
Ichi membawa kami mendarat di pelabuhan tempat kami menambatkan kapal. Suasananya sepi. Kami tidak melihat satupun penduduk di sini.
Aku memandang Azuro. Dia menatap kosong ke lautan yang terhampar luas. Keluarganya baru saja dibantai oleh Ratu Marine. Dia pasti sangat berat menerima kenyataan itu.
Aku memeluknya dari belakang. Biasanya dia akan mengoceh dan berusaha melepaskan diri. Tapi kali ini dia hanya diam saja. Aku merasakan tetesan air jatuh di tanganku.
“Tidak apa-apa, Azuro. Menangislah.”
Tubuh Azuro bergetar. Tetesan air matanya jatuh semakin deras.
Aras, Ichi, Tiha, Ryza, dan Bara mendekati kami. Bara mengusap kepala Azuro.
“Kami ada di sini bersamamu.”
Azuro menarik nafas dalam. Tubuhnya berhenti bergetar. Dia mengusap air matanya lalu berusaha lepas dari pelukanku.
“Lepaskan.”
Azuro berbalik menghadap kota Dumbrige yang sepi. “Yang hidup pasti akan mati. Semenjak aku menjadi putra dari Earl Geerginlik, aku mengerti resiko yang akan aku terima. Wangsaku adalah wangsa yang paling ingin disingkirkan oleh keluarga kerajaan. Tugas yang diberikan ratu kepada wangsaku selalu menantang maut, walapun begitu ayahku bilang, ‘Sejahat apapun keluarga kerajaan, kita tidak boleh mengkhianati mereka karena mereka adalah pemimpin klan kita.’ Benar-benar tidak adil.”
“Mereka ketakutan dengan wangsamu yang kuat.” Tiha menanggapi.
Azuro tersenyum. “Yah, tentu saja.”
Azuro menghela nafas. “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Tugas kita sudah selesai di sini.”
Azuro berjalan lebih dulu ke kapal. Kami mengikutinya di belakang.
Ichi mengembangkan layar kapal, yang lainnya berdiri di pinggir geladak kapal sambil melihat sekitar.
“Akhirnya kita bisa pergi,” kata Ryza setelah kapal mulai bergerak.
“Tapi, kok, aneh, ya. Lihat awannya berwarna merah.”
Kami melihat awan yang ditunjuk Bara. Dia atas wilayah Klan Biru Barat muncul awan merah besar yang dipenuhi kilatan petir.
“Cepat masuk ke dalam! Kita tidak boleh terkena air hujan!” seru Aras.
Kami mengikuti perkataan Aras. Angin berhembus kencang. Hujan berwarna merah turun disertai guruh.
“Hujan ini parah sekali.” Azuro menatap hujan dari jendela.
“Bagaimana kalian bisa bertahan dengan hujan asam separah ini!” Tiha memandang ngeri hujan.
Hujan turun dengan deras. Pelabuhan tertutup oleh hujan merah. Jarak pandang menyempit. Tapi kami bisa melihat kapal-kapal kayu di sekitar kami hancur termakan hujan.
“Bagaimana hujan bisa menghancurkan kapal-kapal itu?” Ryza menggigil takut, dia menjauhi jendela.
“Itu hujan asam. Klan Biru Barat banyak memiliki pabrik tapi yang aku dengar kalian tidak mengolah limbahnya. Mereka hanya mengandalkan kekuatan sapphire untuk mengatasi pencemarannya. Ini adalah salah satu akibat hilangnya kekuatan sapphire di Klan Biru.” Tiha yang memberikan jawaban.
“Bagaimana kamu tahu? Kau yakin? Jika benar seperti itu, ini sangat mengerikan.” Ryza menutup muutnya dengan kedua tangan saking takutnya.
“Aku adalah Klan Jingga. Klan Cendekiawan. Hal seperti ini sudah dipelajari oleh penduduk klanku sejak kecil. Penampilanku mungkin begini tapi aku seorang jenius,” kata Tiha.
Bara tertawa keras.
“Seorang jenius? Apa aku tidak salah dengar? Kau terlihat seperti anak kecil yang yang manja.”
Tiha cemberut. “Jangan remehkan aku. Beri saja aku pertanyaan. Aku akan menjawabnya dengan benar!”
“Kalau begitu tiga ditambah dua dikali…” Bara benar-benar memberikan pertanyaan kepada Tiha.
“387665,” jawab Tiha.
“Wah, hebat. Kau pasti hanya mengarang.” Bara tersenyum nakal.
“Apa? Aku menjawabnya dengan benar. Kau saja yang tidak tahu jawabannya!” Tiha berteriak kepada Bara.
Kelakukan mereka berdua selalu saja begitu. Tapi itu lumayan menurunkan ketegangan di antara kami.
“Tiha, apa ini benar-benar parah?” tanya Aras.
Tiha yang sedang menjambak rambut Bara menongok ke Aras.
“Tentu saja. Aku yakin hujan itu bisa menghancurkan beton sekalipun,” jawab Tiha.
Tiha berhenti menjambak Bara. “Bagaimana klanmu bisa mengatasi hujan separah ini? Jika hujannya sampai seperti ini seharusnya banyak bangunan yang hancur. Tapi aku tidak melihatnya.”
“Sapphire menghalangi kami dari hujan ini. Energinya mampu menetralkan hujan. Meskipun akhir-akhir ini sapphire melemah sehingga hujan asam turun. Tapi tidak separah ini.”
Aku teringat hujan di Klan Biru Timur. Bukankah itu juga hujan asam?
“Hujan di Klan Biru Timur juga seperti ini.”
“Itu karena awan hujan di sana terbentuk di sini. Kemungkinan besar hujan seperti ini juga akan terjadi di Klan Biru Timur. Bahkan bisa ke wilayah klan lain,” sahut Tiha.
“Apa sangat berbahaya? Klan Hijau adalah klan yang paling dekat wilayahnya dengan Klan biru,” tanya Ryza.
“Kulitku terasa perih ketika tertetesi air hujan. Padahal hujan saat itu tidak separah ini. Berlindung di sini akan menghindarinya,” jawabku.
“Aku rasa kita harus segera pergi dari sini. Lihat, kapalnya mulai terkikis!” Bara menunjuk geladak kapal yang sudah bolong.
Kami semua terkejut melihatnya. Beberapa menit yang lalu kapal ini masih utuh. Aku, Aras, dan Ichi berlari ke anjungan kapal. Dadaku berdenyut sakit setiap melangkah. Tulang rusukku yang patah sepertinya agak parah. Meskipun aku seorang pemilik galur murni, kecepatan penyembuhanku sama dengan manusia biasa.
Aku sampai di ruang kendali yang hampir hancur. Atapnya sudah penuh lubang. Hujan merah menetes di setiap sudut ruangan. Aku mendekati panel kendali. Kilat-kilat listrik memenuhi panel.
“Apa masih bisa dikendalikan?” tanya Ichi.
Aku menggeleng.
Panel kendalinya sudah rusak terkena hujan asam. Kalau begini keadaannya kami tidak bisa pergi dengan mudah.
“Ichi, apa hujannya akan cepat selesai?” tanyaku.
“Awannya tebal. Hujan ini akan turun sekitar tiga sampai empat jam.”
Jika selama itu kapal ini bisa hancur. Apalagi ini hanya kapal kayu layar.
Tetesan hujan membasahai kami bertiga. Rasanya lebih sakit dari hujan yang aku rasakan di Klan Biru Timur. Kulit kami memerah dan terbakar.
“Violet, kau urus kendalinya. Aku akan mengajak Azuro menggerakkan kapal.”
Ichi berlari ke anjungan kapal.
“Aras, kau sebaiknya berlindung bersama Bara, Ryza, dan Tiha. Ledakan sapphire sudah membuatmu terluka parah. Aku akan memegang kendali kapal. Ajak mereka ke tempat yang aman.”
“Aku mengerti.”
Dari anjungan kapal aku melihat Ichi menghembuskan angin ke layar kapal yang sudah berlubang, terkikis air hujan yang asam. Di buritan kapal, Azuro tengah mengendalikan air laut untuk menggerakkan kapal.
Aku memutar kemudi kapal, mengarahkan kapal menuju lautan yang bebas badai. Ombak besar menerjang kami berkali-kali. Aku harus mempertahankan kapal agar tidak terbalik.
__ADS_1
Kapal sudah melaju ke tengah lautan tapi badai masih berkecamuk. Ombak juga semakin besar. Lautan kini berwarna merah tua. Hujan benar-benar mencemarinya.
Seseorang berderap ke anjungan kapal. Aras muncul dari balik pintu.
“Violet, bawa kapal ke Klan Biru Timur! Ratu Mai bisa membantu kita.”
Aku tidak yakin dengan itu tapi aku tetap memutar kendali kapal menuju wilayah Klan Biru Timur. Semoga saja yang dikatakan Aras benar.
Wilayah Klan Biru Timur ternyata juga terkena badai hujan asam. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Daratan itu mulai tenggelam. Ratusan perahu penuh penumpang mengapung di sepanjang laut. Perahu itu dimasuki sejumlah orang melebihi kapasitasnya. Perahu-perahu itu bisa tenggelam. Apalagi dengan hujan asam seperti ini. Perahu itu akan cepat hancur.
Terdengar jeritan panik di berbagai tempat. Masih banyak penduduk Klan Biru Timur yang berada di daratan yang akan tengelam itu. Tidak ada cukup perahu bagi mereka untuk menyelamatkan diri.
Satu perahu penuh penumpang tiba-tiba hancur. Puluhan orang jatuh ke laut.
“Violet, dekati mereka. Kita akan menyelamatkannya,” kata Aras.
“Aku mengerti.” Aku harus mendekati mereka dengan memperhatikan jarak kapal. Jika jaraknya terlalu dekat mereka bisa hancur, tertabrak kapal.
“Semuanya kita selamatkan orang-orang yang jatuh!” Aras berteriak dengan lantang.
“Baik!”
Bara, Ryza, dan Tiha keluar dari dalam geladak bawah. Mereka bersiap di pagar geladak pertama.
Kapal makin dekat dengan orang-orang yang hanyut. Samar-samar diantara suara badai aku mendengar teriakan banyak orang yang minta tolong.
Aku menghentikan kapal beberapa meter dari mereka. Azuro membawa naik orang-orang itu dengan gelombang. Sebagian orang yang tidak terbawa diterbangkan Ichi ke atas kapal. Ryza dan Azuro membawa mereka menuju geladak bawah sambil memberikan rasa hangat dari api dan matahari.
Makin banyak kapal yang hancur. Ichi, Ryza, dan Azuro berusaha keras menolong mereka yang hanyut. Sulur-sulur tanaman menangkap setiap orang yang terombang-ambing. Kapal kami juga semakin penuh. Masih banyak orang yang harus kami tolong tapi jika kami menaikkan orang-orang lagi, kapal ini bisa tenggelam.
“Dimana kapal militer mereka? Kapal induk mereka cukup besar untuk menampung banyak orang.” Aku berteriak kesal.
Aku memukul kendali kapal. Aku baru ingat. Setelah sapphire di ambil dari Klan Biru Timur, semua kendaraan langsung mati kehilangan sumber energi. Kapal itu pasti sudah menjadi rongsokan logam yang mengapung di laut.
Aku memandang lautan yang mengamuk. Tapi setidaknya walaupun kapal itu menjadi rosokan, kapal itu tetap benda yang bisa mengapung. Aku berharap kapal itu hanyut terbawa kemari.
Keadaan sekarang sangat gelap. Awan memang menutupi matahari. Tapi tenggelamnya matahari memberi pengaruh besar. Lautan menjadi gelap gulita. Lampu kapal mati. Kami hanya bisa mengandalkan petir untuk melihat sekitar. Jelas itu tidak cukup.
“Tiha! Tiha!”
Tiha berada jauh di depanku. Dengan suara badai yang ribut ini, dia pasti sulit mendengarku.
“Tiha!” Aku memanggilnya sekali lagi.
Tiha menoleh ke arahku.
“Terangi kapal ini!” seruku.
Aku tidak tahu apakah Tiha bisa menerangi kapal ini dengan kekuatannya. Keistimewaannya adalah mengendalikan cahaya. Aku harap dia bisa melakukannya.
Tiha mengangkat tangannya. Tiba-tiba petir berhenti muncul tapi gemuruh terus terdengar. Tangan Tiha bersinar putih. Dia mengambil cahaya dari petir-petir yang muncul. Dia melemparkan cahaya-cahaya itu ke sudut kapal. Seluruh kapal bercahaya. Orang-orang menjadi sedikit lebih tenang.
Aras yang berada di belakangku tiba-tiba berbalik menghadap buritan kapal. Dia membentuk sebuah gunung batu di laut.
Brak
Terdengar suara keras seperti benda yang berbenturan. Sebuah benda besar menabrak gunung batu itu.
“Suruh Tiha menyinari gunung itu,” kata Aras.
Aku mengangguk.
Tiha langsung mengerti. Dia menyinari gunung batu itu.
Sebuah kapal besar menabrak gunung batu. Itu adalah kapal induk Klan Biru Timur.
“Kapal induk!” seruku.
Kapal itu gelap. Tapi berkat bantuan cahaya dari Tiha aku bisa melihat beberapa orang di anjungan kapal.
“Violet, aku akan membawa kapal itu mendekat agar bisa menampung orang-orang yang masih di laut,” kata Aras.
Aku mengangguk.
Aku memutar kendali kapal, menjauhi daratan. Aku harus memberi jalan kepada kapal besar itu.
Aras menuntun kapal induk dengan membentuk gunung-gunung batu di sekitarnya. Azuro juga membantu menenangkan ombak agar kapal induk bisa berlayar lebih tenang.
Kapal itu sudah berada di dekat kami. Tiha melemparkan gumpalan-gumpalan cahaya ke kapal induk. Kapal induk menjadi terang. Aku bisa melihat para marinir Klan Biru Timur berusaha menolong orang-orang di laut. Ichi, Azuro, dan Ryza membantu menaikkan orang-orang ke kapal induk.
Di antara kerumunan banyak orang, aku mencoba mencari Ratu Mai.
“Dimana Ratu Mai?” desisku.
CTAR…
Sebuah petir menyambar anjungan kapal. Aras yang menyadarinya lebih dulu, menarikku. Kami jatuh ke laut.
Cahaya petir yang diambil Tiha membuat kami tidak tahu dimana petir menyambar. Setelah sambaran tadi, cahaya petir kembali. Tiha sepertinya sadar jika mengambil cahaya petir adalah tindakan berbahaya.
Aku naik ke permukaan laut. Sekarang aku dan Aras terombang-ambing di laut. Kami makin menjauh dengan kapal. Ombak membawa kami ke daratan Klan Biru Timur.
Aku dan Aras berusaha menggapai pantai. Kami berjalan terseok menuju pantai. Kulit kami terasa meleleh setelah terkena hujan asam.
“Kita harus segera menemukan Ratu Mai. Dia pasti masih ada di daratan,” kata Aras.
“Bagaimana kau tahu? Bisa jadi dia sudah menyelamatkan diri dengan kapal.”
“Ratu Mai bukan ratu yang meninggalkan rakyatnya begitu saja. Dia baru akan pergi setelah seluruh rakyatnya benar-benar terselamatkan.”
Kami berlari memasuki daratan.
“Violet, carilah jejak Ratu Mai!”
Di pertarungan yang lalu, aku sempat bersentuhan dengan Ratu Mai sehingga jejak Ratu Mai menempel di tubuhku. Jejak Ratu Mai masih terang. Itu tandanya dia masih hidup.
Aku berusaha melacak jejak Ratu Mai. Aku melihat Ratu Mai berada di sebuah pelabuhan. Letaknya tidak jauh dari sini.
“Ikuti aku, Aras!”
Aku berlari menunjukkan jalan.
Daratan semakin tenggelam. Air laut sudah mencapai rumah penduduk. Kami harus cepat menemukan Ratu Mai sebelum daratan ini benar-benar tenggelam.
“Itu dia!” Aku menunjuk Ratu Mai yang tidak jauh dari kami. Dia sedang memantau para prajurit menyelamatkan rakyatnya.
Kami berlari menghampirinya.
“Ratu Mai!”
Ratu Mai menoleh. Dia terkejut melihat kami.
__ADS_1
PLAK.. PLAK..
Ratu Mai menampar kami berdua.
“Apa kalian sadar perbuatan kalian? Ini akibat kalian mengambil sapphire!”
Aku dan Aras menunduk. Aku sadar dengan hal itu. Tapi aku tidak menyangka kalau akibatnya akan separah ini.
“Berikan sapphire padaku sebelum keadaan bertambah parah!” seru Ratu Mai.
Aku merutuk kesal pada diriku sendiri. Sapphire dibawa oleh Azuro. Kami sekarang tidak membawa apa-apa.
“Ini sapphire-nya.”
Aku menoleh ke belakang, ke sumber suara.
Di belakang kami, Azuro berjalan sambil membawa sapphire. Azuro memberikan sapphire itu kepada Ratu Mai. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sini.
“Kenapa sapphire ini lemah sekali? Dimana sapphire yang kalian ambil?” Ratu Mai memandang sapphire yang bersinar redup di tangannya.
“Sapphire itu sudah hancur,” jawab Azuro.
“Apa?! Kalian bahkan tidak bisa menjaganya dalam satu hari. Memalukan!”
“Ratu Mai, sekarang bukan saatnya untuk marah. Kita harus segera menyelesaikan ini,” kata Aras.
Ratu Mai menghela nafas. “Ikut denganku.”
Ratu Mai membawa kami ke istana Klan Biru Timur. Kami pergi ke bagian selatan istana, tempat sapphire dulu. Tempat ini sudah hampir terendam. Jika kami lambat, habislah kesempatan kami.
Kami berempat berdiri mengeliling batu karang tempat sapphire sebelumnya. Ratu Mai meletakkan sapphire di tempatnya.
“Aku tidak tahu ini bisa berhasil atau tidak. Tapi seandainya berhasil, kalian tidak bisa mengambil sapphire ini lagi. Atau kejadian ini akan terulang,” kata Ratu Mai.
Aku melihat energi mengalir dari sapphire ke batu itu tapi tipis sekali. Energi sapphire merambat tapi hanya berputar di batu.
“Tidak bisa. Sapphire-nya terlalu lemah. Kita butuh sapphire yang kuat,” kata Ratu Mai.
“Kita tidak punya sapphire lain selain ini,” sahutku.
“Masih ada.”
Aku, Aras, dan Ratu Mai menoleh ke Azuro.
“Aku akan merubah diriku menjadi sapphire.”
Aku terbelalak mendengar ucapan Azuro.
“Apa yang kau pikirkan? Pasti ada cara lain untuk mengatasi ini semua. Kau bisa mengalirkan energi dari tubuhmu tanpa menjadi sapphire.”
Azuro menggeleng. “Tidak bisa, Violet. Kekuatanku sebagai galur murni tidak akan mampu menjadi sumber energi seluruh Klan Biru. Tapi sapphire bisa melakukannya. Ini noblesse oblige."
Noblesse oblige adalah bentuk tanggungjawab atas kejayaan, kehormatan, dan kekuatan yang dimiliki. Orang-orang yang melakukannya berarti telah melakukan kewajiban mereka untuk berbuat kebaikan kepada orang yang lebih lemah darinya.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu?” Aras bertanya pada Azuro.
“Jika kau menjadi sapphire kau tidak bisa lagi menjadi manusia.” Ratu Mai menatap Azuro tajam.
Azuro mengangguk mantap.
Aku menggenggam erat tangan Azuro. Perbuatan Azuro kali ini sangat mulia. Mengorbankan diri demi keselamatan orang banyak. Tapi aku merasa sangat berat merelakannya. Aku belum lama bertemu dengan Azuro. Mungkin baru sekitar sebulan yang lalu. Tapi aku sudah merasa dekat dengannya. Seolah-olah kami sudah kenal bertahun-tahun.
Azuro, bangsawan kecil yang angkuh dan manja tapi diam-diam peduli. Laki-laki yang tidak mahir berkuda hingga aku perlu memboncengkannya. Tapi Azuro juga kuat. Dia selalu menolongku. Ketika aku buta. Ketika kami bertarung bersama. Dia adalah anak kecil sombong yang pemberani. Aku sudah menganggap Azuro sebagai adikku.
Air mataku mengalir. Aku segera menghapusnya. Menangis hanya memperburuk suasana. Tapi air mataku tak kunjung berhenti.
Azuro merogoh sapu tangan di sakunya. Dia mengusap air mataku dengan sapu tangannya.
“Jangan menangis. Bukankah kau perempuan yang kuat. Jangan menangis untukku. Simpanlah air matamu untuk orang yang paling kau sayangi.”
Apa-apaan yang dikatakan Azuro. Itu hanya akan membuatku mengeluarkan lebih banyak air mata. Tapi aku berusaha menahan air mataku.
“Aku senang bisa bertemu denganmu. Kau sduah seperti adikku sendiri. Terima kasih. Aku akan merindukanmu.” Aku hanya bisa mengucapkan itu. Bibirku terasa kelu untuk mengucapkan hal lain.
Ekspresi Azuro berubah. Dia tampak terkejut. Tapi dia lalu tersenyum. Senyum tulus yang sebelumnya tidak pernah dia tunjukkan.
“Aku juga senang. Terima kasih sudah menjagaku selama ini. Kau menjadi kakak yang baik untukku.”
Aku menghela nafas. Sulit sekali menahan air mata setelah mendengar ucapan Azuro.
Azuro beralih kepada Aras.
“Terima kasih, Aras. Aku mengandalkanmu untuk ke depannya.”
Aras mengangguk.
“Kalian berdua, berjanjilah untuk menyelesaikan misi itu. Jangan buat aku menyesal mengorbankan nyawaku.”
“Kami berjanji.”
Azuro mengangguk lega.
Azuro berdiri di dekat batu karang. Daratan makin tenggelam. Air sudah mencapai betis kami.
“Pemilik galur murni harus memiliki niat yang tulus dan kuat untuk menjadi permata klan. Apa kau sudah siap?” tanya Ratu Mai.
Azuro mengangguk.
“Kalau begitu pusatkan energimu pada jantungmu,” kata Ratu Mai.
Ratu Mai dan Aras tidak melihat apapun tapi aku melihat energi di tubuh Azuro bergerak satu arah ke jantungnya. Perlahan sebuah permata terbentuk di sana. Cahaya biru terang memancar dari tubuh Azuro. Aku sampai harus menutup mata. Cahaya itu berlangsung beberapa detik. Saat aku membuka mata, Azuro sudah menghilang, meninggalkan pakaiannya dan sapphire di atas bajunya.
Ratu Mai mengambil sapphire Azuro. Dia lalu meletakkannya di samping sapphire lemah di atas batu.
Aku menyaksikan sapphire lemah menyerap energi sapphire Azuro. Sapphire lemah itu bercahaya lebih terang. Aku merasakan sapphire itu juga menguat.
Ketika sapphire itu sudah bersinar terang, Ratu Mai memberikan sapphire Azuro kepada kami. Aku menerimanya dengan sarung tanganku.
“Aku tidak akan memakai sapphire itu. Bawalah sapphire itu untuk misi kalian,” kata Ratu Mai.
“Lalu bagaimana dengan Klan Biru?” tanyaku.
“Aku akan memakai ini. Kekuatannya memang tidak sekuat sapphire yang kau pegang tapi ini cukup untuk mengendalikan keadaan Klan Biru. Aku harap misi kalian sukses sehingga peristiwa seperti ini tidak terulang lagi.”
Ratu Mai meletakkan sapphire di atas batu karang. Energi sapphire langsung menyebar ke Klan Biru. Perlahan air di daratan menyurut. Warna merah pada air hujan pun perlahan memudar menjadi air hujan biasa.
“Cepatlah kalian pergi sebelum aku berubah pikiran,” kata Ratu Mai.
“Terima kasih, Ratu Mai,” kataku sebelum berbalik, meninggalkan istana.
Aku menggenggam erat sapphire. Kami tidak akan menyianyiakan pengorbanan Azuro.
__ADS_1