Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 39


__ADS_3

Aku terbangun oleh pergerakan asing yang mendekatiku dan Ty. Mataku awas menatap sekitar. Matahari hampir terbit. Pepohonan meneteskan embun dingin di setiap daunnya. Aku merasakan seseorang bergerak dari arah depanku. Aku mengarahkan pedangku ke semak-semak di depanku.


Sesosok laki-laki berambut hitam yang aku kenal muncul dari balik pepohonan rimbun.


“Aras?”


Aras membeku di depanku. Matanya melebar ketika melihatku.


“Violet? Apa itu sungguh kau?” Aras menatapku tidak percaya.


Aku mengangguk.


Aras maju mendekatiku dengan langkah besar. Tiba-tiba saja dia sudah ada di depanku dan merengkuhku dalam pelukannya. Dia memelukku dengan sangat erat.


“Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi,” gumam Aras.


Sebenarnya tidak hanya Aras yang berpikir begitu. Meskipun aku berusaha berprasangka baik tentang nasibnya, dalam benakku aku sangat khawatir dan takut Aras menghilang. Butuh keajaiban untuk bisa selamat dari kapal Titanic yang tenggelam.


Hubungan kami buruk setelah kejadian pembataian di panti asuhan. Aku juga sangat kecewa padanya. Tapi setiap aku mendengar tentang berita kasusnya, aku tidak bisa menyangkal aku merasa lega. Setiap kasus yang Aras lakukan menandakan bahwa dia masih hidup. Perasaanku padanya memang sangat membingungkan.


Aras memelukku cukup lama. Ketika dia melepaskan pelukannya, aku melihat matanya berkaca-kaca. Dahulu ketika kami masih kecil, Aras pernah melihatku hampir mati tenggelam. Kejadian pasti meninggalkan trauma baginya.


Aras seperti tidak mau melepaskanku. Setelah memelukku, dia masih menggenggam kedua tanganku.


“Kau baik-baik saja?” Mata Aras memeriksa tubuhku dari atas hinggga bawah.


“Kau terluka,” ucap Aras ketika melihat luka di tangan dan wajahku.


“Aku baik-baik saja. Ini hanya luka-luka kecil. Amethyst menyelamatkanku. Kau sendiri bagaimana? Tanganmu dingin sekali. Kau baik-baik saja?”


Aras langsung melepaskan genggamannya. Dia menghindari tatapanku. “Aku baik-baik saja.”


“Wajahmu agak sedikit pucat.”


“Ini karena badai tadi malam. Aku jadi sedikit kedinginan.”


Aku menatap Aras lamat-lamat untuk memastikan keadaannya. Kulitnya lebih pucat dari biasanya. Sepertinya dia memang sakit. Tapi aku rasa dia akan baik-baik saja.


Aku tersenyum pada Aras. “Yah, aku senang kita bisa bertemu kembali.”


Aras melirikku. Semburat merah di pipinya terlihat jelas karena kulitnya yang pucat. Dia membalas senyumku.


Mata Aras menangkap sosok Ty yang masih tertidur di belakangku.


“Siapa anak Klan Hijau itu?” tanya Aras.


“Namanya Ty. Dia adalah seorang budak di kapal Titanic yang pernah aku temui. Dia berhasil selamat tapi keadaannya sekarang tidak terlalu baik.”


Aku dan Aras mendekati Ty.


“Cincin yang dipakai anak ini mirip dengan yang dipakai Arnold.” Aras melihat cincin yang dipakai Ty.


“Itu memang cincin yang sama.”


Aras langsung menoleh padaku. “Bagaimana bisa?!”


“Aku tidak tahu. Aku juga belum bertanya padanya.”


Aras kembali mengamati cincin Zamrud. “Tapi kenapa cincin ini tidak mengeluarkan gelombang energi yang besar seperti sebelumnya. Aku bahkan tidak bisa merasakan energi Zamrud padanya.”


“Memang benar cincin itu tidak mengeluarkan energi seperti yang kita rasakan di Titanic. Energinya lemah sekali. Lebih lemah dari Sapphire milik Klan Biru Barat.”


Energi yang mengalir dari Zamrud ke tubuh Ty juga tidak sebanyak kemarin. Itu membuatnya pulih lebih lambat daripada kemarin.


Aras beralih ke tubuh Ty. Dia mengecek suhu tubuh Ty, napas dan detak jantung Ty.


“Apa keadaannya sebelumnya seperti ini?” tanya Aras.


“Saat aku menemukannya pertama kali keadaannya sangat bagus untuk seorang korban Titanic. Cincin Zamrud itu yang menyongkong hidupnya. Dia juga sudah hampir sehat. Tapi kemarin kami dikejar oleh monster pohon raksasa. Dia pasti kelelahan.”


“Monster pohon? Wit?”


Aku mengangguk.


“Aku kemarin juga berhadapan dengan tiga wit. Wit memang sering muncul tapi biasanya tidak berkumpul dalam satu wilayah seperti ini karena mereka juga kanibal. Aku rasa mereka terpancing oleh anak ini dan cincin Zamrud.”


Aras melanjutkan ucapannya. “Wit menyerap semua jenis energi tapi mereka lebih memilih energi dari klannya sendiri. Jika kita bersama manusia Klan Hijau, wit tidak akan mempedulikan kita. Mereka akan mengincar manusia Klan Hijau.”


Posisi Ty sekarang paling berbahaya diantara kami. Wit bisa muncul kapan saja dan Ty menjadi target utamanya. Apalagi keadaannya sekarang melemah. Dia akan kesulitan untuk menghadapi wit.


“Aras, aku akan mencari air dan makanan. Kau tolong jaga Ty,” ujarku.


Aras mengangguk.


Aku segera melesat pergi. Hutan di sini sedikit lebih ramai dari hutan yang aku singgahi sebelumnya. Ada banyak suara burung yang bersahutan. Binatang-binatang yang tak aku kenali berlompatan di antara pepohonan.


Aku mengikuti jejak binatang yang mengarah pada suatu tempat yang sama. Jejak itu pasti mengarah ke suatu tempat yang memiliki banyak makanan atau sumber mata air. Benar saja. Aku tiba di sebuah sungai kecil. Airnya baru saja surut, terlihat dari batas air yang masih jelas di dinding sungai.

__ADS_1


Aku tersenyum lebar ketika melihat banyak ikan besar di sungai itu. Mereka adalah ikan yang bermigrasi dari laut ke sungai untuk bertelur. Sangat mudah untuk menangkap mereka karena air sedang surut.


Setelah aku menangkap ikan, aku memetik sebuah labu yang berada di pinggi sungai. Aku mengeluarkan isinya lalu memakannya. Rasanya sangat manis. Aku memetik dua labu lagi untuk Aras dan Ty. Labu yang sudah kosong aku bersihkan dan aku jadikan untuk wadah air.


Kemah kami tampak berubah ketika aku kembali. Api menyala lebih besar. Sekarang terdapat rumah kecil yang terbuat dari batu di sana. Aras sedang menumbuk suatu tanaman ketika aku kembali.


“Kau membangun ini semua?” Aku melihat rumah batu itu dengan takjub.


Aras mengangguk. “Akan lebih baik jika kita memiliki rumah untuk beristirahat. Ty sudah aku pindahkan ke dalam. Aku baru saja memberinya obat.”


Aku menggantungkan labu dan ikan di dahan pohon yang rendah. Labu yang berisi air aku sodorkankan kepada Aras.


“Terima kasih.” Aras menerima labu wadah air itu kemudian meminumnya.


Aras menuangkan sedikit air pada tanaman yang ditumbuknya setelah selesai minum. Dia kemudian memeras tanaman itu diatas daun. Air berwarna merah menetes ke daun di bawahnya.


“Pakai ini untuk mengobati lukamu.” Aras memberikan cairan berwarna merah yang dibuatnya. “Kau cukup mengoleskannya pada kulit yang terluka atau lebam.”


“Sejak kapan kau ahli dalam obat-obatan?”


“Sudah lama. Mungkin sejak kita masih di Klan Biru Barat. Kau saja yang tidak menyadarinya.”


Aku tersenyum tipis. Dulu ketika kami masih menjadi prajurit di Klan Biru Barat, aku sering sekali terluka karena aku ada di garda terdepan ketika berperang. Setiap selesai berperang Aras selalu mengobati lukaku.


“Nona?”


Aku dan Aras menoleh. Ty keluar dari rumah. Dia terlihat lebih segar.


“Apa kau sudah merasa lebih sehat, Ty?” tanyaku.


Ty mengangguk.


Ty menatap Aras heran. Dia tidak mengenali Aras. Baginya Aras adalah laki-laki asing Klan HItam yang tiba-tiba akrab dengan nonanya.


“Ty, dia adalah temanku. Dia juga penumpang Titanic yang pergi bersamaku” Aku membuka perkenalan antara Ty dan Aras.


Aras mengulurkan tangannya pada Ty. “Aras.”


Ty menyalaminya. “Ty. Kau siapanya Nona?”


Aku agak terkejut mendengar ucapan Ty. Caranya berbicara pada Aras sangat berbeda dengan caranya berbicara padaku.


Aras melirikku sebelum menjawab Ty. “Aku temannya. Teman masa kecilnya.”


“Oh,” jawab Ty dengan wajah datar.


“Aku pelayan Nona Violet. Aku telah bersumpah pada Nona Violet untuk mengabdikan seluruh hidupku padanya.”


Aras langsung menoleh padaku, meminta penjelasan. Aku hanya tersenyum membalasnya.


Ty mengalihkan padangannya padaku. “Nona, aku akan mencari makanan.”


“Tidak perlu, Ty. Aku sudah mencarinya tadi.” Aku menunjuk ikan yang aku gantungkan di dahan pohon.


Bukannya terlihat senang, Ty malah terlihat kecewa.


“Ada apa, Ty? Kau terlihat tidak senang. Apa kau tidak suka ikan? Aku juga mendapat labu jika kau tidak suka.” Aku menunjukkan dua buah labu pada Ty.


Ty menggeleng dengan cepat. Wajahnya panik. “Bu.. bukan maksudku begitu. Apapun yang Nona berikan untukku, aku pasti menyukainya. Hanya saja...”


Ty menunduk. “Aku adalah pelayan Nona tapi Nona malah yang mencarikan makanan untukku. Maafkan aku karena tidak bisa bekerja dengan baik.”


Aku mendekati Ty dan mengacak rambutnya sambil tertawa. Ty menatapku bingung.


“Ini sudah tugasku sebagai orang yang lebih tua darimu.”


Mata Ty berkaca-kaca. Dia mengusapkan lengannya ke wajahnya agar aku tidak bisa melihat air matanya.


Aku menepuk punggung Ty. “Nah, Ty. Ayo kita sarapan.”


Pagi itu aku, Aras, dan Ty memulai hari dengan sarapan bersama. Perasaanku sedang sangat baik karena aku sudah bertemu dengan Aras dan keadaan Ty membaik hingga aku tidak menyadari terjadi perang dingin antara Ty dan Aras. Sedari tadi mereka saling melirik tajam.


“Nona, biar aku yang memasak.”


“Aku akan memasak, Violet.”


Aras dan Ty berbicara bersamaan. Mereka langsung berpandangan, saling menatap tajam. Kilat persaingan muncul di antara mereka.


“Nona, kau bisa mengandalkan sarapannya padaku. Aku akan memasak ikannya menjadi ikan bakar yang sangat lezat,” kata Ty. Dia menepuk dadanya dengan bangga.


Belum sempat aku menjawab, Aras sudah menyahut lebih dulu.


“Violet, kau ingat ikan yang kita masak di dalam bambu dulu? Aku menemukan bambu di perjalanan. Kita bisa memasaknya lagi. Bukankah saat itu kau sangat menyukainya?”


“Eh?!” Ty berseru. Dia tidak terima Aras menghalanginya untuk memasak sarapan.


“Ah, iya. Itu sangat enak. Aku ingin mencicipinya lagi.” Aku bersemangat mengingat ikan yang pernah aku dan Aras masak dulu ketika kami di Klan Biru.

__ADS_1


Tanpa aku ketahui, Aras tersenyum penuh kemenangan pada Ty. Ty langsung cemberut. Dia tidak terima Aras mengalahkannya begitu saja. Ty bersiap untuk serangan balasan.


“Nona, desaku dulu juga sering memasak ikan memakai bambu. Rasanya sangat lezat dan khas desa Klan Hijau. Kebetulan aku sudah mendapatkan bahan-bahannya ketika kita masih berada di pantai kemarin. Aku bisa memasakkannya menggunakan bambu dari Aras jika Nona ingin mencobanya.”


Mataku berbinar. “Benarkah? Aku ingin mencobanya. Kau juga mau mencobanya Aras? Rasanya pasti akan lebih enak daripada yang kita buat dulu.”


“Eh.. ng.. tentu saja.” Aras mengiyakan dengan terpaksa.


Ty ganti menatap Aras, menunjukkan wajah seorang pemenang. Aras berdecak kesal. Tapi dia tetap memberikan bambu yang dia temukan kepada Ty.


Aku mengasah pedang selagi menunggu Ty memasak sarapan. Aras membantuku dengan mengasah pisauku.


“Nona, boleh aku pinjam pisaumu untuk memotong ikan?” tanya Ty.


“Tentu saja,” jawabku.


Aku menengok ke Aras. “Kau sudah selesai mengasahnya, Aras?”


Aras mengangguk. Dia memberikan pisauku pada Ty.


Aku, Aras, dan Ty duduk mengelilingi api. Memasak menggunakan bambu memerlukan waktu yang agak lama.


“Aras, apa kau menemukan Ichi dan yang lainnya?” tanyaku.


“Sebenarnya aku terdampar bersama Ichi.”


Mataku terbelalak. “Lalu dimana dia sekarang?”


Aras menghela napas. “Ada sedikit masalah yan membuat kami terpisah.”


“Kalian bertengkar?”


Aras tidak menjawab.


Hubungan Klan Hitam dan Klan Putih adalah yang terburuk. Selama ini Aras dan Ichi paling jarang berinteraksi karena Ichi terang-terangan tidak menyukai Klan Hitam. Tapi jika ada sesuatu mereka bisa bekerja sama dengan baik. Jadi, aku kira hubungan mereka baik-baik saja. Ternyata tidak sesederhana yang aku pikirkan.


“Siapa itu Ichi, Nona?” Ty penasaran dengan nama yang aku dan Aras bicarakan.


“Aku dan Aras naik ke Titanic bersama empat orang teman, salah satunya Ichi. Kami berenam terpisah ketika Titanic tenggelam.” Aku menjelaskan.


“Apa setelah ini kita akan mencari mereka?” tanya Ty.


Aku menatap Aras sekilas sebelum menjawab pertanyaan Ty. Aras mengangguk, membiarkanku mengambil keputusan sendiri. “Tidak. Aku berencana untuk membawamu kembali ke keluargamu dulu.”


Ty terkejut mendengar jawabanku. “Nona lebih baik mencari teman-teman Nona dulu. Jangan mempedulikanku. Lagipula aku sudah menjadi pelayan Nona. Aku akan mengikuti kemanapun Nona pergi.”


Aku menatap Ty cemas. Hidup sebagai budak di usianya yang masih muda bukan hal yang mudah. Apalagi menjadi budak di klan lain. Meskipun menjadi pelayan lebih baik daripada menjadi budak, ada pilihan yang lebih bagus untuknya yaitu kembali ke keluarganya. Apalagi kami memiliki kesempatan besar karena sedang berada di Klan Hijau.


“Bukankah lebih baik jika kau bersama keluargamu, Ty? Apa kau tidak merindukan keluargamu?” Aku menatap Ty lembut.


Ty menuduk, menatap tanah. “Aku akan lebih baik jika tidak kembali pulang. Tidak ada yang menginginkanku di sana.”


Aku dan Aras terdiam mendengar ucapan Ty.


“Aku hanya dekat dengan pamanku. Tapi aku tidak yakin dimana sekarang.” Ty melanjutkan.


Tanpa diduga Aras mengusap kepala Ty. “Aku rasa kau memang cocok menjadi seorang petualang. Kau bisa menemukan pamanmu dan mendapat banyak pelajaran dari perjalananmu yang membuatmu bahagia”


Ty menatap Aras kemudian tersenyum lebar padanya. “Kau benar. Mungkin menjadi petualang memang lebih cocok untukku. Tapi aku lebih senang menjadi pelayan Nona Violet.”


Aras terperangah. Dia heran apa yang membuat Ty begitu terobsesi denganku.


Aku menghela napas. “Baiklah jika keinginanmu begitu. Tapi mungkin kau akan banyak mengalami kesulitan jika menjadi pelayanku.”


“Tidak apa-apa Nona. Aku harap keberadaanku bisa mempermudah Nona.”


Aku mengangguk mengerti.


Suara berdesis terdengar dari bambu yang dibakar Ty.


“Oh, sudah matang.”


Ty mengangkat bambu berisi ikan masakannya dengan daun yang tebal. Dia menjatuhkannya di tanah lalu membuka bambu itu. Ikan berselimut bumbu berwana kuning terlihat bersama asap yang berbau rempah.


“Wow.” Kata itu otomatis keluar dari mulutku.


“Nah, Nona, Aras. Selamat makan!”


Aku mengambil daging ikan yang masih panas. Aku meniupnya beberapa kali hingga dingin.


Masakan Ty luar biasa. Ikannya tidak berbau amis dan penuh dengan rasa rempah yang baru untukku. Rasanya sangat cocok dengan lidahku. Aras juga tampak menikmati makanan buatan Ty. Ty tersenyum senang melihatku dan Aras menikmati makanannya.



 


 

__ADS_1


__ADS_2