamit dulu karena masih banyak hal yang harus saya kerjakan." Balas Oscar begitu canggung dan mencoba mencari alasan untuk menghindari pamannya itu. Namu sepertinya Ian tidak mengindahkan ucapan Oscar dan malah berjalan semakin dekat ke arah Oscar dengan wajah mengintimidasi.


"Ah, maaf paman... Ruang kerja ibu ada di sebelah sana." Ucap Oscar yang entah kenapa tiba-tiba merasakan atmosfir di sekitarnya terasa tidak enak.


"Ugh, kenapa dia terus mendekat sih?!" Tanya Oscar dalam hati.


"Yang Mulia Pangeran... Ternyata anda adalah orang yang cinta perdamaian ya? Meskipun anda sengaja menghindari kelas suksesi karena tidak ingin bersaing dengan kakak anda, tapi seharusnya anda tahu jika itu bisa mengancam keberadaan Ratu. Oleh sebab itu, anda tidak akan mengumumkan mundur dari suksesi tahta juga kan? Jika anda bersikeras melakukannya, pada akhirnya anda tidak akan bisa melindungi siapa-siapa. Tolong camkan ini..!! Apapun pilihan anda, saya hanya akan mematuhi perintah Ratu. Permisi..." Ian pergi beitu saja setelah memperingatkan Oscar.


"Aku juga tahu, bila suatu saat nanti perdamaian ini akan berakhir... Tapi apakah tidak ada acara agar semua orang bisa benar-benar hidup dengan damai?" Oscar bertanya-tanya dalam hatinya.


...****************...


Sementara itu di desa Bonex setelah Louisse dan Leonard bersama Asrahan sedang berbincang serius setelah mereka bertiga selesai membantu pertemuan Marcus dan Zenit.


"Sesuai perjanjian aku akan menceritakan yang aku tahu tentang Doha Hyperion." Kata Asrahan.


"Kalian pasti sudah tahu jika wilayah ini adalah wilayah kekuasaan Marquess Willhem kan? Beberapa tahun yang lalu sebelum Ian De Willhem yang menjadi Marquess saat ini mewarisi gelarnya, dia datang bersama Oskar ke desa ini dan menyediakan tempat tinggal untuknya. Orang-orang di desa ini tidak ada yang mengenal Oscar Hyperion karena di sini dia dikenal dengan nama George." Teeang Asrahan memberikan informasi.


"Berarti... Nama yang dipakainya saat ini adalah nama palsu?" Tanya Louisse menerka-nerka.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja... Karena setelah Ian mewarisi gelar gelar keluarganya, dia membawa masuk Doha ke kediaman Willhem dan saat itulah dia berganti nama dari George menjadi Doha Hyperion dan selalu melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Marquess Willhem saat ini." Jawab Asrahan sesuai kenyataan yang ia ketahui.


"Hanya sampai situ saja yang aku ketahui. Aku tidak tahu kenapa kalian menanyakan tentang Doha, tapi saranku lebih baik kalian menyelidiki kediaman keluarga Willhem secara langsung untuk mengetahui info jelasnya tentang Doha." Saran Doha pada mereka berdua.


"Ada sebuah rahasia yang sejak lama mereka pendam di sana. Mungkin saja itu ada hubungannya." Lanjut Asrahan dengan setengah berbisik.


Louisse sedikit terkejut dengan ucapan Asrahan barusan.


"Dia bicara seperti itu seakan dia tahu persis keadaan di dalam kediaman Willhem, seperti dia sudah menyelidikinya sendiri." Batin Louisse curiga.


"Apakah tidak ada yang kamu ketahui tentang rahasia itu?" Tanya Leonard.


"Maaf, aku tidak tahu karena aku hanya mendengarnya dari rumor yang beredar." Jawab Asrahan.


"Aha! Ada satu hal lagi yang aku ingat. Ada rumor yang mengatakan jika Ian membawa Doha dari istana Kaisar." Kata Doha setelah mengingat sesuatu tentang Doha.


"Istana Kaisar?!" Seru Louisse dan Leonard berasamaan. Mereka berdua sangat terkejut dengan informasi yang Asrahan baru saja dia katakan.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2