Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 29


__ADS_3

Aku dan Aras pergi bersama Ratu Mai ke pelabuhan. Di sana tampak kapal-kapal sedang menepi, termasuk kapal kami. Kapal kami rusak parah. Ada lubang besar di sana sini. Seharusnya kapal itu sudah tenggelam tapi Ichi mengangkatnya dengan angin agar kapal tetap mengapung.


Bara menurunkan tangga untuk turun penduduk yang kami selamatkan. Wajah mereka berseri, lega karena badai hujan asam sudah berhenti. Setelah mereka turun, Ichi, Tiha, Ryza, dan Bara menghampiriku dan Aras, sedangkan Ratu Mai pergi menemui rakyatnya.


“Untunglah, badai sudah selesai. Sekarang sudah mulai terang.” Tiha memandang cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah awan.


Bara menengok ke sekitar, mencari sesorang. “Dimana Azuro? Aku tadi melihatnya menyeburkan diri ke laut setelah melihat kalian jatuh. Aku kira dia menyelamatkan kalian.”


Aku dan Aras menunduk.


“Hey, ada apa? Kenapa wajah kalian seperti itu?” Ryza mulai khawatir.


“Bara mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Klan Biru,” jawab Aras.


“Hah?! Apa maksudmu? Dia masih hidupkan?”


Aras tidak menjawab pertanyaan Bara.


“Hey, Aras! Jawab aku! Jangan diam seperti ini!” Bara mengguncang bahu Aras. Wajahnya terlihat sangat panik dan bingung.


“Azuro telah berubah menjadi sapphire.” Aku menunjukkan sapphire perwujudan Azuro.


“Tidak mungkin! Manusia tidak bisa berubah menjadi permata klan,” sanggah Ichi. Dia tidak percaya dengan ucapanku.


“Ichi benar! Aku tidak pernah dengar tentang manusia yang menjadi permata.” Bara menyahut. “Kau jangan bercanda, Violet.”


“Apa aku pernah bercanda tentang hal serius, Bara?”


Semuanya terdiam.


Air mata mulai menggenangi Ryza. “Ti... tidak mungkin.”


“Kau serius, Violet? Kau bohong, kan?” Tiha menatapku dengan mata berkaca-kaca.


Aku diam, memalingkan muka dari Tiha.


“Aras! Violet berbohong, kan?” Tiha beralih ke Aras, meminta kepastian.


“Violet tidak berbohong, Tiha. Violet dan aku melihat dengan mata kepala kami sendiri ketika Azuro berubah menjadi permata.”


Tangis Tiha pecah. Begitu pula Ryza. Melihat mereka menangis, air mataku ingin keluar tapi aku menahannya.


Aku memeluk Tiha. Walaupun Tiha sering bertengkar dengan Azuro, aku tahu mereka cukup dekat. Tiha pasti merasa kehilangan. Tidak hanya Tiha tapi kami berenam pun merasa begitu. Kami memang baru kenal beberapa hari tapi misi ini membuat kami seolah-olah sudah memiliki hubugan sejak dulu.


“Bangsawan kecil itu benar-benar bodoh. Bodoh sekali.” Kata-kata Ichi memang kasar tapi tampak dari raut wajahnya dia juga bersedih. “Pengorbanan Azuro sangat besar. Kita tidak boleh menyianyiakannya. Misi kita harus sukses. Demi seluruh manusia klan! Dan demi Azuro!”


Aku, Aras, Bara, Tiha, dan Ryza mengangguk. Kita tidak membiarkan pengorbanan Azuro sia-sia.


***


Ratu Mai memerintahkan seorang dokter untuk merawat kami berenam. Badai itu membuat keadaan kami cukup parah. Kami menderita luka bakar dihampir seluruh tubuh.


Aku duduk di pinggir pelabuhan. Ichi berlutut di sampingku, dia sedang membalut lenganku.


“Kau terlalu memaksakan diri. Lukamu parah. Apa kau tidak merasa sakit, hah?”


“Aku sudah terbiasa dengan luka. Hanya seperti ini saja tidak akan membuatku mati.”


“Tapi kau membuat Aras terluka parah. Dia berkali-kali melindungimu, kan?”


Aku memandang Aras yang sedang diobati oleh dokter. Diantara kami berenam, dia yang menderita luka paling parah. Aku menjadi merasa agak bersalah.


“Yah, dia juga bodoh. Kau itu kuat. Untuk apa melindungimu.” Ichi mengikat perban terakhir.


“Terima kasih.”


Ichi selesai membalut lenganku. Dia duduk di sampingku. “Setelah ini ke mana kita akan pergi lagi?”


“Entahlah. Aku tidak melihat jejak permata lain. Semoga kita bisa mendapat petunjuk.”


Ichi menghela napas. Dia memandang Ryza, Tiha, Bara, dan Aras sedang saling mengobati. Wajahnya terlihat khawatir.


“Kau dihormati oleh mereka. Jangan memasang wajah seperti itu. Itu bisa memepengaruhi semangat mereka.”


“Aku tidak akan menunjukkan wajah seperti ini di depan mereka. Aku hanya bisa seperti ini di depanmu saja. Kita sama-sama seorang prajurit. Jadi, aku bisa berterus terang padamu.”


Menjadi pemimpin atau orang yang dihormati bukan hal yang mudah. Mereka tidak boleh terlihat khawatir ataupun ketakutan. Mereka harus terlihat kuat dan percaya diri agar orang-orang di sekeliling mereka tetap memiliki semangat yang tinggi.


“Aku mendapat informasi adanya pengkhianat diantara kita,” kata Ichi.


“Pengkhianat? Dari mana kau tahu?”


“Bukan urusanmu dari mana aku mendapatkan informasi itu. Aku juga tidak akan memberitahu siapa yang berkhianat karena ini belum pasti. Aku sarankan padamu untuk hati-hati karena salah satu dari kita mengincar nyawamu.”


Aku tidak terlalu terkejut ketika Ichi memberitahuku. Sejak awal misi dimulai aku selalu memperhatikan setiap orang dalam misi ini. Ada beberapa orang yang aku curigai.


Orang yang pertama adalah Aras. Dia sudah mencurigakan sejak awal misi. Aras adalah buron paling dicari diantara seluruh klan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menjadi raja atau pemimpin Klan Hitam dengan statusnya yang seperti itu, sepertinya para pemimpin klan lain juga tidak mempermasalahkan statusnya karena dia bisa masuk ke Dewan Aliansi Klan.


Aras terkenal karena kasus pembunuhan banyak bangsawan Klan Biru Barat, penyerangan wilayah Klan Jingga, pembunuhan pemimpin Klan Hijau, dan masih banyak lagi. Tidak ada yang tahu tujuan Aras sebenarnya melakukan itu tapi rumornya dia ingin menguasai dunia.


Jika rumor itu benar, misi ini bisa membawa Aras pada tujuannya. Setelah tujuh permata klan terkumpul pasti akan tercipta kekuatan yang luar biasa, dengan itu mudah sekali untuk menguasai bahkan menghancurkan dunia.


Aras memang baik padaku, tidak hanya padaku tapi semua orang. Sikapnya tidak menunjukkan sosok Aras yang dikenal banyak orang, kejam dan mengerikan, justru malah sebaliknya. Dia baik dan selalu peduli. Tapi bisa jadi ada maksud tersembunyi dibaliknya.


Orang yang kedua adalah Tiha. Sebenarnya tidak ada yang terlalu mencurigakan darinya, hanya saja kejadian di Klan Biru Timur itu agak aneh. Dia tidak ditangkap dan dikurung dalam penjara seperti Aras dan Azuro. Dia malah mendapat kamar yang luas dan bagus. Padahal Aras adalah seorang raja yang dikenal Ratu Mai. Rasanya tidak mungkin mereka mendapat perlakuan yang jauh berbeda seperti itu. Jika Aras dibuang Ratu Mai karena ikut dalam misi, seharusnya itu juga berlaku pada Tiha.


Selain itu tentang misi kami yang diketahui oleh Ratu Mai, tidak ada yang tahu selain kami, para pengemban misi, dan para pemimpin klan, juga orang orang kepercayaan saja. Ada kemungkinan Tiha yang memberitahunya. Tiha memiliki peralatan berteknologi tinggi sehingga mudah baginya menyampaikan pesan dalam waktu singkat. Tapi aku belum tahu alasan Tiha melakukan itu. Jika karena hubungan orang tua angkatnya dengan Ratu Mai, itu alasan yang terlalu lemah.


“Jangan beritahu teman-teman yang lain. Aku tidak mau kita jadi terpecah karena masalah pengkhianat.”


Aku mengangguk.


“Violet!”


Suara familiar meneriakkan namaku. Dari kejauhan aku melihat Ludwig berlari ke arahku.


“Ludwig?”


Ludwig langsung memelukku ketika sampai. Aku melihat matanya merah. Dia terlihat sehabis menangis.

__ADS_1


“Dimana Azuro? Aku harus segera memberitahunya. Wangsa kita–” Ludwig tidak mampu melanjutkan perkataannya. Air mata bergulir menuruni pipinya.


Aku melirik Ichi. Ludwig belum tahu jika Azuro sudah menjadi permata klan. Ludwig sudah sangat sedih karena kehilangan keluarganya. Aku tidak bisa membayangkan sesedih apa ketika dia mendengar Azuro sudah tidak ada.


Aku menepuk-nepuk bahu Ludwig. Dia mulai tenang.


“Azuro sudah tahu tentang kejadian yang menimpa Wangsa Geerginlik,” kataku. “Kami kira kau ikut menjadi korban.”


Ludwig menggeleng. Dengan tersendat-sendat dia menceritakan ketika kejadian itu terjadi. Saat itu dia sedang pergi bersama Mozart ke kota Jadnew setelah konser di Vienna. Di jalan mereka diserang oleh sekolompok pembunuh bayaran. Beruntung Mozart membawa banyak prajurit ikut bersamanya. Mereka berdua berhasil lolos tapi seluruh prajurit terbunuh. Ludwig dan Mozart akhirnya memutuskan untuk kembali ke Vienna.


Sesampainya di Vienna kabar tentang pembantaian Wangsa Geerginlik sudah tersebar luas. Ludwig yang mendengarnya sangat terkejut. Saat itu juga dia langsung pergi ke Dumbrige, ke kediaman utama Wangsa Geerginlik. Tapi mansion itu sudah menjadi abu.


“Saat itu aku langsung teringat Azuro. Dia bersama kalian. Seharusnya dia selamat.”


Aku terdiam sejenak. “Ludwig, maafkan aku.”


“Apa maksudmu, Violet?! Kenapa kau minta maaf? Azuro masih ada, kan?”


Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.


“Azuro sudah tidak ada. Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Klan Biru.”


Ludwig menunduk. Dia mundur dengan sempoyongan. “Tidak mungkin. Tidak mungkin.”


Ludwig bergerak terlalu pinggir pelabuhan. Ichi bergerak cepat, dia menarik Ludwig sebelum dia jatuh ke laut.


Ichi menyentak bahu Ludwig. “Aku tahu ini sangat berat bagimu tapi kau juga harus memperhatikan keselamatanmu juga.”


Ludwig mengusap wajahnya. Dia menarik napas dalam.


“Maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi. Aku tidak mengira ini benar-benar terjadi. ”


“Tidak apa-apa, Ludwig. Meskipun kau kehilangan keluargamu, kau harus tetap kuat.”


Ludwig mengangguk.


Setelah Ludwig tenang, aku memperkenalkan Ichi, Bara, dan Ryza. Bara banyak melakukan hal lucu hingga Ludwig tertawa. Aku merasa lega karena dia sudah tidak sesedih tadi.


“Sebenarnya selain mencari Azuro, ada pesan yang harus aku sampaikan kepada kalian.” Ludwig mengeluarkan sebuah dua amplop berstempel Wangsa Geerginlik.


“Surat ini datang setelah aku mendengar berita kematian keluargaku. Surat ini ditulis oleh Azuro. Aku tidak tahu kapan dia menulisnya. Tapi di dalamnya masih ada surat lagi yang harus aku sampaikan kepada kalian jika dia sudah meninggal.”


Ludwig membuka suratnya. Tampak di dalam surat itu masih ada amplop yang ukurannya lebih kecil.


Ludwig mengambil surat kecil itu lalu menyerahkannya padaku bersama surat lainnya. “Azuro bilang aku tidak boleh mengetahui isi surat itu. Aku akan pergi selagi kalian membacanya.”


Ludwig kemudian pergi menjauh dari kami. Aku membuka segel amplop yang pertama, surat yang kecil.


***Vienna, 1875


Jika kalian menerima surat ini berarti aku sudah mati karena tidak bisa menyampaikannya secara langsung pada kalian. Sebelum jamuan makan malam Klan Putih, aku sudah tahu tentang misi yang akan aku terima. Oleh karena itu, aku meminta Blue untuk menyelidiki permata klan. Sayangnya aku hanya mendapat informasi tentang Zamrud saja, itupun belum pasti.


Menurut informasi yang didapatkan Blue, ada permata hijau langka yang akan dilelang oleh perusahaan lelang terkenal “Phoenix” di kapal Titanic. Desas desusnya permata itu bisa menumbuhkan tanaman secara tidak wajar. Aku curiga jika permata hijau itu adalah Zamrud.


Aku harap informasi dariku ini dapat membantu kalian. Selain itu aku sudah menyertakan tiket kapal Titanic di amplop satu lagi. Dan yang terakhir, karena pelelangan itu kemungkinan besar akan menghabiskan biaya yang sangat besar, aku telah menyiapkan 3,000,000 guinea untuk pelelangan itu. Aku harap itu cukup karena para bangsawan lain pasti juga menginginkannya.


“Tiga juta guinea?!” Kami berlima memekik. Itu jumlah yang sangat banyak, sangat sangat banyak.


“Itu sama saja dengan tiga juta keping emas, kan?” Bara memastikan.


Aku mengangguk.


“Aku saja belum pernah melihat seratus ribu keping emas. Sekarang kita malah memegang tiga juta keping emas. Astaga.” Tiha menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti.


“Apa harga barang di pelelangan bisa sampai semahal itu?” tanya Tiha.


“Kalau kelas permata memang bisa sampai jutaan guinea tapi yang aku tahu permata hasil pelelangan termahal itu tidak sampai tiga juta, hanya sekitar dua juta guinea.” Gelarnya sebagai raja membuatnya tahu berbagai hal, salah satunya tentang barang hasil lelangan termahal di dunia.


Aku ganti membuka amplop satu lagi. Di dalamnya terdapat enam tiket kapal Titanic seperti yang dituliskan Azuro di surat.



“Apa kalian sudah selesai?” Ludwig menghampiri kami.


“Yah, begitulah,” jawab Ichi.


“Kalau begitu, kalian harus ikut aku ke Klan Biru Barat karena Titanic akan berangkat dari Llundain besok siang.”


“Eh, kau tahu tentang itu?” tanya Tiha.


“Tentu saja. Azuro memberitahuku jika kalian akan mengikuti pelelangan besar di Titanic. Dia bilang kalian mengincar permata langka di sana dan menyuruhku untuk membantu kalian. Aku tidak menyangka ternyata kalian hobi mengoleksi barang langka, sudah seperti bangsawan kaya saja.” Ludwig menggeleng-gelengkan kepalanya. Azuro sepertinya memberitahu Ludwig hal yang berbeda.


Ludwig memandu kami ke kapal besar yang ditambatkan di pelabuhan. Kami menaiki kapal berlambang Wangsa Geerginlik di lambung kapal.


“Aku tidak mengira kita akan menaiki kapal pribadi Geerginlik.” Tiha memperhatikan lambang wangsa Geerginlik di setiap penjuru kapal.


“Wangsaku memang dibantai tapi tidak dijarah. Harta Geerginlik sangat banyak dan masih banyak meskipun mansion utama terbakar. Karena masih ada anggota wangsa Geerginlik yang masih hidup yaitu aku, maka aku yang mewarisi seluruh kekayaan wangsa Geerginlik, sekaligus menjadi earl baru,” jelas Ludwig.


Ludwig yang seorang Musikus Agung mendapat satu gelar lagi yaitu Earl Geerginlik. Tapi aku tidak yakin Ludwig menyukainya. Dari sifatnya, Ludwig tidak suka dengan hal-hal yang menyangkut urusan bangsawan.


Kapal mulai berlayar di lautan. Kapal melaju kencang karena tenaga mesin dan layar yang digunakan bersamaan.


Aku berdiri di pinggir geladak kapal, menikmati angin yang berhembus kencang.


“Kau tidak istirahat?” Ichi tiba-tiba muncul di sampingku.


Aku menggeleng. “Aku terlatih untuk tidak tidur dan makan hingga beberapa hari. Lagipula akhir-akhir ini sudah aku terlalu banyak istirahat. Kau sendiri tidak istirahat?”


“Aku sedang tidak ingin istirahat.”


Ichi bersandar pada pagar geladak. “Laki-laki itu tadi saudaranya Azuro?”


“Maksudmu Ludwig? Iya, dia sepupu Ludwig. Ada apa?”


“Aku merasakan sedikit energi sapphire darinya. Apa dia galur murni juga?”


Aku mengangguk. “Keistimewaannya penyembuh.”


“Benarkah? Misi kita bisa lebih lancar jika dia bisa menggantikan Azuro dalam misi ini.”

__ADS_1


“Itu tidak bisa, Ichi.”


“Aku tahu.”


Misi kami diikuti oleh perwakilan pemilik galur murni setiap klan. Tapi untuk menjaga kerahasiaan misi, kami tidak bisa mengganti anggota meskipiun anggota misi berkurang karena tidak mampu atau mati.


“Ehm, kalian sedang membicarakanku, ya?”


Aku dan Ichi menoleh. Ludwig berjalan mendatangi kami. Ada pendar kebiruan yang menyelimutinya. Energi sapphire memancar gila-gilaan dari tubuhnya.


“Kau baru saja mengobati mereka, Ludwig?” tanyaku.


“Iya dan itu membuat energi sapphire-ku agak tidak terkendali. Kalian mau aku obati? Kalian bisa sembuh sempurna dan aku bisa mengurangi energiku yang terlalu banyak ini.”


Aku mengangguk. Ludwig menyuruhku untuk berbaring di kursi geladak. Setelah aku berbaring, Ludwig menggerakkan tangannya di atasku. Aku bisa melihat energi sapphire berpindah ke tubuhku.


Sensasi hangat memenuhi tubuhku. Luka-lukaku menutup. Tulang-tulangku yang patah kembali tersambung. Nyeri di sekujur tubuhku hilang. Selain itu aku bisa merasakan tubuhku jauh lebih kuat dari sebelumnya.


“Aku menambahkan penguatan pada tubuhmu. Seharusnya tubuhmu akan lebih kuat,” jelas Ludwig.


“Aku merasakannya.”


Ludwig menoleh ke Ichi. “Kau juga mau?”


Ichi ganti berbaring di tempatku.


“Apa luka wajahmu mau aku hilangkan juga?”


Ichi menyentuh luka yang memanjang di wajahnya. “Ini luka kutukan. Kau tidak bisa menghilangkannya.”


“Itu belum tentu.”


Ludwig mulai mengobati Ichi, Tubuhnya berpendar lebih biru. Tubuh Ichi juga berpendar putih. Luka di wajahnya perlahan memudar.


“Luka di wajahmu menghilang,” ucapku setelah luka di wajah Ichi sempurna menghilang.


Ichi bangun setelah Ludwig selesai mengobatinya.


“Apa wajahmu sakit?” Ludwig bertanya karena Ichi menutup wajah dengan tangannya.


“Tidak, hanya saja rasanya aneh.”


Ichi menarik tangannya dari wajahnya.


“Astaga, ya ampun!” Aku dan Ludwig memekik bersamaan.


Ichi terlihat sangat tampan, benar-benar tampan. Cahaya putih seperti menyelimutinya. Aku sampai berpikir dia menggunakan sihir untuk mempertampan wajahnya. Aku tidak pernah melihat orang serupawan itu. Aku yakin dia bisa mengalahkan kecantikan perempuan paling cantik di dunia ini. Aku tidak melebih-lebihkannya. Ini serius. Ketampanannya di luar nalar.


“Aduh, mataku sakit.” Aku menunduk dan menutup mataku.


“Tutupi wajahmu dengan ini!” Ludwig memberikan sehelai kain kepada Ichi sambil memejamkan mata agar matanya tidak sakit melihat ketampanan Ichi.


Ichi memakainya untuk menutupi wajah. Meskipun begitu auranya masih sangat terasa.


“Apa penguatanku juga berpengaruh kepada ketampanan seseorang?” Ludwig menatap Ichi tanpa berkedip.


“Sebenarnya luka di wajahku adalah kutukan yang menyegel wajah ini. Ini kutukan dewi.”


Ludwig menepuk tangannya. “Ah, aku pernah dengar. Katanya ada anak yang sangat tampan di Klan Putih yang membuat iri para dewi di sana. Mereka lalu menyelakainya dan memberi kutukan pada wajahnya agar menjadi jelek. Tapi karena anak itu terlalu tampan kutukan itu hanya menurunkan tingkat ketampanannya. Aku kira itu hanya dongeng, ternyata itu kamu. Tidak heran jika para dewi mengutukmu.”


Wajah Ichi memerah. Dia malu masa lalunya terungkap. Sebelumnya tidak ada yang tahu kejadian itu selain orang-orang terdekatnya.


Wilayah Klan Putih tidak hanya ditinggali oleh manusia saja. Di sana juga ada ras Dewa yang tinggal berdampingan dengan manusia Klan Putih. Sosok mereka tidak seperti manusia klan. Rambut dan mata mereka memiliki warna yang berbeda-beda, mirip para blaster. Keberadaan mereka tidak dipengaruhi oleh permata klan seperti halnya manusia klan. Selain itu mereka juga punya kekuatan besar yang murni dari mereka sendiri. Bisa dibilang ras Dewa adalah sekutu terkuat Klan Putih, namun ras Dewa tidak terlalu suka berhubungan dengan manusia. Ada banyak ras di dunia ini tapi yang umum diketahui adalah ras manusia, ras Dewa, dan ras Elf.


“Argh!”


Ichi tiba-tiba kesakitan. Dia memegangi wajahnya. Luka di wajahnya kembali terbentuk dan setelah itu rasa sakitnya hilang.


“Lukanya kembali,” gumam Ludwig.


Ichi melepas kain yang menutupi wajahnya. “Begini lebih baik. Luka ini mungkin sebaiknya memang harus ada.”


“Wajahmu terlalu berbahaya tanpa kutukan itu.” Aku menyetujui ucapan Ichi.


“Beruntung, luka itu kembali.” Ludwig menghembuskan napas lega.


Tidak bisa dibayangkan jika luka Ichi tidak kembali. Bisa-bisa dia harus keluar dari misi karena wajahnya. Kami bisa kerepotan jika orang-orang mengikuti kami karena ada Ichi yang tampannya luar biasa.


“Aku hampir saja lupa. Apa kita bisa berlabuh di tempat yang tidak memiliki banyak penjaga?” tanya Ichi.


Setelah kejadian di Klan Biru Barat mustahil kami bisa bergerak bebas. Anggota kerajaan pasti mengincar kami dan memperketat keamanan wilayah mereka.


“Penjaga? Maksudmu yard?” Ludwig diam sejenak. “Sebenarnya aku juga berencana untuk berlabuh di tempat yang tidak terjangkau yard karena kemungkinan mereka masih mengincar anggota wangsa Geerginlik yang masih hidup. Ada pelabuhan rahasia yang wangsa Geerginlik miliki. Letaknya di pinggiran Llundain.”


Bonus Cerita:


Surat yang ditulis Azuro untuk Ludwig


***Vieena, 1875


Teruntuk saudaraku, Ludwig


Jika kau mendapat surat ini kemungkinan aku sudah mati dan mungkin wangsa Geerginlik berada dalam ancaman yang sangat serius. Terserah kau mau percaya atau tidak.


Ayahku bilang Ratu Marine merencanakan hal buruk pada wangsa kita. Aku sangat terkejut ketika mendengarnya karena aku merasa Ratu Marine sangat baik dan tidak mungkin menyelakai wangsa yang sudah mengabdi kepada keluarga kerajaan sejak berabad-abad lalu.


Kalau itu memang benar terjadi, aku harap kau selamat. Dan jika sesuatu terjadi padaku juga, berarti kau-lah yang mengemban tugas earl Geerginlik selanjutnya. Aku sudah melampirkan beberapa dokumen penting bersama surat ini. Dokumen itu akan membantumu mengetahui tugas wangsa Geerginlik sebenarnya.


Selain itu, aku ingin minta tolong padamu. Aku, Aras, Tiha, dan Violet sebenarnya sedang mengincar permata hijau di pelelangan yang akan diadakan di kapal Titanic. Kami sudah menyiapkan uangnya yang disimpan di rekeningku. Aku harap kau bisa mengurusnya.


Satu lagi yang harus aku beritahu, wangsa kita memiliki banyak tempat tersembunyi. Detailnya ada pada dokumen yang aku berikan padamu. Salah satunya ada di pinggiran Llundain. Jika kalian berada di Klan Biru Barat, bawa mereka ke sana. Di sana ada barang-barang yang bisa digunakan untuk perjalanan mereka. Aku juga menitipkan dua surat pada mereka. Jangan sampai kau ikut membacanya karena ini menyangkut hal pribadi.


Terima kasih, Ludwig. Ini tugas yang berat tapi aku harap ini tidak membebanimu. Pertahankanlah wangsa Geerginlik.


Azuro Geerginlik


NB:


Setelah kau menjadi earl, jangan melakukan kebiasaanmu yang seenaknya sendiri itu***.

__ADS_1


__ADS_2