Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 36


__ADS_3

Aku, Ryza, Tiha, Bara, Aras, dan Ichi berjalan berjalan cepat ke kabin. Permata hijau hasil lelang itu didapatkan oleh Arnoldi. Ini sangat berbahaya karena Arnoldi tidak berada di pihak kami.


Ryza menutup pintu kabin ketika semua sudah masuk.


“Aku tidak menduga Arnoldi yang akan mendapatkan permata itu. Ini sangat berbahaya,” kata Ichi.


“Dia sekarang memiliki dua Zamrud. Sebenarnya apa yang dia rencanakan?” Tiha bertanya-tanya.


“Kita tidak bisa menunggu operasi darurat itu hingga beberapa hari. Arnoldi sangat berbahaya karena memiliki dua Zamrud. Kita harus segera mengambil dua Zamrud itu darinya,” kata Aras.


“Gunakan pakaian bertarung kalian. Setelah itu kita akan membahas rencananya selanjutnya,” kata Ichi.


Kami mengangguk kemudian bergegas berganti baju.


Kami berkumpul di ruang tengah lima menit kemudian. Ichi mulai menjelaskan rencananya.


“Arnoldi adalah penumpang kelas satu yang memiliki kabin di geladak A. Sekarang belum sampai setengah jam setelah pelelangan selesai. Kemungkinan besar Arnoldi masih berada di ruang lelang untuk mengurus permatanya karena dia tidak membawa satupun pelayan. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, dia akan langsung membawa permata itu dan yang kedua, panitia akan mengantarnya langsung ke kamar Arnoldi. Mengambil di tempat pelelangan terlalu beresiko karena penjagaan di sana pasti sangat ketat, akan lebih aman jika kita mengambilnya di kamar Arnoldi.”


“Bagaimana jika Arnoldi tidak membawa permata itu bersamanya?” tanya Tiha.


“Kita harus mengirim seseorang untuk mengawasinya. Menurutku, Violet adalah orang yang paling tepat untuk tugas ini.” Ichi menatapku. “Keistimewaanmu bisa memudahkanmu mengetahui apakah dia membawa Zamrud atau tidak.”


“Aku mengerti. Tapi keistimewaanku adalah melacak jejak. Jika permata itu diletakkan di dalam kotak kaca, jejaknya hanya ada disana. Aku tidak akan tahu jika Arnoldi menyembunyikannya.” Aku mengingatkan.


Ichi terdiam sejenak. “Kotak itu terlalu besar untuk disembunyikan dibalik bajunya. Kemungkinan kotak itu akan dibawa langsung atau menggunakan peti.”


Aku mengangguk mengerti. “Baiklah. Aku akan melakukannya.”


“Tiha aku ingin kau menjadi pengirim pesan. Gunakan keistimewaanmu untuk membuat kode tanpa diketahui oleh Arnoldi. Aku, Ryza, Aras, dan Bara akan mengurus Arnoldi di kabinnya.”


Semua mengangguk mengerti.


“Kalau begitu, mari kita lakukan!”


***


Rumah Lelang Phoenix dilaksanakan di salah satu ruangan dalam longue kelas satu. Jadi, aku duduk di salah satu kursi longue sambil menunggu pintu ruangan terbuka. Aku melirik jam yang tergantung di dinding. Satu jam telah berlalu semenjak pelelangan selesai. Jejak Arnoldi keluar ruangan belum terlihat.


Apa pengurusan surat-surat lelang itu selama ini? batinku.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Akhirnya pintu ruangan terbuka. Arnoldi keluar ruangan bersama dua panitia lelang yang membawa sebuah peti dorong. Mereka berjalan ke arah tangga utama.


Aku segera memberitahu Tiha yang sudah bersiap di balkon geladak bahwa Arnoldi sedang berjalan ke kamarnya bersama dua orang panitia lelang sambil membawa permata hasil lelang. Tiha kemudian meneruskan pesanku dengan kode kepada Ichi yang sedang terbang tepat di depan kabin Arnoldi.


Aku terus mengawasi Arnoldi dari jarak aman. Dia terus naik hingga ke geladak A bersama dua panitia lelang. Mereka tiba-tiba berhenti ketika berada di lobi utama geladak A. Arnoldi meminta mereka kembali ke ruang lelang. Dia ingin membawa permatanya sendiri ke kabinnya.


Aku berpikir cepat. “Apa mungkin dia menyadariku?”


Aku bergegas mengirim sinyal bahaya ke Tiha. Beruntung kami telah mengatur agar Tiha berada di tempat yang bisa melihat ke seluruh bagian geladak kapal. Begitu menerima sinyalku dia langsung melanjutkan ke Ichi.


“Apa yang kau lakukan, Nona?” Arnoldi tiba-tiba muncul di belakangku dan langsung melingkarkan tangannya di leherku.


Napasku terasa sesak. Arnoldi mengunci leherku dengan sangat erat.


“Tidak mungkin.” Aku melihat ada Arnoldi lain di depanku. Tepat di tempat Arnoldi sebelumnya berdiri. Dia sedang tersenyum sambil menatapku.


Mungkinkah dia juga pemilik galur murni? Pikirku.


Tidak mustahil ada dua Arnoldi jika dia seorang pemilik galur murni.


Aku mengambil pisau di pinggangku kemudian menebas perut Arnoldi dengan cepat. Aku tidak bisa mengenainya karena dia langsung menyingkir tapi berkat itu leherku terkepas dari kunciannya. Aku menjaga jarak dari dua Arnoldi.


“Hmm, bukankah kau perempuan yang ikut dalam pelelangan tadi. Kenapa kau mengikutiku? Apa kau ingin mengambil permata itu juga?” Arnoldi berjalan mendekatiku. “Hampir saja aku kehilangan permata itu karena uang. Membunuh baron itu memang sangat berguna. Beruntung dia membawa seluruh uangnya di kapal ini.”


Aku jadi mengerti. Penyebab Baron Torn tidak kembali saat itu adalah dia telah dibunuh oleh Arnoldi. Dan Arnoldi menggunakan uangnya untuk membeli permata itu dari pelelangan


BUM


Kaca jendela di lobi pecah. Angin ribut memasuki kapal.


“Oh, siapa lagi ini. Kau sepertinya tidak sendiri, ya?” kata Arnoldi.


Ichi masuk melalui jendela yang pecah. Dari tangga, sulur tanaman merambat cepat ke arah Arnoldi. Arnoldi bergerak menyingkir tapi dia kemudian disambut oleh api merah. Dia masih selamat meskipun bajunya sedikit terbakar.


“Aku tidak menyangka bisa bertemu pemilik galur murni sebanyak ini.” Arnoldi menatapku, Ichi, Aras, Tiha, Ryza, dan Bara satu persatu. “Rambut kalian berwarna biru tapi sepertinya itu palsu. Mata kalian menunjukkan asal klan kalian. Apa yang membuat enam klan menyerangku?”


“Serahkan Zamrud pada kami!” kata Ichi.


Arnoldi tertawa. “Jadi, itu alasan kalian menyerangku hingga memecahkan jendela kapal. Padahal kita bisa membicarakannya baik-baik.”

__ADS_1


Arnoldi berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius. “Kalian pikir akan semudah itu.”


Tiba-tiba muncul banyak sekali bayangan Arnoldi. Bayangannya tampak sama persis dengan Arnoldi. Mereka langsung menyerang kami secara bersamaan.


Aku ganti mengeluarkan pedangku. Seorang bayang Arnoldi melayangkan pukulan ke arahku. Aku menahannya dengan pedangku. Meskipun bayang, mereka sangat kuat. Selain itu mereka tidak bisa terluka sama sekali. Harusnya tangan orang yang melawanku ini terluka tapi karena dia hanya bayangan, pedangku malah menembusnya. Tapi begitu tangannya sampai di wajahku, aku terpukul hingga terpelanting ke samping.


Aku menyeka darah yang keluar dari mulutku. Aku lihat serangan Bara, Ichi, Ryza, Tiha, dan Aras masih mempan pada bayangan Arnoldi jika mereka menggunakan keistimewaan mereka. Aku menduga pedangku menembus karena pedangku bukanlah salah satu unsur dari permata klan. Serangan biasa tidak akan mempan terhadap bayangan Arnoldi.


Tiga bayangan menyerangku bersamaan. Aku segera meloncat menghindar. Aku menyimpan kembali pedangku lalu melayangkan pukulan pada mereka. Dua diantara mereka berhasil aku pukul hingga menabrak dinding. Satu bayangan masih bisa berdri tegak, bahkan sempat membalas seranganku.


“Meskipun hanya bayangan, kekuatan kami setara dengan Tuan Arnoldi, Nona.” Bayangan di depanku bergerak sangat cepat. Dia mengayunkan kakinya kepadaku.


Sebelum aku sempat tertendang, aku berhasil meloncat dan menendang balik tengkuk lehernya. Pengalamanku bertarung sejak kecil memang sangat berguna.


Aku belum bisa tenang sekarang. Ada dua bayangan lagi yang bersiap menyerangku. Aku melirik Arnoldi yang berada di belakang dua bayangan itu. Dia berdiri di sana sambil menjaga peti kayu yang berisi permata. Jika aku bisa mengalahkannya, bayangan-bayangan ini pasti menghilang.


Aku berlari menuju dua bayangan itu. Mereka juga berlari ke arahku dengan posisi siap menyerang. Tapi sasaranku bukan dua bayangan itu. Aku berlari melompati mereka, kemudian mengeluarkan pedangku dan menebaskannya ke Arnoldi.


Arnoldi merespon seranganku dengan cepat. Tiba-tiba dari tangannya muncul tumbuhan merambat yang saling membelit membentuk sabit besar. Dia menahan seranganku dengan sabitnya.


“Aku sepertinya terlalu meremehkanmu. Kau ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Siapa kau sebenarnya?”


“Kau tidak perlu tahu siapa aku.”


Aku menarik pedangku lalu menyerangnya di bagian yang lain. Kemampuan Arnoldi dalam mengendalikan sabitnya sangat bagus. Senjata kami berkali-kali bertubrukan hingga memercikkan api.


Aku melancarkan serangan tipuan. Arnoldi berhasil terkecoh. Aku mengacungkan pedangku siap menusuk jantungnya.


BRAK BRAK


CIIITTTT


Kapal tiba-tiba berguncang hebat. Suara decitan seperti dua benda yang berhimpitan terdengar sangat keras.


Aku batal melancarkan seranganku kepada Arnoldi. Aku berpindah tempat mencari keseimbangan.


“Kenapa kau tidak jadi menyerangku. Kalau begini ganti aku yang akan menyerangmu!” Arnoldi ganti mengayunkan sabitnya.


Dalam keadaan kapal yang bergoyang hebat, Arnoldi melancarkan serangan berturut-turut padaku. Kami meloncat ke sana kemari mengikuti irama kapal yang bergoyang.


Arnoldi berhasil memojokkanku ke dinding. Sebuah lukisan yang dipanjang di atasku terlepas dari pengaitnya.


Aku melihat Aras dan Tiha bertarung bersama. Cahaya Tiha cukup efektif untuk melenyapkan bayangan Arnoldi. Aras lebih mengandalkan pertarungan fisik. Tidak banyak tanah atau batu di sekitarnya. Lingkungan kapal tidak mendukungnya bertarung dengan keistimewaannya.


“Kau lihat kemana, Nona!” Arnoldi berseru kepadaku. Dia mengayunkan sabitnya tepat di hadapanku dan tiba-tiba wujudnya yang membawa sabit muncul menjadi tiga.


Tidak ada celah bagiku untuk menghindar. Aku mengeluarkan pisauku dengan tangan kiriku.


PRANG


Di atas peti kayu, aku menahan serangan Arnoldi. Pedang di tangan kananku menahan dua sabit, sedangkan pisau di tangan kiriku menahan satu lainnya. Tangan sampai gemetar saking kuatnya Arnoldi menekan sabitnya padaku.


“Jadi, kau manusia Klan Ungu. Pantas saja kau sangat kuat,” kata Arnoldi.


Satu bayangan Arnoldi muncul kembali. Bayangan itu membawa sabit dan mengayunkannya ke arahku.


SRINGG


Cahaya yang luar biasa menyilaukan menyinari ruangan. Semua bayangan Arnoldi menghilang. Arnoldi juga tampak kesakitan dengan cahaya itu. Dia menutup matanya sambil berteriak kesakitan.


Aku segera menendang Arnoldi dan menyingkirkannya dari atas peti kayu. Aku merusak gembok peti dengan pedangku. Saat aku membuka peti kayu, betapa terkejutnya aku karena tidak ada apapun di dalamnya.


“Aku tidak sebodoh itu hingga meninggalkan permata hijau itu di sana.” Arnoldi tertatih berdiri. “Kau menendang kakiku terlalu kuat, Nona.”


“Dimana kau sembunyikan permata itu?” Ichi menatap Arnoldi tajam.


Tangan kanan Arnoldi merogoh saku bajunya. Dia mengeluarkan kotak kaca kecil berisi permata lelang–Zamrud. Dia mengeluarkan Zamrud dari kotaknya. Gelombang energi dahsyat menghantam kami. Kami semua jatuh terduduk, kecuali Ryza.


“Kau rupanya Klan Hijau sepertiku. Apa kau lakukan bersama klan lain?” tanya Arnoldi kepada Ryza.


“Aku sedang berusaha untuk menyelamatkan Klan Hijau,” jawab Tiha.


“Perbuatan yang mulia. Kalau itu yang kau lakukan, aku akan menunjukkanmu sesuatu.”


Arnoldi merogoh saku bajunya.


Tes... tes...


Titik-titik air berjatuhan dari langit-langit ruangan. Arnoldi mengadah ke atas.

__ADS_1


“Sayang sekali, sepertinya pertarungan kita hanya bisa sampai di sini.” Arnoldi urung mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


Dia memanfaatkan keadaan kami yang tertekan energi Zamrud untuk kabur. Tapi Ryza tidak membiarkannya. Sulur-sulur tanaman mengejar Arnoldi yang kabur dengan lincahnya.


Arnoldi memotong sulur-sulur yang bergerak mengejarnya. Aku, Tiha, Bara, Ichi, dan Aras masih kesulitan bergerak. Kami tidak bisa membantu Ryza bertarung.


Arnoldi memunculkan bayangan-bayangannya. Sulur-sulur Ryza langsung menjerat bayangan-bayangan itu. Tapi bayangan Arnoldi terlalu banyak sehingga banyak diantara mereka yang lolos dan ganti menyerang Ryza.


“Arghh!” Ryza terlempar ke dinding akibat dari bayangan Arnoldi. Namun Ryza masih berkonsentrasi terhadap sulur-sulurnya. Dia tetap mengikat erat Arnoldi.


Bayangan-bayangan Arnoldi berusaha melepaskan Arnoldi dari ikatan sulur selagi Ryza bertarung. Semakin lama, Ryza terlihat kepayahan melawan Arnoldi. Sulur yang mengikat Arnodi melonggar dan mudah dipotong. Selain itu sulur-sulur itu bergerak lebih lambat dalam mengikat maupun menyerang. Jika ini terus terjadi, Arnoldi bisa lolos.


Aku berusaha bangkit, bertumpu dengan tanganku. Beberapa kali aku terpeleset karena karpet yang licin. Entah dari mana asalnya, air mengalir ke tempat ini dan mulai menggenangi lobi. Samar-samar diantara suara pertarungan, aku mendengar teriakan-teriakan panik. Aku khawatir ada yang salah dengan kapal ini.


KRAKK


Suara benda yang patah terdengar sangat keras. Kapal tiba-tiba menjadi sangat miring. Aku menancapkan pedangku ke lantai sebelum ikut jatuh ke bawah bersama barang-barang lain.


“Violet!” Tiha berteriak padaku. Dia tidak mendapatkan pegangan. Tangannya berusaha mencapaiku.


Aku menghela napas lega setelah berhasil meraih tangan Tiha. Aku lihat Aras, Bara, dan Ichi berpegangan pada pagar balkon. Mereka berhasil bertahan.


“Uwaahh!” Tubuh Arnoldi terikat. Dia tidak bisa berpegangan pada apapun ketika kapal miring. Dia menggelinding lalu jatuh ke bawah. Zamrud yang dibawanya terbang dan ikut terjatuh.


Kami tidak bisa membiarkan Zamrud hilang begitu saja. Ichi melepaskan pegangannya kemudian meluncur ke bawah untuk menangkap Zamrud.


Di sisi lain, Ryza kehilangan banyak tenaga setelah melawan Arnoldi. Dia tidak bisa berpegangan dan ikut meluncur ke bawah.


“Ryza!”


Beruntung Aras dengan sigap menangkapnya. Kami sekarang berharap cemas kepada Ichi.


Ichi menggunakan keistimewaannya untuk mendekatkan Zamrud kepadanya. Semakin dekat dengan Zamrud, tubuhnya terasa semakin sakit. Tapi dia harus mendapatkan permata itu. Ichi mengulurkan tangannya untuk menjangkau Zamrud. Dia juga menenangkan angin di sekitarnya. Dengan satu kali sambaran, Ichi berhasil mendapatkannya. Dia juga berusaha mengambil kotak kacanya. Dia segera memasukkan Zamrud ke kotak kaca. Setelah itu dengan keistimewaannya, dia terbang ke arah kami.


Ichi mengendalikan angin agar bisa membuatku, Tiha, Bara, Aras, dan Ryza ikut terbang. Setelah kami semua terapung, dia membawa kami ke haluan kapal yang kini menjadi bagian tertinggi kapal.


Ichi mendaratkan kami di dinding anjungan kapal. Napasnya pendek-pendek. Tangan terluka parah seperti luka bakar. Dia menangkap Zamrud dengan menyentuhnya langsung. Tenaganya habis karena melawan gelombang energi dari Zamrud.


Peristiwa mengerikan sedang terjadi saat ini. Titanic dalam ambang kehancuran. Hanya butuh beberapa waktu untuk kapal ini tenggelam. Aku lihat banyak sekoci penuh penumpang sudah mengambang di sekitar kapal. Tapi masih banyak juga penumpang yang berusaha menyelamatkan diri di Titanic.


Angin berhembus sangat dingin. Kami sekarang sedang berada di dekat daerah kutub. Gunung-gunung-gunung es bergerak lambat di sekitar kapal. Sekalipun kami terjun ke laut untuk menyelamatkan diri, kami bisa mati dalam beberapa menit karena kedinginan.


“Semua berpegangan pada kapal!” seru Aras.


Titanic semakin cepat tenggelam. Kami harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.


KRAKK


Kami tiba-tiba terlempar ke arah berlawanan jatuhnya kapal. Titanic terbagi menjadi dua. Kami jatuh ke sisi lain. Tiha dan Bara terlepas dari pegangannya karena terkejut. Mereka jatuh bebas ke laut.


“Tidak!”


Aku, Ichi, Ryza, dan Aras masih berpegang erat pada kapal.


KRAKKK


BUUMMM


Titanic sempurna patah menjadi dua. Bagian haluan–tempat kami bertahan sekarang jatuh berdebam di laut hingga menghasilkan ombak yang besar.


Air laut yang dingin mengejutkan jantungku. Kulitku terasa sakit karena air yang teramat dingin. Mataku tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Aku hanya melihat jejak-jejak yang bersinar semakin redup. Peganganku terlepas. Aku ikut tenggelam bersama Titanic.


Dadaku terasa sangat sesak. Aku tidak bisa menyerah di sini. Aku berusaha berenang ke atas, meskipun rasanya sangat berat. Dari bawahku, sepotong papan kayu bergerak ke atas dengan cepat. Aku segera berpegangan padanya ketika benda itu melewatiku.


“Huahh.”


Aku berhasil sampai di permukaan laut dengan bantuan papan kayu. Papan ini terlalu kecil untuk aku naiki. Aku hanya bisa berpegangan erat pada papan. Aku meraba saku tempat aku menyimpan Amethyst dan Sapphire. Keduanya masih tersimpan aman di sana.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Mayat-mayat manusia mulai terapung. Begitu juga sebagian barang-barang dari Titanic. Aku mencari Tiha, Bara, Ichi, Aras, dan Ryza. Tapi aku tidak menemukan mereka dimanapun.


Aku mulai mengigil kedinginan. Kulitku membiru. Jika aku tetap di dalam air seperti ini, aku bisa mati. Aku kembali melihat sekitar. Dari sekian banyak barang yang terapung, pasti ada yang bisa aku gunakan sebagai kapal. Aku mendapati peti-peti kayu terapung tak jauh dari posisiku sekarang.


Aku menarik napas dalam kemudian membenamkan diri ke laut dan berenang ke sana. Berenang mendekati peti kayu sangat sulit. Selain melawan air yang dingin, mayat-mayat yang terapung menghalangai jalanku ke sana.


Aku sudah kian dekat dengan peti tapi rasanya aku sudah tidak kuat lagi berenang. Kesadaranku menipis. Hampir-hampir aku kembali tenggelam. Aku menguatkan tekadku lalu mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk berenang ke sana.


Sebuah kebahagian tak terkira ketika aku berhasil meraih mulut peti. Aku mendorong tubuhku untuk naik. Peti kayu hampir terbalik karena aku tidak kuat naik ke atasnya.


Brukk

__ADS_1


Aku berhasil naik ke atas peti. Aku memandang langit hitam yang dihiasi ratusan bintang sambil berbaring. Tubuhku sudah tidak bisa digerakkan dan hanya bisa mengigil. Napasku juga tidak karuan. Pikiranku melayang teringat Aras, Ichi, Ryza, Tiha, dan Bara. Aku tidak masalah jika kami tidak bertemu sekarang tapi aku harap mereka semua bisa selamat.


__ADS_2