Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 45 Terungkap Sudah...


__ADS_3

Brak!!


Pintu ruang kerja Leonard terbuka dengan cukup keras dan para kesatria yang disuruh menjaga pintu agar tidak ada seorangpun yang masuk langsung berteriak karena seseorang memaksa masuk.


"Yang Mulia Putri..!" Teriak para kesatria tersebut.


"Leonard, kita bertiga harus bicara!!" Seru Louisse dengan wajah seriusnya.


Leonard langsung menoleh dan mendapati wajah Louisse dan Oscar yang terlihat begitu geram.


"Kak, apa yang kakak pikirkan?! Aku sudah mendengar semuanya dari kak Isse. Bagaimana bisa kakak berpikir aku ada hubungan spesial dengan kak Isse?! Asal kakak tahu saja aku punya kriteria yang tinggi untuk seorang wanita!" Seru Oscar dengan sangat kesal.


"Hei bocah! Meski itu benar, kok aku jadi kesal ya? Anak kecil sepertimu juga bukan seleraku." Sahut Louisse yang jadi ikut kesal mendengar ucapan Oscar.


"Maaf kak, aku bicara apa adanya. Maka dari itu, aku tidak habis pikir kak Leo memikirkan hal semacam itu tentang kita!" Ujar Oscar kesal.


"Cukup Oscar! Kita datang ke sini bukan intuk bertengkar melainkan untuk bicara baik-baik. Nah Leonard... Kamu bisa melihat sendiri kan bagaimana reaksi adikmu? Dari awal aku sudah bilang jika kami berdua tidak ada hubungan apa-apa." Ucap Louisse mencoba mengkondusifkan keadaan dan menjelaskan kesalah pahaman mereka.


"Dasar kakak sialan! Bodoh!" Gumam Oscar lirih namun masih terdengar ada amarah di sana dan Louisse mampu mendengar itu.


"Astaga... Sepertinya Oscar benar-benar kesal dengan kakaknya." Batin Louisse yang serasa seperti seorang ibu yang akan melerai pertengkaran kedua anaknya.


"Dan bagaimana kakak bisa percaya dengan omongan murahan yang mengatakan aku meminta kak Isse tidur bareng?! Dipikirkan beberapa kalipun itu sudah jelas omong kosong!" Seru Oscar lagi.


"Itu bohong!"


Tiba-tiba salah satu kesatria Leonard yang menyaksikan keributan itu menyela pembicaraan mereka. Dan kesatria itu adalah Redian.


"Ya ampun... Sudah kuduga anak ini pasti akan membuat masalah lagi." Pikir Julian sambil tepok jidat tidak bisa mencegahnya lagi.


"Saya sungguh mendengarnya sendiri dengan sangat jelas!" Seru Redian.


Louisse memicingkan matanya saat melihat Redian yang tiba-tiba menyela pembicaraan tuannya.


"Dia kan... Kesatria yang waktu itu." Batin Louisse.


"Apakah Yang Mulia Putri maaih ingat? Saya waktu itu menawal Tuan Putri ke kediaman lady Lope menggantikan Edmund. Saat itu anda tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Kedua di halaman kediaman lady Lope ketika hendak pulang. Pada saat itu saya mendengar sangat jelas obrolan anda berdua, waktu itu anda juga menyebutkan nama seorang lelaki yang bernama 'Sami'." Ucap Redian dengan lantang tanpa rasa takut.


"Sami?" Tanya Leonard membeo.


"Benar, bahkan Yang Mulia Putri lah yang membahasnya lebih dulu sambil tertawa. Yang Mulia Putri menanyakan, "Ngomong-ngomong Oscar, apa kamu ingat? Waktu kamu mengajakku untuk melakukan 'kencan malam'..." Lalu Yang Mulia Putri menambahkan kata, "Bersama Sami juga"... Tapi setelahnya saya tidak tahu pasti apa yang dibicarakan Yang Mulia Putri dengan Pangeran Kedua, hanya itulah yang saya dengar Yang Mulia." Ungkap Redian dengan percaya dirinya jika apa yang dia katakan adalah hal yang sebenarnya.


"Apa orang ini sedang ngelawak? Sami kan betina bukan laki-laki." Batin Louisse sambil mengingat-ingat kejadian waktu dia pergi menemui Jesica de Lope di kediamannya.

__ADS_1


"Ah... Jadi bisa dibilang dia salah paham dengan kejadian waktu itu." Ucap batin Louisse setelah mengingat runtutan kejadian ketika dia dikawal Redian saat bertemu Jesica de Lope.


"Leonard... Apa kamu masih ingat waktu 'Kencan Malam' kita yang kedua disaat kita berusia tiga belas tahun?" Tanya Louisse. Perlu diingat lagi jika 'Kencan Malam' mereka yang pertama adalah di waktu malam pertama setelah mereka menikah.


"Bagaimana aku bisa ingat kejadian yang sudah lama sekali berlalu?" Jawab Leonard.


"Ketika kita berusia tiga belas tahun, Oscar berusia sebelas tahun. Bukankah dari sini kau sudah paham?" Tanya Louisse.


"Iya." Jawab Leonard meski masih sedikit bingung.


"Saat itu kepala pelayan mengatakan jadwal 'Kencan Malam' kita dan di waktu yang sama Oscar menanyakan apakah dia juga bisa ikut bersama kita dengan Sami juga." Terang Louisse.


Mata Leonard langsung terbelalak dengan mulut yang terbuka setelah mendengar keterangan dari Louisse. Rupanya kini Leonard sudah ingat tentang kejadian di masa lalu ketika mereka bertiga masih kecil.


"Oh... Ternyata yang waktu itu..." Sahut Oscar dengan nada datarnya seakan mengolok kebodohan kakaknya.


"Jadi Red sudah salah paham dengan cerita masa kecil kita? Lalu bagaimana dengan surat yang kamu kirim ke Oscar?" Tanya Leonard yang masih sedikit meragukan Louisse.


"Surat?" Tanya Oscar.


"Iya, kakakmu salah paham gara-gara surat ini." Ujar Louisse sambil menyerahkan surat yang dimaksud pada Oscar.


"Padahal aku sengaja menulisnya untuk Oscar agar dia berhati-hati dengan rumor yang belakangan ini beredar. Itu karena aku khawatir padamu tentang rumor yang sudah beredar di pergaulan kelas atas pada waktu yang lalu." Terang Louisse pada Leonard.


"Jadi semuanya adalah...kesalahpahamanku sendiri?" Wajah Leonard merah karena malu setelah menyadari kesalahpahaman yang membuat dirinya merasa bodoh saat itu.


"Pfftt..." Oscar ingin sekali tertawa tapi dia tahan karena mengingat dia harus menjaga wibawa kakaknya di hadapan para kesatria bawahan yang ada di sana.


"Haaahh..." Louisse menghela napas lega.


"Dari awal kan aku sudah bilang kalau ini hanya salah paham saja." Tutur Louisse.


Entah karena malu atau lega, Leonard langsung merengkuh tubuh Louisse, memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Louisse. Louisse tersentak melihat tingkah suaminya yang seperti bocah itu.


"Astaga... Dia pasti malu sekali sampai menyembunyikan wajahnya sambil memelukku. Dia seperti bayi besar kalau seperti ini. Imutnya..." Batin Louisse yang sebenarnya ingin tertawa.


"Leonard... Bisakah kamu melepaskan pelukannya sebentar? Kita harus menyelesaikan sisanya..." Bukannya dia mendengarkan permintaan Louisse, Leonard justru tambah mempererat pelukannya tanpa bicara apapun.


"Sepertinya dia benar-benar sangat malu." Pikir Louisse.


"Lalu yang namanya Sami itu siapa?" Dengan polosnya Redian malah menanyakan hal itu.


"Bukankah itu nama anjing betina peliharaan Yang Mulia Pangeran? Anjing putih besar yang itu lho... Kalian pasti sering melihatnya jika ke sini. Memangnya apa yang terjadi sampai bisa ramai seperti ini?" Tanya Edmund dengan polosnya. Mungkin dia adalah satu-satunya orang di sana yang tidak tahu mengenai keributan yang terjadi di sana, karena selama ini dia hanya mengikuti Louisse sebagai pengawal pribadi dan jarang untuk berkumpul dengan teman-temannya yang bekerja di bawah Leonard.

__ADS_1


"Jadi singkatnya... Red, si bocah bodoh ini telah salah menyampaikan berita yang belum jelas dan terjadilah kekacauan seperti ini." Ucap Rodrego dengan sangat kesal.


"Sa, saya pantas mati Yang Mulia!" Seru Redian sambil berlutut dan menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar ketakutan. Dia sadar bahwa kesalahannya kali ini sangat fatal.


"Kami juga minta maaf karena sempat mencurigai Yang Mulia Putri." Ucap Rodrego sambil membungkuk yang diikuti oleh Julian juga.


Louisse yang tidak mengira akan mendapatkan permintaan maaf dari para kesatria menjadi sedikit malu.


"Ehem... Sepertinya masih ada yang harus kami bicarakan bertiga, jadi bisakah kalian semua keluar dulu?" Pinta Louisse pada para kesatria.


"Baik Yang Mulia Putri." Jawab mereka.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, akhirnya Oscar tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Bwahahahahaa...." Suara tawa Oscar langsung menggelegar.


"Leonard..." Panggil Louisse.


"Ada apa?" Tanya Leonard yang masih belum mau melepaskan pelukannya dari Louisse.


"Bolehkah aku ikut tertawa?" Tanya Louisse dengan wajah datarnya.


"Kejadian ini harus dicatat di catatan sejara Kekaisaran dan harus diceritakan turun temurun ke anak cucu kita! Huahahahhaa..." Seru Oscar yang masih belum bisa menghentikan tawanya.


"Sepertinya Oscar akan menjadikan ini sebagai bahan kelemahan kakaknya, ck.ck..." Batin Louisse yang sudah tahu pasti isi pikiran Oscar.


Leonard perlahan melepaskan pelukannya, lalu berkata...


"Maafkan aku Louisse... Aku sudah seenaknya salah paham kepadamu, padahal aku sudah bilang akan menunggumu sampai kamu siap. Tapi aku selalu bersikap tidak sabar jika itu menyangkut tentang dirimu. Maaf..." Ucap Leonard mengakui kesalahannya dan menundukkan kepalanya di depan Louisse.


"Jadi kali ini kamu mengakui kesalahanmu?" Tanya Louisse sambil memegang wajah Leonard dan dengan patuh Leonard mengangguk.


"Iya." Jawab Leonard pelan.


"Sungguh... Ini adalah hal terkonyol yang pernah terjadi di istana ini. Sepertinya setelah ini Leonard akan menjadi bocah besar yang penurut. Pfft... Aku sudah tidak tahan lagi untuk tertawa." Batin Louisse dan sedetik kemudian dia tertawa lepas dengan perasaan yang lega.


"Hahaha..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2