
Akupun berdansa dengan Leonard meski hampir saja aku menginjak kakinya, namun Leonard sangat mahir untuk menghindarinya. Setelah itu dilanjutkan dengan dansa yang kedua dengan pasangan yang berbeda. Ini sudah tradisi di sini jika dansa yang pertama adalah dansa bersama pasangan yang sesungguhnya, maka dansa yang kedua adalah dansa untuk menghormati tamu yang datang. Aku melirik ke arah Leonard dan aku melihat pasangan dansa Leonard yang berikutnya adalah Lady Vianty Zacard. Jika sesuai cerita novel aslinya seharusnya Leonard sejak awal akan dipasangkan dengan Vianty namun rencana perjodohan itu terhanti karena rencana licik sang Ratu yang tiba-tiba menikahkan Leonard dengan ku. Jadi melihat mereka berdansa seperti itu membuatku berpikir mungkin benih-benih cinta diantara mereka akan mulai terbentu disaat ini. Kanera di dalam novel pun Leonard dan Vianty muali menunjukkan ketertarikan mereka. Lagipula mereka berdua nantinya akan menikah juga setelah aku dan Leonard resmi bercerai. Hanya saja aku akan merubah diriku untuk tidak dipenggal oleh mantan suamiku. Sama-sama hidup dengan damai di akhir cerita itulah harapan dan tujuanku.
Aku memberi hormat kepada pasangan dansaku setelah kami menyelesaikan dansa, kemudian aku pergi ke balkon untuk menghirup udara segar karena di dalam sana terlalu sesak. Sekalian memberi ruang pada para pemeran utama pria dan wanita untuk membicarakan masa depan mereka, jika aku tetap berada di dalam sana Leonard pasti akan tetap menempel padaku.
"Hiiiihh... Ternyata di sini lumayan dingin, seharunya aku membawa selendang sebelum kemari." Ujarku pada diri sendiri.
"Kalau tahu dingin seharusnya tidak usah keluar."
Tiba-tiba sebuah jubah tersampir di atas pundakku. Aku langsung berbalik karena terkejut.
"Leonard?!" Seruku saat meligat siapa yang memberiku jubah barusan dan itu ternyata Leonard.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanyaku yang terdengar seperti pertanyaan bodoh.
"Apa maksudmu? Aku tidak melihatmu di dalam, tentu saja aku mencarimu, aku tidak ingin kamu melakukan hal bodoh tanpa sepengetahuanku." Ujar Leonard seperti biasanya dengan kata-kata menyebalkannya.
"Kamu pikir aku masih anak kecil, lalu bagaimana dengan Lady Zacard? Kenapa kamu meninggalkannya dan datang kemari?" Tanyaku sedikit penasaran dengan jawaban Leonard.
"Kami hanya berdansa, setelah dansa kami selesai tentu saja kami pergi sesuka hati kami." Jawab Leonard begitu saja.
"Aku pikir kamu akan berbincang lebih lama dengan Lady Zacard setelah kalian berdansa, bahkan kalian terlihat sangat cocok ketika bersama." Ucapku tanpa melihat wajah Leonard, entah mengapa dadaku sesak setelah mengatakan itu.
"Apa kamu...merasa tidak senang jika aku berbincang dengan wanita lain?" Pertanyaan Leonard itu langsung membuatku ternganga tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Haa??!!" Hanya itu yang keluar dari bibirku.
"Kau pasti marah kan? Jangan bilang kamu sedang cemburu."
Akhirnya kata yang tidak ingin aku dengar dari mulut Leonard keluar juga dari bibirnya.
"Jangan salah paham, aku hanya menyapanya sebagai bentuk kesopanan sebagai tuan rumah, bagaimanapun dia adalah putri dari seorang Duke yang sangat berpengaruh besar bagi Kekaisaran, jadi kau tidak perlu khawatir." Lanjut Leonard sambil menunjukkan senyumnya yang terlihat...senang?
"Heii... Kenapa kamu terlihat senang begitu? Dan lagi aku tidak salah paham sama sekali." Sahutku sambil berpaling memunggunginya, namun sedetik kemudian dia memelukku dari belakang.
"Jangan pernah mengkhawtirkan sesuatu yang belum pasti terjadi." Ucapnya sambil memelukku dari belakang.
"Jika kau tidak ingin aku khawatir maka kamu harus pulang dengan selamat, aku tidak punya tempat lain lagi jika aku diusir dari istana dan aku tidak ingin kembali ke tempat keluargaku." Ucapku yang entah mengapa keluar begitu saja dari mulutku.
"Aku janji akan menyelesaikannya dengan cepat dan pulang dengan selamat, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Apapun yang terjadi nanti, aku pasti akan kembali padamu. Kita cuma berpisah sementara."
Tanpa sadar aku berbalik menghadapnya dan membalas pelukannya. Sungguh... Aku ingin seperti ini lebih lama lagi.
...****************...
Tiga hari berlalu setelah pesta pelepasan diselanggarakan, akhirnya pasukan Kekaisaran yang dipimpin langsung oleh Leonard pergi ke medan peperangan. Dia tersenyum padaku sebelum kuda yang membawanya benar-benar pergi. Aku melambaikan sapu tangan kuning yang dapat diartikan 'menunggu', para wanita yang melepas para lelakinya ke medan perang biasa melambaikan sapu tangan warna kuning untuk melepaskan kepergiannya yang mengartikan sang wanita akan menunggu sang pria kembali. Dan begitulah aku melepas Leonard pergi. Pergi untuk kembali pastinya. Seperti Leonard yang pergi berperang ke medan perang, akupun akan melakukan hal sama di istana ini karena peperangan bukan hanya ada di medan perang tapi juga ada di istana ini.
...****************...
__ADS_1
POV Author
Dua hari yang lalu terdapat kabar jika jika suku Barbar sudah bergerak menuju wilayah Kekaisaran bagian Timur, jika dipresiksi mereka akan sampai di perbatasan Kekaisaran bagian Timur dua hari lagi. Maka dari itu Pangeran Leonard sudah mengerahkan terlebih dahulu pasukannya yang terdiri dari tentara bayaran terbaik untuk menduduki markas mereka yang berada di perbatasan Timur. Dan tentara bayaran yang tergabung di Unit Timur adalah tentara bayaran yang merupakan teman-teman Pangeran Leonard sendiri.
"Apa yang kita dengar tadi tidak salah? Pangeran Pertama akan datang ke sini secara langsung?" Tanya Redian yang sedikit kesal.
"Apa aku perlu mengatakannya sekali lagi? Itupun jika telingamu sudah tuli, jadi perbaiki penampilanmu karena Pangeran Pertama akan segera datang." Perintah Julian.
"Berhentilah mengoceh Lian! Kenapa juga Pangeran Pertama datang kemari, menyusahkan saja!" Rutuk Edmund.
"Kamu juga Ed, pakai kembali jubah seragammu! Pangeran Pertama akan segera datang sebagai Komandan." Seru Julian yang juga memperingatkan Edmund.
Sementara ketiga teman mereka saling ribut satu sama lain, Rodrego justru santai dan tidak ingin ambil pusing atas keributan tersebut. Dan ditengah keributan kecil itu tiba-tiba pintu ruangan unit mereka terbuka dan muncul seorang lelaki berpakaian lengkap layaknya seorang tentara pasukan yang sama dengan seragam mereka, hanya saja lebih berbeda sedikit dari pada tentara pada umumnya. Seketika mereka yang ribut melihat ke arah pintu dan terkejut siapa yang mereka lihat.
"Mark?!" Seru Redian.
"Kenapa kamu bisa ada di sini juga?" Tanya Edmund.
"Seragam itu... Jangan bilang jika kamu juga mendaftar juga di Unit Timur Tentara Bayaran." Tebak Julian.
"Selamat datang di Unit kami Pangeran Pertama."
Tiba-tiba Rodrego yang terlihat santai tadi berdiri dari duduknya lalu secara mengejutkan memberi hormat kepada Mark dan memanggil lelaki itu dengan sebutan Pangeran Pertama. Sontak ucapan Rodrego tersebut membuat ketiga temannya yang lain sangat terkejut.
__ADS_1
"Apa??!! Pangeran??!!"
Bersambung....