
POV Louisse sesat sebelum ketemu Leonard...
Gara-gara memikirkan perkataan Vianty aku jadi tidak bisa tidur dan akhirnya aku jadi pergi ke istana Leonard. Kenapa sih Vianty bilang kalau dia tidak ingin menikah dengan Leonard? Leonard juga sama saja! Kalau sudah gini kan aku jadi susah. Yang penting sekarang aku harus bertemu dengan Leonard dulu untuk meminta maaf karena sudah terburu-buru membahas soal perceraian.
"Ah, selamat pagi Yang Mulia Putri."
Ah! Seorang prajurit menyapaku?
"Iya, selamat pagi.."
Aha! Dia prajurit yang aku temui di pesta kemenangan waktu itu bersama Leonard.
"Bukankah sekarang hari Minggu? Apa kamu sedang bekerja di hari libur?" Tanyaku heran karena biasanya prajurit tidak bekerja di hari libur dan hanya menyisakan penjaga istana serta pengawal pribadi saja.
"Maaf, apa di iatana ada hari libur?" Tanyanya yang jadi ikut bingung juga.
"Tunggu, apa mungkin Yang Mulia Pangeran menyuruh kalian untuk bekerja di hari libur?" Tanyaku yang sepertinya benar.
"Sejak datang ke istana kami terus bekerja karena Yang Mulia Pangeran juga sibuk bekerja." Jawabnya polos.
Si kepala batu itu sungguh atasan yang buruk! Bukannya istirahat di hari libur, dia malah menyuruh bawahannya untuk masuk!
"Ya sudah, istirahatlah..." Kataku untuk menyuruh prajurit yang tampak lesu itu untuk istirahat saja.
"Baik Yang Mulia." Sahutnya sambil membungkuk hormat. Lalu aku juga pergi untuk menemui Leonard. Dasar, penyakit gila kerjanya itu semakin parah saja. Di cuaca yang sangat cerah ini seharusnya dia pergi untuk bermain.
Ah, itu kan Leonard!
"Kamu ingin kemana berjalan terburu-buru seperti itu?"
Leonard yang tidak menyadari kedatanganku pun langsung berhenti ketika mendengar suaraku. Ia pun langsung menengok ke belakang dimana aku ada di sana.
Baiklah... Seharian ini aku akan mengajarinya bagaimana cara menikmati hari libur!
POV Louisse off...
.
.
Akhirnya Louisse benar-benar mengajak Leonard keluar istana untuk bermain. Kereta kuda yang mereka naiki berhenti di tengah pusat kota dan mereka berduapun turun.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kita akan kemana?" Tanya Leonard yang sudah penasaran kemana Louisse akan membawanya untuk bermain.
"Soal itu, serahkan saja padaku." Jawab Louisse sambil tersenyum ceria.
Dengan hati senang mereka berjalan melihat-lihat indahnya ibu kota sambil bergandenagan tangan. Menikmati makanan enak di restoran ternama dengan memanfaatkan nama keluarga kerajaan.
"Apakah itu enak?" Tanya Leonard ketika melihat Louisse begitu menikmati makanannya.
"Enak sekali! Ah.. Kekuasaan itu memang yang terbaik!" Seru Louisse dengan riangnya membuat Leonard pun ikut tersenyum melihatnya.
Setelahnya mereka berjalan-jalan di taman kota sambil menikmati bunga-bunga cantik di sana. Lalu Louisse juga mengajak Leonard pergi ke caffe untuk menikmati secangkir teh dan dessert yang lagi viral di sana.
Dan tanpa terasa hari sudah sore...
"Sekarang kemana lagi ya?" Ujar Louisse sambil memikirkan tempat mana lagi yang harus mereka kunjungi.
"Kita pulang saja yuk...!" Ajak Leonard yang langsung ditentang oleh Louisse.
"Ha?!! Apa?!" Seru Louisse tak percaya.
"Kita kan sudah makan, jalan-jalan dan mampir ke caffe juga makan dessert di sana. Memangnya mau kemana lagi?" Ujar Leonard yang sepertinya sudah merasa bosan.
"Astaga... Dia memang benar-benar tidak pernah menikmati bermain seharian. Haruskah aku mengutuk Media yang membuat Leonard tidak pernah bisa menikmati masa-masa bermainnya?!" Batin Louisse sedikit jengkel.
Leonard seketika terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa tertohok oleh ucapan Louisse yang memang benar.
"Sudah kuputuskan! Kita belanja saja!" Seru Louisse dengan semangatnya.
"Kamu ingin belanja apa? Pakaian? Atau perhiasan? Kalau itu kan bisa kamu lakukan di istana saja, tinggal panggil para pedagang ke istana." Ujar Leonard yang membuat Louisse berdecah lelah.
"Akan lebih menyenangkan jika datang langsung dan pilih sendiri di tempatnya. Tidak perlu banyak protes dan ikuti saja aku, aku akan menunjukkan padamu bagaimana serunya berbelanja sendiri." Sahut Louisse yang langsung menyeret Leonard ke salah satu butik pakaian.
"Eh sebentar Louisse... Bukankah di depan kita ini toko pakaian?" Tunjuk Leonard pada sebuah toko di depan mereka yang ternyata itu adalah sebuah butik pakaian.
"Butik Vian? Bukankah itu butik milik Vianty? Tidak! Aku tidak mau pergi ke sana." Gumam Louisse dalam hatinya.
"Aku tidak mau ke sana! Kita pilih tempat lain saja." Uajr Louisse sambil menarik tangan Leonard untuk pergi dari sana dan masuk ke sebuah butik yang berseberangan dari tempat itu.
"Selamat datang... Sebuah kehormatan bisa melayani anda berdua. Saya Lalisa Bell, kepala desainer butik ini." Seorang wanita bernama Lalisa Bell yang merupakan kepala desainer di butik itu dengan hormat menyambut mereka berdua.
"Hallo nona Bell, kami harus ke lantai berapa untuk melihat-lihat pakaian pria?" Tanya Louisse yang membuat Leonard dan Lalisa memperlihatkan reaksi kebingungan.
__ADS_1
"Ha??" Tanpa sengaja itu keluar dari mulut Lalisa.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Aku hanya ingin memberi hadiah untuk suamiku." Ucap Louisse.
"Ah maaf, saya akan mengantar anda ke lantai dua. Silahkan lewat sini..." Ucap Lalisa yang langsung mengantar mereka ke lantai dua.
"Bukankah kamu mengajakku ke sini untuk membeli bajumu sendiri?" Tanya Leonard pada Louisse.
"Aku kan bilang ingin menunjukkan padamu gimana serunya berbelanja. Akan lebih seru jika kita membelinya untuk orang lain." Jawab Louisse yang selalu tidak bisa dibantah oleh Leonard.
Dan saat sudah masuk ke ruangan lantai dua, di sana banyak sekali pakaian pria dengan berbagai model dan warna. Hal itu membuat mata Leonard terbelalak dan merasakan kalau sebentar lagi hal yang merepotkan akan terjadi padanya.
"Kamu tidak akan menyuruhku untuk mencoba semua pakaian yang ada di sini kan Louisse?" Tanya Leonard dengan perasaan tidak enak.
"Tentu saja kamu harus mencoba semuanya, jadinya kamu bisa melihat dan merasakan sendiri mana yang pas dan cocok dengan seleramu." Jawab Louisse yang membuat Leonard harus pasrah lagi.
"Nah ini, cepat coba sana!" Suruh Louisse sambil menyodorkan sebuah pakaian yang harus dicoba Leonard.
"Iya, iya... Aku akan mencobanya." Jawab Leonard pasrah sambil berjalan masuk ke ruang ganti.
"Oh ya, sambil menunggu bisakah aku melihat-lihat katalog pakaian wanita?" Tanya Louisse pasa Lalisa.
"Tentu Yang Mulia." Jawab Lalisa, lalu pergi untuk mengambilkan katalog pakaian yang diminta Louisse.
Saat Louisse sedang duduk menunggu, tiba-tiba Leonard berseru dari dalam ruang ganti.
"Permisi...! Seperti ada satu pakaian yang terlinggal, apakah anda bisa membawakannya ke sini?" Seru Leonard dari dalam ruang ganti.
Louisse yang mendengarnya langsung melihat jika memang ada satu baju yang tertinggal di atas meja. Dan tanpa pikir panjang dia mengambilnya untuk diberikan pada Leonard karena memang tidak ada orang lain di sana selain dirinya.
"Ini bajunya..." Tanpa memikirkan apapun Louisse langsung menyibak tirai ruang ganti tersebut dan seketika dia terbelalak kaget ketika tanpa sengaja dia melihat bekas luka sayatan pedang yang begitu panjang ada di punggung Leonard.
"Lho... Kenapa kamu yang membawanya bukannya karyawan itu?" Tanya Leonard yang tidak menyangka jika itu Louisse.
"Ah, dia sedang pergi mengambil katalog baju yang aku minta." Setelah menjawab itu Louisse lekas menutup tirai itu kembali tanpa berbicara lagi.
Hati Louisse tiba-tiba merasa perih... Dan dia terlihat begitu sedih.
"Lenard..." Gumamnya dalam hati.
.
__ADS_1
.
Bersambung...