Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 28 Kunjungan Vianty Ke Istana Putri


__ADS_3

POV Louisse...


Setelah kejadian di padang bunga itu aku tidak dapat bertemu dengan Leonard sama sekali seolah dia sedang menghindariku. Ini sudah hampir seminggu kami tidak bertemu satu sama lain. Huuaaa...! Ini sungguh membuatku frustasi!


Selama ini kami memang sering bertengkar tapi itu hanyalah pertengkaran kecil yang tidak berarti apa-apa. Aku tidak mengerti kenapa Leonard sampai menunjukkan reaksi yang seperti itu. Tatapannya seolah menunjukkan bahwa dia begitu sangat terluka. Sebenarnya apa yang salah? Mungkinkah aku melewatkan sesuatu yang aku lupakan? Sebaiknya aku melihat buku diary ku saja untuk mengecek jalan ceritanya, mungkin memang benar ada yang terlewatkan.


Nah ini dia!


Ini mungkin dari luar hanya terlihat seperti buku kecil berwarna coklat yang biasanya untuk menulis catatan atau diary. Tapi ini sebenarnya adalah cerita novel aslinya yang aku tulis ulang sejak aku terbangun dan menyadari dimana serta sebagai apa aku ini di dunia ini. Aku menulisnya sesuai dengan ingatanku dari kehidupanku sebelumnya agar nantinya aku tidak lupa. Dan aku menulisnya dengan menggunakan bahasa dari dunia asalku agar tidak ada yang mengerti jika ada yang membukanya tanpa sengaja.


Coba aku baca lagi... Sesuai cerita novel Louisse yang merupakan tokoh antagonis akan menerima hukuman mati setelah Leonard kemabali dari medan perang. Karena aku yang di sini adalah orang yang baik hal itu tidak terjadi, aku mencoba menjadi teman Leonard selama hampir sepuluh tahun ini untuk menghindari kematianku yang tidak elegan. Dan sepertinya masa itu sudah terlewat, aku aman. Dan hal yang akan terjadi selanjutnya ialah Leonard yang akan menggulingkan Ratu dengan bantuan Duke Zacard. Untuk mewujudkan hal itu dia harus menikahi putri Duke Zacard yaitu Vianty de Zacard.


Maka dari itu seharusnya dia bersyukur karena aku yang membahas soal perceraian terlebih dahulu kan? Dia itu kenapa sih?!! Kau bilang tidak akan menikah dengan Vianty?? Memangnya kau tidak ingin jadi Kaisar?!!


"Dasar Leonard bodoh!!"


Ah... Apa gunanya aku memaki orang yang tidak ada di sini? Haahhh....


Oh! Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kembalinya Leonard setahun lebih awal dari jalan cerita aslinya? Menurut catatanku di sini Leonard menikahi Vianty disaat umurnya dua puluh tiga tahun. Apakah pembahasan soal perceraian terlalu cepat bagi Leonard?


Itu berarti... Waktuku di istana ini untuk melihat dan bermain dengan Leonard masih lama?


Tok...tok..tok...


"Maaf Yang Mulia... Ada tamu yang ingin bertemu anda."


Suara ketukan dan suara Anne dari luar ruang kerjaku mebuyarkan semua pikiranku saat ini.


"Huhh... Siapa yang datang dijam segini sih?!" Gerutuku.


...****************...


Setelah melihat siapa yang datang ternyata itu adalah Vianty. Sungguh panjang umur dia, baru saja beberapa saat yang lalu aku memikirnya dan sekarang orangnya sudah ada di hadapanku.


"Hoho... Saya tidak menyangka lady Zacard akan berkunjung ke istana saya." Ini hanya basa-basi dan sisanya aku memang penasaran tujuannya datang kemari.


"Saya baru saja berkunjung ke istana Permaisuri dan saya teringat Tuan Putri ketika perjalanan kembali, jadi saya putuskan untuk mampir. Bukankah ada sesuatu yang harus kita bicarakan Yang Mulia?" Terang Vianty dengan pertanyaan yang sudah aku tahu apa maksud dan tujuannya.


"Hmm... Saya rasa begitu." Jawabku sedikit canggung.


Jika kedatangannya ke sini untuk memintaku menceraikan Leonard tentu saja aku pasti akan mengabulkannya...


"Saya tidak bisa menikah dengan Pangeran Pertama."


"Tantu saja... Ha??! Apa?!!" Aku begitu terkejut dengan pernyataan Vianty barusan. Apa mungkin karena Vianty tidak enak denganku?

__ADS_1


"Jika anda berpikir itu karena saya tidak enak dengan anda maka anda salah Yang Mulia." Ujar Vianty seakan dia bisa membaca pikiranku.


"Pangeran menolak langsung rencana pernikahan itu." Ujarnya lagi yang membuatku terkejut.


"Apa?!!"


"Ah, ternyata Yang Mulia Putri benar-benar tidak mengetahuinya, saya kira Pangeran Pertama sudah memberitahu anda." Ucap Vianty lagi. Kalau diingat-ingat lagi waktu itu Leonard sudah mengatakannya tapi aku kira waktu itu dia tidak serius mengatakannya. Apa Leonard khawatir aku tidak bisa hidup dengan baik setelah perceraian kami?


"Yang Mulia tidak perlu memikirkan yang bukan-bukan." Ucap Vianty dengan santai.


"Saya tudak memikirkan apa-apa!" Seruku kesal. Ya ampun... Aku rasa dia itu sebenarnya cenayang.


"Itu karena terlihat jelas di wajah anda. Lagi pula saya memang tidak ingin menikah dengan pangeran, maka dari itu saya bersyukur Yang Mulia Pangeran langsung menolaknya." Ungkapnya lagi yang membuatku bertanya dalam hati, kenapa?


"Apa anda tidak ingin menjadi Ratu?" Tanyaku padanya.


"Astaga Yang Mulia... Kenapa anda bertanya demikian sedangkan Yang Mulia Kaisar masih hidup? Itu pertanyaan yang sarkas." Sahutnya.


"Ini bukan candaan lady Zacard." Tegurku tegas.


"Baiklah... Apa anda tahu jika Yang Mulia Kaisar bisa naik tahta setelah menggulingkan Yang Mulia Kaisar yang terdahulu? Beliau juga mengasingkan para selir-selir Kaisar terdahulu di sudut istana yang terbengkalai dan menghabisi seluruh saudaranya." Ujarnya.


"Ya, aku tahu cerita soal itu, makanya Media ingin sekali Oscar menduduki tahta selanjutnya untuk bertahan hidup." Batinku.


"Saya tidak ingin mengorbankan diri saya sendiri dalam posisi itu. Saya tidak ingin menggantungkan hidup dengan berharap pada Kaisar baru yang belum pasti akan lahir atau tidak. Karena yang saya inginkan adalah kekuasaan saya sendiri tanpa bergantung pada suami yang mungkin menjadi penghalang bagi impian saya." Ungkapnya tanpa memikirkan bahwa akulah yang akan berada dalam bahaya nantinya.


"Saya ingin orang-orang memandang saya karena kemampuan saya sendiri, bukan karena suami atau anak saya kelak." Tambah Vianty yang masih saja nyerocos tanpa mendenagrkan ucapanku.


"Bukankah Yang Mulia Putri juga tahu saya orangnya seperti itu?" Lanjutnya.


"Iya, tapi... Apa tujuan anda mengatakan semua ini pada saya?" Tanyaku padanya.


"Saya hanya ingin memberitahu anda langsung jika saya benar-benar tidak ada niatan untuk menikahi Pangeran Pertama, jadi silahkan ini anda pergunakan untuk melindungi posisi anda." Jawabnya dengan paras yang tersenyum.


Sepertinya dia beranggapan jika aku tidak ingin bercerai dari Leonard.


"Asal anda tahu, saya ingin hidup tenang dan damai dengan uang kompensasi yang saya terima setelah bercerai. Dan saya tidak ingin jadi Ratu meski kesempatan itu diberikan pada saya! Jadi tolong anda tawaran hal itu pada lady bangsawan lainnya!" Aku sudah benar-benar kesal! Bisa-bisanya dia melemparkan tanggung jawabnya padaku untuk hidupnya yang damai. Aku kan juga ingin seperti itu!


"Ya ampun... Anda sangat menggemaskan walau sedang marah." Sahutnya sambil tersenyum. Apa barusan dia mengejekku? Menggemaskan? Memangnya aku bayi?!


"Siapa yang marah?! Saya hanya ingin istirahat, jadi tolong anda pulang sekarang!"


"Hoho... Baiklah Yang Mulia, sampai jupa lagi..."


"Jangan!! Jangan datang lagi!! Kau membuatku frustasi!!"

__ADS_1


.


.


POV Louisse off...


...****************...


Beberapa saat setelah kunjungannya ke istana Putri, Vianty akhirnya sampai juga di kediamannya. Kediaman keluarga Duke Zacard. Saat memasuki rumahnya tanpa sengaja dia berpapasan dengan Arnold, kakak sepupunya yang kebetulan sedang berada di rumahnya.


"Ah, ternyata kamu sudah pulang Vianty..." Sapa Arnold.


"Kakak ada di sini? Apa kakak baru bertemu dengan ayah?" Tanya Vianty.


"Iya, paman menyuruhku datang karena katanya ada yang ingin dibicarakan." Jawab Arnold.


"Syukurlah sebelum pulang aku bisa bertemu denganmu." Lanjutnya.


"Apa itu mengenai Yang Mulia Pangeran Pertama?" Tebak Vianty langsung.


"Iya, Paman mengusulkan bagaimana jika beliau mengumumkan aku sebagai penerus Duke Zacard selanjutnya setelah kamu menikah dengan Pangeran Pertama." Ungkap Arnold tanpa memikirkan bagaimana perasaan Vianty saat ini.


"Aku sudah menduganya, bahwa selama ini kakak tidak pernah berpikir jika aku juga menginginkan gelar tersebut." Ucap Vianty dalam hatinya. Dia merasa terluka dan juga kecewa. Bukan hanya pada kakak sepupunya tapi juga pada ayahnya yang sama sekali tidak peka akan keinginan anak perempuan satu-satunya.


"Oh ya, bagaiman tanggapan Yang Mulia Pangeran waktu kalian bertemu di istana Matahari?" Tanya Arnold penasaran.


"Pangeran menolak dengan keras untuk menikahiku." Jawab Vianty dengan tenang.


"Pfftt... Tidak aku sangka jika ada lelaki yang bisa menolakmu. Tapi seharusnya Pangeran Pertama juga tahu jika ini hanya pernikahan politik yang tidak harus diambil pusing." Ucap Arnold dengan entengnya.


"Oh ya, baru-baru ini tersiar rumor jika kamu dan Yang Mulia Putri adalah teman dekat. Aku harap hubungan pertemanan kalian tetap baik setelah kejadian ini."


"Siapa yang berteman baik?!" Seru Vianty tidak terima.


"Ah, apakah itu salah? Maaf jika itu tidak benar." Uacap Arnold merasa tak enak.


"Para lady bangsawan mengatakan hal itu semua, katanya kamu dan Yang Mulia Putri akhir-akhir ini menjadi akrab." Terang Arnold lagi.


"Apa mereka sudah gila?! Siapa orang yang mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?! Bawa orangnya ke sini jika kamu menemukannya!" Seru Vianty kesal.


"I, iya... Kamu jangan emosi seperti ini. Ah, sudah jam segini, aku harus kembali." Ujar Arnold ketika melihat waktu sudah semakin senja.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi Vianty..." Arnold buru-buru pergi sebelum Vianty lebih ngamuk lagi padanya.


"Baiklah, hati-hati kak..." Balas Vianty sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Meski kakak dan ayah menganggap pernikahanku dan Pangeran Pertama adalah hal yang sepele tapi Yang Mulia Pangeran benar-benar tidak ingin menikahiku, akupun demikian. Maka dari itu aku tidak akan dengan mudah menyerahkan gelar Duke itu padamu, Kak Arnold..." Ucap Vianty dalam hati sambil menatap punggung Arnold yang semakin menjauh.


Bersambung...


__ADS_2