Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel

Tahta Untuk Pangeran Dalam Novel
Ep. 57 Rapat Rahasia


__ADS_3

Satu jam sebelumnya...


Leonard saat ini sedang berada di Istana Matahari untuk mengahadap sang ayah, Kaisar Eliador, Caspian De Eliador.


"Jadi maksudmu, kamu dapat bersekutu dengan keluarga Zacard tanpa harus melakukan pernikahan?" Tanya Sang Kaisar.


"Benar Yang Mulia. Agar Yang Mulia bisa mempercayainya, saya akan membuktikan kepada anda jika saya bisa bekerjasama dengan keluarga Zacard dan mengendalikan kondisi negara ini." Jawab Leonard berusaha untuk mendapatkan persetujuan ayahnya.


"Coba kamu jelaskan bagaimana caranya?!" Perintah Kaisar ingin tahu.


"Dengan cara meloloskan undang-undang yang mungkin akan ditentang oleh sebagian besar para bangsawan. Rancangan Undang-Undang tentang pewarisan gelar bagi wanita." Terang Leonard kemudian.


"Itu merupakan Rancangan Undang-Undang yang sangat mustahil untuk disetujui. Tapi itu bagus juga untuk menguji kecakapanmu. Baiklah, ajukan saja rencanamu itu di sidang Dewan Legislatif berikutnya." Kata Kaisar menyetujui permohonan Leonard.


Lalu kembali ke saat ini...


"Akhirnya semua berjalan sesuai dengan apa yang dikatakan Yang Mulia Putri." Ucap Vianty.


"Iya, tapi ini masih permulaannya saja." Sahut Louisse.


"Akan tetapi meloloskan Rancangan Undang-Undang bukanlah hal yang mudah. Karena kita memerlukan setengah dari persetujuan anggota Dewan Perwakilan." Ucap Leonard yang langsung membuat mereka bertiga berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


"Hmm... Untuk saat ini sekutu dari keluarga Willhem (keluarga Ratu) mengisi posisi lebih dari setengah anggota Dewa Perwakilan." Ujar Vianty.


"Lalu mereka yang merupakan anggota keluarga Ratu tidak akan mungkin mau menerima Rancangan Undang-Undang ini." Leonard menambahi.


"Dan tidak ada pula jaminan jika orang-orang yang bertentangan dengan keluarga Willhem akan setuju dengan Rancangan Undang-Undang yang kita ajukan." Kata Louisse menimpali.


"Sebenarnya ada satu cara lagi dan saya sebenarnya sudah memikirkannya sejak beberapa waktu yang lalu. Bagaimana jika kita meminta bantuan dari Dewan Rakyat?" Kata Vianty yang langsung membuat mata Louisse dan Leonard terbuka lebar.


"Ah, benar juga!" Seru Louisse yang baru saja mengingat seauatu.


Sebagai penjelasan saja... Di negara ini Dewan Legislatif terbagi menjadi dua bagian, Dewan Perwakilan Bangsawan dan Dewan Perwakilan Rakyat. Jumlah suara dari Wakil Bangsawan dan Wakil Rakyat yang dipilih dari setiap wilayah ditentukan berdasarkan jumlah penduduk. Berbeda dari Wakil Bangsawan yang bisa sampai memiliki lima surat suara jika penduduknya banyak. Wakil Rakyat hanya memiliki tiga suara saja. Tidak seperti Wakil Bangsawan yang dipilih melalui sistem pewarisan, uniknya Wakil Rakyat dipilih melalui pemilihan umum. Hanya ada dua macam cara kampanye yang bisa dilakukan di zaman ini yang tidak ada televisi untuk melakukan acara debat. Yaitu pidato dan menyebarkan uang. Untuk mendapatkan dukungan dan popularitas mereka akan membagikan uang lewat makanan atau sebagainya kepada orang-orang yang ada di jalan secara acak. Tujuan diadakannya Dewan Rakyat agar rakyat juga bisa menyuarakan pendapatnya dalam politik, akan tetapi kenyataannya mereka menjadi boneka yang mendapat sokongan dari kaum bangsawan.


"Ini sudah menjadi tradisi lama bahwa Wakil Rakyat yang terpilih dengan sokongan dari keluarga ternama akan otomatis menjadi anjing keluarga tersebut. Kenyataan yang cukup miris, tapi mau bagaimana lagi? Lalu... Aha! Jika itu tentang kekuatan harta, kita juga tidak akan kalah!" Pikir Louisse sambil menatap binar ke arah Vianty yang duduk di sebelahnya.


"Tapi kita pasti akan mengeluarkan banyak dana untuk pemilihan." Kata Leonard merasa sangsi bisa melakukan itu.


"Jika itu masalah dana, anda tidak perlu khawatir Yang Mulia... Uang saya dari hasil bisnis cukup banyak. Lagian uang tersebut saya kumpulkan untuk berjaga-jaga seperti saat ini." Ujar Vianty dengan sangat bangganya.


"Wahh... Anda sangat luar biasa Lady." Louisse bertepuk tangan merasa takjub dengan kemampuan Vianty.


"Dari awal saya sudah menduganya bahwa pemilihan itu pasti mengenai uang." Ujar Vianty yakin.

__ADS_1


"Hohoho... Uang memanglah yang terbaik." Louisse membenarkannya.


"Hahh... Mereka berdua terlihat seperti bandit saja." Gumam Leonard sambil bergidik melihat kedua wanita di depannya yang terlihat seperti penjahat yang akan melakukan sesuatu dengan uang.


"Kalau masalah bangsawan yang tidak berpihak pada keluarga Willhem, biar aku saja yang membujuknya. Sebab meski suara Wakil Rakyat sudah digabungkan semua, itu tidak akan melebihi suara Wakil Bangsawan dan kita tetap membutuhkan suara Wakil Bangsawan yang tersisa selain dari pihak keluarga Willhem." Ujar Leonard.


"Berarti kita masih membutuhkan sedikit lagi suara." Vianty menimpali.


"Yang tersisa hanyalah bangsawan yang bukan dari keluarga Willhem." Lanjut Vianty.


"Ahh! Kalau begini bagaimana? Kita bisa membuat Wakil Bangsawan dari keluarga Count Aswan berada di pihak kita." Ide Louisse.


"Tentu saja itu... Karena wilayah dari Count Aswan lumayan luas, mereka memiliki lima hak surat suara. Kita memiliki peluang untuk menang jika berhasil merangkul mereka di pihak kita!" Sahut Vianty yang terlihat setuju dengan ide Louisse, namun tidak halnya dengan Leonard yang terlihat kurang setuju.


"Louisse... Jika kita memikirkan Julian, ada baiknya kita tidak menyentuh keluarga Count Aswan." Ucap Leonard mengingatkan Louisse.


"Aku juga tahu itu. Kepala keluarga Aswan saat ini adalah kakak kandung dari sir Julian yaitu Zack De Aswan. Dan hubungan mereka berdua sedang tidak baik.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2