
"Kalau dilihat-lihat kebun istana yang dihias dengan dekorasi hantu-hantuan dan kostum para hantu serta tokoh jahat sangat mirip dengan pesta Halloween. Apakah di Kekaisaran ini ada pesta semacam itu?" Louisse bertanya-tanya dalam hati.
"Tapi dari semua orang yang ada di sini, kenapa aku tidak melihat Leonard ya?" Lanjut Louisse dalam hati sambil mencari-cari keberadaan Leonard diantara orang-orang yang berkumpul di sana, namun ia tidak menemukannya. Hingga...
"Yang Mulia, coba anda melihat ke arah belakang!" Seru Redian tiba-tiba. Dan alangkah terkejutnya Louisse saat berbalik ke arah belakangnya. Dia terpaku saat melihat Leonard berdiri di belakangnya dengan memakai kostum vampire yang begitu cocok dengan wajah tampannya.
"Mereka menyuruhku memakai kostum ini." Kata Leonard malu-malu. Lalu sedetik kemudian bibir Louisse berkedut dan keluarlah suara tawa itu tanpa bisa ditahan lagi.
"Ppff... Bahahaha... Sepertinya kamu begitu total berdandan seperti vampire, oh ya...di sini kan juga ada cerita seram tentang vampire yang seperti itu." Kata Louisse sambil tertawa.
"Kamu meledek ku ya?!" Tanya Leonard agak sebal dan juga malu.
"Tidak, bukan begitu... Itu karena kamu terlihat seperti vampire betulan. Kalau vampirnya kamu, aku pasti rela memberikan darahku untukmu hehe..." Mendengar ucapan manis Louisse barusan membuat wajah Leonard merona.
"Ka..kamu bilang apa sih?" Leonard sampai tergagap bicaranya.
"Ya ampun... Aku goda sedikit saja dia langsung tersipu seperti itu. Ughh... Imutnya..." Suara hati Louisse meronta-ronta kegirangan karena dia senang sekali menggoda suaminya itu.
"Ah, pesta seperti ini sebenarnya ide siapa sih? Sampai-sampai orang yang enggan pergi ke pesta juga ikut hingga berhias pula." Tanya Louisse.
"Ah, ini semua ide Redian." Jawab Leonard.
__ADS_1
"Oh ya??!" Louisse sedikit terkejut jika Redian bisa memikirkan hal seperti itu juga.
"Hehe... Saya mendengarnya ketika saya masih berada di barak militer, katanya di negara lain saat musim panen berakhir orang-orang di sana mengadakan festival dengan memakai kostum hantu. Itu berawal dari adat kuno di negara mereka yang percaya jika tidak ingin roh jahat menganggu mereka maka mereka harus berhias menyeramkan seperti roh. Dan karena di Kekaisaran kita tidak ada hal semacam itu, jadi saya pikir akan menyenangkan bila melakukannya, hehe..." Terang Redian dengan bangganya.
"Ohh... Jadi seperti itu?" Louisse mengangguk-angguk merespon penjelasan Redian.
"Hei... Kak Leon, kak Isse! Kalian kenapa masih saja di sana? Ke sinilah cepat!" Seru Oscar sambil melambaikan tangannya menyuruh Leonard dan Louisse bergabung dengannya dan yang lainnya di meja perjamuan. Di sana sudah tersajikan makanan dan kue-kue lezat dengan bentuk yang sudah disesuaikan dengan konsep pesta tersebut.
"Sebaiknya kita juga bergabung dengan yang lainnya." Ajak Leonard sambil mengulurkan tangannya pada Louisse.
"Baiklah... Ayo!" Louisse pun dengan senang hati menyambut uluran tangan Leonard dan mereka berdua menuju ke meja perjamuan dengan bergandengan tangan.
"Waahh.. kuenya bentuknya lucu seperti monster labu dan kelelawar." Louisse sangat takjub melihat makanan serta kue-kue yang indah itu di atas meja.
"Lalu, apa semua dekorasi ini juga buatan sir Redian?" Tanya Louisse kemudian.
"Iya, tapi juga dibantu oleh yang lainnya." Jawab Redian.
"Aku juga bantu lho..." Sela Oscar yang tak mau kalah.
Setelah itu suasana di pesta tersebut penuh dengan rasa bahagia. Semua orang saling bercanda dan tertawa riang. Louisse pun menggunakan kesempatan itu untuk berdansa dengan Vianty yang terlihat begitu keren di matanya, hingga membuat Leonard merasa ditikung oleh Vianty karena sudah memonopoli istrinya. Tak hanya itu, Louisse juga berlomba menghabiskan kue-kue yang ada di sana dengan Edmund, meskipun akhirnya dia kalah karena Edmund adalah rajanya kue-kue manis. Dan yang terakhir pesta itu ditutup dengan letupan kembang api yang sangat indah terlihat di atas langit. Sungguh malam itu adalah malam yang indah untuk Louisse.
__ADS_1
"Leonard... Terimakasih. Kamu mengadakan pesta ini demi aku kan?" Ucap Louisse ketika mereka berdua duduk di bangku taman sambil melihat kembang api yang mekar di langit sana.
"Bukan hanya aku, mereka semua juga ikut membantu. Ini adalah wujud terimakasih mereka kepadamu." Ungkap Leonard jujur.
"Kepadaku?" Tanya Louisse membeo tak percaya.
"Oleh sebab itu janganlah terlalu memaksakan dirimu Louisse... Karena mereka yang ada di sana itu akan selalu membantumu." Tunjuk Leonard pada Oscar, Vianty, Anne dan juga para kesatria mereka yang sedang berkumpul bercanda gurau sambil menyalakan kembang api.
Mendengar kata-kata dari Leonard dan melihat betapa perdulinya orang-orang terdekatnya itu membuat Louisse kembali tersadar dan ingatan-ingatan dirinya yang berusaha sendiri untuk bertahan hidup tanpa meminta bantuan siapapun kembali berputar di otaknya.
"Aku takut semua hal berjalan tak semestinya bila alur cerita dalam novel aslinya berubah karena diriku. Memang benar karena kegelisahan hatiku, aku sampai memaksakan diri. Aku masih ragu apakah yang aku lakukan saat ini benar atau salah. Tapi ada satu hal yang aku tahu pasti... Saat ini aku sangat bahagia. Semua ini berkat Leonard yang begitu menyukaiku." Louisse mengatakan itu dalam hatinya sambil memandang Leonard yang duduk di sampingnya.
"Leonard... Terimakasih."
Louisse langsung mengecup pipi Leonard setelah mengatakan itu. Dan hal itu membuat Leonard membatu karena serangan tiba-tiba Louisse.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...