Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 7 Jamuan Makan Malam


__ADS_3

Aku pulang ke mansion tepat ketika langit berubah menjadi jingga. Aku segera membersihkan diri lalu memakai pakaian dari Kaisar Icus.


 


Tepat ketika matahari tenggelam, sebuah kereta kuda datang menjemputku. Jenderal Risagu keluar dari dalam kereta.


“Selamat sore, Violet.” Jenderal Risagu menyapaku.


“Selamat sore, Jenderal. Aku tidak menyangka kau yang menjemputku.”


Sepenting apa jamuan makan malam ini hingga seorang panglima jenderal Klan Ungu menyemputku.


“Silahkan masuk. Kita bisa terlambat jika tidak segera berangkat.” Jenderal Risagu mempersilahkanku masuk ke dalam kereta.


Aku masuk lebih dulu, Jenderal Risagu menyusul naik. Setelah kami masuk, kereta kuda mulai berjalan.


Jalan turun dari bukit tidak rata, penuh dengan lubang dan batu. Itu membuat kereta kuda beberapa kali mengalami guncangan yang keras.


“Maaf membuatmu kurang nyaman, Violet. Aku tahu kau berpikir kita akan menaiki grek seperti biasa tapi Klan Ungu sekarang sedang melakukan penghematan energi. Hanya sektor-sektor tertentu yang mendapat aliran energi.”


 


“Tidak masalah. Aku terbiasa naik kuda.” Kuda memberikan goncangan yang lebih buruk ketika menaikinya langsung.


Kereta kuda kami berhenti di depan pintu gerbang benteng kota Aruvi. Jenderal Risagu membuka jendela kereta lalu berbicara kepada penjaga gerbang. Setelah penjaga gerbang itu pergi, terdengar suara deritan gerbang yang terbuka. Kereta kuda kembali berjalan. Kami melewati jalan utama, jalan yang menghubungkan langsung dengan istana Lazuli.


“Jenderal, sebelumnya aku menyelidiki kejadian aneh di luar benteng. Danau di atas bukit mengering. Selain itu kemarau berkepanjangan ini juga penghematan energi yang diterapkan raja, apa ini ada hubungannya dengan amethyst?”


“Kekuatanku membuatku bisa melihat energi permata yang mengalir di sekitarku. Makin lama aku hanya melihat sedikit energi yang mengalir di Klan Ungu.” Aku melanjutkan perkataanku.


Jenderal Risagu diam sejenak. “Kau memang pintar, Violet. Dugaanmu benar dan itu adalah salah satu alasan jamuan makan malam hari ini.”


Kami mulai memasuki area istana. Istana Lazuli terbuat dari batu dan kristal berwarna ungu. Bangunan ini memantulkan setiap cahaya yang mengenainya, membuat istana selalu tampak bercahaya.


Kereta kuda berhenti di depan bangunan utama istana. Seorang prajurit membukakan pintu kereta. Jenderal Risagu turun lebih dulu. Seorang pelayan sudah menunggu kami di depan pintu istana.


“Mari, Jenderal Risagu dan Nona Violet. Yang Mulia menunggu kalian di ruang kerjanya.”


Pelayan itu mengantar kami kepada raja.


Ini bukan pertama kalinya aku istana Lazuli. Sebagai pemenang kujuaraan Lavender, aku sudah beberapa kali mengunjungi istana untuk melaksanakan tugas atau sekedar menghadiri jamuan makan malam.


Kami bertiga sampai di depan pintu ruang kerja raja. Pelayan itu mengetuk pintu ruangan.


“Yang Mulia, Jenderal Risagu dan Nona Violet telah datang.”


“Biarkan mereka masuk.”

__ADS_1


Prajurit membuka pintu ruangan raja. Aku dan Jenderal Risagu masuk ke dalam. Aku bisa melihat Raja Taro duduk di belakang meja kerjanya.


Aku dan Jenderal Risagu memberi hormat.


“Aku tidak akan mengatakan banyak hal pada kalian karena kalian harus segera pergi ke Klan Putih.”


Raja Taro menatapku. “Violet, kau akan menerima peran yang sangat besar. Aku dan seluruh rakyat Klan Ungu bergantung padamu. Jadi, berjuanglah dengan sebaik-baiknya.”


Aku mengangguk. Raja Taro memang tidak menyebutkan apa yang akan aku lakukan tapi aku paham apa yang dia maksud.


Raja Taro ganti beralih kepada Jenderal Risagu.


“Jenderal, aku harap rencana ini akan berhasil.”


Jenderal Risagu mengangguk. “Tentu saja, Yang Mulia.”


“Kalau begitu, kalian boleh pergi.”


Kami keluar dari dari ruangan Raja Taro. Kemudian Jenderal Risagu menuntunku ke salah satu bagian istana. Kami masuk ke dalam bagian istana yang berliku. Selama berjalan, Jenderal Risagu tidak mengatakan apa-apa.


Kami akhirnya tiba di sebuah ruangan luas yang gelap. Cahaya matahari samar-samar menerangi ruangan ini. Ada enam pintu yang berbeda warna di sekelilingku.


“Ruangan apa ini, Jenderal?” tanyaku.


“Ini adalah tempat yang menghubungkan wilayah setiap klan. Kau lihat pintu itu?” Jenderal Risagu menunjuk sebuah pintu berwarna hitam.


“Pintu itu menghubungkan wilayah Klan Ungu dengan wilayah Klan Hitam.”


Aku terkesiap. Semudah itu?


“Apa klan lain memiliki pintu seperti ini?"


Jenderal Risagu mengangguk. “Dulu sekali, ketika interaksi antar klan masih sangat bebas. Seiring berjalannya waktu banyak terjadi pernikahan antar klan. Saat itu orang-orang belum menyadari bahaya pernikahan antar klan. Namun semakin banyak balster yang lahir, energi permata klan turun drastis. Beruntung Klan Hitam mau menerima mereka karena jika mereka terus di klan asli mereka, mereka akan menghalangi pergerakan energi klan.”


“Terdengar seperti Padang Pasir Tak Bertuan.”


“Kau tahu tempat itu?” Jenderal Risagu menatapku tidak percaya. “Tidak banyak orang yang pernah mendengarnya apalagi tahu tentang tempat itu.”


“Aku sering menyelidiki kasus, Jenderal. Banyak hal yang aku dapat dari sana.”


“Padang Pasir Tak Bertuan sama sekali bukan tempat yang bagus untuk galur murni sepertimu.”


“Kau pernah ke sana, Jenderal?” Aku penasaran.


“Pekerjaanku membuatku mengunjungi banyak tempat yang mungkin kamu bahkan tidak pernah mendengarnya, Violet.”


Jenderal Risagu berjalan ke pintu berwarna putih.

__ADS_1


“Setelah petinggi klan mengetahui akibat pernikahan antar klan, mereka akhirnya memutuskan untuk membatasi hubungan antar klan hingga sekarang.”


Jenderal Risagu mengeluarkan sebuah kunci berwarna putih. Dia lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu putih.


“Kau tahu Violet, pintu ini sudah tidak dipakai berabad-abad. Para petinggi klan tidak bertemu melewati pintu ini. Jadi, berbanggalah karena kau akan menjadi orang pertama yang pergi ke klan lain melalui pintu ini setelah berabad-abad lamanya."


Suara decit keras terdengar ketika pintu putih terbuka. Cahaya yang menyilaukan keluar dari pintu itu. Jenderal Risagu mempersilahkan aku untuk melangkah lebih dulu. Aku melangkahkan kakiku dengan yakin. Apa yang akan aku lihat pertama kali setelah melewati pintu ini?


*****


Aku terpana ketika melihat pemandangan dibalik pintu putih itu untuk pertama kalinya. Sekarang aku dan Jenderal Risagu berada di sebuah taman kecil yang dikelilingi semak-semak setinggi tiga meter yang dipenuhi mawar putih. Taman ini juga memiliki enam pintu yang berbeda warna. Pintu yang baru saja aku lewati berwarna ungu, sesuai klan asalku.


Ada seorang laki-laki Klan Putih berdiri di pintu keluar taman. Aku belum pernah melihat manusia Klan Putih. Dia tampak terhormat. Inikah yang dinamakan klan tertinggi.


Laki-laki Klan Putih itu menghampiri kami. Dia membungkuk lalu mempekenalkan diri.


“Nama Archi, pengawal pribadi Kaisar Icus.”


“Aku Risagu, Panglima Jenderal Klan Ungu dan ini Violet, pemilik galur murni utusan Klan Ungu.” Jenderal Risagu ganti memperkenalkan diri.


“Mari, aku antarkan kalian ke ruang makan utama istana.”


Aku dan Jenderal Risagu mengikuti Archi menuju ruang makan. Begitu keluar dari taman kecil ini, kami disambut oleh taman besar yang dipenuhi mawar putih. Di pinggir taman, Istana Levko berdiri dengan megahnya. Tembok luar istana terbuat dari marmer putih yang mengkilap. Seluruh bagian istana berwarna putih salju. Bahkan seluruh orang yang aku temui di sini memakai pakaian berwarna putih. Jendela-jendela istana begitu besar dan sebening kristal. Ornamen istana banyak terbuat dari Kristal dan batu pualam putih. Ini istana yang benar-benar berkilauan.


“Istana yang indah, Archi.” Aku memuji keindahan Istana Levko.


“Terima kasih.”


Semua di istana ini berwarna putih. Aku dan Jenderal Risagu terlihat mencolok dengan warna kami. Kami bertiga berhenti di depan sebuah pintu besar.


“Violet, aku hanya boleh mengantarmu sampai sini. Setelah ini kau akan sendirian. Makan malammu hanya khusus untuk pemilik galur murni. Aku akan pergi ke jamuan panglima jenderal klan di tempat lain.” Jenderal Risagu memberitahuku.


“Baik, Jenderal. Aku mengerti.”


Seorang pelayan istana mengantar Jenderal Risagu ke ruangan lain. Kini tinggal aku dan Archi.


 


“Sebelumnya, boleh aku lihat kalung yang diberikan Kaisar Icus?” tanya Archi.


Aku menunjukkan kalung pemberian Kaisar Icus yang aku pakai. Archi mengamati kalung itu sebentar. Dia memastikan bahwa aku memang orang yang diundang ke jamuan makan malam ini.


“Terima kasih.” Archi sudah selesai dengan kalungku. Dia lalu membuka pintu ruang makan.


“Selamat datang di jamuan makan malam Klan Putih.”


 

__ADS_1


__ADS_2