Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 24


__ADS_3

 


Bau herbal yang merebak di sekeliling membuatku membuka mata. Benda pertama yang aku lihat adalah kantung berisi rempah-rempah yang digantung tepat di atas wajahku. Aku bergerak menyingkirkan kantung itu dari hadapanku.


“Aduh.” Aku terkejut ketika merasakan sengatan di perutku ketika bergerak. Aku meraba perutku. Luka tembaknya sudah diobati. Sekarang perutku diperban.


Aku bangun dari tidur perlahan agar rasa seperti sengatan lebah itu tidak muncul. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat tidur, apalagi di tempat yang asing. Rasanya tidak nyaman. Aku membuka pintu kamar. Aku mendapati Azuro dan seorang pria tua duduk bersama.


“Violet!” Azuro terkejut melihatku keluar dari kamar. Dia menghampiriku.


“Kenapa kau malah berjalan. Kau sebaiknya istirahat dulu. Lihat, darahnya keluar lagi.” Azuro mengajakku kembali ke kamar.


Aku menatap darah yang merembes melalui perbanku. “Seharusnya aku memang tidak bergerak dulu.”


Azuro membantuku kembali ke tempat tidur. Pria tua itu ikut mendekatiku. Dia memakai sarung tangan.


“Aku akan merawat lukanya. Kau tunggulah di luar, Azuro,” kata pria itu.


Azuro menurut. “Aku serahkan padamu, Dokter.”


Azuro keluar dari kamar. Pria yang disebut “Dokter” oleh Azuro menyiapkan perban baru. Dia lalu membuka perbanku.


“Padahal kau terluka sangat parah tapi kau langsung bisa berjalan. Ksatria memang berbeda. Atau harus aku panggil kau pembunuh?” Dokter melirikku, ekspresi wajahnya seolah-olah mengatakan “aku tahu semua.”


Aku menatap tajam dokter ini.


“Siapa kau sebenarnya?”


Dokter tersenyum. Dia hampir selesai mengganti perbanku.


“Panggil saja aku Hermes.” Hermes membuang perban kotor ke tempat sampah. “Dulu aku adalah dokter di Istana Neptune, istana Klan Biru Timur. Tapi semenjak kejadian berdarah itu, aku keluar dari istana.”


“Kau dendam padaku?”


Hermes tiba-tiba menghimpitku dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat mengerikan.


“Tentu saja. Kau adalah penyebab utama kekalahan Klan Biru Timur! Kau menghancurkan seluruh harapan kami. Kau membuat Tuan Putri mengorbankan dirinya!” Hermes berteriak terbakar emosi.


Aku merapat ke kasur ketika Hermes meneriakiku. Dia terlihat sangat marah dan aku tidak bisa menyalahkannya. Dia pantas marah padaku.


Tok.. tok.. tok.. Azuro mengetuk pintu.


“Dokter, aku harap kau tidak berteriak kepada orang sakit.” Azuro memperingatkan dari luar.


Hermes berdeham. Dia menarik nafas kemudian menghembuskannya.


“Maaf, Nona. Aku terbawa emosi. Tapi aku memang sangat marah padamu.”


“Lalu kenapa kau tidak membunuhku?”


“Aku seorang dokter, Nona, bukan pembunuh. Selain itu alasanku adalah dia.” Hermes membuka tirai di samping kasurku.


Di balik tirai itu, Aras terbaring tidak sadarkan diri. Rambutnya sudah berubah menjadi hitam. Tanpa sadar aku juga melihat rambutku yang sudah berubah menjadi ungu. Cat rambut kami sudah luntur.


Aku melihat energi Aras sudah hampir habis, benar-benar hampir habis. Aku hanya melihat aliran energi obsidian yang sangat sedikit dalam tubuhnya. Manusia biasa seharusnya sudah mati dengan energi sesedikit itu.


“Aku banyak berhutang budi padanya. Tadi malam dia membawamu ke sini bersama Azuro. Dia menyuruhku untuk segera merawatmu padahal keadaannya sendiri jauh lebih parah. Berterima kasihlah padanya ketika dia sudah bangun.”


Aku memandang Aras, mungkin aku memang bisa percaya padanya lagi.


 


*****


Aku mengasah pedangku di halaman belakang rumah Hermes. Azuro bersamaku. Dia sedang melatih keistimewaanya bersama Hermes. Ini baru pertama kali aku melihat keistimewaan Azuro. Dia menjadikan air yang dikendalikannya berubah menjadi setajam pisau. Dia memotong batu-batu yang Hermes lemparkan.


“Lebih baik kau memotong rumput di halamanku daripada batu-batu ini. Itu akan lebih berguna dan aku bisa mengerjakan sesuatu yang lain,” keluh Hermes.


“Kenapa kau juga mau melakukan perintahnya?” Aras muncul dari dalam rumah.


Aku menghentikan pekerjaanku. Hermes melempar batu-batunya ke sembarang tempat. Dia segera mendekati Aras.

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu, Aras? Apa kau masih merasa lemas?” tanya Hermes.


“Aku sudah baik-baik saja. Energiku sudah kembali,” jawab Aras.


“Kau belum pulih. Energimu masih terlalu sedikit. Seharusnya kau tetap berisitrahat.” Aku hanya melihat sedikit aliran energi di tubuh Aras. Jika dimisalkan energi maksimum adalah seratus, energinya sekarang adalah sepuluh.


“Energiku akan kembali seiring berjalannya waktu. Lagi pula kita harus segera bergerak.”


Tiba-tiba...


SPLASH


Air melesat ke punggung Hermes. Dia terlonjak kaget.


“Azuro, apa yang kau lakukan? Kau membuatku basah!” Hermes berseru kesal.


Air menetes dari baju Hermes. Dia basah kuyup.


“Maafkan aku, Hermes. Aku tidak sengaja. Tiba-tiba saja batu yang kau lemparkan hilang.”


Hermes menghela nafas. Dia tahu Azuro sengaja melakukannya karena dia langsung meninggalkan Azuro ketika Aras datang.


“Aku akan ganti pakaian. Setelah ini kau istirahat saja, Aras,” pesan Hermes sebelum masuk ke dalam rumah.


Azuro mendekatiku dan Aras setelah Hermes pergi. Wajahnya kelihatan tidak tenang.


“Maafkan aku sudah merepotkan kalian kemarin. Aku juga berterima kasih telah menolongku.” Azuro berbicara kepada kami tapi dia sama sekali tidak menatap kami. Seperti biasa, dia terlalu gengsi.


“Tidak perlu kau pikirkan, Azuro. Yang penting kau baik-baik saja,” kata Aras.


“Yah, aku tidak mau menggendongmu lagi jika pingsan. Jadi, jadilah lebih kuat, Azuro.” Aku menepuk punggung Azuro.


Aku merasa tidak terlalu keras menepuk punggungnya tapi dia sangat terkejut hingga mau jatuh.


“Hey, hati-hati! Perbuatanmu ini bisa menjadi masalah di kalangan bangsawan,” gerutu Azuro.


Azuro merogoh sakunya. Dia melemparkan pisau kepadaku.


“Nih, aku memungutnya kemarin. Ludwig pasti akan merengek jika tahu pisau dapurnya, kenang-kenangan darinya ditinggalkan begitu saja.”


Beberapa saat kemudian, Hermes kembali sambil membawa teh. Dia menyeduhkan teh herbal untuk kami. Ada tiga variasi teh yang berbeda, sesuai kebutuhan kami.


“Teh ini bisa mempercepat penyembuhan kalian,” kata Hermes.


Aku, Aras, dan Azuro meminumnya. Aku melihat wajah Azuro mengernyit. Dia meletakkan cangkir tehnya.


 


“Ada apa, Azuro? Kau tidak menyukai tehnya?” tanya Hermes.


“Aku tidak terbiasa dengan rasa tehnya.”


“Sebaiknya Kau tetap meminumnya. Rasanya memang agak aneh tapi ini adalah ramuan herbal yang bisa memperkuat daya tahan tubuhmu,” nasehat Hermes.


Aku tidak tahu bagaimana rasa teh milik Azuro. Tehnya bening seperti air putih. Tapi penampilan memang sering menipu.


Azuro mengambil cangkirnya dengan ragu. Patah-patah dia meminumnya. Begitu dia merasakan tehnya, dia langsung meneguknya sekaligus.


“Uhuk… uhuk…” Azuro terbatuk setelah meminum habis tehnya.


Hermes mengulurkan segelas air. Azuro meminumnya perlahan.


“Kau harus berhati-hati ketika meminumnya.”


Azuro mengelap mulutnya dengan sapu tangan. Wajahnya memerah karena menahan malu dan rasa tidak enak dari tehnya.


“Aku menghargai pemberianmu, Dokter. Tapi aku lebih senang jika cukup satu kali ini saja aku mencobanya,” kata Azuro.


“Kau masih kecil. Jadi, kau tidak merasakan nikmatnya teh ini.” Hermes menyeduh teh Azuro ke cangkirnya. Dia tampak menikmati rasa tehnya ketika menyesalnya.


“Hermes, terima kasih kau sudah menolong kami,” kata Aras.

__ADS_1


Hermes tersenyum. Dia meletakkan cangkir tehnya. “Aku sudah banyak berhutang budi padamu. Sudah sewajarnya aku membalasmu.”


“Memang apa yang dilakukan Aras padamu?” tanya Azuro.


“Dia banyak membantuku. Aku bertemu dengannya sekitar enam tahun yang lalu, ketika perang saudara terjadi. Aku yang saat itu menjadi dokter istana sedang mengobati Ratu Mai yang saat itu masih menjadi seorang putri. Saat itu raja dan para pangeran sedang berperang. Tinggal ratu dan para putri tinggal di istana. Sebelumnya Ratu Mai ikut dalam peperangan tapi setelah dia terluka, dia dipulangkan kembali.”


“Klan Biru Barat saat itu sangat kuat. Hampir seluruh prajurit diberangkatkan ke medan perang. Pengamanan istana menjadi lemah. Saat itulah tiba-tiba Istana Neptune diserang. Aku dan Putri Mai tidak berada dalam istana utama, kami berada di paviliun. Putri Mai yang mendengar berita itu langsung pegi ke istana. Dia berniat menolong ibu dan saudara-saudaranya tapi dia malah menyaksikan keluarganya dibunuh di depan mata kepalanya sendiri.”


Aku menunduk selama mendengarkan cerita Hermes. Ada rasa bersalah bergelayut di hatiku.


Hermes melanjutkan ceritanya.


“Saat itu tinggal aku, Putri Mai, Putri Safira yang masih hidup. Di saat kami hampir dibunuh, muncul seorang anak laki-laki yang menolong kami. Dia adalah Aras. Dia menyelamatkan kami, membawa pembunuh itu entah kemana. Semenjak itu dia sering membantuku dan Klan Biru Timur. Belum lama ini dia membantu memasok bahan makanan bagi petani yang gagal panen.”


“Aras terdengar sangat baik di ceritamu. Padahal dia terkenal sebagai penjahat.” Tiha berkomentar.


Aras tidak tampak terganggu dengan komentar Tiha. Dia tetap meminum tehnya dengan tenang.


“Aku sangat menyayangkan itu. Untukku Aras adalah orang yang baik. Tapi aku juga tidak tahu kenyataannya.” Hermes melirik Aras. “Maaf jika aku menyinggungmu, Raja Aras.”


“Tidak masalah, Hermes. Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Selain itu apa kau sudah mendapatkan yang aku minta?” Aras meletakkan cangkir tehnya. Dia menatap Hermes.


“Tentu saja. Aku sudah mendapatkannya. Permintaanmu setelah menjadi raja makin hari makin aneh saja.” Hermes pergi meninggalkan kami.


Beberapa saat kemudian. Hermes kembali sambil membawa buku usang. Dia memberikan buku itu kepada Aras.


“Untunglah aku bisa membujuk saudaraku untuk memberikannya. Untuk apa kau menginginkan buku tua ini?” tanya Hermes.


“Kau memang pintar, Hermes. Tapi sepertinya bakatmu hanya di bidang kesehatan saja.” Aras tidak menjawab pertanyaan Hermes.


Aras meraih buku itu. Dia mengusap sampul bukunya.


“Ini adalah buku harian leluhurmu. Ditulis secara turun menurun di setiap generasi. Kalian tidak sadar bahwa sebenarnya kalian telah menulis suatu penelitian yang besar.”


“Apa maksudmu, Aras?” tanyaku.


“Buku ini berisi hal-hal penting tentang permata klan, khususnya sapphire. Raja Ash meninggal secara tiba-tiba. Dia belum memberitahuku seluruh hal tentang permata klan. Aku harus berusaha sendiri. Mengetahui lebih dalam tentang permata klan akan memperbesar peluang kita menyelamatkan dunia ini. Buku ini pernah disebut oleh Raja Ash sebelum meninggal.”


“Lalu apa yang kalian lakukan setelah ini?” tanya Hermes.


“Kami harus menyelamatkan teman kami yang masih berada di penjara istana,” jawabku.


“Selain itu ada beberapa hal lain yang harus kami urus.” Azuro menambahkan.


Tes, satu titk air menjatuhi pipiku. Aku merasakan sedikit perih di pipiku. Aku memandang ke atas. Titik-titik hujan mulai berjatuhan dan semakin deras. Kami bergegas masuk ke dalam rumah.


“Hujan seperti kemarin malam. Aku tidak menyangka hujan ini dengan mudahnya menghapus cat rambut yang dibuat oleh Perusahaan Geerginlik.” Azuro menatap hujan yang semakin deras.


"Jadi hujan ini yang menyebabkan rambutku berubah lagi menjadi ungu."


“Sudah beberapa lama Klan Biru Barat mengalami hujan seperti ini. Hujan asam. Hujan ini bisa mengikis segala hal,” kata Hermes.


“Pantas pipiku terasa perih setelah terkena air hujan.” Aku menyentuh pipiku.


“Aku masuk ke dalam dulu. Aku harus melakukan persiapan untuk menjenguk pasienku nanti.” Hermes masuk ke dalam rumah.


Aku, Aras, dan Azuro tetap berada di belakang rumah. Kami memang menunggu Hermes pergi.


“Jadi, bagaimana kita akan menyelamatkan Tiha dan mendapatkan sapphire?” Azuro memulai pembicaraan.


“Kita bisa membagi pekerjaan itu. Kau dan aku akan pergi menghadap Ratu Mai, sedangkan Violet pergi menyelamatkan Tiha,” kata Aras.


“Apa tidak masalah kau bertemu Ratu Mai? Rambutmu sudah menjadi hitam dan pestanya masih dua hari lagi.” Aku memastikan.


“Klan Biru Timur cukup mengenalku. Itu akan menjadi lebih mudah. Selain itu kita tidak bisa menunggu hingga pesta. Aku tidak yakin tidak ada pertumpahan darah ketika kita mendapatkan sapphire. Para tamu pesta tidak boleh kita libatkan,” jawab Aras.


“Bukannya Ratu Mai menganggapmu sebagai sekutu? Jika kau datang bersamaku, kau malah akan terlihat mendukung musuh,” kata Azuro.


“Klan Hitam tidak memihak manapun, Azuro.” Aras menegaskan.


“Untuk berjaga-jaga aku akan mencari cara mendapatkan sapphire jika Ratu Mai tidak memberikan sapphire kepada kalian,” kataku.

__ADS_1


Azuro dan Aras mengangguk setuju.


Rencana telah kami susun. Kami tidak akan menunggu hujan berhenti untuk pergi ke istana.


__ADS_2