
Aku, Ty, dan Aras masih dalam perjalanan kami ke Desa Beringin. Setelah melewati daerah berangin dingin itu, kami berada di daerah Pegunungan Salju. Cuaca hari ini sangat cerah meskipun salju menumpuk tebal. Kami tidak kesulitan melewati salju meski harus berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam salju.
“Hati-hati. Pilihlah salju yang terlihat padat agar tidak terperosok,” pesan Aras.
Aku dan Ty mengangguk.
Tiba-tiba...
SROKK
“Agh!”
Aras terperosok ke dalam salju. Kaki hingga pinggangnya terendam salju.
“GWAHH..HAHAHA...” Ty tertawa puas ketika Aras terperosok ke dalam salju.
“Kau sepertinya sangat puas, Ty.” Aras menatap Ty yang tertawa terpingkal-pingkal.
Aku mengulurkan tangan untuk membantu Aras keluar dari salju.
“Hati-hati, Ty. Jika kau menertawaiku seperti itu kau bisa mendapat karma,” kata Aras.
“Hahaha... iya aku tahu. Hahaha.” Ty masih terus tertawa. “Aku ingin berhenti tapi... hahaha... ini sangat lucu. Kau baru saja mengingatkan kami dan.. puah...hahaha..”
Karena Ty terus tertawa, aku jadi ikut tertawa. Aku harus memalingkan muka dari Aras agar dia tidak melihatku menertawainya. Tapi dia tetap bisa tahu jika aku menertawakannya.
“Violet, kau jangan ikut menertawakanku.” Wajah Aras jadi memerah karena malu.
Aku berusaha menahan tawaku.
“Maaf, Aras. Tapi Ty terus tertawa dan itu membuatku ikut tertawa.”
Aras menampakkan wajah kesal.
Aku menarik napas beberapa kali agar kembali tenang. Tapi aku masih senyum-senyum menahan tawa ketika melihat Aras.
Aras mendesah pasrah melihat kelakuanku dan Ty.
“Yah, setidaknya ini menghibur kalian,” kata Aras. “Ayo, kita lanjut lagi.”
“Baik.”
Kami kembali berjalan. Baru beberapa langkah tiba-tiba Ty berteriak.
“Uwaahh!”
Ty terperosok ke dalam salju. Dia terbenam hingga dadanya. Tidak sampai di situ saja, salju di dahan pohon tiba-tiba jatuh ke kepala Ty.
“Argh! Dingin!” pekik Ty.
“Hahaha..!” Aras kali ini ganti yang tertawa.
Ty cemberut melihat Aras menertawainya. Dia menatap Aras kesal sambil menyilangkan lengan karena kedinginan.
Aras berhenti menertawakan Ty ketika melihatnya kedinginan. Aku dan Aras segera menghampiri Ty. Aras menarik Ty keluar dari tumpukan salju. Aku kemudian menyingkirkan salju dari rambut dan pakaian Ty.
“Ini balasan karena kau sudah menertawakanku,” kata Aras sambil ikut membersihkan pakaian Ty dari salju.
Ty hanya mengangguk. Dia menggigil kedinginan.
Aku melepaskan jubahku lalu menyelimutkannya kepada Ty. Aras kemudian menggendong Ty sambil mendekapnya erat agar lebih hangat.
“Lain kali jangan menertawakan orang lain. Kau sudah merasakan akibatnya, kan?” kata Aras.
“Iya, aku mengerti. Maaf, Aras.” Ty membenamkan wajah malunya di lengan Aras.
Aras tertawa kecil. Dia menepuk-nepuk punggung Ty pelan. Kami lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Sedikit lagi kami mencapai pucak gunung. Aku rasa sore nanti kami sudah bisa turun dari gunung jika cuaca terus baik hingga nanti.
Aku mendengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan salju. Suaranya terdengar seperti langkah yang besar dan dalam jumlah yang banyak. Aras dan Ty juga mendengarnya. Kami meningkatkan kewaspadaan, namun tetap berjalan seperti biasa.
“Wuah!” seru Ty.
Kami berhenti melangkah ketika sekawanan mamoth berjalan di depan kami. Bentuk mereka seperti gajah tapi ukurannya jauh lebih besar. Mereka memiliki rambut kecoklatan yang sangat tebal. Dengan kaki mereka yang besar, mereka berjalan lambat melewati salju.
Mata Ty berbinar memandang kawanan mamoth itu. Dia tampak sangat bersemangat.
“Aku tidak percaya bisa melihat mamoth,” kata Ty.
“Ini pertama kalinya bagimu, Ty?” tanya Aras.
Ty mengangguk. “Mereka hidup di daerah bersalju. Jadi, aku tidak pernah melihat mereka.”
Kawanan mamoth itu memiliki jumlah anggota yang sangat banyak. Mereka belum juga habis meskipun kami bertiga sudah menunggu cukup lama.
__ADS_1
Aras menurunkan Ty karena Ty terlihat sangat tertarik dengan kawanan mamoth. Begitu menyentuh permukaan salju, dia langsung berlari mendekati kawanan mamoth. Dia tidak menggigil kedinginan lagi. Dia malah melompat-lompat, sangat antusias melihat mamoth. Jubahku yang dipakainya sampai jatuh ke salju karena dia terlalu bersemangat.
Aras mengambil jubah yang dijatuhkan Ty, lalu memberikannya padaku.
“Bagaimana jika kita istirahat dulu? Aku rasa Ty juga ingin melihat mamoth lebih lama,” tawar Aras.
Aku mengangguk.
Ty menikmati waktunya dengan terus memandang kawanan mamoth. Dia tidak bosan-bosannya melihat mamoth yang tidak ada habisnya berjalan di depan kami.
Aku dan Aras duduk sambil menunggu kawanan mamoth itu lewat. Aras membuka bekal yang kami bawa. Dia sudah memasak daging kelinci dan kalkun yang aku buru kemarin menjadi bekal perjalanan kami. Aku dan Aras berbagi sepotong daging kelinci sebagai jatah makan siang.
“Ty, makan siangmu.” Aras menyodorkan sepotong daging kelinci pada Ty.
“Terima kasih.”
Ty menerima makan siangnya dari Aras tanpa melepaskan pandangan matanya dari para mamoth. Dia lebih fokus pada mamoth daripada makan siangnya sendiri.
“Anak itu seperti mudah tertarik dengan hal baru,” kata Aras sambil memandang Ty.
“Kau benar. Dia selalu bersemangat jika menemukan sesuatu yang belum pernah dia lihat.” Aku menyetujui.
“Aku ingin menaiki mereka,” gumam Ty tiba-tiba.
Aras yang mendengar gumaman Ty langsung melihat kawanan mamoth yang berjalan menaiki gunung.
“Aku rasa kita bisa,” kata Aras.
Ty menoleh dengan cepat kepada Aras.
“Benarkah?” tanya Ty.
“Mereka bergerak searah dengan kita. Kita bisa menunggangi mereka dan turun bersama. Kita juga bisa menghemat tenaga. Mamoth adalah binatang yang mudah dijinakkan,” jawab Aras.
“Kau bisa menjinakkan mereka?” tanya Ty.
“Serahkan saja padaku,” jawab Aras.
Aras berjalan mendekati kawanan mamoth itu. Dia memperhatikan setiap mamoth yang berjalan. Mamoth-mamoth itu juga tidak merasa terganggu dengan kehadiran Aras. Mereka tetap berjalan dengan tenang.
Aras mendekati mamoth besar yang berjalan seorang diri di bagian pinggir kawanannya. Aras menyentuh mamoth itu dan mengusapnya pelan. Mamoth itu berhenti, dia tampak menikmati perhatian yang diberikan Aras.
Aku tidak tahu bagaimana kerjanya, tapi mamoth itu terlihat patuh kepada Aras. Aras terlihat sangat terlatih menjinakkannya.
Setelah beberapa saat membelai mamoth itu, Aras memanggilku dan Ty.
“Yeyy!” teriak Ty girang.
Aku dan Ty menghampiri Aras. Kami berdua memandang mamoth besar yang menjulang di depan kami.
“Kau naik duluan,” kata Aras padaku.
Aku mengangguk. Aku memegang erat rambut mamoth kemudian menarik diri ke atas tubuh mamoth yang tinggi. Duduk di atas mamoth terasa lebih nyaman daripada kuda. Rambut mereka yang lembut terasa seperti busa sofa.
Setelah aku naik dan membenarkan posisiku, Aras menaikkan Ty ke atas mamoth. Aku segera ganti memegangi Ty ketika Ty mencapai setengah dari tinggi mamoth. Aku lalu mendudukkan Ty di depanku.
Setelah Ty duduk, Aras ganti naik ke atas mamoth. Dia duduk di paling depan. Setelah semuanya siap, Aras memerintahkan mamoth yang kami tumpangi untuk berjalan.
Mamoth yang kami tumpangi melangkah perlahan. Ini pertama kalinya aku menunggangi binatang selain kuda. Aku agak khawatir jika mamoth ini akan mengamuk karena dia adalah binatang liar. Tapi Aras mengendalikannya dengan sangat baik. Mamoth ini berjalan dengan tenang.
“Ini tidak seburuk yang aku bayangkan,” kataku.
“Ini tidak buruk, Nona. Tapi luar biasa!” seru Ty.
Aku bisa menikmati pemandangan pegunungan dari atas sini. Pegunungan terlihat berbeda ketika aku melihatnya hanya dengan berdiri dan melihatnya dari atas mamoth.
Dari atas sini, aku juga bisa melihat seluruh kawanan mamoth. Jumlah mereka ternyata sangat banyak. Di belakang kami, mamoth mamoth masih mengular panjang. Padahal jumlah mereka di depan kami sudah sangat banyak. Jika kami tadi tetap menunggu hingga kawanan mamoth ini lewat, kami mungkin baru bisa lewat ketika sore hari karena saking banyaknya jumlah mereka.
Angin terasa lebih kencang di atas punggung mamoth. Tapi berkat rambut mamoth yang tebal, aku tidak merasa kedinginan.
Selain itu Ty sangat ceria hari ini. Dia seperti matahari yang bersinar di tengah salju. Dia bernyanyi riang tanpa henti. Pipinya memerah karena bersemangat.
“Lalala... lalala... lalala...” Ty bersenandung.
Aku mengiringi nyanyian Ty dengan tepuk tangan. Aku, Aras, dan Ty bertiga berayun mengikuti nyanyian Ty.
Tidak terasa kami sudah melewati puncak gunung. Bernyanyi membuat waktu berjalan capat tanpa kami sadari.
Awalnya kami lega karena sudah melewati pucak gunung. Sebentar lagi kami akan tiba di Pegunungan Selatan, tempat Desa Beringin berada. Tapi di ujung langit, terlihat awan hitam mendekat ke arah kami. Awan itu bukan pertanda yang baik untuk kami. Keceriaan yang meliputi kami memudar.
Aku, Aras dan Ty memandang awan hitam itu. Kami harus bersiap untuk kemungkinan terburuk jika badai datang.
“Aku harap kita sudah pergi dari daerah bersalju ketika badai itu datang,” kataku.
Perjalanan kami bersama mamoth selesai di sore hari. Kawanan mamoth itu masih terus berjalan tapi mereka mengambil arah yang berbeda dengan kami. Terpaksa kami harus turun dan berpisah dengan mereka.
__ADS_1
“Selamat tinggal, Mamoth. Aku senang sekali bisa menaikimu.” Ty mengusap badan mamoth.
Ty sudah akrab dengan mamoth. Tanpa Aras di sana, mamoth itu tetap tenang bersama Ty.
“Ty, ayo kita pergi,” ajakku.
“Baik, Nona.”
Ty melambaikan tangan kepada mamoth kemudian berjalan menyusulku dan Aras.
Kami masih berada di daerah bersalju. Dibanding daerah utara gunung yang kami lewati kemarin, bagian selatan gunung memiliki kawasan bersalju yang lebih luas. Kami memerlukan waktu lebih lama untuk bisa keluar dari daerah salju.
Langit makin menggelap. Awan hitam sudah tiba di atas kami. Salju belum turun tapi angin dingin berhembus kencang.
Mataku memperhatikan sekitar. Kami akan aman jika bisa menemukan gua. Kami bisa berlindung di sana jika badai salju datang sebelum kami pergi dari sini.
Hawa dingin menusuk kulitku. Butiran salju mulai turun dengan deras. Kami tetap berjalan menembus salju.
Aku memandang Aras yang tidak memakai jubahnya. Dia memberikan jubahnya pada Ty. Aku yakin dia pasti kedinginan. Tapi dia berusaha untuk tidak menampakkannya.
Badai salju semakin deras dan membuat pandangan kami terbatas. Apalagi malam mulai datang dan bulan tidak terlihat. Kami sekarang berada dalam kegelapan.
BRUKK
Ty terjatuh.
“Kau baik-baik saja?” Aras berlutut di samping Ty.
Ty mengangguk. Tapi bibirnya membiru. Tubuhnya mengigil kedinginan. Terlihat jelas jika dia sudah tidak mampu berjalan lagi.
Aras meraih Ty, kemudian menggendong Ty di punggungnya.
“Sebentar, Aras!” seruku ketika Aras akan mulai berjalan lagi.
Aras berhenti melangkah dan menoleh ke arahku.
Aku mendekati Aras dan Ty. Aku lalu melepas jubah yang dipakai Ty dan memakaikannya pada Aras.
“Begini lebih baik,” kataku setelah selesai memakaikan Aras jubah.
Jika Aras yang memakai jubah, dia dan Ty akan tertutup oleh jubah sehingga keduanya lebih hangat. Meskipun seluruh tubuh Ty, termasuk kepalanya akan berada di dalam jubah. Tapi aku pikir itu tidak masalah selama dia tetap hangat.
“Terima kasih, Violet,” kata Aras.
Aku mengangguk.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa kedinginan?” tanya Aras.
“Aku baik-baik saja,” jawabku.
Aku dan Aras kembali melanjutkan perjalanan bersama Ty yang digendong di punggung Aras.
Salju yang deras membuatku sulit melihat ke depan bahkan membuka mata. Aku memegangi tudung jubahku yang hampir terus terlepas karena angin kencang.
Semakin malam, angin semakin kencang. Udara makin dingin. Badai semakin besar. Kami juga tidak menemukan gua atau tempat berlindung lain.
Tubuhku rasanya sudah membeku. Kakiku terasa sangat kaku, aku hampir tidak bisa menggerakkannya. Aku sudah tidak bisa merasakan kedua kakiku lagi. Tapi aku harus bertahan. Aku tidak bisa membiarkan diriku pingsan di sini.
Aku melirik Aras yang berjalan di sampingku. Dia juga terlihat kewalahan. Setelah kehabisan energinya kemarin hingga tidak bisa menggunakan keistimewaanya, keadaannya sekarang pasti memburuk.
Kami berjalan semakin lambat. Napasku terasa berat.
Aku harus bertahan.
Aku menajamkan penglihatanku. Samar-samar aku melihat cahaya di depan kami. Letakknya tidak begitu jauh. Tidak hanya satu cahaya, ada beberapa cahaya di sana.
“Desa?”
Aras juga melihat ke depan sana.
“Aku rasa juga begitu.” Aras menatapku.
Kami saling tersenyum. Kami berdua lega karena menemukan harapan di tengah badai salju yang lebat.
“Syukurlah,” ucapku.
Aku sudah memaksakan diri sedari tadi. Keadaan sulitlah yang membuatku terus bertahan. Melihat ada desa membuatku lega dan kehilangan kekuatanku. Aku terjatuh di antara salju yang terus turun.
“Violet!”
Di tengah pandanganku yang buram, aku melihat Aras menghampiriku. Dia terlihat sangat cemas. Aku juga melihat kepala Ty menyebul dari balik jubah Aras. Dia meneriakkan sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya.
Tubuhku terasa sangat dingin dan akhirnya semua terlihat gelap.
__ADS_1