
Esok harinya Oscar mengajak Leonard bertemu di bukit kecil belakang istana Pangeran. Tempat dimana sering kali Leonard, Oscar dan juga Louisse bermain sewaktu kecil. Entah mengapa Oscar ingin mengajak kakaknya itu bertemu secara pribadi tanpa Louisse.
"Ah, ternyata kamu tiba lebih dulu." Sapa Leonard ketika mendapati Oscar yang sudah berada di sana lebih dulu.
"Kakak..." Sapa Oscar balik.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku bertemu di sini? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Leonard.
"Kakak ingat tidak? Dulu kita bertiga bersama kak Isse sering main ke sini." Alih-alih menjawab pertanyaan Leonard, Oscar justru mengingatkan mereka tentang kenangan masa lalu.
"Mana mungkin aku melupakan hal itu, tapi...kamu mengajakku bertemu di sini bukan hanya untuk mengenang masa lalu kan?" Tanya Leonard seolah-olah tahu jika adiknya itu ada maksud lain yang ingin dibicarakan dengan dirinya.
"Apa kakak tahu mengenai istana terlarang yang berdiri jauh terpisah dari istana Kekaisaran?" Tanya Oscar tiba-tiba.
"Maksud kamu istana usang yang terlihat kecil dari sini itu?" Leonard bertanya balik sambil menunjuk ke bangunan yang nampak seperti kastil tua dibandingkan dengan istana yang terlihat dari tempat mereka berdiri. Istana tua itu akan terlihat atapnya saja jika dilihat dari atas bukit itu. Istana yang berdiri di tengah hutan istana.
"Benar, dan apa kakak tahu jika di sana tinggal seorang roh wanita yang masih hidup?" Tanya Oscar kembali.
"Kamu bertanya namun seakan-akan pernah melihatnya langsung." Ujar Leonard sedikit mengejek.
"Benar, aku memang pernah melihatnya secara langsung." Mendengar jawaban Oscar, Leonard langsung tertawa.
"Pfftt... Aku yakin jika itu hanyalah khayalanmu ketika maaih kecil dulu." Ujar Leonard tidak percaya dan malah mentertawakan adiknya itu.
"Aku serius! Aku benar-benar melihatnya dulu!" Seru Oscar dengan sesikit kesal karena kakaknya tidak mempercayainya.
"Aku tidak sengaja melihatnya ketika aku sedang bermain petak umpet dengan kak Isse. Dan tolong rahasiakan jika aku pernah masuk ke istana itu. Karena ada larangan dari Kekaisaran untuk laki-laki pergi ke sana." Ungkap Oscar.
__ADS_1
"Ah... Jadi istana itu adalah tempat dimana istri-istri dari mediang Kaisar terdahulu diasingkan." Ucap Leonard ketika sudah mengingat tentang perihal cerita itu.
"Meski istana itu nampak sunyi dan senyap, apa memang ada hal yang seperti roh itu di sana?" Tanya Leonard yang merasa ragu akan kebenaran cerita Oscar.
"Ada, dulu. Dia terlihat masih muda dan cantik." Jawab Oscar sambil menerawang jauh ke arah istana tua itu dan mulai bercerita...
"Waktu itu aku sedang mencara tempat untuk bersembunyi ketika bermain petak umpet dengan kak Isse di taman istana yang tak jauh dari hutan belakang istana. Dan tanpa sengaja aku menemukan sebuah lubang diantara semak-semak yang tinggi. Aku melihat seperti ada celah yang luas di sana, lalu akupun masuk dan berpikir jika kak Isse pasti akan susah menemukanku jika aku masuk ke dalam sana. Dan benar saja, lubang seukuran badan anak kecil itu terhubung dengan sebuah halaman yang sangat luas. Di sanalah aku melihatnya. Kemudian roh cantik itu menyapaku dengan senyum ramahnya. Dia bertanya apakah aku sedang tersesat? Enatah bagaimana ceritanya aku dan dia bisa duduk berdua di sebuah bangku yang ada si halaman istana tua itu. Lalu dia mulai bercerita tentang kisahnya yang terdengar seperti dongeng. Wanita itu adalah anak dari kepala suku Gibsi yang suka mengembara. Sebagai syarat agar sukunya bisa masuk ke wilayah Kekaisaran Eliador adalah dengan cara menikahi Kaisar. Usia masih tiga belas tahun saat menikah. Mantan Kaisar yang mempunyai banyak selir tidak mungkin ingat dengan wanita yang datang padanya layaknya sebuah upeti. Hingga mantan Kaisar wafat tidak ada seorangpun yang akan mengingatnya. Dia pun dikurung di istana tua sebagai tempat pengasingannya sampai ia menjemput ajalnya di sana. Tidak ada seorangpun di istana yang menganggapnya ada, maka benar jika dia disebut sebagai roh hidup." Begitulah cerita Oscar sesuai dengan apa yang dia ingat.
"Usia tiga belas tahun? Itu usia yang sama ketika pertama kali Louisse masuk ke istana. Andai kata aku tidak akan selamat dari peperangan, Louisse pasti akan... Hahh! Tidak, tidak! Itu tidak akan pernah terjadi." Karena cerita Oscar tersebut, Leonard jadi memikirkan hal-hal yang dia takutkan yang belum pasti akan terjadi. Namun untungnya dia langsung menepis semua pemikiran negatif yang ada di otaknya.
"Aku akan mencoba berbicara pada Yang Mulia Kaisar untuk mempertemukan wanita itu dengan keluarganya. Meski akan sulit jika meminta Kaisar untuk mengembalikan wanita itu ke tempat asalnya." Ujar Leonard pada Oscar.
"Kakak tidak akan bisa melakukan hal itu karena wanita itu sudah meninggal. Mungkin bunuh diri? Karena untuk hidup di sana bertahun-tahun itu tak akan mudah." Kata Oscar dengan raut sedih, dia menyayangkan penderitaan wanita itu yang sia-sia.
Leonard yang mendengarnya sedikit terkejut dan menatap Oscar. Leonard tidak menyangka jika Oscar akan sedikit mengeluarkan emosinya hanya untuk bercerita mengenai wanita di istana tua.
"Kak... Katakanlah, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Oscar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Akupun sebenarnya juga sama. Andaikan bisa aku ingin melepaskan semuanya lalu pergi dari sini. Kesempatan seperti itu sangat mudah bagiku. Tapi ada seseorang yang harus aku lindungi di sini." Ungkap Leonard.
"Maksud kakak adalah kak Isse?" Tanya Oscar dan Leonard pun tersenyum sebagai jawabannya.
"Oscar... Pasti ada seseorang atau sesuatu yang harus kamu lindungi juga kan? Coba kamu pikirkan baik-baik tentang hal itu, dan kamu akan menemukan jawabannya sendiri." Ucap Leonard sambil menepuk-nepuk pundak adiknya.
"Astaga... Apa kakak tahu seberapa sulitnya aku? Aku seperti hidup diantara ibu dan istri yang tengah berseteru." Keluh Oscar yang sedikit kesal dengan keadaannya saat ini.
"Hei... Jangan pakai perumpamaan yang mengerikan seperti itu." Sahut Leonard lalu sedetik kemudian mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya kak, mungkin ini sedikit terlambat untukku mengatakannya, tapi... Terimakasih karena kakak sudah pulang dengan selamat." Ucap Oscar dengan tersenyum tulus dan Leonard pun membalasnya dengan senyum yang sama.
Tanpa Leonard dan Oscar sadari ada seseorang yang mengawasi mereka dari balik pohon. Orang itu adalah seorang lelaki yang akhir-akhir ini selalu berada di sisi Ratu Media. Lelaki berponi panjang dan bermata merah. Pelayan pribadi sang Ratu. Entah apa tujuannya tapi yang pasti dia telah menguping pembicaraan dua Pangeran itu. Mungkin saja itu adalah perintah dari Media seperti sebelum-sebelumnya. Setelah dirasanya cukup, pelayan pribadi Media itupun pergi dari tempat itu.
.
.
Tak lama setelah itu di istana Ratu, ternta pelayan pribadi itu benar-benar menemui Media untuk melaporkan tentang apa yang dia dengar tadi.
"Bagaimana bisa anakku sendiri berkata seperti itu?!" Seru Media dengan sangat geram penuh emosi.
"Apa kau juga berpikir kalai aku ini serakah?" Tanya Media.
"Tolong Yang Mukia Ratu jangan memasukkannya dalam hati. Suatu hari nanti Pangeran Kedua pasti akan mengerti juga dengan maksud Yang Mulia." Ucap Pelayan itu.
"Aku juga berharap seperti itu." Sahut Media.
"Doha Hyperion! Aku tugaskan kepadamu untuk menjadi mata dan telingaku di sisi Pangeran Kedua!" Perintah Media kemudian.
"Sesuai perintah Yang Mulia Ratu, saya akan melaksanakan." Jawab orang yang bernama Doha Hyperion itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...