
Tujuh tahun yang lalu
Anak-anak panti asuhan berjajar di depan panti. Kami akan pergi ke Dionyz Arena, tempat pelaksanaan Kejuaraan Lavander. Hari ini Kejuaraan Lavender akan dibuka. Pembukaan Kejuaraan Lavender adalah sesuatu yang menarik untuk dilihat. Selain itu banyak toko-toko bermunculan di sekitar Dionyz Arena selama Kejuaraan Lavender berlangsung. Kami bisa bersenang-senang di sana.
“Hati-hati di sana. Pulanglah sebelum malam tiba,” pesan Ova.
“Baik.”
Saat kami mulai berjalan pergi, Ova memanggilku.
“Violet, aku hampir lupa denganmu. Hari ini kau tidak bisa pergi. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Ova.
Aku mengeluh kecewa. Aku ingin sekali melihat Kejuaraan Lavender bersama teman-teman yang lain.
“Apa kau tidak bisa menundanya hingga aku pulang dari Dionyz Arena, Ova?” tanyaku.
Ova menggeleng tegas.
Ada apa dengan Ova. Apa dia masih marah padaku karena gagal makan malam dengan kelinci. Bukankah aku telah membawakan rusa besar kemarin sore. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengganti kelinci yang lepas.
Aku mengikuti Ova ke ruang tengah panti. Ova menyuruhku duduk di kursi meja makan, sementara Ova masuk ke kamarnya mengambil sesuatu.
“Violet… Violet…”
Aku menoleh ke jendela.
Kejadian kemarin terulang lagi. Di balik jendela itu, Aras sedang memanggilku.
“Ayo ikut aku,” kata Aras.
“Tapi Ova?”
“Tidak usah kau pikirkan. Kau kemarin sudah membawakannya rusa. Dia pasti akan memaafkanmu kali ini.”
Aku berpikir sejenak. Aku sangat ingin pergi tapi sepertinya Ova akan membicarakan sesuatu yang penting kepadaku.
“Hey, cepatlah. Ova akan segera kembali.” Aras memperingatkanku.
Aku menerima ajakan Aras. Aku melompat keluar melewati jendela, tepat sebelum Ova datang meneriakiku.
__ADS_1
Aku dan Aras berlari sambil tertawa. Yang tadi itu agak menegangkan. Kami berhenti berlari setelah napas kami terengah-engah. Kami sudah memasuki Kota Aruvi. Untuk menyemarakkan Kejuaraan Lavender, kota ini dipenuhi dengan gambar-gambar peserta kejuaraan.
“Lihat, itu pemburu kemarin, kan.” Aras menunjuk salah satu spanduk besar di pinggir jalan.
Spanduk itu bergambar si Pemburu Amatir. Di bagian bawah gambar ada tulisan namanya.
“Vender. Jadi itu namanya. Aku heran kenapa salah satu peserta kejuaraan tidak pintar berburu,” komentar Aras.
“Kau benar. Pantas saja aku merasa tidak asing dengannya. Aku ternyata memang sering melihatnya di brosur dan spanduk-sapnduk pendukungnya.” Aku berkata seperti itu tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Namanya serasa familiar.
Aras membelikanku tiket masuk Dionyz arena. Kami mendapat tempat duduk yang menghadap cahaya matahari. Panas, tidak terlindung. Itu sepadan karena kami memang membeli tiket yang paling murah.
“Aku harap mendung datang karena tempat ini benar-benar panas,” harapku.
Aras tiba-tiba menaruh sebuah topi di kepalaku.
“Aku tadi membelinya di luar. Hari ini memang sangat panas.”
“Terima kasih.” Aku menurunkan topiku untuk menutupi semu merah di wajahku.
Setelah Aras memakaikan topi kepadaku, aku terus diam hingga terompet kejuaraan dibunyikan. Bersamaan dengan bunyi terompet, sepasukan prajurit muncul membwa panji-panji Klan Ungu. Di belakangnya peserta kejuaraan satu persatu muncul. Seluruh peserta tampak mengagumkan. Aku melihat Vender, Pemburu Amatir diantara peserta kejuaraan. Dia tampak hebat bersama peserta kejuaraan lainnya.
“Keren sekali. Bisa tidak, ya, aku seperti mereka,” kataku.
“Tapi aku bukan petarung. Aku seorang pem–”
“Violet, Ova sering memuji kemampuan pedangmu dan kau sekarang masih sepuluh tahun. Kau memiliki banyak waktu untuk nelatih kemampuanmu. Aku berjanji jika kau bisa mengikuti kejuaraan ini, aku akan menontonmu di sini setiap hari sampai kejuaraan selesai.”
“Aku tidak yakin.”
“Aku janji, Violet.”
“Aku tidak ingin kau hanya menontonku. Berjanjilah kau akan menemaniku berlatih setiap hari dan melihatku di kejuaraan juga kau harus mentraktirku makan jika aku menjadi juara Kejuaraan Lavender.”
“Itu berarti kau juga harus menemaniku melihat matahari terbenam setiap sore.”
“Iya iya. Akan aku lakukan.”
“Kalau begitu Violet, aku janji aku akan menemanimu berlatih, melihatmu di kejuaraan, dan mentraktirmu jika kau menang.”
Aku dan Aras menautkan jari kelingking kami. Saat itu kami tidak tahu jika itu hanya janji yang sia-sia belaka.
__ADS_1
Pembukaan Kejuaraan Lavender berlangsung cukup lama dari perkiraanku. Hanya pembukaan saja memakan waktu hingga sore hari. Padahal aku ingin segera melihat babak pertama Kejuaraan Lavender.
“Violet, aku keluar sebentar, ya. Aku ingin membeli minum,” kata Aras.
“Tapi kau bisa ketinggalan babak pertama.” Aku memperingatkan.
“Tidak apa-apa.”
“Ya sudah, cepat kembali, ya.”
Babak pertama telah berakhir. Aku baru sadar jika Aras belum kembali. Selama babak pertama berlangsung, aku terlalu fokus dengan kejuaraan sehingga aku tidak menyadari keberadaan Aras.
Mungkin Aras sudah pulang. Tapi dia tidak mungkin tega meninggalkan anak perempuan yang baru berumur sepuluh tahun ini sendirian. Aku memutuskan untuk tetap menunggu Aras. Namun, hingga Dionyz Arena sepi, Aras belum datang juga.
“Sepertinya dia benar-benar meninggalkanku.”
Aku berdiri dari bangku penonton. Dengan kesal aku meninggalkan Dionyz Arena. Selama perjalanan pulang aku hanya memikirkan bagaimana pembalasanku kepada Aras.
Jalan menuju panti terasa sepi. Tidak ada satu pun teman pantiku yang aku temui. Bisa jadi mereka memang sudah pulang atau masih bermain di sekitar arena.
“Apa ini?”
Sepatuku menginjak cairan kental yang agak lengket.
“Darah?”
Sebuah sungai darah baru saja terbentuk. Mengalir dari atas sana menuruni jalan yang aku lewati. Aku langsung berlari ke panti. Semakin aku mendekati panti asuhan, aliran darah semakin membesar.
Kakiku terasa lemas ketika sampai di depan panti asuhan. Panti asuhan berubah menjadi lautan darah. Aku melihat beberapa anak panti berbaring tak bernyawa di tanah. Bangunan panti pun mengalirkan darah seolah-olah bangunan itu hidup dan terluka.
Dengan gemetar aku memasuki bangunan panti asuhan. Ada mayat prajurit dan teman-temanku di bagian depan panti. Aku masuk ke bagian tengah panti. Pedang sudah siap di tanganku.
Aku benar-benar lemas melihat pemandangan di depanku. Aku menyandarkan diri ke dinding agar tidak jatuh. Di depanku Aras berdiri dengan pedang yang penuh darah. Di depannya tergeletak tubuh Ova yang telah mati.
“Apa yang kau lakukan, Aras?” Lidahku terasa kelu.
Aras diam.
“Jawab aku, Aras!”
Aras tetap diam. Aku tidak tahan lagi. Aku mengayunkan pedangku ke Aras. Aras berhasil menangkisnya. Dia mendorongku hingga membentur dinding.
__ADS_1
“Pergilah selagi kau bisa, Violet.”