Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 33


__ADS_3

Aku bersandar di dinding kamar. Baru satu jam yang lalu aku terbangun dari tidurku yang lama. Seingatku tadi malam mabuk berat karena gelombang energi zamrud. Aku pingsan. Saat aku bangun aku kira aku hanya pingsan selama satu malam saja. Ternyata sudah tiga hari aku tidak bangun. Ryza adalah orang pertama yang menyadari aku terbangun. Dia langsung memesankan sup dan memanggil teman-teman yang lain. Tapi sampai sekarang dia belum kembali. Aku rasa mereka sedang berpencar sehingga Ryza sulit menemukan mereka.


Aku mengaduk sup dengan malas. Sup yang dipesankan Ryza masih tersisa banyak. Mulutku sangat tidak nyaman untuk makan.


“Astaga, Violet! Kenapa supnya masih utuh seperti ini. Kalau supnya dingin, kan tidak enak.” Ryza baru saja masuk ke kamar dan langsung mengomel.


Ryza mengambil mangkok sup yang aku taruh kemudian menyendoknya. Dia mengarahkan sendok penuh sup kepadaku.


“Aaa..” Ryza menyuapiku seperti bayi.


Aku mengatupkan bibir rapat-rapat.


“Ayolah, Violet! Nanti kau sakit jika tidak makan. Kau sudah tiga hari tidak makan.” Ryza membujukku.


“Aku tidak apa-apa, Ryza. Bahkan jika aku tidak makan hingga dua hari ke depan, aku akan baik-baik saja.”


Wajah Ryza cemberut.


“Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Mana mungkin manusia bisa bertahan tanpa makan selama seminggu. Cepat makan sup ini!” Ryza masih bersikeras menyuapiku. Tapi aku masih tetap teguh dengan pendirianku.


Ryza menghela napas. Dia sepertinya sudah lelah membujukku. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah cerah.


“Bagaimana jika aku memberitahumu tentang Zamrud?”


Mataku terbelalak. “Kalian sudah mendapat informasi mengenai Zamrud?”


Ryza mengangguk. “Tadi malam kami membicarakannya. Aku akan memberitahumu juga jika kau menghabiskan supmu.”


“Eh?!”


Ryza tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin sekali aku akan menghabiskan supku demi mengetahui informasi mengenai Zamrud.


Aku berdecak kesal. Tidak mungkin aku harus menunggu orang lain masuk ke kamar dan menanyakan informasi tentang Zamrud. Bisa-bisa aku ketinggalan informasi. Aku melirik Ryza yang tersenyum lebar. Taktiknya tepat sasaran.


Aku membuka mulut untuk menerima suapan dari Ryza. Ryza langsung bersemangat. Dia memasukkan sesendok sup begitu mulutku terbuka. Dalam beberapa menit saja semangkuk sup sudah habis aku makan.


Aku menahan perutku yang bergejolak. Aku sepertinya terlalu banyak makan. Aku menarik napas beberapa kali hingga rasa mual itu hilang.


“Jadi, Ryza. Apa informasi terbaru yang kita dapatkan tentang Zamrud?” tanyaku.


“Pria yang menggunakan cincin Zamrud itu adalah salah satu petinggi di Klan Hijau,” jawab Ryza sambil membereskan mangkok sup.


“Kau mengenalnya?”


Ryza menggeleng. “Klan Hijau agak berbeda dengan klan lain. Kami hidup berkelompok dalam desa-desa kecil. Biasanya kami tidak memiliki hubungan apapun dengan desa lain. Orang yang disebut sebagai pemimpin Klan Hijau pun sebenarnya salah satu kepala desa paling berpengaruh di Klan Hijau. Tapi tidak semua desa di Klan Hijau masuk ke dalam pengaruhnya, termasuk desaku sebelum kejadian mengerikan terjadi di sana.”


Mata Ryza menerawang jauh ke depan. Aku bisa melihat genangan air mata di matanya.


“Peristiwa itu merupakan awal kejadian Zamrud mulai kehilangan kekuataanya. Desaku bernama Mahoni. Letaknya sangat jauh dari Desa Jati, tempat dimana Zamrud disimpan, sekaligus desa yang dipimpin oleh pemimpin Klan Hijau.”


“Akhir-akhir itu, entah apa sebabnya, kebun-kebun di desa kami hancur. Setiap malam, satu persatu kebun milik penduduk rusak. Kami kira itu karena ulah binatang liar. Jadi, kami melakukan penjagaan pada malam hari. Sebenarnya, setiap malam selalu ada orang yang berjaga di kebun tapi mulai hari itu, kepala desa memerintahkan kami untuk menambah orang untuk berjaga di kebun.”


“Hari pertama, kedua. Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada binatang liar ataupun orang yang datang merusak tapi di pagi harinya tetap saja kebun-kebun itu hancur. Di hari ketiga, kebetulan ayahku ikut jaga malam.”


Ryza berhenti bercerita. Dia menggigit bibir bawahnya lalu menghela napas, kemudian lanjut bercerita.


“Ayahku dan orang-orang yang berjaga malam itu melihat kejadian aneh. Tiba-tiba pepohonan di sekitar mereka bergerak. Bukan seperti sulur yang bergerak karena dikendalikan pemilik galur murni tapi pohon-pohon itu bergerak seperti manusia. Para pemilik galur murni yang berada di sana langsung mencoba mengendalikan pohon-pohon itu tapi itu sama sekali tidak berpengaruh. Pohon-pohon itu tetap bergerak dan malah bertambah ganas. Mereka menyerang penduduk desa dan menyerap energi zamrud yang ada pada setiap orang. Mereka menghisapnya hingga tercipta puluhan mayat manusia yang mengering. Orang-orang yang tersisa berusaha menghalau pohon-pohon itu pergi ke pemukiman. Para pemilik galur murni yang ada di desa pun dipanggil. Tapi tetap saja pohon-pohon itu tidak bisa dihentikan.”


“Sampai pohon-pohon itu hampir tiba di pemukiman, hampir seratus orang telah dihisap oleh pohon-pohon itu. Penduduk desa waktu itu belum semua pergi menyelamatkan diri, masih banyak orang di pemukiman desa. Ayahku saat itu adalah orang yang sangat beruntung karena masih bisa selamat setelah kejadian sebelumnya. Dia berusaha melindungi desa dari pohon-pohon aneh itu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tepat ketika matahari terbit, salah satu sulur pohon menujam cepat ke arah ayahku. Ayahku tidak bisa menghindar dari sulur yang bergerak secepat itu. Aku kira saat itu juga aku akan kehilangan ayahku tapi tiba-tiba sulur itu terpotong. Ichi bersama pasukan Klan Putih muncul. Mereka membantu kami, melindungi kami dari pohon-pohon itu meskipun tidak lama karena ketika cahaya matahari mulai menyebar, pohon-pohon yang tadinya bergerak itu kembali menjadi pohon biasa.”


“Jadi, itu pertama kalinya kalian bertemu?” tanyaku.


Ryza mengangguk.


“Lalu bagaimana keadaan desamu setelah itu?”


“Bertambah buruk. Setiap malam, pohon-pohon di hutan bergerak. Mereka terus menghisap kami. Hutan yang tadinya merupakan tempat tinggal kami berubah menjadi neraka. Bayangkan saja, ada ratusan bahkan ribuan pohon di sekitarmu dan sewaktu-waktu pohon-pohon itu bisa bergerak dan memangsamu.”


Aku bisa membayangkan kengeringan pada saat itu. Penduduk di desa Mahoni pasti tidak pernah merasa tenang.


“Bukankah ada pasukan Klan Putih di desamu. Apa mereka tidak membantu kalian?”


“Mereka membantu kami. Mereka bahkan mengirim utusan ke desa Jati untuk meminta bantuan. Padahal jarak antara desa Jati dan desa Mahoni bisa mencapai tiga bulan berjalan kaki. Selama tiga bulan itu, kami bertahan di desa. Semakin hari, jumlah penduduk desa kami makin sedikit. Aku masih ingat saat itu hanya tersisa dua laki-laki, satu perempuan yaitu aku, dan tiga anak-anak.”


“Bagaimana dengan keluargamu?”


“Ibuku sudah lama meninggal. Aku hanya tinggal bersama ayah dan adik laki-lakiku. Aku sangat bersyukur kami bertiga bisa selamat saat itu. Sudah hampir tiga bulan berlalu tapi tidak ada bantuan yang datang. Pasukan Klan Putih juga tidak mungkin terus bertahan bersama kami. Mereka harus segera kembali ke klan mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi dari desa Mahoni. Dengan penduduk yang tersisa dan pasukan Klan Putih, kami pergi ke desa Jati. Tapi–”


Suara Ryza tercekat. Air mata bergulir menuruni pipinya.


“Kami mengira pohon-pohon itu hanya bergerak pada malam hari tapi ternyata kami salah. Di perjalanan, kami diserang oleh kawanan pohon. Padahal matahari masih bersinar terang. Pasukan Klan Putih langsung bergerak melawan mereka. Ketika kami hampir selamat, mereka datang.” Tangan Ryza terkepal. Wajahnya memerah menahan amarah.


“Klan Hitam datang! Mereka menyerang kami! Mereka tidak tahu dan tidak akan peduli dengan apa yang sudah kami hadapi. Mereka menyerang kami, menebas setiap orang dihadapan mereka. Ayah... Adiku... Mereka terbunuh! Semua penduduk terbunuh kecuali aku. Saat itu aku sudah menyerah. Tidak ada alasan lagi untuk aku hidup. Aku tidak peduli dengan sulur pohon yang bergerak cepat ke arahku. Aku sudah bersiap untuk mati. Tapi Ichi menyelamatkanku. Dia membawaku pergi dari sana. Hampir semua pasukan Klan Putih terbunuh, kecuali Ichi.”


Ryza mencengkran bahuku dengan kuat. Wajahnya berkerut karena kesedihan dan kemarahan. Dia menatapku tajam.


“Kau tahu siapa yang memimpin penyerangan itu? Kau tahu?!”

__ADS_1


Aku diam menatap Ryza. Aku bisa menebak ucapan Ryza setelahnya.


“Aras! Aras yang membunuh mereka!”


Ryza menangis terisak. “Kau tahu seberapa berat aku menahan perasaan ini? Tidak adil. Dunia ini benar-benar tidak adil. Kenapa orang yang sudah membunuh keluargaku masih saja hidup, bahkan menjadi seorang raja? Kenapa?!”


Aku memeluk Ryza. Aku membiarkan Ryza melampiaskan perasaannya padaku. Setelah beberapa saat, tangisannya berhenti. Dia mulai tenang.


Ryza menarik diri dari pelukanku. Dia menghapus air matanya. “Maafkan aku, Violet. Aku seharusnya merawatmu karena kau sakit tapi aku malah seperti ini.”


Aku menggeleng. “Tidak apa-apa, Ryza. Kau sudah memendam perasaanmu terlalu lama. Tidak apa-apa jika kau ingin melampiaskannya.”


“Terima kasih, Violet.”


“Ah, iya. Aku sampai lupa membereskan sarapanmu.” Ryza merapikan diri kemudian membawa alat makanku keluar kamar.


Aku memandang kecewa Ryza yang melangkah keluar kamar. Aku ingin memanggilnya dan tetap menyuruhnya duduk di dekatku. Tapi aku tidak tega melakukannya. Aku begitu bukan karena ingin ditemani atau manja. Tapi dia belum menceritakan informasi mengenai zamrud. Ya ampun gemas sekali rasanya.


Aku menjatuhkan kepalaku di bantal. “Hahh.. Aku harus bertanya kepada yang lain.”


Baru akan beranjak dari kasur, pintu kamarku terbuka.


“Kau sudah baikan?” Bara masuk ke kamarku sambil memakan sebutir apel.


Aku mengangguk. “Ada apa?”


Bara cemberut. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Sudah jelas aku ke sini karena aku khawatir. Kau tidak sadar selama tiga hari. Kalau kau ternyata masuk angin karena aku kemarin berarti aku juga harus bertanggungjawab.”


Entah kenapa ucapan Bara membuatku sangat kesal.


“Aku kira kau sangat kuat sampai tidak bisa sakit. Ternyata kau bisa juga masuk angin. Apalagi sampai tidak sadar selama tiga hari.”


“Hey, Bara. Sini! Aku mau memberitahumu sesuatu,” kataku.


Bara mendekat padaku. Setelah dia di depanku, aku menjitak kepalanya.


“Aduh! Sakit!”


“Aku tidak masuk angin seperti yang kau tahu. Aku begini karena zamrud!”


Bukannya kesal, Bara malah tertawa. “Iya.. iya. Aku mengerti. Kau sudah sembuh rupanya.”


“Hah?”


“Kalau kau bisa marah-marah seperti biasa berarti kau sudah sembuh. Jadi, aku tidak perlu khawatir dengan kondisimu lagi.”


BUKK


Terkabullah permintaan Bara. Dia mengusap-usap pipinya yang bengkak.


“Kau jahat sekali, Violet.”


“Kau bilang apa?”


Bara menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa. Lupakan saja.”


“Daripada kau duduk diam di sana. Lebih baik kau memberitahuku informasi tentang zamrud. Kalian sudah membicarakannya, kan?”


Bara melirik ke atas, berusaha mengingat-ingat pembicaraannya bersama Ichi, Aras, Tiha, dan Ryza.


“Tidak banyak yang sudah kami ketahui,” jawab Bara. “Yang jelas zamrud memang ada di kapal ini yaitu yang dibawa laki-laki Klan Hijau itu. Soal permata hijau yang akan dilelang nanti malam, kita belum tahu. Kemungkinan permata itu bukan zamrud. Jadi, kita bisa membatalkan pelelangan nanti malam.”


Aku sampai lupa dengan pelelangan. Karena aku tidak sadar selama tiga hari, begitu bangun sudah hari keempat. Hari dimana kami akan mengikuti lelang.


“Aku dengar dari Ryza jika laki-laki Klan Hijau itu adalah salah satu petinggi Klan Hijau,” ujarku.


“Ryza tadi memang mengatakannya. Kalau tidak salah namanya Ar.. Ardel? Alod? Siapa, ya, namanya? Namanya terlalu panjang.” Bara mengacak rambutnya frustasi.


“Apa yang dia lakukan di sini?”


“Entahlah. Berlibur mungkin? Bagaimana juga Titanic adalah kapal pesiar.”


“Tapi terlalu aneh. Untuk apa dia datang berlibur sambil memamerkan zamrud. Kita harus menyelidikinya.”


“Ichi sudah melakukannya tapi informasi tentang penumpang kapal sangat dirahasiakan, dia hanya mendapat sedikit informasi. Katanya laki-laki itu terdaftar sebagai peserta Rumah Lelang Phoniex.”


“Apa mungkin dia juga mengincar permata hijau itu?”


Bara mengangkat bahu.


Aku teringat obrolan sekelompok perempuan di pesta tadi malam. Mereka menyebut seorang Klan Hijau yang sangat kaya. Mungkinkah yang mereka maksud adalah orang itu.


Tok... tok... tok...


Aras muncul dari balik pintu kamar. Dia sangat terkejut ketika melihatku. Aras melangkah cepat ke arahku.


“Bagaimana keadaanmu, Violet? Aku senang kau sudah bangun.” Aras menatapku dengan mata penuh kekhawatiran.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja.”


Aras beralih ke Bara. “Tiha sekarang sedang mencarimu karena kau menghilang tiba-tiba. Lebih baik kau segera menemuninya. Dia tadi sudah sangat kesal.”


“Hee?! Benarkah? Aduh, habis aku.” Bara buru-buru keluar dari kamar.


Sekarang tinggal aku bersama Aras. Rasanya agak canggung karena aku baru saja mendengar cerita tentangnya dari Ryza. Belum lagi beberapa hari yang lalu, aku mencurigainya atas kematian Elgar. Bayang-bayang mengenai kejahatan Aras berkeliaran di kepalaku.


“Ada apa, Aras?” Aku berusaha bersikap senormal mungkin. Aku tidak ingin pikiranku tentangnya mengganggu misi ini.


“Apa kau benar-benar sudah merasa lebih baik?”


Aku mengangguk.


“Kita akan membicarakan masalah mengenai pelelangan nanti malam. Kalau kau masih kurang sehat, kau boleh tidak ikut.”


“Aku baik-baik saja.” Aku turun dari ranjang.


“Kau yakin? Efek dari gelombang energi permata klan itu sangat kuat. Apa kau benar-benar baik-baik saja?”


“Yah, aku memang belum sembuh sepenuhnya tapi aku sudah tidak apa-apa.”


Aras menatapku, mengamati keadaanku. Dia lalu menghela napas. “Baiklah.”


Kami lalu berdua berjalan bersama menuju ruang tengah.


Di ruang tengah, Ichi, Bara, Ryza, dan Tiha sudah berkumpul.


“Violet!” Tiha berseru keras begitu melihatku. “Kau benar-benar sudah bangun rupanya.” Tiha berlari memelukku.


“Tidak bangun selama tiga hari. Kau membuat kami khawatir saja,” kata Ichi.


Aku tersenyum. “Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku.”


Aku dan Aras duduk di tempat yang tersisa. Ryza yang sedang menuangkan teh. Dia terlihat baik-baik saja. Wajahnya tidak seperti orang yang sehabis menangis. Dia terlihat biasa saja seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Aku rasa dia memang pintar menyembunyikan perasaannya.


“Aku langsung saja ke inti permasalahan kita.” Ichi mengawali. “Rencananya nanti malam kita akan mengikuti pelelangan Phoenix untuk mendapatkan permata hijau yang kita duga sebagai Zamrud. Tapi tadi malam seorang petinggi Klan Hijau, Arnoldi malah membawa Zamrud terang-terangan di pesta. Ada kemungkinan permata hijau yang kita incar di pelelangan bukanlah Zamrud. Jika memang benar begitu, kita tidak akan membeli apapun di pelelangan.”


“Tapi rumor mengatakan permata hijau itu memiliki kekuatan untuk menumbuhkan sesuatu. Kita tidak boleh melupakan itu. Bisa jadi permata hijau itu juga Zamrud. Klan Biru saja memiliki dua Sapphire,” sergah Tiha.


“Tiha benar. Ada kemungkinan permata hijau itu adalah Zamrud. Apalagi petinggi Klan Hijau itu merupakan peserta pelelangan nanti malam. Aku juga mendapat kabar jika dia mengincar permata hijau itu.”


Semua tampak terkejut setelah mendengar ucapanku.


“Darimana kau mendapat kabar itu?” tanya Aras.


“Tadi malam aku mendengar sekelompok perempuan membicarakan pelelangan Phoenix. Ada empat orang yang menjadi saingan kita–termasuk petinggi Klan Hijau itu dalam merebutkan permata hijau itu. Yang pertama adalah Duke Goldder, kedua Marquess Aramco, ketiga Perusahaan Tonnvile, dan seorang Klan Hijau yang kita anggap sebagai petinggi Klan Hijau. Tapi ini tidak pasti. Bisa saja manusia Klan Hijau itu bukan Arnold, si Petinggi Klan Hijau.”


“Untuk apa petinggi Klan Hijau mengincar permata itu. Memilikinya saja itu sudah sangat aneh,” kata Tiha.


“Seharusnya Klan Hijau tidak memiliki permata klan tapi kenapa salah satu petingginya memiliki Zamrud dan membawanya keluar dari wilayah Klan Hijau? Akan lebih mudah jika dari awal mereka langsung memberikan Zamrud itu kepada kita.” Ichi ikut berpikir.


“Saat aku pergi dari Klan Hijau, klanku tidak memiliki Zamrud. Kami juga tidak tahu letak posisi Zamrud lain. Kami bahkan tidak berpikir jika Zamrud ada lebih dari satu.” Ryza menanggapi.


“Apa Klan Hijau memiliki kasus yang sama dengan Klan Biru?”duga Bara.


“Aku rasa tidak. Klan Biru tahu bahwa mereka memiliki dua Sapphire, sedangkan Klan Hijau sebaliknya. Mereka bahkan tidak tahu jika Zamrud ada lebih dari satu,” ujar Aras.


“Kita harus berhati-hati dengan Arnoldi. Jelas sekali dia tidak di pihak kita. Selain itu kita harus waspada mengenai kasus kematian Elgar Orchid. Jika dia mati karena terbunuh, bisa saja itu adalah kaitannya dengan pelelangan.” Aku menambahkan.


“Kau terlalu khawatir, Violet. Anak dari Marquess Orchid itu mati karena serangan jantung, bukan terbunuh.” Tiha memberitahu.


“Tidak sesederhana itu, Tiha. Saingan kita di pelelangan bukan orang-orang biasa. Jika mereka sangat menginginkan permata itu, mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya.” Ichi mendukungku.


“Tapi dari kemarin kita tidak mengalami apapun. Aku rasa kalian terlalu waspada,” ujar Bara.


“Sejak kemarin tidak ada yang membahayakan kita. Tapi aku rasa tidak ada salahnya kita lebih waspada.” Ryza menengahi.


Kami semua mengangguk setuju. Kompetisi bisa terjadi sebelum kompetisi sebenarnya dimulai. Entah siapa yang akan bergerak setelah ini. Kami harus siap dalam segala situasi.


“Bagaimana dengan uang kita untuk pelelangan?” celetuk Ryza.


“Ludwig sudah selesai mengurusnya. Aku sudah memegang uangnya,” jawab Aras.


“Itu benar-benar tiga juta guinea? Tiga juta keping emas?” Mata Bara membesar mengingat jumlah uang yang sangat besar.


Aras mengangguk.


“Aku harap uang itu cukup. Aku tidak tahu siapa Duke Goldder, Marquess Aramco, atau pesaing kita lainnya. Yang jelas mereka memiliki kekayaan yang luar biasa juga. Aku harap mereka bukan bangsawan gila yang merelakan jutaan keping emas hanya untuk sebuah permata,” ujar Tiha.


Ichi mengeluarkan tiga undangan pelelangan Phoenix.


“Satu undangan berlaku untuk dua orang. Pastikan kalian membawanya nanti. Acara akan dimulai jam enam malam.”


Ichi membagikan undangan untuk kami. Ichi bersama Ryza. Bara dengan Tiha dan aku bersama Aras.


Tiga jam lagi pelelangan dimulai. Medan tempur baru kami telah menunggu.

__ADS_1


__ADS_2