Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 77


__ADS_3

Kepalaku terasa pusing ketika aku bangun. Tanganku terasa pegal dan perih. Kedua tanganku tidak bisa digerakkan. Mereka terbogol, menempel dengan dinding.


Aku menatap jeruji besi yang ada di depanku. Aku sekarang berada di ruang tahanan. Aku tidak tahu ini ada dimana. Aku tidak bisa melihat jejak di sekitarku untuk mencari tahu. Keistimewaanku tidak bisa bekerja saat ini. Tubuhku rasanya sangat lelah. Tapi aku cukup yakin aku masih berada di Klan Hijau.


Ketika terakhir kali aku sadar, aku dan Aras ditangkap oleh manusia Klan Hijau. Kemungkinan besar, saat ini aku menjadi tahanan mereka.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruang tahanan yang aku tempati seperti tidak memiliki pintu keluar. Di balik jeruji penjara, terdapat dinding yag dipenuhi tanaman merambat. Ukuran mereka sangat besar dan lebat. Tidak ada tanda-tanda pintu keluar dibalik tanaman itu.


Aku bergelayut lelah dengan kedua tangan yang terborgol. Manusia Klan Hijau itu memenjarakanku dan memborgolku kedua tanganku hingga aku tidak bisa duduk. Kedua tanganku tergantung ke atas. Aku bahkan tidak bisa bersandar pada dinding yang ada di dekatku.


Anehnya lagi setelah aku sadar, energiku terasa semakin menghilang saja. Mereka seperti tersedot. Aku tidak bisa menghancurkan borgol yang mengikatku. Untuk mempertahankan kesadaranku saat ini pun aku sedang berjuang keras.


Srtt... srtt...


Tanaman merambat yang menutupi dinding tiba-tiba bergerak, menyingkir dari dinding, menampakkan sebuah pintu kayu.


Pintu itu perlahan terbuka, menampakkan sosok yang sangat mengejutkan.


“Tiha?” Aku terlalu lemas untuk menyebut keras namanya. Aku hanya bisa bergumam lemah.


Wajah Tiha terlihat sangat dingin. Dia terlihat jauh berbeda dari gadis Klan Jingga yang aku kenal sebelumnya. Tiha menatapku tajam dari atas hidungnya.


“Keadaanmu terlihat sangat lemah, Violet. Apa Arnold adalah lawan bertarung yang sangat menyusahkanmu sampai kau kelelahan seperti ini?”


Tiha melirik borgol yang mengikat kedua tanganku.


“Ah, borgol itu. Pantas saja kau bisa sampai selemah ini. Itu adalah borgol yang mengikat Aras dan Azuro ketika mereka berada di Klan Biru Barat. Kau pasti tahu, kan jika borgol itu menyerap energi permata klan dari tubuh orang yang memakainya?”


Aku menatap Tiha tajam. “Kau berkhianat.”


Tiha hanya diam menatapku. Dia tidak mengatakan sepatahpun penolakan.


“Arnold sudah mengambil permata klan yang kau bawa,” kata Tiha. “Selain itu dia sekarang sedang mengintrogasi Aras. Dia menyiksa Aras habis-habisan karena Aras terus tutup mulut.”


Tiha berjalan lebih dekat ke jeruji penjara.


“Aras sepertinya berusaha melindungimu. Dia terus bungkam apalagi jika itu menyangkut denganmu. Dia sepertinya masih punya energi yang besar sampai dia bisa menahan siksaan Arnold.”


Aku terkesiap setiap mendengar ucapan yang meluncur dari mulut Tiha. Tapi aku berusaha untuk tenang.


“Kau ke sini hanya untuk memberitahu itu padaku?” tanyaku.


Tiha mengangguk.


“Sebentar lagi adalah giliranmu. Aku harap kau bisa melewatinya,” kata Tiha.


Tepat setelah Tiha menutup mulut, pintu penjara kembali terbuka. Dua orang laki-laki Klan Hijau berbadan besar masuk ke dalam penjara. Mereka terlihat agak terkejut ketika melihat Tiha.


“Apakah ini sudah waktunya?” tanya Tiha kepada dua orang laki-laki itu.


Kedua laki-laki itu mengangguk. “Arnold menyuruhmu untuk menemuinya.”


“Baiklah,” jawab Tiha.


Tiha menoleh padaku. “Berjuanglah, Violet.” Tiha tersenyum padaku, kemudian melangkah pergi.


Kedua laki-laki itu mengeluarkanku dari penjara. Sebelumnya mereka menutup kedua matkau lebih dulu. Dengan kedua tangan yang masih terborgol dan mata yang tertutup, mereka membawaku pergi.

__ADS_1


Aku merasakan panas yang menyengat setelah beberapa saat berjalan. Selain itu aku juga mendengar suara riuh di sekitarku. Aku yakin aku sudah di luar penjara.


“Jalan!” Salah seorang dari mereka menyodok punggungku dengan kayu, memaksaku untuk berjalan.


Suara riuh semakin jelas setiap aku melangkah. Mereka meneriakku. Mereka bahkan melemparkan berbagai benda padaku. Aku tidak bisa menghindarinya ataupun melindungi diri. Perlahan aku merasakan cairan lengket membasahi sebagian wajahku.


Dua orang itu menyuruhku berhenti ketika aku menabrak sebuah tiang kayu yang cukup besar. Mereka mengikatku di sana. Tepat di tengah keramaian manusia yang berteriak marah.


Tiang itu bergerak. Aku merasakan tubuhku terangkat. Angin lembab berhembus kencang, melepaskan penutup mata yang sudah hampir terlepas ikatannya.


Perlahan-lahan aku membuka mata. Matahari sudah bersinar sangat terik. Mataku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang terang.


“Oh!”


Aku tetap terkejut ketika melihat banyak orang di bawahku meskipun aku sudah memperkirakannya. Ratusan atau bahkan ribuan orang mengelilingiku. Mereka berteriak marah padaku. Beberapa orang bahkan melempariku dengan batu. Aku menunduk, berusaha menghindari lemparan mereka.


Apa-apaan ini sebenarnya?


Mataku melihat sekeliling. Tempat ini serasa familiar. Rumah-rumah yang berdiri di pulau-pulau kecil. Aku sadar aku sekarang berada di Desa Jati. Tepat di tengah desa.


Aku tidak melihat Aras dimanapun. Sebelumnya Tiha bilang Arnold sedang menginterogasi Aras. Sepertinya mereka berada di tempat lain yang jauh lebih tertutup. Aku harap Aras baik-baik saja.


CTARR


Seorang algojo melecutkan cambuknya di tanah. Badannya besar. Banyak bekas luka di wajahnya. Dia menatapku tajam, berusaha membuatku takut. Tapi aku hanya memandangnya dengan dingin.


CTARR


Algojo itu menyambukku sekali. Orang-orang dibawahku berseru senang. Aku tetap diam. Aku sudah familiar dengan rasa sakit dari cambukan.


Aku mengangkat wajahku. Betapa terkejutnya aku melihat Tiha berdiri tidak jauh dariku. Kepalanya ditutup oleh tudung. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi jejaknya adalah jejak Tiha. Di sampingnya berdiri Rotundus dan Cyperus. Di depan mereka bertiga duduklah Arnold di atas sebuah kursi rotan.


‘Apa yang kau benar-benar berkhianat?’ tanyaku dalam hati.


Rasanya tidak mungkin Tiha berkhianat. Tidak mungkin Tiha bersekutu dengan Arnold. Mereka berbeda klan. Arnold Klan Hijau, sedangkan Tiha Klan Jingga. Apalagi Tiha adalah utusan dari pemimpin Klan Jingga.


GONGGG... GONGGG


Gong besar seperti yang ada di Desa Trap dipukul dua kali. Algojo itu mendekat padaku.


“Bawa Klan Hitam itu keluar,” ucap Arnold.


Dari pintu di belakang Arnold, Aras muncul dengan keadaan penuh luka. Kepalanya menunduk. Tubuhnya diikat oleh sulur-sulur hingga kakinya bahkan tidak menapak di lantai. Aras berdiri menggantung di balkon yang sama dengan Arnold.


“Lihatlah siapa yang ada di depanmu,” kata Arnold pada Aras.


Aras mengangkat wajahnya. Dia sangat terkejut ketika melihatku terikat di atas tiang yang dikelilingi penduduk.


“Violet!” Aras berusaha maju, tapi dia terikat.


“Lepaskan dia!” teriak Aras.


Arnold tersenyum. Dia menghadap algojo yang ada di hadapanku.


“Cambuk dia!”


“Tidak!!”

__ADS_1


CTARR... CTARRR...


“Arghh!”


Aku terkejut oleh cambukan kuat algojo yang tiba-tiba. Aku meringis. Kulitku panas. Aku mengatupkan gigiku kuat-kuat. Algojo itu mencabukku sampai aku tidak memiliki kekuatan untuk bergerak.


Orang-orang yang menontonku berseru puas melihatku terikat lemas. Mereka terus meneriakiku.


Rasa perih bekas cambukan terasa lebih sakit akibat sinar matahari yang sangat terik. Aku berusaha bernapas teratur.


“Dasar pembunuh!”


“Biadab!”


Aku sama sekali tidak mengerti maksud teriakan mereka. Aku tidak melakukan apapun pada mereka. Tapi mereka terus meneriakiku seolah aku adalah pembunuh.


Rasanya aku seperti sedang diadili karena telah melakukan kesalahan besar. Dipermalukan dan dicambuk di tengah desa adalah hukuman yang berat. Padahal aku tidak melakukan apapun.


Arnold beranjak dari tempatnya. Dia berjalan ke pinggir balkon. Dia mengangkat tangannya. Penduduk desa langsung terdiam.


“Sesuai kesepakatan yang kita lakukan. Orang yang membunuh kepala desa kita, Ziben, harus mendapat balasan yang setimpal!” seru Arnold.


Penduduk desa berteriak mengiyakan.


Aku tertawa. Aku mengerti maksud mereka sekarang. Mereka kira aku adalah yang membunuh Ziben. Aku yakin Arnold telah membohongi mereka.


“Kita akan membakarnya seperti mereka membakar kepala desa kita terdahulu!” teriak Arnold.


Mataku membelalak mendengar ucapan Arnold. Rupanya dia benar-benar berniat untuk membunuhku.


“Tidak! Hentikan!” teriak Aras.


DUAKK


Cyperus memukul Aras hingga Aras menghantam pagar pembatas balkon.


“Ini konsekuensi karena kau telah menolakku, Raja Aras. Saksikanlah kematiannya,” ucap Arnold.


Ribuan kayu dilemparkan ke arahku.Tidak hanya melempar kayu begitu saja. Mereka bahkan sengaja melempar kayu hingga mengenai wajahku.


Kayu bakar sudah menumpuk di bawahku. Seorang algojo berjalan mendekatiku sambil membawa obor.


“Hentikan...” Aras bersuara lemah.


Tidak siapapun yang menghiraukan Aras. Apalagi algojo itu. Dia tetap berjalan ke arahku dengan obor yang menyala.


Aku menatap Aras yang berada jauh di depanku. Wajahnya terlihat sangat takut. Aku tersenyum padanya, memberitahu Aras bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Jangan... jangan tersenyum seperti itu,” ucap Aras lirih.


Aku tidak ingin ini menjadi senyuman terakhirku. Aku juga tidak berniat untuk mati di sini. Aku akan mencari jalan keluar untuk kabur dari sini, meskipun rasanya hampir mustahil.


Algojo itu melemparkan obor ke tumpukan kamu. Api menyebar dengan sangat cepat. Rasa panas dan perih menyerangku.


“VIOLET!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2