Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 79 Rencana Sukses!


__ADS_3

"Siapa kalian?!" Seru seorang pria yang duduk di atas kuda, sepertinya dia adalah pengawal yang mengawal kereta putri Count tersebut.


Di sana Asrahan dan juga Leonard sudah berdiri menghadang di depan jalannya kereta kuda dengan memakai kain hitam yang menutupi setengah dari wajah sembari mengacungkan sebilah pedang. Mereka berdua menyamar layaknya seorang perampok.


"Sepertinya ini adalah kereta bangsawan yang membawa banyak barang berharga. Lebih baik kalian keluarkan semua barang bawaan kalian!" Perintah Asrahan dengan nada yang dibuat sangar.


"Berani sekali kalian para perampok! Singkirkan mereka, cepat!" Perintah lelaki berkuda itu pada para prajurit pengawal yang mereka bawa.


"Pengawal bayaran mereka ternyata banyak juga, apa kamu baik-baik saja Mark?" Tanya Asrahan pada Leonard, dia sedikit khawatir untuk melawan para pengawal mereka yang ternyata lumayan banyak.


"Aku, tidak masalah." Jawab Leonard yakin.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita serang...!!" Ujar Asrahan yang kemudian maju melawan para pengawal Zenit yang diikuti oleh Leonard.


Sementara itu, Zenit yang berada di dalam kereta kuda sudah ketakutan dan was-was atas keributan yang terjadi di luar sana.


Diluar ketakutannya tiba-tiba ada yang membuka pintu kereta kudanya dari luar. Dan di situlah Louisse menjalankan perannya.


"Maaf, anda pasti terkejut. Saya datang untuk menolong anda. Tolong lihatlah ini..!!" Ujar Louisse sambil memperlihatkan sebuah kalung leontin berwarna biru yang membuat Zenit terkejut.


"Itukan kalung yang aku berikan pada Marcus? Kenapa ada pada anda?" Tanya Zenit kebingungan.


"Iya, benar. Dia ingin bertemu dengan anda sekarang!" Jawab Louisse.

__ADS_1


Dengan kalung leontin yang dibawa Louisse tadi akhirnya Zenit percaya dan mau mengikuti Louisse keluar dari kereta kuda untuk bertemu Marcus. Akhirnya dengan semua bantuan yang Asrahan dan Leonard menyingkirkan para pengawal bayaran keluarga Count, Marcus dan Zenit bisa bertemu untuk mengucapkan kata perpisahan.


"Akhirnya mereka bisa bertemu tanpa ada halangan yang berat." Kata Asrahan pada Louisse ketika mengamati Marcus dan Zenit yang sedang berbincang dari kejauhan.


"Lho dimana Mark sekarang?" Tanya Louisse yang tidak melihat keberadaan Leonard.


"Oh, dia di sana sedang berjaga. Tak kusangka seni pedangnya ternyata sangat hebat." Jawab Asrahan seraya memuji kehebatan berpedang Leonard. Asrahan sangat takjub pada Leonard karena mampu melumpuhkan sekian banyak pengawal tadi sendirian.


"Hohoho..." Louisse hanya menanggapinya dengan tertawa saja. Louisse tidak heran lagi jika Leonard bisa dengan mudah mengalahkan orang-orang tadi.


"Ah... Kalau dipikir-pikir mereka berdua kan bisa saja kabur dengan mudah saat ini." Ujar Louisse pada Asrahan.


"Karena mereka berdua sadar jika status kehidupan mereka berdua berbeda. Dan itu akan menambah penderitaan mereka jika dipaksakan untuk bersama." Kata Asrahan menjelaskan.


"Aku juga merasa begitu." Sahut Asrahan menimpali.


"Mengelompokkan orang sesuai tingkat status dan membuat batasan, apakah itu hal yang benar?" Lanjut Asrahan.


"Tak kusangka, ternyata di dunia ini ada orang yang tidak setuju dengan sistem kasta." Batin Louisse.


"Tapi di negara ini para bangsawan sangat terobsesi dengan jabatan dan kedudukan. Mereka rela melakukan segala cara demi mempertahankan wilayah dan kekuasaannya." Kata Asrahan kemudian.


"Oh ya Isse, ada yang ingin aku tanyakan." Ujar Asrahan.

__ADS_1


"Tanya apa?" Sahut Louisse.


"Untuk para bangsawan yang selalu diperlakukan khusus karena memiliki kekuasaan dan memiliki kekayaan yang dikumpulkan secara yang tidak benar... Bagaimana cara mereka harus meminta maaf pada dunia?" Tanya Asrahan dengan wajah sendu.


"Hmm... Kalau menurutku... Daripada meminta maaf, bukankah lebih baik mereka bertanggung jawab?" Sahut Louisse seraya menatap langit yang terlihat begitu biru saat itu.


"Bertanggung jawab?" Tanya Asrahan yang kurang paham maksud Louisse.


"Sudah takdir mereka lahir di keluarga seperti itu. Tetapi daripada pasrah terhadap takdir, bukankah mereka lebih baik bertanggung jawab dan merubah apa saja yang salah? Sebenarnya... Aku saat ini juga sedang berusaha keras merubah takdir." Kata Louisse sembari tersenyum.


"Merubah takdir?" Gumam Asrahan dengan mata yang terpana menatap Louisse yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Itu adalah pemikiran yang keren Isse, aku akan selalu mendukungmu." Ujar Asrahan.


"Terimakasih." Balas Louisse.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2