Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 27 Hati Leonard Terluka


__ADS_3

Di halaman istana Kaisar...


"Terimakasih sudah mengantar sampai sini Yang Mulia... Karena kereta kuda saya sudah menunggu, saya mohon pamit duluan." Ujar Vianty sambil menunduk hormat, setelah mendapat anggukan dari Leonard ia pun berjalan menuju kereta kudanya tapi sebelum dia naik ke keretanya di berbalik dan berkata...


"Oh ya Yang Mulia, anda dengan Yang Mulia Putri sangatlah mirip pfftt..." Ucap Vianty sambil terkekeh geli.


"Maksudnya apa?" Tanya Leonard tidak mengerti.


"Anda berdua selalu mengatakan apa yang ada di pikiran saat itu juga tanpa ragu sedikitpun." Ungkap Vianty.


"Apa?!" Seru Leonard.


"Kalau begitu saya permisi dulu Yang Mulia." Setelah itu Vianty bergegas masuk ke dalam keretanya sebelum Leonard bertanya lagi. Sedangkan Leonard hanya bisa mematung mendengar penilaian tentang dirinya dan Louisse.


"Maaf Yang Mulia Pangeran, kereta kuda anda telah siap. Apa anda akan kembali ke istana Pangeran sekarang juga?" Tanya ajudannya.


"Tidak, aku akan ke istana Putri sekarang juga." Jawab Leonard.


"Baik Yang Mulia." Jawab ajudannya.


...****************...


Sementara itu di tempat lain Louisse tengah berman layang-layang di padang bunga belakang istananya. Sambil melihat ke atas langit sesekali dia menghela napasnya karena teringat kejadian beberapa saat yang lalu di dalam istananya. Tadi pagi tiba-tiba Baroness Roman, ibu Louisse datang tanpa pemberitahuan dan berteriak mengomeli anaknya.


Kejadian tadi pagi kurang lebih seperti ini...


"Louisse! Kenapa kamu malah asyik minum teh sementara lady Zacard dan suamimu berada di Istana Matahari atas undangan Kaisar?! Apa kau sudah tahu itu ha?!!" Teriak Baroness yang tiba-tiba datang dan membuat Louisse terperanjat kaget.


"Ibu?! Kenapa ibu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan langsung berteriak?!" Tanya Louisse sambil menutup kedua telinganya.


"Apa itu penting sekarang?! Pokoknya kamu harus menentang perceraian itu! Kamu mengerti maksud ibu kan Louisse?!" Ujar Baroness Roman dengan nada perintah.


Ya... Seperti itulah yang membuat kepala Louisse pusing memikirkan sifat para anggota keluarganya. Ayah, ibu dan juga kakaknya hanyalah orang-orang tamak yang bisanya memanfaatkan anak perempuannya demi reputasi mereka sendiri di kalangan sosial.


"Hahh... Aku sangat lelah. Kenapa orang-orang di keluarga Roman sangat serakah? Jadi jangan terlalu berharap dengan keluarga antagonis, lagian setelah keluar dari istana aku tidak akan kembali ke keluarga itu lagi." Ujar Louisse dalam hatinya.


"Yang Mulia, anda jangan terlalu bersedih. Pangeran Pertama tidak mungkin selingkuh dari anda, beliau pasti setia!" Ucap Chlara menggebu-gebu.


"Chla, Chlara..." Louisse jadi terbengong sesaat melihat Chlara.


"Yang Mulia Pangeran tidak mungkin melakukan perbuatan sampah seperti menceraikan anda dan mengusir anda ke Biara. Anda kan istri yang selalu setia, dalam keadaan sulitpun anda menyulam jubah untuk Pangeran siang malam sambil mendo'akan beliau agar pulang dengan selamat." Chlara terus saja mengoceh tanpa henti.


"Ya ampun... Dia mikirin apa sih? Padahal aku ini pusing karena keluargaku yang seperti sampah kenapa Leonard dibawa-bawa? Ah, aku baru sadar jika Chlara ada di sana waktu ibuku datang." Batin Louisse yang mendadak cengo.


"Chlara... Tolong tenanglah sedikit, itu tidak seperti yang kau pikirkan..." Ujar Louisse namun Chlara tidak mendengarnya dan terus saja mengoceh tanpa henti.


"Jika Yang Mulia Pangeran tetap melakukan itu, dia pasti mendapat kutukan dari Dewa! Seharusnya undangan seperti itu bisa ditolak Yang Mulia Pangeran kan? Jika ini terdengar sampai ke luar pasti besok akan menjadi rumor!" Gerutu Chlara tanpa henti karena merasa kesal jika majikannya diperlakukan seperti itu. Sebagai info saja jika Chlara adalah salah seorang pelayan pribadi Louisse yang begitu mengidolakan hubungan romansa antara Louisse dan Leonard, jadi kabar seperti itu membuatnya naik darah. Hingga sebuah suara dari arah belakangnya membuatnya bisa terdiam seketika.

__ADS_1


"Maaf karena aku tidak menolaknya. Tapi di Kekaisaran ini jarang ada yang bisa menolak undangan dari Yang Mulia Kaisar."


Dan sambil bergetar Chlara pun memutar tubuhnya untuk memastikan suara yang dia dengar itu adalah suara orang yang baru saja dia hujat.


"Leonard, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Louisse dengan wajah bingung.


"Yang... Yang Muli..aa..."


Bukk!!


Dan Chlara pun pingsan ketika melihat wajah Leonard.


"Ya ampun, Chlara..!!" Teriak Louisse seketika.


.


.


Setelah meletakkan Chlara yang pingsan di bawah pohon, akhirnya Louisse bisa meneruskan bermain layangannya yang kali ini ditemani oleh Leonard.


"Kenapa kamu pergi kesana kemari sih? Aku kan jadi kesusahan untuk mencarimu." Gerutu Leonard pada Louisse.


"Aku ingin bermain layang-layang tapi di istanaku tidak ada lahan yang cocok untuk bermain, jadi aku ke sini karena di sini cukup luas, pemandangannya bagus dan anginnya juga mendukung untuk bermain layang-layang." Jawab Louisse dengan santai sambil menarik ulur benang layangannya.


"Kamu ini benar-benar orang yang santai ya..." Ujar Leonard sambil menengok ke arah Louisse.


"Hidup itu harus santai dan jangan gegabah, maka umurmu pun akan panjang." Sahut Louisse dengan tetap fokus pada layangannya.


"Maksud kamu apa?" Sahut Louisse dengan tanda tanya.


"Jika yang kau maksud... Ah!! Anginnya terlalu kencang! Layanganku ketarik! Auw..!!" Teriak Louisse yang hampir saja terjatuh tersandung karena menarik layangannya yang terseret angin. Louisse akhirnya terjatuh dengan dirinya yang entah bagaimana bisa berada di atas pangkuan Leonard.


"Itu berbahaya." Ujar Leonard.


"Tapi layanganku..." Louisse justru meratapi layangannya yang terputus dan terbang terbawa angin.


"Huuhh... Aku kira kamu bakalan sedih, ternyata tidak seperti itu. Jika ada yang mengganggu pikiranmu dan membuatmu sedih katakan langsung padaku, jangan diam saja." Ucap Leonard sambil memeluk pinggang istrinya.


"Sebenarnya maksud kamu apa sih?" Tanya Louisse sekali lagi karena dia benar-benar tidak mengerti.


"Ini tentang Vianty de Zacard yang juga dapat undangan Kaisar bersamaku." Jawab Leonard akhirnya.


"Ah.. Ternyata itu yang dimaksud Leonard. Dia sampai memikirkan hal itu karena kami kan suami istri." Itulah pikiran positif Louisse yang terbersit di otak kecilnya.


"Haha... Kalau masalah itu aku tidak sedih sama sekali. Ngomong-ngomong... Bukankah Lady Zacard sangat cantik?" Dengan entengnya Louisse menggoda Leonard seperti itu.


"En, entahlah! Aku tidak tahu!!" Jawab Leonard seketika dengan tergagap dan wajah yang tegang.

__ADS_1


"Jangan bohong!" Sergah Louisse dengan menatap Leonard tajam.


"Jika aku jawab jujur, kau harus janji untuk tidak marah." Pinta Leonard.


"Hei... Mana mungkin aku marah." Sahut Louisse langsung.


"Janji ya?" Ujar Leonard sekali lagi dan Louisse menganggukkan kepalanya mantap dengan bibir tersenyum.


"Can, cantik..." Jawab Leonard gugup tanpa bisa melihat mata Lousse.


"Huff... Syukurlah, dia masih bisa menilai kecantikan seseorang." Batin Louisse yang merasa begitu lega.


"Dengar ya Leonard... Kamu dan lady Zacard nantinya akan menjadi pasangan yang serasi." Ujar Louisse dengan bibir tersenyum namun itu justru membuat Leonard merinding.


"Kamu bilang tadi tidak akan marah..." Ujar Leonard dengan tatapan khawatirnya.


"Kapan aku marah?" Tanya Louisse.


"Bukankah sekarang ini kamu sedang marah?" Sahut Leonard.


"Aku sungguh tidak marah, aku serius dengan perkataanku tadi. Meski itu pernikahan politik, kamu akan tetap bisa bertahan karena melihat wajah pasanganmu. Dan lady Zacard adalah wanita yang mempesona." Terang Louisse tanpa berpikir bagaimana pendapat Leonard.


"Kenapa kau mengatakannya seakan diriku akan menikahi wanita itu?" Tanya Leonard sambil menahan rasa sesak di hatinya.


"Memangnya kamu tidak akan menikahinya?" Entahlah itu suatu pertanyaan yang polos dari Louisse atau memang istrinya itu adalah wanita yang tidak peka dan berhati dingin? Namun Leonard masih mencoba untuk bersabar.


"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu Louisse dan aku sudah mempunyai kamu sebagai istriku. Jadi tidak mungkin Duke Zacard akan begitu mudahnya mengirimkan putri satu-satunya untuk menjadi selir." Kata Leonard sambil mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih untuk menekan emosinya.


"Maka dari itu kamu harus menceraikan aku terlebih dahulu."


Deg!!


Jantung Leonard seakan berhenti saat itu juga. Leonard seketika membatu dan matanya terbuka lebar saking terkejutnya mendengar ucapan Louisse barusan.


"Apa kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu itu Louisse?! Kamu menyuruhku menceraikanmu dan menikahi wanita itu?! Apa kau sudah gila?!!" Akhirnya emosi yang dia tahan pun akhirnya meluap. Leonard benar-benar sangat marah.


Louisse kemudian meraih tangan Leonard dan mencoba memberikan pengertian pada suaminya itu. Dalam pikirannya Louisse hanya ingin mengembalikan posisi yang sebenarnya seperti yang ada di cerita novel aslinya.


"Iya, nantinya kamu akan menjadi Kaisar, kamu membutuhkan dukungan politik dari Duke Zacard. Selama ini kamu sudah menderita Leonard... Kamu menikahiku atas kendali Ratu, sekarang kamu harus menikah dengan cara yang benar dan menikmati hidupmu dengan tenang. Dengan begitu kamu akan hidup bahagia."


Degg!!


Leonard tercengang mendengar ucapan Louisse yang seakan mudah untuk diucapkan dan dia langsung menepis tangan Louisse yang menggenggam tangannya dengan kasar.


"Apa kamu berpikir itu akan membuatku bahagia?" Ucap Leonard lirih lalu dia meninggalkan Louisse sendiri dengan tatapan yang begitu terluka.


"Leonard...?" Seru Louisse.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti kenapa kamu pergi begitu saja dengan tatapan yang terluka."


Bersambung...


__ADS_2