Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 34


__ADS_3

Tiha mengangkat tangannya. Dia memasang wajah yang sombong.


“Tiga juta guinea,” ucapnya setelah itu.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.


“Tentu saja berlatih untuk pelelangan nanti. Ada banyak orang berpengalaman di sana. Kita tidak boleh terlihat seperti orang kaya baru.”


“Benar juga.” Aku baru kepikiran bagaimana jalannya pelelangan nanti. Apalagi jika ada bangsawan sombong karena harta dan kedudukan mereka. Bagaimana jika mereka memandang rendah kami? Apa aku harus mengikuti Tiha berlatih?


Aku memperhatikan Tiha yang sedang berlatih. Dia masih mengulang-ulang adegan yang sama.


Wajahnya berubah-ubah, menyusaikan kesan sombong yang sesuai.


“Violet, jangan bilang kau mau ikut-ikut seperti Tiha.” Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak usah pedulikan orang lain. Selama kita punya uang, semuanya beres.”


“Mudah saja kau mengatakan itu. Awas, kalau kamu melakukan hal memalukan nanti!” ancam Tiha.


“Tenang saja. Aku ini seorang pangeran. Aku bisa menjaga sikapku.”


“Hah! ? Jelas sekali kau berbohong.”


Tiha dan Bara masih terus bertengkar. Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Aku mengambil pisauku. Pisau ini adalah pisau dapur milik Ludwig. Aku masih meyimpannya sejak aku menjadikannya sebagai senjata di Jadnew. Bentuknya sudah agak berubah. Lebih tipis dan tajam. Aku menyelipkannya di balik gaunku.


Beberapa saat kemudian, kami sudah siap. Rambut kami sudah dicat ulang menjadi biru. Aku, Ryza, dan Tiha memakai gaun, sedangkan Bara, Ichi, dan Aras memakai tuksedo hitam. Kami berjalan beriringan ke tempat pelelangan.


Tempat pelelangan berada di geladak C. Kami tiba di sebuah ruang dengan pintu besar yang dijaga oleh dua prajurit berseragam. Mereka tidak banyak bicara. Begitu kami memberikan undangan, mereka langsung membukakan pintu dan mempersilahkan kamu masuk.


Sebuah panggung berdiri di sisi ruangan. Meja-meja bundar ditata sedemikian rupa. Beberapa kursi sudah terisi. Seorang pelayan menuntun kami ke kursi kami. Kami duduk bersama di meja yang berhadapan langsung dengan panggung.


Aku tidak tahu bagaimana acara pelelangan biasanya. Tapi pelelangan ini tampak berkelas. Selain ruangannya yang berlapis beledu dengan lampu kristal gantung di tengah ruangan, sebuah grup musik sedang memainkan musik untuk menghibur peserta lelang sebelum lelang dimulai. Di setiap meja juga disediakan piringan bertingkat yang diisi dengan berbagai kudapan ringan. Masing-masing meja juga ditemani oleh seorang pelayan yang selalu siap sedia melayani kami.


Tanpa banyak bicara, Bara langsung mengambil banyak makanan di depannya.


“Astaga, Bara. Jangan serampangan seperti itu,” bisik Tiha.


Bara tidak mempedulikannya. Dia mengambil tetap mengambil camilan sesuka hatinya.


Aku meremas tanganku, menahan keinginan untuk mengambil banyak kudapan seperti Bara. Kue-kue yang disajikan di sini adalah kue-kue yang belum pernah aku makan. Rasanya aku ingin segera mencicipi semuanya. Tapi bisikan-bisikan orang disekeliling kami membuatku menahan diri. Aku hanya mengambil satu potong kue yang berada di dekatku.


“Oh, siapa mereka? Apa bangsawan baru?”


“Lihat cara makannya! Sepertinya dia baru pertama kali memakan kue-kue itu.”


Bara tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan mereka. Dia tetap bersemangat memakan camilan. Aku menghembuskan napas sedih. Terkadang menjadi bodoh itu juga menyenangkan.


Beberapa orang memasuki ruangan. Diantara mereka ada dua orang yang menarik perhatian peserta pelelangan. Mereka menyapa dua orang itu dengan hormat.


“Dia adalah Marquess Aramco dan putra pertamanya.” Ichi memberitahu.


Marquess Aramco dan anaknya duduk di meja sebelah kami. Mereka tersenyum kepada kami.


“Selamat malam, Tuan-Tuan,” sapa Marquess Aramco.


“Selamat malam, Marquess,” balas Aras.


“Aku dengar kalian adalah wakil dari wangsa Geerginlik,” kata Marques Aramco.


Ichi mengangguk. “Pelelangan ini sangat menarik untuk wangsa Geerginlik.”


“Wangsa kalian memang luar biasa. Aku tidak menyangka kalian bisa bertahan dari mendiang Ratu. Tapi sebentar lagi Duke Goldder akan datang. Dia adalah keponakan mendiang Ratu Mai. Sebaiknya kalian berhati-hati,” ujar Marquess Aramco.


“Anda juga sebaiknya berhati-hati, Marquess.” Seorang laki-laki di meja lain ikut berbincang. “Setelah penolakan putri Anda kepada Duke Goldder, saya yakin Duke Goldder tidak akan membiarkannya.”


“Itu adalah urusan keluarga kami, Baron Torn. Lebih baik kau menyiapkan diri untuk menerima kenyataan bhawa kau tiak akan mendapatkan permata langka itu,” balas Marquess Aramco.


“Terima kasih atas kepedualian, Anda, Tuan. Tapi perusahaan Tonnville sudah menyiapkan semuanya,” jawab Baron Torn.


Baron Torn mengalihkan perhatiannya pada kami. “Wangsa Geerginlik sebaiknya juga harus bersiap-siap. Kali ini perusahaan Tonnville akan sangat serius di pelelangan nanti.”


“Kami menantikannya, Tuan. Jangan dendam kepada kami jika kami yang mendapatkannya, Marquess Aramco, Baron Torn,” jawab Bara.


Ucapan Bara lumayan juga. Dia ternyata bisa bersikap seperti bangsawan juga.


Kami sudah bertemu dengan dua saingan kami. Marquess Aramco dan pemilik perusahaan Tonnville, Baron Torn. Rumor mengenai permata langka yang mereka incar benar. Mereka terlihat sudah sangat siap dengan pelelangan ini. Sekarang tinggal Duke Goldder dan manusia Klan Hijau itu. Mereka masih belum terlihat.


“Sepertinya ini akan sulit,” ujar Tiha sambil melirik Baron Torn.


“Jangan pesimis begitu. Kau harus yakin dengan kekuatan wangsa Geerginlik.” Bara memberi semangat.


“Wangsa Geerginlik memiliki kekayaan yang luar biasa. Kau juga sudah melihatnya sendiri, kan?” kata Tiha.


“Aku tidak tahu Marquess Aramco itu bagaimana. Tapi Baron Torn adalah masalah bagi kita,” kata Tiha.


“Kau tahu tentang Baron Torn?” tanyaku.


“Dulu aku pernah mendengar cerita mengenai seorang manusia Klan Biru yang membeli teknologi baru di Klan Jingga dengan harga yang sangat fantastis. Teknologi itu sangat baru dan belum dimiliki oleh klan manapun. Jadi, harganya sangat mahal. Katanya dia sampai rela mengeluarkan seluruh hartanya untuk membeli teknologi itu.”


“Dan orang itu adalah Baron Torn?” Ryza menatap Tiha.


Tiha mengangguk. “Aku tidak tahu kalau dia ternyata pemilik perusahaan Tonnville. Jadi, aku biasa saja ketika membicarakannya tadi.”


“Jadi, dia sangat kaya?!” Bara memastikan.

__ADS_1


“Bukan masalah dia kaya atau tidak. Tapi dia adalah orang gila yang berani merelakan seluruh hartanya untuk suatu hal,” jawab Tiha.


“Tipe orang yang merepotkan.” Ichi mengusap wajahnya.


Pintu ruangan kembali terbuka. Seorang laki-laki muda berpakaian bagus dengan berbagai lencana di bajunya memasuki ruangan. Semua mata tertuju padanya. Dia datang bersama seorang laki-laki berpakaian rapi.


“Dia... Duke Goldder?” Aku mengira-ngira.


Sepertinya aku benar. Orang-orang menyapanya sebagai Duke Goldder. Untuk seorang duke, dia masih sangat muda. Aku rasa umurnya masih dua puluh tahunan. Duke Goldder duduk di meja samping Marquess Aramco. Dia terlihat biasa saja. Tidak ada wajah penuh dendam atau kebencian, tidak seperti yang dikatakan Baron Torn.


Sejauh ini aku hanya melihat manusia Klan Biru saja. Manusia Klan Hijau yang dikatakan akan datang belum terlihat. Apa mungkin informasi yang kami dapatkan salah? Tapi masih ada tiga meja yang masih kosong. Itu berarti masih ada tiga peserta yang belum datang. Jika Wangsa Orchid masih memiliki meja itu, berarti tinggal dua peserta lagi.


“Apa manusia Klan Hijau itu tidak datang?” tanya Bara.


“Seharusnya dia datang. Aku bisa menjamin informasi yang aku dapat itu benar,” jawab Ichi.


Krek...


Pintu terbuka. Beberapa orang memekik tertahan. Sebagian langsung berbisik-bisik mengenai peserta yang baru saja datang. Peserta yang menarik perhatian itu adalah seorang manusia Klan Hijau. Dia tampak percaya diri berjalan menuju mejanya meskipun hampir semua orang memandangnya rendah.


Aku menatap manusia Klan Hijau itu dengan bingung. Dia bukan orang yang membawa Zamrud di pesta kemarin malam.


“Dia bukan Arnoldi.” Aku memberitahu.


“Eh, yang benar?” Mata Tiha terbelalak karena terkejut.


“Aku memang tidak terlalu melihat wajahnya saat dia berada di pesta. Tapi jejak orang itu berbeda dengan Arnoldi,” jawabku.


“Ini artinya ada dua manusia Klan Hijau yang mengikuti pelelangan ini.” Aras menyimpulkan.


Untuk kesekian kalinya pintu ruangan terbuka. Semua orang di ruangan terkejut. Seorang Klan Hijau kembali memasuki ruangan.


“Kali ini dia baru Arnoldi,” ucapku.


Arnoldi berjalan dengan sombong ke mejanya. Dia menatap setiap orang seolah-olah berkata, “Hey, yang bisa di sini tidak hanya kalian.”


Kali ini dia sepertinya tidak membawa cincin Zamrud bersamanya. Aku tidak merasakan gelombang energi Zamrud. Aku hanya melihat jejak Zamrud yang menempel di tangannya.


Setelah Arnoldi masuk, acara dimulai. Lampu ruangan diredupkan. Pembawa acara menaiki panggung. Lampu sorot menyinarinya.


“Selamat malam Tuan dan Nyonya. Selamat datang di Rumah Lelang Phonix. Malam ini adalah malam pelelangangan yang sangat spesial. Selain dilangsungkan di kapal termewah di dunia, kami juga memiliki berbagai barang luar biasa yang pantas Anda sekalian miliki.”


“Kami akan mulai menawarkan barang kami. Apabila Anda tertarik, Anda bisa mengangkat papan di meja. Penawaran akan terus berlangsung hingga mencapai harga tertinggi. Baiklah semua, pelelangan dimulai dari sekarang!”


Tirai yang menutupi panggung terbuka. Barang pertama adalah sebuah lukisan karya pelukis legendaris yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Aku memperhatikan orang-orang menawar lukisan itu. Mereka mengangkat papan mereka dan berebut menawar dengan harga yang lebih tinggi. Akhirnya lukisan itu terjual dengan harga seribu lima ratus guinea.


“Cukup tinggi untuk lukisan yang berusia seratus tahun,” gumamku.


Pelelangan terus berlanjut. Aku merasa bosan karena sejauh ini barang yang ditawarkan bukanlah target kami. Aku, Bara, dan Ryza dari tadi hanya memakan kudapan yang tersedia. Baik sekali pelayanan Rumah Lelang Phoniex ini. Begitu kudapan kami hampir habis, pelayan akan langsung mengisinya kembali. Ichi dan Aras sedang memperhatikan sekitar sambil memantau pelelangan, sedangkan Tiha, dia sibuk menganggumi barang-barang yang ditawarkan.


“Hah?! Aku kira tongkat itu sudah hilang. Ternyata masih ada!” serunya ketika sebuah tongkat yang aku tidak mengerti apa istimewanya ditawarkan.


Aku akui, barang-barang yang ditawarkan malam ini sangat luar biasa. Diantara semua barang yang ditawarkan, ada satu barang yang membuatku sangat tertarik, selain kepada permata hijau yang belum dikeluarkan.


“Barang ketujuh kita, pedang damsk!”


Sebuah pedang dengan pola gelombang di mata pedangnya dipamerkan dalam kotak kaca. Saking terkejutnya, aku sampai menjatuhkan garpu kueku ke meja.


“Mereka bahkan punya pedang itu?” Aku melongo.


“Pedang ini adalah pedang langka yang hanya bisa dibuat oleh Bani Hadid dari Klan Jingga secara turun temurun. Menghilangnya mereka sejak satu abad lalu membuat pedang ini tidak diproduksi lagi dan menjadi sangat langka. Namun yang paling penting dari pedang ini adalah ketajaman dan kekuatannya yang luar biasa. Sutera yang halus dan lembut pun akan terpotong jika jatuh di atas mata pedang damask. Sungguh luar biasa!”


Orang-orang mulai menawar harga. Aku ingin sekali ikut menawar. Pedang itu adalah pedang yang sangat berharga. Bahkan di Klan Ungu, klan yang memiliki kemampuan produksi senjata terhebat, tidak bisa membuat pedang yang bisa menandingi kehebatan pedang damask. Sebagai seorang pengguna pedang, memiliki pedang damask adalah salah satu mimpi terbesar yang hampir tidak mungkin tercapai karena kabarnya sudah tidak ada lagi pedang damask di dunia ini. Tapi sekarang pedang itu ada di hadapanku.


Angka penawaran terus naik hingga lima ribu guinea. Aku memandang pedang itu dengan sedih. Aku sangat berharap untuk memilikinya.


“Andai aku punya uang,” gumamku.


Harga pedang damsk masih naik. Penawaran belum selesai. Banyak orang yang menginginkan pedang itu.


“Sepuluh ribu guinea.”


Baru saja penawaran tertinggi disebutkan. Tampaknya tidak ada yang ingin menawarnya lebih mahal. Tidak ada yang mengangkat papan mereka.


Tiba-tiba ide gila melintas di otakku.


“Sepuluh ribu guinea berarti sepuluh ribu keping emas. Kalau aku bisa menggunakan hartaku di Klan Ungu, aku bisa membelinya.” Aku mulai berpikir sembarangan karena sangat menginginkan pedang itu.


Aku mengambil papan di meja kami. Baru aku mau mulai mengangkatnya, Ichi menahan tanganku.


“Apa yang mau kau lakukan? Kau tidak bisa membelinya!”


“Aku harus membelinya! Aku bisa memakai uangku di Klan Ungu.” Aku tidak menyerah. Aku berusaha melawan Ichi yang menahan tanganku. Meskipun Ichi laki-laki dan aku perempuan, aku adalah Klan Ungu yang diberkahi oleh kekuatan fisik yang luar biasa. Ichi hampir tidak bisa menahanku.


“Jangan bodoh! Kau tidak punya jaminan apa-apa untuk membayarnya.”


Aku tahu ucapan Ichi benar tapi aku sangat menginginkan pedang itu lebih dari apapun.


“Apa tidak ada penawaran lain?” Pembawa acara mulai menutup lelang pedang damask.


Aku langsung berusaha mengangkat papan.


“Aras! Bantu aku!” seru Ichi.

__ADS_1


Aras ikut menahan tanganku. Tanganku semakin sulit digerakkan.


“Kalau tidak ada, saya akan menutup lelang pedang damask dengan harga sepuluh ribu guinea.”


Pengumuman dari pembawa acara membuatku panik. Dengan tenaga yang luar biasa, aku berhasil membebaskan tanganku dari Aras dan Ichi. Tapi Bara menarik gaunku hingga aku terjungkal ke belakang. Tepat saat itu juga pelelangan pedang damask ditutup.


Aku menatap wajah Bara yang menyebalkan. Dia tadi menangkapku ketika terjungkal. Rasanya aku lebih ingin memukul wajahnya daripada berterima kasih. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca.


“Kau menangis?” Bara bertanya dengan bodohnya.


BUKK


Satu pukulan mendarat di wajahnya.


“Auuu!” Bara meringis kesakitan.


Aku ganti menatap tajam Aras dan Ichi. Mereka berdua adalah orang yang membuatku gagal membeli pedang damask. Aku ingin sekali memukul dan memaki mereka tapi yang keluar malah air mata.


“Sudahlah, Violet. Lain kali aku akan mencarikanmu pedang lain yang hebat.” Ichi tiba-tiba berbicara dengan lembut. Ada apa dengannya?


Aku memalingkan wajah dari mereka berdua. Melihat mereka hanya membuat air mataku mengalir lebih deras.


Pelelangan dimulai kembali dengan barang baru. Aku melihat lelang dengan perasaan hampa. Rasanya kecewa sekali menerima kenyataan jika aku tidak bisa memiliki pedang damask. Aku beranjak dari kursi.


“Kau mau kemana, Violet?” tanya Ryza.


“Aku ingin keluar sebentar.”


Aku berjalan keluar dari ruangan. Kalau tidak salah disetiap geladak, ada balkon yang menghadap ke depan kapal. Aku memutuskan untuk pergi ke sana.


Tenyata sebelum sampai di balkon, aku harus menaiki beberapa anak tangga lebih dulu. Aku berjalan seperti biasa hingga tiba-tiba sebuah peluru melesat ke arahku. Aku berhasil menghindar tapi peluru kembali melesat ke arahku. Mataku masih kabur karena air mata. Aku tidak bisa melihat peluru itu dengan jelas. Aku hampir terlambat menghindar. Peluru itu mengenai beberapa helai rambutku. Karena aku menghindar sembarangan, pijakan kakiku terlepas dari tangga dan aku jatuh ke belakang.


Aku berencana berputar untuk menyeimbangkan tubuhku dan mendarat dengan aman tapi sebelum aku melakukannya, seseorang menangkapku lebih dulu. Tapi bukannya aku terselamatkan, kami malah jatuh bersama.


“Maafkan aku. Kau baik-baik saja?” Seorang anak bermata hijau menatapku khawatir.


Tunggu? Mata hijau? Klan Hijau?


Aku segera duduk dan mengamatinya.


“Ngg... Kau baik-baik saja?” Anak itu bertanya dengan canggung. Dia tidak nyaman dengan tatapan menyelidikku.


“Kau Klan Hijau?” Bukannya menjawab pertanyaannnya, aku malah bertanya.


Anak itu mengangguk.


Aku melihatnya dari atas hingga bawah. Penampilannya agak sedikit kotor. Dia memiliki luka di beberapa tempat. Dilihat dari keadaannya sepertinya dia bukan penumpang kapal ini. Aku rasa dia juga bukan seorang pelayan kapal ataupun penumpang karena hampir semua pelayan yang dibawa penumpang memakai seragam. Tingga dua kemungkinan antara dia adalah pekerja kotor di Titanic atau seorang penumpang gelap.


“Nona, seseorang ingin melukaimu,” kata anak itu.


Aku menoleh ke arah balkon. Peluru itu berasal dari sana. Seharusnya ada jejak yang bisa aku temukan tapi balkon itu bersih tanpa jejak. Aku ganti melihat lantai yang terkena peluru. Karpet biru yang melapisi lantai berlubang dan terbakar. Tapi aku tidak menemukan bekas peluru.


“Bukan peluru biasa, ya,” gumamku.


“Terima kasih, ya. Kau sudah menolongku,” ujarku pada anak itu.


Anak itu mengangguk. Dia tidak segera pergi. Rasanya ada yang ingin dia sampaikan kepadaku.


“Ada yang ingin kau katakan?” tanyaku.


Anak itu terlihat gelisah. “Aku melihatmu keluar dari ruangan itu. Apa kau mengingikuti pelelangan Phoenix?”


Aku mengangguk.


“Bisakah aku minta tolong padamu? Tolong–”


“Hey! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau berbicara dengan seorang lady.” Seorang pelayan berjalan cepat ke arah kami. Dia menarik anak itu menjahuiku.


“Maafkan aku, Nona, atas kelancangannya. Dia adalah budak baru kami,” kata sang Pelayan.


“Tidak apa-apa. Dia baru saja membantuku.”


“Kalau begitu kami pamit dulu, Nona,” ijin sang Pelayan. Dia lalu membawa anak itu pergi bersamanya.


Aku menatap mereka berdua berjalan pergi.


Anak itu ingin minta tolong apa, ya? Pikirku.


“Violet!”


Bara menyusulku keluar. Dia menghampiriku.


“Kau lama sekali. Kami khawatir sesuatu terjadi padamu. Selain itu Ichi bilang permata hijau itu akan segera dilelang.”


“Aku memang baru saja mendapat masalah. Nanti aku ceritakan jika kau ingin tahu. Sekarang kita kembali dulu. ”


Ketika aku dan Bara kembali, pembawa acara sedang melakukan penutupan lelang barang kesembilan.


“Kau lama sekali, Violet,” ujar Ryza khawatir.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Aras.


“Ada yang menyerangku tadi dan aku tidak tahu siapa dia.”

__ADS_1


“Kekhawatiranmu itu ternyata benar. Kita harus berhati-hati. Terutama setelah pelelangan permata hijau itu dimulai. Aku perhatikan dari tadi Duke Goldder, Marquess Aramcao, Baron Torn, dan dua orang Klan Hijau itu tidak menawar barang apapun. Artinya mereka serius mengincar permata hijau itu,” kata Ichi.


“Tuan dan Nyonya sekalian, sampailah kita di barang terakhir pelelangan. Barang terbaik yang dimiliki oleh Rumah Lelang Phoenix. Sebuah permata hijau yang sangat langka dan ajaib. Siapakah yang akan berhasil memilikinya? Mari kita lihat!”


__ADS_2