Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 81 Asrahan, Siapa Kamu Sebenarnya?


__ADS_3

"Aha! Ada satu hal lagi yang aku ingat. Ada rumor yang mengatakan jika Ian membawa Doha dari istana Kaisar." Kata Doha setelah mengingat sesuatu tentang Doha.


"Istana Kaisar?!" Seru Louisse dan Leonard berasamaan. Mereka berdua sangat terkejut dengan informasi yang Asrahan baru saja dia katakan.


"Bagaimana bisa? Sedangkan aku tidak pernah melihatnya di istana Kaisar." Batin Leonard yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Itu masih rumor, tapi mungkin kalian akan tahu kebenarannya jika kalian pergi ke kediaman Willhem. Maaf, hanya itu yang bisa aku beri tahu." Kata Asrahan.


"Sama sekali tidak! Justru kamu sudah memberikan banyak informasi untuk kami. Terimakasih." Ucap Louisse.


"Sepertinya... Sudah waktunya kami berdua kembali ke tempat tinggal kami. Ehm.. Untuk beberapa alasan, aku sungguh... berterimakasih padamu." Ucap Leonard sesikit canggung dan agak malu untuk mengucapkan terimkasih pada Asrahan karena ucapan terimakasih yang dia maksud itu bukan semata hanya untuk informasi yang diberikan Asrahan tapi juga untuk curhatannya dan masukan yang diberikan Asrahan tentang masalah percintaannya.


"Apa? Kamu bilang apa? Bisakah kamu bilang agak keras? Aku tidak mendengarnya..." Ujar Asrahan yang sengaja menggoda Leonard.


"Te, terimakasih..!!" Teriak Leonard agak kesal dan juga malu.


"Oho! Kenapa wajahmu seperti akan meledak hanya karena mengucapkan terimakasih? Haha..." Dasar Asarahan, sudah tahu Leonard yang sudah malu malah dijahilin terus.


Tidak mau menunggu terlalu lama karena hari semakin senja, Louisse dan Leonard pun berpamitan.


"Sayang sekali kita harus berpisah..." Ucap Louisse ketika dia dan Leonard sudah bersiap pergi dengan kudanya.


"Haha... Mungkin saja kita akan bertemu lebih cepat lagi setelah ini, jadi jangan pernah menyayangkan hal ini." Sahut Asrahan sambil tertawa jenaka seperti biasanya.


"Bukankah... Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?" Lanjut Asrahan sambil tersenyum ramah pada Louisse dan Leonard.


"Iya, benar..." Sahut Louisse sembari mengingat-ingat yang dia alami dan rasakan ketika berkunjung di desa Bonex itu.


"Ya... Dalam waktu yang singkat ini sudah ada bayak hal yang terjadi ketika aku berada di desa ini. Dan salah satu yang aku sukai adalah... Bertemu teman yang baik bernama Asrahan. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali..." Batin Louisse sambil tersenyum dan kemudian pergi bersama Leonard meninggalkan Asrahan yang masih melambaikan tangannya di belakang sana.

__ADS_1


Kemudian sepeninggalan Louisse dan Leonard...


"Apakah semuanya sudah selesai tuan?"


Asrahan terkejut mendengar ada suara wanita yang berbicara dari arah belakangnya.


"Astaga! Kau mengejutkanku, Nia! Kau seperti hantu saja yang selalu bisa menemukanku dimanapun aku pergi. Lama-lama itu menakutkan, hii..." Seru Asrahan sambil bergidik ngeri pada wanita muda yang dia panggil Nia itu.


"Permainan rakyat biasa ini... Bukankah sudah waktunya anda mengakhirinya tuan?" Ujar Nia dengan ekspresi wajah flat-nya.


Tuan? Kenapa Asrahan dipanggil tuan oleh wanita bernama Nia itu? Siapakah Asraha sebenarnya?


"Aku sedang tidak bermain tahu...!" Seru Asrahan yang sedikit kesal meski apa yang dikatan Nia tidak sepenuhnya salah.


"Terserahlah... Yang jelas anda harus segera kembali ke kediaman. Marquess mencari anda." Kata Nia yang perkataannya tidak ingin dibantah.


"Yah... Tidak ada pilihan lain. Aku harus segera bergegas, karena orang itu... Ian De Willhem paling tidak suka menunggu." Ujar Asrahan dengan wajah yang sudah berubah serius.


Marquess Willhem, Ian De Willhem? Apa hubungan Asrahan dengannya? Dan ternyata identitas Asrahan yang asli adalah... Asrahan De Willhem, anak kandung tertua keluarga Willhem.


...****************...


Sekembalinya Louisse dan Leonard dengan selamat dari desa Bonex, mereka berdua langsung menemui Vianty dan menceritakan semua informasi yang mereka dengar dari Asrahan.


"Jika yang dikatakan orang itu benar, maka tidak diragukan lagi kalau keluarga Willhem kini sedang merencanakan sesuatu." Tebak Vianty tanpa ragu.


"Apalagi rumor tentang Doha yang datang dari istana Kaisar sangatlah mengganggu pikiranku. Terlebih aku dan Leonard tidak pernah sekalipun melihatnya keluar dari istana Kaisar." Ungkap Louisse serius.


"Seperti kata Asrahan, mungkin lebih baik kita menyelidiki langsung kediaman Willhem." Ucap Leonard.

__ADS_1


"Tapi kita tidak bisa dengan mudah keluar masuk ke kediaman itu karena ketatnya penjagaan. Terlebih Pangeran Leonard kan musuh bebuyutan keluarga mereka." Ujar Vianty menimpali.


"Lalu, apakah tidak ada cara untuk kita bisa pergi ke sana?" Tanya Louisse.


"Ah..! Setelah aku ingat-ingat, ada undangan pesta ulang tahun yang datang setiap tahunnya. Hanya saja aku tidak pernah menghadirinya. Itu adalah undangan yang dikirimkan hanya untuk formalitas saja." Ucap Leonard.


"Aku juga pernah mendapatkannya beberapa kali meski aku tidak pernah datang juga." Louisse ikut menimpali.


"Sepertinya keluarga saya juga selalu mendapatkan undangan itu sebagai formalitas. Mungkin kita akan lebih leluasa untuk datang ke sana karena itu adalah undangan pesta dibandingkan hari-hari biasanya." Terang Vianty.


"Berarti kita sudah menemukan caranya untuk pergi ke sana!" Seru Louisse sangat bersemangat.


"Benar, tapi kita masih memerlukan alasan untuk keluar dari aula pesta dan memyelinap ke dalam kediamannya." Ujar Leonard yang langsung membuat Louisse kembali lesu.


"Benar juga... Lalu apa ada ide yang bagus?" Tanya Louisse yang mengarah pada Vianty, namun pandangan Vianty sedang tidak fokus seperti ada hal lain yang dia pikirkan saat itu dan Louisse menyadarinya.


"Sepertinya suasana hati Vianty sedang tidak baik." Gumam Louisse dalam hatinya.


"Apakah ada sesuatu yang kamu khawatirkan?" Tanya Louisse pada Vianty.


"Sebenarnya...."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2