
“Wah, lihat, Aras! Itu sangat cantik!” seru Miya sambil menunjuk lembah bunga yang tak jauh di depan kami.
Miya menarik tangan Aras, mereka berlari ke lembah lebih dulu. Miya berlari riang bersama Aras di antara bunga-bunga yang mekar. Roknya berkibar indah ketika dia berputar di tengah padang bunga.
Miya tersenyum lebar ke Aras. Aras balik tersenyum ke arahnya. Senyuman Miya benar-benar seperti mentari. Aku sampai terkesiap karena Miya terlihat sangat cantik. Apalagi dengan latar belakang bunga-bunga yang berwarna cerah.
“Nona.” Ty menyadarkanku dari lamunanku.
“Ada apa, Ty?”
“Ayo, kita ke sana juga.”
Aku mengangguk.
Ty menggandeng tanganku. Kami berjalan berdua ke lembah bunga.
“Nona, lembah ini sangat cantik, bukan?” Ty tersenyum manis padaku.
Aku balas tersenyum. “Iya, sangat cantik.”
“Aku pernah mendengar tentang lembah ini dari pamanku. Kabarnya di lembah ini tumbuh bunga langka yang sangat cantik.”
“Benarkah?”
Ty mengangguk. Tapi raut wajahnya tiba-tiba berubah sedih. “Tapi aku belum pernah melihatnya. Padahal aku ingin menunjukkannya pada Nona.”
Aku menepuk kepala Ty pelan. “Tidak masalah kau belum pernah melihatnya. Jika kau melihat bunga yang sangat indah, bunga itu pasti bunga langka yang kau maksud.”
Ty mengangguk, kembali bersemangat.
Aku dan Ty memandang bunga-bunga yang bermekaran. Lembah ini ditumbuhi oleh berbagai macam bunga yang berwarna-warni.
“Ah, aku tahu!” seru Ty.
Ty melepas genggaman tangannya dariku. Dia berlari agak jauh ke tengah lembah. Dia berjongkok di sana cukup lama.
Karena aku penasaran dengan apa yang Ty lakukan, aku akhirnya menghampiri Ty.
“Berhenti, Nona!” seru Ty sambil mengangkat tangannya ke arahku.
Aku kontan berhenti melangkah. Padahal aku baru setengah perjalanan menuju Ty.
“Maafkan aku, Nona. Tapi Nona jangan ke sini dulu. Nona duduk dulu di sana. Aku akan segera ke sana jika semuanya sudah selesai,” kata Ty.
“Baiklah,” jawabku.
Aku duduk di atas rerumputan sambil memandangi Ty. Aku mencoba menebak apa yang dilakukan Ty di sana.
Ty duduk membelakangiku. Tapi aku bisa melihat tangannya sibuk mengerjakan sesuatu. Beberapa kali dia menengok ke sekitar dan mencabut bunga di dekatnya.
Kedua ujung bibirku terangkat. Aku rasa aku tahu apa yang Ty lakukan.
Beberapa saat kemudian, Ty berlari padaku. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggungnya.
“Nona, maaf membuatmu menunggu lama,” kata Ty. Napasnya terengah karena berlari.
“Tidak masalah, Ty,” jawabku.
“Kalau begitu sekarang tutup mata Nona,” pinta Ty.
Aku menutup mata.
Aku merasakan Ty meletakkan sesuatu di atas kepalaku.
“Sekarang Nona boleh membuka mata,” kata Ty.
Aku membuka mata perlahan. Aku melihat bayangan diriku memakai mahkota rangkaian bunga di pecahan cermin yang dipegang Ty. Aku menyentuh pelan mahkota bunga di kepalaku.
“Ini sangat cantik, Ty!” pujiku. “Terima kasih.”
__ADS_1
Aku sudah mengira Ty membuatkanku mahkota dari rangkaian bunga. Tapi aku tidak menduga hasilnya akan sebagus ini.
“Mahkota itu tampak cantik karena Nona yang memakainya.”
Aku tersenyum lebar. Aku heran sejak kapan Ty pintar berbicara manis seperti ini.
Tanganku memetik sebuah bunga di dekatku. Aku memasangkan bunga itu di telinga Ty.
“Kau juga cantik,” kataku sambil memandang Ty.
“Aku lebih senang jika Nona mengatakan aku tampan,” ucap Ty sambil cemberut.
Aku tertawa lepas. “Kau pasti akan menjadi pria tampan ketika dewasa nanti.”
Ty tersenyum gembira. Dia merentangkan kedua tangannya lalu memelukku erat. Aku balas memeluknya. Kami tertawa bersama.
Dari ujung mataku, aku melihat Aras memandang kami. Tangannya menggenggam setangkai bunga. Aku menoleh ke arahnya, masih dengan senyum lebar di wajahku. Aku pikir dia ingin berbicara sesuatu kepada salah satu di antaraku atau Ty.
Aras langsung menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya ketika menyadari aku menatapnya.
“Ada apa, Aras?” tanyaku.
“Tidak apa-apa. Kau terlihat cantik memakai mahkota itu,” jawab Aras sambil tersenyum.
“Terima kasih, Aras. Ty yang membuatkannya untukku,” kataku.
Aku menunduk sambil menyentuh mahkota bunga di kepalaku. Pipiku terasa hangat.
“Tentu saja Nona terlihat cantik. Aku yang membuatkan mahkota itu untuknya. Tapi tanpa mahkota pun, Nonaku adalah perempuan yang paling cantik!” ucap Ty riang.
Aras tertawa kecil. “Dari mana kau belajar kata-kata seperti itu, Ty?”
Ty tertawa. “Nona memang cantik. Jadi, itu spontan saja keluar dari mulutku.”
Ty dan Aras terus memujiku hingga aku yakin kini wajahku sudah sangat merah tua.
“Kalian berhentilah,” ucapku.
“Bukan begitu,” jawabku.
Aku menghela napas. Mereka terlalu berlebihan hingga membuatku tidak nyaman.
“Ah, itu Miya.” Aku melihat Miya berjalan menghampiri kami bertiga.
Ty dan Aras ikut melihat ke arah Miya.
“Kalian terlihat sangat asyik mengobrol,” kata Miya.
“Ini tidak seperti yang kau bayangkan,” kataku sambil mengibaskan tangan kananku.
Mata Miya tertuju ke mahkota bunga di atas kepalaku.
“Apa Aras yang membuat mahkota bunga itu untukmu?” tanya Miya.
“Bukan! Ini buatanku khusus untuk Nona. Enak saja kau mengatakan mahkota itu buatan Aras.” Ty mengeluh keberatan.
“Kalau begitu bagaimana jika Aras membuatkan mahkota itu juga untukku?” ucap Miya.
“Untukmu?” Aras menatap Miya.
Miya mengangguk. “Ty sudah membuatkan mahkota untuk Violet. Itu artinya yang giliran Aras yang membuatkan mahkota untukku.”
“Tapi aku tidak bisa membuat mahkota sebagus Ty,” kata Aras.
“Tidak masalah. Aku akan tetap menyukainya,” kata Miya.
“Baiklah.”
“Hore!”
__ADS_1
Miya menarik Aras pergi. Mereka duduk agak jauh dariku dan Ty. Aras mulai merangkai bunga. Di sampingnya Miya memandang Aras dengan tidak sabar.
“Nona tidak perlu melihat mereka,” kata Ty.
“Kenapa, Ty? Mereka terlihat senang. Apalagi Miya.”
Ty mendengus kesal. Dia menarik tanganku. “Nona ikut aku saja. Aku melihat bunga yang sangat cantik tadi. Warna seperti mata Nona. Mungkin itu bunga yang langka yang terkenal itu. Aku ingin Nona melihatnya juga.”
Aku mengikuti Ty. Dia membawaku semakin jauh dari Aras dan Miya.
“Kemana, ya, bunga itu? Padahal aku yakin ada di sekitar sini.” Mata Ty mencari-cari bunga yang ingin ditunjukkannya padaku.
Aku dan Ty sudah beberapa kali memutari tempat ini untuk melihat bunga yang dimaksud Ty. Tapi kami belum juga menemukannya.
“Seperti apa bunganya, Ty?” tanyaku.
“Warnanya ungu keemasan,” jawab Ty.
Aku ikut mencari bunga yang dimaksud Ty. Tapi aku juga tidak menemukannya.
“Mungkin kita salah tempat, Ty,” kataku.
Ty mengangguk muram. Dia kemudian menatapku. “Nona tunggu di sini dulu. Aku akan mencari ke tempat lain. Nanti aku akan memanggil Nona jika aku sudah menemukannya.”
Belum sempat aku menjawab, Ty sudah berlari pergi.
Aku duduk di rerumputan sambil menunggu Ty. Aku melepas mahkota bunga yang Ty buatkan untukku. Mahkota yang dibuatkan Ty sangat cantik. Dulu Aras juga pernah membuatkanku mahkota seperti ini. Tapi tentu saja tidak sebagus Ty. Aku jadi penasaran bagaimana mahkota bunga yang dibuatkan Aras untuk Miya. Siapa tahu kemampuan Aras sudah meningkat sekarang.
Aku menoleh ke tempat Aras dan Miya berada sebelumnya. Tapi mereka sudah menghilang.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang mendekatiku dari arah lain. Aku segera menoleh.
“Aras?”
Aras berdiri di dekatku. Tangan kanannya membawa sesuatu di balik punggungnya. Dia duduk di sampingku. Dia terlihat gugup.
“Ngg.. Uhm... Ini untukmu.” Aras memberikan sebuket kecil bunga anemone kepadaku.
“Ini mungkin tidak sebagus mahkota bunga yang dibuatkan Ty untukmu. Tapi ini bunga kesukaanmu,” kata Aras dengan wajah memerah.
Aku menatap Aras terkejut. Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya. Aku pernah mengatakan jika bunga anemone adalah bunga kesukaanku. Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu, jauh sebelum kami masuk ke panti asuhan. Dan aku hanya pernah mengatakannya sekali. Aku tidak percaya Aras masih mengingatkannya.
Aku menerima buket bunga anemone dari Aras. Lalu mencium bau harum bunganya. Aku tersenyum kepada Aras. “Terima kasih.”
Aras mengangguk. Dia tersenyum padaku dengan pipinya yang merah.
“Aras!” Miya memanggil dari kejauhan. Dia melambaikan tangannya.
Aras menoleh ke Miya. Dia lalu kembali menghadapku. “Aku pergi dulu.”
Aku menggangguk.
Setelah Aras pergi, Ty datang kepadaku.
“Maaf, Nona. Aku tidak menemukannya,” ucap Ty. Dia tampak kecewa.
“Tidak apa-apa, Ty. Aku sudah sangat senang karena kau membuatkan mahkota bunga ini untukku.”
Ty mengangguk. Tapi dia tidak terlihat bersemangat.
Ty melihat buket bunga anemone di tanganku. “Aku tadi melihat Aras mendatangimu. Apa dia yang memberikan bunga Itu?”
Aku mengangguk.
Ty tiba-tiba tertawa. “Pantas saja wajahnya sepeti itu.”
“Wajah siapa yang kau maksud, Ty?” Aku jadi agak gelisah. Jangan-jangan wajahku terlihat sangat merah ketika menerima buket dari Aras.
“Nona harus melihat wajah Miya ketika Aras memberikan buket itu pada Nona. Raut wajahnya sangat lucu. Aku sampai ingin menangis melihatnya karena kelewat lucu. Nona seharusnya melihatnya sendiri.”
__ADS_1