
DO... DO...
Peluit kapal berbunyi kencang. Kapal Titanic bersandar megah di pelabuhan. Saat ini pelabuhan sangat ramai dengan hilir mudik para penumpang kapal dan pelayan yang membawa barang–mengikuti di belakang tuannya. Ada juga para pengantar yang ramai duduk di pinggir pelabuhan. Kebanyakan mereka mengantar keluarga mereka yang bekerja di kapal Titanic. Lima tangga penyeberang dikerahkan untuk menaikkan lebih dari seribu penumpang. Sebenarnya seribu itu sangat sedikit untuk kapal sebesar ini. Kapal sebesar Titanic seharusnya bisa mengangkut lebih dari lima ribu penumpang kapal pesiar. Tapi karena ini kapal mewah, kapasitasnya sangat terbatas agar penumpang lebih bisa dimanjakan oleh fasilitas kapal.
Tiha tampak tidak sabar untuk memasuki kapal. Dari tadi dia terus berbicara tentang Titanic.
“Astaga, akhirnya aku naik kapal uap asli.”
“Ya ampun, dari luar saja aku bisa tahu kapal ini sangat elegan.”
“Aku sangat penasaran bagaimana dalamnya.”
Aku juga takjub dengan kapal Titanic. Ini pertama kalinya aku menaiki kapal pesiar. Rasanya pasti akan sangat berbeda dengan kapal induk militer walaupun keduanya sama-sama berukuran besar.
“Di sini terlalu ramai,” protes Ichi.
Dari tadi kami beberapa kali ditabrak oleh orang yang lewat. Yang paling menyebalkan adalah orang-orang sombong yang menaiki kereta kuda mereka hingga depan tangga penyeberangan. Pelayan mereka terus berteriak agar orang-orang menyingkir dari jalan. Tapi jalan terlalu sesak. Kereta-kereta itu hanya membuat jalan bertambah penuh.
“Hati-hati di sana. Jaga kesehatan kalian,” pesan Ludwig.
“Terima kasih, Ludwig. Sekali lagi kau membantu kami,” kataku.
“Mau berkali-kali pun, aku akan tetap membantu kalian. Tulis surat juga padaku jika sempat agar aku tahu keadaan kalian.”
“Tentu saja, Ludwig. Aku akan menulis surat yang panjang,” jawab Ryza.
“Jangan lupa, pakai cat rambutnya seminggu sekali.” Ludwig berkata lirih agar tidak di dengar orang lain.
Tadi pagi kami semua mengecat rambut kami dengan warna biru. Kami juga membawa botol-botol berisi cat rambut untuk persediaan selama pelayaran.
Kami berenam menaiki kapal. Barang-barang kami sudah dibawa masuk lebih dulu oleh petugas kapal. Seorang petugas kapal menuntun ke kabin kami.
Keadaan di dalam kapal ternyata tidak berbeda jauh dari pelabuhan. Di sini sangat ramai. Banyak pelayan membawa lukisan, bahkan perabot rumah di dalam kapal. Tuan-tuan dan Nyonya mereka menginginkan barang-barang itu dibawa ke dalam kapal untuk melengkapi dekorasi kabin mereka.
“Ya ampun! Hati-hati! Itu guci yang berasal dari Klan Merah. Sangat sulit mendapatkannya.” Seorang perempuan mengeluh kepada pelayannya yang sempoyongan membawa guci miliknya saking beratnya.
“Permisi... Permisi...” Sekelompok pelayan melewati kami sambil membawa sofa besar dan dua pemutar musik. Di belakang mereka masih ada pelayan-pelayan yang membawa koper dan peti besar.
“Merepotkan sekali orang-orang di sini.” Bara menatap kesal para penumpang yang membawa banyak barang tidak penting ke dalam kapal.
“Harap maklum, Tuan. Kebanyakan penumpang kapal ini adalah orang-orang yang menyukai keartistikan dan kenyamanan. Mereka juga butuh barang-barang pribadi mereka,” kata petugas kapal.
Bara mendengus kesal mendengar perkataan petugas kapal yang menemani kami. Dia tidak menyukainya.
Kabin kami berada geladak B. Suasana di sini jauh lebih tenang karena hanya ada sedikit kabin. Kami berhenti di depan pintu kabin yang lebih besar daripada kabin-kabin yang kami lihat sebelumnya.
Petugas kapal membukakan pintu. “Selamat datang di pelayaran kelas satu kapal Titanic. Kami akan memberikan pelayanan terbaik kepada Anda. Semoga Anda menikmati perjalanan selama empat puluh hari ini.”
Titanic adalah kapal yang sangat mewah. Aku bisa merasakannya dari kabin yang kami tempati. Dinding kayu berukir menghiasi kamar, beberapa bagian dilapisi oleh kertas bercorak. Lantainya juga tak kalah mewah, dilapisi oleh karpet beledu lembut berwarna merah. Kabin ini terdiri dari enam ruangan besar berupa empat kamar tidur, sebuah ruang berhias dan satu ruang tengah.
“Wow, bagus sekali!” Bara membuka salah satu kamar. Dia yang dari tadi hanya menggerutu sekarang ikut terpesona oleh kemewahan kamar. “Ini sekelas kamar mansion.”
“Rasanya tidak seperti di kapal,” kata Tiha.
“Balkonnya luas sekali!” Ryza membuka pintu kaca yang terhubung dengan balkon. Dari sana pemandangan tampak hebat. Kami bisa melihat pemandangan laut dan geladak-geladak di bawah kami.
“Kita di kabin kelas satu dan ini adalah salah satu kabin terbaik di Titanic. Azuro tidak main-main memilih tiketnya,” kata Aras.
“Sayang Azuro tidak bisa menikmatinya,” Ryza berkata lirih.
Suasananya menjadi sedih. Ryza mengingatkan kami pada Azuro.
“Jangan sampai kalah di pelelangan besok. Itu yang harus kita lakukan sekarang untuk menghormati Azuro,” ujar Ichi.
Kami mengangguk setuju. Misi kami sekarang adalah memenangkan pelelangan permata hijau di kapal Titanic.
DO... DO...
Titanic mulai bergerak. Kami pergi ke balkon kabin. Orang-orang di pelabuhan melambaikan tangan kepada penumpang kapal. Kami balas melambai. Di antara ribuan orang di sana, aku bisa melihat Ludwig yang sedang melambaikan tangan dengan semangat kepada kami. Dia sepertinya memang melihat kami.
“Itu Ludwig!” seruku.
“Mana? Mana?” Tiha mencari keberadaan Ludwig. Dia mengikuti arah telunjukku.
“Ah, itu dia! Da.. da.. Ludwig!” Tiha berteriak kencang.
Aku, Bara, Ichi, dan Aras ikut melambai kepada Ludwig. Kami terus melambai hingga pelabuhan terlihat seperti titik hitam.
“Kita bisa bersenang-senang di sini selama tiga hari karena pelelangan dilakukan di hari keempat,” jelasku.
“Yeah!” Tiha dan Bara berseru senang.
Setelah hampir sebulan perjalanan yang begitu melelahkan, tidak ada salahnya bersenang-senang sebentar. Kami bisa melemaskan otot dengan liburan semu di kapal Titanic.
“Apa ini?” Ryza mengambil sebuah surat yang tergeletak di meja.
Ada dua surat yang dipegangnya. Dua-duanya berstempel lambang Titanic.
“Buka, Ryza,” kata Ichi.
Ryza membuka surat pertama. Hanya ada satu lembar kertas tebal di dalamnya. Dia membaca sekilas.
“Aku rasa ini undangan pesta dansa,” kata Ryza.
“Coba aku lihat.” Aras mengambil surat yang sudah terbuka dari Ryza.
__ADS_1
Aras membaca surat itu tanpa suara.
“Ini undangan pesta dansa untuk penumpang kapal kelas satu,” kata Aras.
“Apa kita wajib mendatanginya?” tanya Ryza.
Aras menggeleng. “Kita bisa memilih untuk datang atau tidak.”
“Bukankah lebih baik kita tidak datang? Meskipun rambut kita sudah berwarna biru tapi mata kita tidak,” kata Ryza.
“Menurutku kita tidak perlu khawatir tentang itu.” Tiha tiba-tiba berceletuk. “Kalau kalian perhatikan tadi, ada beberapa penumpang yang berasal dari klan lain.”
“Matamu jeli juga, Tiha,” pujiku.
Tiha tersenyum senang.
Sejak tadi aku melihat ada klan selain Klan Biru yang menaiki Titanic tapi aku tidak terlalu yakin karena aku pikir mustahil ada klan lain yang ikut berlibur dengan para Klan Biru di Klan Biru. Peraturan melarangnya. Meskipun bagi kami pengecualian.
“Kabarnya peraturan di Klan Biru memang sudah tidak ketat lagi malah seperti sudah tidak ada. Keberadaan klan asing di Klan Biru adalah rahasia umum,” jelas Ichi.
“Tapi kami masih dikejar ketika berada di Klan Biru Barat.” Aku menceritakan kepada mereka ketika aku, Aras, Tiha, dan Azuro dikejar oleh yard di kota Brasov.
“Itu karena kalian bersama Klan Hitam. Klan Hitam dipandang buruk di sana, kan?” Ichi menanggapi.
Aku rasa dia memang benar.
“Aku akan datang ke pesta dansa itu,” ucap Bara tiba-tiba. Dia orang yang paling tidak suka dengan hal-hal berbau bangsawan malah ingin pergi ke sana.
“Aku pikir kau tidak akan suka,” ujar Tiha. Dia juga heran.
“Aku tidak suka bangsawan tapi pesta itu tetap menyenangkan. Ada banyak makanan enak di sana.”
Ternyata yang diincar Bara adalah makanan di sana.
***
Aku berjalan-jalan di geladak B sambil menikmati angin yang berhembus ringan. Tidak banyak penumpang yang berjalan-jalan di sekitar sini. Geladak B adalah lantai khusus kelas satu yang paling isitmewa. Hanya ada enam kabin di lantai ini. Selain kamar, ada juga longue, ruang baca, dan ruang duduk mewah untuk penumpang kelas satu.
Titanic terdiri dari delapan geladak yang digunakan untuk penumpang. Geladak paling atas adalah Boat Deck, tempat anjungan kapal atau bagian paling atas kapal. Dibawahnya terapat geladak A hingga G.
Aku melongokkan kepala ke bawah. Di geladak C suasananya jauh lebih ramai. Di sana adalah geladak untuk penumpang kelas dua dan tiga. Banyak penumpang sedang menikmati pemandangan.
Apa aku ke bawah saja, ya? pikirku.
Geladak B terlalu sepi. Aku ingin menikmati keramaian kapal.
Hanya ada dua jalan menuju geladak lain yaitu melewati lobi utama kapal dan tangga kecil yang ada di setiap pinggir geladak. Lobi utama terlalu jauh untuk aku lewati. Jadi aku memutuskan turun melewati tangga di pinggir geladak.
“Eh, Aras?” Aku bertemu Aras di tangga. Dia sudah setengah perjalanan di tangga untuk turun.
“Hanya jalan-jalan sebentar.”
Aku mengangguk lalu mengikutinya turun.
Geladak C ternyata lebih ramai dari kelihatannya. Aku dan Aras agak kesulitan untuk turun dari tangga karena orang-orang terus berlalu lalang. Kami baru bisa turun setelah seorang pelayan menyadari keadaan kami lalu membukakan jalan.
“Terima kasih,” ucapku pada pelayan yang membantu kami.
Pelayan itu mengangguk.
Aku dan Aras berjalan bersisian. Aku mengamati sekitar. Rupanya di geladak C ada ruang duduk besar yang menghadap langsung ke laut. Ruangan itu masih tampak sepi.
“Kau benar. Lebih baik menaikkan pajak wilayah daripada merugi.”
Telingaku menangkap suara yang familiar. Aku menoleh ke sumber suara.
“Hujan asam itu menghancurkan banyak wilayah kekuasaan wangsaku.”
“Aku juga mendapat banyak masalah karena hujan sialan itu.”
Ada dua orang laki-laki yang sedang mengobrol. Mereka bersandar di pagar geladak kapal sambil menghisap cerutu. Aku belum pernah melihat keduanya tapi salah satu dari mereka suaranya terdengar tidak asing.
“Apa yang kau lihat, Violet?” tanya Aras. Dia heran aku terdiam cukup lama sambil menatap dua orang penumpang kapal.
“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa suara salah satu dari mereka terdengar familiar.”
Aras ikut melihat dua laki-laki itu. Dia terdiam kemudian berbicara lagi.
“Sudahlah. Lupakan saja mereka.” Aras mengajakku pergi meninggalkan dua laki-laki itu.
Aku menurut. Tapi dalam pikiranku, aku masih memikirkan suara laki-laki itu. Suaranya seperti Elgar, bangsawan mabuk yang mengacau di Jadnew. Tapi suaranya juga agak berbeda. Apa mungkin karena saat itu dia sedang mabuk hingga suaranya berbeda?
DUAK
Seseorang menubrukku dari belakang ketika sedang sibuk memikirkan suara Elgar. Aku terlalu terkejut hingga terjungkal ke depan. Beruntung Aras menangkapku sebelum aku jatuh mencium lantai.
“Oy, jangan lari-lari di kapal!” Seorang petugas kapal meneriaki seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berlari di geladak kapal.
Mereka tidak menghiraukan peringatan petugas kapal. Mereka terus berlari sambil tertawa. Beberapa orang pun menjadi korban tubrukan mereka.
“Apa yang mereka pikirkan dengan berlari-lari seperti itu?” gerutuku.
Mereka mengesalkan. Bukan karena aku dendam ditabrak oleh mereka tapi kelakuan mereka itu merepotkan orang lain.
“Aku rasa mereka sedang jatuh cinta. Dari tadi mereka terus tersenyum gembira tanpa mempedulikan teriakan orang-orang. Orang yang sedang jatuh cinta biasanya begitu.”
__ADS_1
Aku menghembuskan napas. Jawaban Aras tidak bisa aku pungkiri.
Kami kembali melanjutkan berkeliling. Tidak banyak yang kami obrolkan selama berkeliling. Aku terlalu sibuk mengamati bagian-bagian kapal Titanic.
Dari semua yang aku lihat selama berkeliling, ruang duduk di geladak C yang menarik perhatianku. Apalagi sekarang disajikan berbagai kudapan manis di sana.
“Aku akan ke sana. Kau mau ikut?” Aku menunjuk pintu masuk ruang duduk.
Aras menggeleng. “Aku masih ingin melihat-lihat kapal lagi.
Aku dan Aras berpisah. Dia turun ke geladak bawah, sedangkan aku masuk ke ruang duduk di geladak C.
Aku tersenyum senang melihat tidak ada antrian di etalase kue. Aku bergegas mengambil nampan dan penjapit. Satu persatu aku memilih kue yang tersedia.
“Hmm... semuanya terlihat sangat enak.”
Aku tidak bisa memutuskan ke mana yang harus aku makan. Jadi, aku mengambil semua jenis yang ada. Aku juga meminta seorang pelayan membawakanku secangkir teh.
Tempat duduk di pinggir kaca jendela adalah tempat paling bagus. Aku bisa melihat pemandangan geladak dari sini.
Dua orang pelayan menghampirku. Satu orang membawa nampan berisi secangkir teh dan teko. Satu lagi membawa rak susun berbentuk bulat.
“Izinkan kami menatanya, Nona,” kata salah satu dari mereka.
Aku mengangguk, kemudian mendorong kursiku ke belakang agar mereka lebih leluasa menata kue-kueku. Pelayanan di kapal ini memang luar biasa. Aku hanya meminta secangkir teh dan mereka memberiku bersama teko tehnya sekaligus. Mereka juga menata kue-kue yang aku pilih.
“Silahkan, Nona.”
Kedua pelayan itu selesai menata camilanku. Kue-kue itu tampak lebih cantik sekarang. Rasanya seperti sedang melakukan jamuan teh di sore hari. Aku sepertinya bisa melupakan misi sejenak di sini.
Aku mengunyah sachertorte yang terasa sangat legit. Rasa dari makanan kapal kelas atas yang tidak dapat diragukan lagi kelezatannya. Aku yakin jika Ludwig ikut bersama kami, dia pasti akan sangat senang. Bisa-bisa dia hanya menghabiskan waktunya di ruang duduk untuk menikmati kue.
“Mereka rupanya masih berlarian saja.” Aku melihat pasangan kasmaran yang hobi menabrak orang itu melintas dari balik jendela.
“Semoga mereka tidak menabrak orang lagi.”
Aku mengalih pandangan dari mereka. Mataku menangkap sosok familiar yang berdiri di pinggir geladak.
“Ryza? Apa yang dia lakukan di sana?”
Ryza tampak sedang berbicara dengan seorang anak kecil. Anak kecil itu menunjuk ke luar pagar pembatas, tepatnya ke bawah. Mata Ryza mengikuti arah yang ditunjukkan anak kecil itu. Dia melongok ke bawah. Keduanya kembali mengobrol. Anak itu terlihat senang setelah berbicara dengan Ryza.
“Anak itu pasti meminta tolong untuk mengambil barangnya yang jatuh dan tersangkut di balik pagar geladak,” tebakku.
Benar saja. Ryza sekarang sedang menjulurkan tangannya keluar pagar. Barang yang diambilnya sepertinya agak jauh karena dia ikut menjulurkan tubuhnya keluar. Aku agak khawatir dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke laut.
Aku terus mengamati mereka. Anak itu juga mengkhawatirkan Ryza. Dia memegangi rok Ryza selama Ryza sedang mengambil barangnya.
Tiba-tiba dari arah bagian depan kapal, pasangan kasmaran itu muncul. Tanpa melihat sana-sini mereka berlari dan menyenggol Ryza dan anak itu. Anak itu jatuh terjerembab ke lantai dan Ryza tampak kehilangan keseimbangan.
Aku langsung meletakkan cangkir yang aku minum. Lalu berdiri untuk menolong Ryza. Jarak kami terlalu jauh. Aku sadar aku tidak akan sempat menolongnya.
Tepat sebelum Ryza jatuh ke laut, Ichi muncul dari tangga di dekat mereka. Dia langsung menarik Ryza. Mereka jatuh bersama ke lantai.
Melihat itu, aku langsung mengembuskan napas lega dan kembali duduk. Pasangan yang menabrak Ryza menghampirinya. Aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka ucapan. Tapi terlihat mereka sedang meminta maaf. Ryza hanya tersenyum dan sedikit panik menanggapi mereka. Ichi tampak mengucapkan sesuatu. Entah apa yang diucapkan hingga pasangan itu terdiam kaku. Kepala mereka menunduk dan wajah mereka terlihat tegang. Setelah itu Ichi berbicara sekali lagi dan pasangan itu pergi.
Anak yang meminta tolong kepada Ryza menanyakan keadaan Ryza. Dia terlihat takut ketika melihat Ichi dan bersembunyi di balik rok Ryza. Ryza berjongkok lalu tersenyum kepada anak itu. Dia menunjukkan sebuah kalung. Wajah anak itu langsung cerah. Ryza menyerahkan kalung itu pada anak itu. Bibir anak itu mengucapkan terima kasih. Dia lalu pergi sambil tersenyum lebar.
Ryza dan Ichi ditinggalkan berdua. Ryza tersenyum kepada Ichi dan mengucapkan terima kasih. Ichi menjentik dahi Ryza. Dari sini aku bisa mendengar jeritan Ryza yang terkejut sekaligus kesakitan. Wajah Ichi terlihat kesal juga khawatir. Dia mengomeli Ryza di sana.
Aku tersenyum-senyum sendiri melihat interaksi mereka. Aku rasa selama kami terpisah kemarin, mereka semakin dekat. Aku menjadi senang melihat mereka. Mungkin keinginan Ryza sebentar lagi bisa terwujud. Aku mengangguk-angguk mengiyakan pikiranku sendiri.
Aku cukup lama berada di ruang duduk. Aku baru keluar ketika matahari hampir tenggelam. Aku memandang langit yang kemerahan. Matahari terbenam membuatku ingin pergi ke buritan kapal.
Buritan kapal biasanya bukan tempat yang disukai banyak orang. Bagian belakang kapal itu biasanya dipenuhi oleh tali atau perlengkapan kapal lain. Tapi harusnya di kapal ini bagian buritan adalah tempat yang bagus untuk melihat pemandangan.
Tinggal melewati beberapa tiang besar dan aku sampai di buritan kapal yang sepi. Tapi langkahku terhenti melihat Aras di sana. Bukan aku tidak mau bertemu dengannya tapi dia terlihat mencurigakan. Tangan kanannya mengenggam pisau bersimbah darah. Dia menjatuhkan pisau itu ke laut.
“Apa yang kau lakukan, Aras?” Aku menampakkan diri di belakangnya. Aku menatapnya tajam.
Sekilas Aras terlihat panik tapi kemudian dia tampak tenang.
“Aku hanya menikmati matahari terbenam.”
“Benar hanya itu?”
“Tentu saja. Bagaimana jika ketika melihatnya bersama? Sudah lama, kan, sejak saat itu?”
Aku diam. Aku tahu Aras berbohong.
“Aras, jangan berbohong padaku. Aku melihatmu membuang pisau berlumuran darah. Apa yang telah kau lakukan? Kau membunuh orang di kapal ini?”
Dahi Aras berkerut. “Pikiranmu terlalu negatif tentangku, Violet.”
Aras berbalik badan, dia hendak pergi. Matanya tajam menatapku. “Kau tidak perlu mencampuri urusanku.”
Dia kemudian melangkah pergi.
“Aku harap aku bisa mempercayaimu, Aras.”
Aras berhenti melangkah setelah mendengar ucapanku. Dia hanya berhenti sejenak, kemudian lanjut berjalan tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun.
Aku membiarkan Aras pergi. Hiu-hiu berenang mengintari bagian belakang kapal. Dari situ saja sudah jelas jika pisau yang dibuangnya tadi berlumuran darah.
“Aku harap kau tidak benar-benar melakukannya, Aras.”
__ADS_1