
"Leonard...Aku datang, aku masuk boleh ya?" Louisse masuk begitu saja dan Leonard mulai berakting tidur.
"Eh? Ternyata dia sedang tidur." Gumam Louisse ketika melihat Leonard berbaring di sofa sambil memejamkan mata."
Dalam hati Leonard bertanya-tanya...
"Apa dia ke sini karena ingin membicarakan soal pemungutan suara kepopuleran tadi? Bagaimana jika dia bilang kalau aku benar-benar tidak menarik? Lebih baik aku tidak tahu apa-apa."
Louisse mendekat ke arah Leonard dan bejongkok di depan pangeran yang pura-pura tidur itu. Dirinya menatap Leonard dengan lekat, menyisir setiap lekukan yang tergambar indah di wajah suaminya itu.
"Mungkin karena aku sudah terbiasa melihatnya sejak kecil, tapi... Ini pertama kalinya aku melihatnya tertidur di tempat yang terang seperti ini. Wajahnya benar-benar sesuai dengan tipe lelaki idamanku. Rahang yang tegas, tapi memiliki mata sesuai atandar kecantikan, hidungnya juga mancung..." Ujar Louisse dalam hatinya ketika mengamati bentuk wajah Leonard yang pura-pura tertidur sambil mengelus kepala sang pangeran.
"Tampan..." Kata itu spontan keluar begitu saja dari mulut Louisse yang membuat mata Leonard langsung terbuka lebar.
"Barusan kau bilang aku... Tampan?" Leonard langsung bangun dan bertanya sambil maraih tangan Louisse. Hal itu membuat Louisse terkejut.
"Ohh... Ternyata dia pura-pura tidur... Namun daripada itu...?" Batin Louisse sedikit kesal.
"Apa kamu bertanya karena kamu tidak tahu??" Tanya Louisse balik.
"Ah... Dari ekspresinya sepertinya dia tidak menyadarinya..." Louisse jadi tidak habis pikir sendiri dengan ketidak kepekaan suaminya.
"Apa dimatamu... Aku benar-benar tampan?" Leonard malah menanyakan hal yang sama tanpa menjawab pertanyaan Louisse. Setidak percaya dirinya kah dia pada dirinya sendiri? Hello...?? Semua orang juga tahu jika Pangeran Pertama Kekaisaran Eliador adalah lelaki yang tampan.
"Ya Tuhan... Dia benar-benar tdak tahu bila dirinya tampan sampai-sampai harus bertanya seperti ini..." Batin Louisse hingga membatu dibuatnya.
"Saat di istanamu, aku melihat aku di urutan terakhir pada hasil pemungutan suara kepopuleran." Karena Louisse tak kunjung menjawab, Leonard sampai mengatakan hal itu dengan memasang wajah sedihnya.
__ADS_1
"Astaga... Seharusnya aku tidak bermain-main dengan melakukan pemungutan suara kepopuleran." Batin Louisse yang semakin merasa bersalah pada Leonard.
"Hahaha... Kami melakukannya hanya karena ingin bersenang-senang, oleh sebab itu kamu tidak perlu memperdulikannya." Ujar Louisse sambil tertawa canggung.
"Bagiku, di dunia ini hanya kamulah yang paling tampan." Lanjut Louisse lagi yang masih menampilkan senyum canggungnya.
"Apakah sekarang dia sudah merasa baikan? Tapi kenapa suasananya jadi agak aneh ya?" Batin Louisse sedikit tak nyaman ketika Leonard menatap lekat Louisse tepat di matanya.
"Louisse... Mata kamu... Mata kamu cantik seperti Hippocampus." Ucap Leonard sambil menatap mata Louisse.
"Hippocampus? Apa itu?" Tanya Louisse yang asing dengan istilah itu.
"Apakah itu nama bunga atau semacam permata? Tak kusangka Leonard bisa memuji seperti ini." Batin Louisse menerka-nerka.
"Itu yang hidup di wilayah tropis... Di daerah lautan." Jawab Leonard ambigu.
"Kuda Laut."
Doeng!!
Itu jawaban Leonard yang bikin shock!
"Kamu pasti tahu jika melihatnya langsung. Kuda Laut itu memiliki warna violet yang sangat indah." Lanjut Leonard menjelaskan maksud perkataannya.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat tidak senang?? Itu benar-benar pujian buatmu." Itu pertanyaan yang sangat membagongkan Leonard....! Tentu saja Louisse sangat kesal dengan perumpamaan yang sangat aneh itu!
"Rambut kamu halus seperti bulu kaki Tarantula!!" Teriak Louisse kesal, namun yang dikatai malah senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Apakah sehalus itu? Aku baru kali ini mendengar pujian seperti ini." Sahut Leonard sambil cengar-cengir tersipu senang dengan pujian Louisse yang seharusnya tidak patut untuk dikatakan.
"Aku benar-benar ingin menjitak kepalanya!" Geram Louisse dalam hati yang melihat ketidak pekaan Leonard.
...****************...
Setelah ketegangan dan saling melontarkan pujian absurdnya masing-masing, akhirnya merekapun berdamai. Louisse pun memutuskan untuk kembali ke istananya.
"Aku akan mengantarmu kembali." Ucap Leonard sambil berjalan menggandeng tangan Louisse menuju pintu keluar istana Pangeran.
"Tidak usah... Mending kamu balik kerja saja, kamu kan sibuk." Tolak Louisse tapi Leonard tetap saja kekeh akan mengantar istrinya kembali.
"Paling tidak sampai lobby saja..." Sahut Leonard. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang datang dari arah berlawanan menyapa mereka berdua.
"Ya ampun... Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Putri, ternyata kita bertemu di sini." Sapa wanita muda itu dengan sok akrabnya.
"Siapa dia? Kamu kenal?" Tanya Louisse sambil berbisik.
"Tidak." Jawab Leonard dengan berbisik pula.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1