
Energi Zamrud yang besar di Pegunungan Selatan membuatku dan Aras kehilangan energi kami dengan sangat cepat. Aku bisa merasakan tubuh Aras yang gemetar. Aku sendiri juga mati-matian berdiri tegak. Kepalaku terasa sakit. Tanah yang aku pijak serasa berputar.
Aku melihat energi Zamrud dari tanah mengalir memenuhi tubuh Arnold dan pengikutnya. Luka-luka di tubuh mereka mulai menutup.
Aku dan Aras tidak bisa membiarkan mereka menyembuhkan luka mereka. Kami menyerang mereka bersamaan. Tapi tiba-tiba sulur mengikat kakiku dan Aras, kemudian menarik kami ke atas pohon.
Sekarang kami tergantung dengan keadaan terbalik. Pedangku jatuh. Kepalaku menjadi lebih sakit dari sebelumnya. Semua yang aku lihat berputar. Aras juga tidak menyentuh tanah. Lebih sulit baginya untuk menggunakan keistimewaannya.
Arnold tersenyum puas melihat ketidakberdayaanku dan Aras. Dia mendekati kami.
Arnold meraih tangan kiriku dimana aku memakai cincin Zamrud. Aku berusaha menghalaunya dengan tangan kananku. Tapi sulur lain muncul dan mengikat tangan kananku.
“Harus aku akui kami kesusahan melawan kalian. Kalian cukup tangguh,” kata Arnold sambil melepas cincin Zamrud yang sudah tertutup oleh darahku.
“Kau mengotori cincinku, Klan Ungu.” Arnold mengusapkan cincin Zamrud ke jubahku. Dia membersihkan darahku dari cincin Zamrud itu.
Ketika cincin itu sudah bersih. Dia memakainya. Beruntung tidak ada gelombang energi yang terpancar ketika Arnold memakainya.
Arnold menarik rambutku. Dia meraih wajahku dengan tangannya. “Dimana Zamrud yang kalian ambil?”
“Jangan menyentuhnya!” Aras berteriak marah.
Arnold menengok ke Aras. Dia kemudian menarik tangannya dari wajahku.
“Kenapa kau sangat peduli padanya, Raja Aras? Dia adalah Klan Ungu. Klan paling merepotkan untukmu setelah Klan Putih.”
“Itu bukan urusanmu.” Aras menatap Arnold tajam.
Arnold mengusap dagunya sambil merenung. Dia memandangku dan Aras bergantian.
“Jangan bilang kalian melanggar aturan dunia klan?”
“HAHAHA...” Arnold tertawa lepas. Dia sampai menyeka air matanya.
Arnold menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
“Kau pasti dilanda dilema, Raja Aras. Padahal kau harus menyingkirkan Klan Putih dan Klan Ungu yang merepotkan agar bisa mendapat keistimewaan sejatimu.”
“Diam kau!” Aras melotot pada Arnold. “Kau tidak tahu apa-apa!”
Aku terpaku mendengar perkataan Arnold. Dia baru saja bilang jika keistimewaan sejati Aras baru bisa muncul jika dia menyingkirkan klanku dan Klan Putih. Aku tidak bisa mempecayainya. Aku tidak pernah tahu ada keistimewaan seperti itu.
“Jangan bicara omong kosong!” sergahku.
__ADS_1
“Aku tidak bicara omong kosong, Perempuan Klan Ungu. Yah, aku tidak heran jika Raja Aras menyembunyikannya darimu karena itu menyangkut klanmu. Apa kau ingin tahu keistimewaan sejatinya?” Arnold menatapku lekat.
Wajah Aras mengeras. Tangannya mengepal. “Jangan dengarkan dia, Violet!”
Aku memandang Aras. Wajahnya tampak gelisah. Aku tidak tahu Arnold berbohong atau tidak. Tapi aku harus mendengarnya. Aku sadar ada yang Aras sembunyikan dariku. Dan Arnold tahu apa itu.
“Keistimewaan sejati Raja Aras adalah Raja Klan. Orang yang paling berhak memimpin dunia klan adalah Raja Aras karena dia adalah pemimpin Klan Hitam. Tapi keistimewaan itu terhalangi oleh Klan Putih yang mendominasi dunia klan dengan dukungan kuat dari Klan Ungu. Jadi, Raja Aras harus menyingkirkan mereka.”
“Apa kau bergurau? Tidak ada keistimewaan seperti itu.”
Aku tidak bisa mempercayai perkataan Arnold. Sejak beribu tahun lalu, Klan Putih-lah yang berhak memimpin dunia klan. Mereka adalah klan tertinggi di dunia ini.
“Perempuan Klan Ungu, Klan Putihlah yang membuat dongeng itu. Mereka membuat cerita masa lalu yang untuk mendukung keberadaan mereka sekarang. Ada dongeng kuno terlarang yang menceritakan tentang awal dunia ini. Sangat sedikit orang yang mengetahui dongeng itu.”
Arnold berbalik badan. Dia mengangkat wajahnya dan memandang langit.
“Dahulu kala dunia ini hanya ada Klan Hitam. Dunia saat itu dipimpin oleh seorang raja. Raja Klan Hitam tentu saja. Biasanya tahta diwariskan kepada anak pertama raja. Tapi saat itu lahir tujuh anak kembar.”
“Seharusnya tahta raja diwariskan kepada anak tertua dari tujuh kembar itu. Karena dialah yang memiliki keistimewaan untuk memimpin dunia klan. Tapi pada akhirnya raja malah membagi dunia ini menjadi tujuh untuk anak-anaknya. Pembagian itu membuat pewaris tahta yang sah kehilangan keistimewaannya. Enam saudaranya pun meninggalkannya karena dia tidak sekuat mereka.”
Arnold menoleh padaku. “Kau mengerti ceritaku, kan? Dongeng itu sebenarnya tidak benar-benar nyata. Leluhur kita mengganti berbagai kata di cerita itu. Tapi pada intinya Raja Aras harus menyingkirkan enam klan lain untuk mendapatkan keistimewaan sejatinya sebagai Raja Klan Hitam.”
“Kalau begitu bukankah klanmu sendiri terancam,” kataku.
Aku menggeram marah. Aku ingin menghajar Arnold dan pengikutinya. Berani sekali mereka ingin menyingkirkan Klan Ungu. Aku berusaha menghancurkan lilitan sulur.
Plukk
Kotak Sapphire terjatuh dari kantongku ketika lilitan di tubuhku melonggar. Arnold dan pengikutnya terbelalak ketika Sapphire terjatuh di hadapan mereka.
“Sapphire?! Bagaimana bisa?” seru Arnold terkejut.
Aku mengangkat tubuhku ke kakiku. Aku menggigit sulur yang menggantung tubuhku. Aku harus segera mengambil Saphhire selagi Arnold dan pengikutnya masih tercengang dengan apa yang dilihat di depan mereka.
BRUKK
Aku berhasil jatuh ke tanah ketika Arnold akan mengambil Sapphire. Tapi tangan kananku masih terjepit di antara sulur. Aku mengulurkan tangan kiriku yang terluka. Aku memaksanya untuk bergerak.
“Tidak!”
Tanganku hanya meraih rerumputan. Arnold berhasil mengambil Sapphire lebih dulu dariku.
“Bagaimana kau bisa memiliki ini?” Arnold menatapku dengan mata terbuka lebar.
__ADS_1
“Kembalikan!”
Aku berhasil lolos dari lilitan sulur. Tanganku berusaha merebut kembali Sapphire dari Arnold. Tapi pemanah yang pingsan sudah terbangun. Anak panah melesat dan menancap tepat di hadapanku.
Penombak, Pengguna Belati, dan dua pemanah mengarahkan senjatanya padaku. Jika aku bergerak sedikit saja mereka akan langsung menyerangku.
Aku berdecak kesal. Jika aku memiliki senjata, aku masih bisa melindungi diri dari serangan mereka. Keadaanku sekarang tanpa pertahanan sama sekali.
Aku melirik pedangku yang ada di belakangku. Aku bisa menjangkaunya dengan beberapa langkah. Tapi pengikut Arnold masih mengawasiku.
Arnold memperhatikan Sapphire di tangannya. Dia lalu melirikku dan Aras. Matanya menerawang mengingat kejadian di Titanic.
“Saat di kapal ada empat orang lagi yang menyerangku bersama kalian. Mereka semua berbeda klan. Aneh. Jangan-jangan aku memang telah melewatkan sesuatu yang sangat penting?” Arnold menatapku.
Aku diam, tidak menjawab.
“Mungkinkah kau masih memiliki permata klan lain?” Arnold maju selangkah mendekatiku. “Cyperus! Rotundus! Tangkap perempuan ini.”
Penombak, Cyperus dan Pemakai Belati, Rotundus menurunkan senjata sebelum menangkapku. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk melejit, mengambil pedangku.
“Hey!” teriak Cypirus dan Rotundus.
Mereka terlalu lambat. Aku sudah mendapatkan pedangku kembali. Tanpa basa basi, aku melesat ke arah mereka. Pedangku terayun.
“Argh!”
Aku berhasil melukai dada Cypirus. Tubuhku melenting ke Rotundus. Rotundus bereaksi dengan cepat, dia menghindar. Dia menekuk tubuhnya dan merunduk menghindari tebasan pedangku.
Aku lantas menendangnya. Rotundus terjungkal di kakiku. Aku mengacungkan pedangku tepat di dadanya.
“HIYAH!”
Aku mendorong pedangku ke dada Rotundus. Tapi sebelum pedangku menikamnya, monkshood Arnold menahan pedangku.
“Menarik... Sangat menarik. Bertarunglah denganku. Dari dulu aku penasaran, seberapa kuat aku jika bertarung dengan manusia Klan Ungu.” Arnold menarik monkshoodnya.
Arnold mendorongku mundur. Aku dan Arnold saling beratapan tajam. Angin kencang berhembus menerbangkan rambut kami.
“HIYAHH!!”
__ADS_1