Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 43


__ADS_3

Aku tidak bisa merasakan pagi yang cerah di dalam gua. Ketika aku bangun, setengah wajahku tertutup oleh jubah basah Aras. Begitu aku menyingkirkan kain itu dari wajahku, aku mencium bau berlerang yang cukup kuat. Ty masih tertidur di sampingku. Wajahnya juga tertutup oleh jubah basah Aras.


Kami tidur agak jauh dari mata air panas tapi bau belerang di sini masih kuat. Jika Aras tidak menutupi wajah kami dengan jubah basahnya mungkin kami bisa mati keracunan.


Aku menengok ke sekitar. Aku tidak menemukan Aras. Dia pasti sudah bangun dan pergi ke suatu tempat.


Tadi malam, setelah membersihkan diri di mata air panas, kami bertiga langsung tertidur. Mandi di mata air panas membuat tubuhku terasa lebih segar dari sebelumnya. Aku jadi terus tersenyum karena perasaanku yang sedang baik.


“Nona terlihat sangat senang,” kata Ty.


Ty bangun dari tidurnya. Dia menggosok matanya pelan. Dia lalu menatapku dan ikut tersenyum. “Aku senang jika Nona senang.”


Aku mengacak rambut Ty. “Selamat pagi, Ty!”


“Pagi, Nona.” Ty menguap lebar. “Aku masih sedikit mengantuk.”


“Kau bisa tidur sebentar sampai Aras kembali.”


“Aras pergi?”


“Sepertinya begitu.”


“Baiklah kalau begitu.”


Baru saja Ty hendak menutup matanya kembali Aras muncul sudah keluar dari dalam gua sambil membawa kantung  yang menggembung. Ty tidak jadi tidur dan menatap Aras dengan kesal.


“Harusnya kau pergi lebih lama lagi,” gerutu Ty saat melihat Aras.


Aras menatap bingung Ty. Biasanya orang yang baru saja pulang akan disambut tapi Ty malah menyuruhnya untuk pergi lebih lama.


“Apa yang kau bawa?” tanyaku ketika Aras tiba.


Aras membuka kantung yang dia bawa. Kilau cahaya berwarna-warni muncul dari dalam kantung. Batu itu penuh dengan batu mulia.


“Untuk apa kau membawanya?”


“Kita tidak memiliki uang, Violet. Kita bisa menjual ini,” jawab Aras.


Ty ikut melongok ke dalam kantung. Dahinya berkerut melihat batu mulia di dalamnya.


“Kau tidak bisa menjual ini di Klan Hijau. Mereka tidak tertarik dengan hal seperti ini. Kau seharusnya menjualnya di Klan Biru,” kata Ty.


“Aku tahu. Tapi batu-batu ini tetap bisa digunakan di klan lain,” kata Aras. “Selain itu aku memiliki sesuatu untukmu, Ty.”


Aras merogoh ke dalam kantung. Tangannya kemudian keluar membawa sebuah batu berwarna hitam. Bagian pinggir batu itu sudah diasah tajam. Bentuknya terlihat seperti mata kapak.


“Wow! Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Ini sangat bagus dan tajam.” Ty meraih batu itu dari Aras.


“Batu apa itu?” tanyaku.


“Ini batu kendan. Ini sangat langka, Nona! Batu ini bisa menjadi mata kapak yang sangat bagus,” jawab Ty. Dia menunjukkan batu kendan yang mengkilat padaku.


“Baguslah kalau begitu,” ucapku.


Ty memandang batu kendan di tangannya dengan mata berbinar.


“Aku berencana menjadikan batu itu sebagai mata kapak untukmu,” kata Aras.


Mata Ty melebar. “Benarkah? Apa kau yakin? Tapi ini sangat langka!”


Aras mengangguk. “Aku juga sudah mendapat bahan-bahan lain untuk membuatnya.”


Aras mengeluarkan kayu dan tali yang terbuat dari serabut tanaman. Ty menyerahkan batu kendan yang dibawanya ke Aras.


Aras merakit kapak dengan cekatan. Tidak butuh waktu lama hingga sebuah kapak baru terbentuk.


“Nah, ini, Ty.” Aras memberikan kapak yang dirakitnya pada Ty.


Ty menerimanya ragu-ragu. Tapi begitu kedua tangannya menggenggam kapak barunya, senyum lebar mengembang di wajah Ty.


“Terima kasih, Aras!” seru Ty.


Ty tidak henti-hentinya mengagumi kapak barunya. Aras tersenyum puas melihatnya.


“Nona, lihat ini! Bukankah ini luar biasa?”


Aku ikut tersenyum senang.


“Setelah ini kau bisa latihan menggunakan kapak. Violet bisa melatihmu,” kata Aras.


“Benarkah?” Ty menatapku penuh antusias.


Aku mengangguk. “Tapi hati-hati saja. Aku sangat keras ketika melatih.”


Wajah Ty langsung berubah serius. “Tidak masalah. Aku akan latihan dengan sangat serius. Jadi, aku bisa melindungi, Nona.”


Ty mengakhiri ucapannya dengan senyuman lebar.


Aras membantu Ty memasangkan kapaknya di pinggang Ty. Ty berputar beberapa kali sambil menanyakan pendapatku tentang penampilannya.


“Bagaimana, Nona? Apa aku kelihatan bagus?”


“Cocok sekali.”


“Benarkah?”


“Ya. Kau terlihat sangat keren.”


Ty tersipu malu. Pipinya memerah. “Apa aku memang terlihat seperti itu?”


“Kau terlihat bagus dengan kapak itu. Jadi berhentilah bertanya. Kita harus segera melanjutkan perjalanan,” kata Aras.


“Baik! Baik!” Ty membalas Aras dengan ceria. Perasaannya sedang sangat bagus saat ini.


“Aku rasa kita bisa keluar lewat lubang di atas mata air panas,” kata Aras.


“Ide bagus.” Aku mendukung.


Kami berjalan menuju kolam sumber air panas. Uap air hari ini lebih tebal dari kemarin. Suasananya juga lebih panas. Kami berhenti di tepi kolam.


“Bersiaplah,” kata Aras.


Aku dan Ty mengangguk.


Tanah yang kami pijak mulai bergerak. Perlahan-lahan kami mulai naik ke permukaan. Ty terlihat serius. Dia mendengarkan perkataan Aras kali ini. Tubuhnya tetap kokoh ketika tanah bergerak. Aku tersenyum melihat perkembangannya.


Hembusan angin kencang yang menyambut kami pertama kali. Aku melihat sekitar. Kami sekarang berada di bagain atas ngarai, di salah satu tebing tertinggi. Kabut tebal menutupi bagian bawah ngarai.


Aku menghela napas sambil menatap ngarai yang tertutup kabut. Kabut tebal itu membuat kami kesulitan melihat keadaan di bawah.


“Bagaimana kalau kita melihat-lihat tebing ini dulu, Nona,” saran Ty.


“Benar. Tebing ini cukup luas untuk dijelajahi.” Aras mendukung.


Aku mengangguk setuju.


Aku melangkah mengikuti Aras. Ty berjalan di sampingku. Kabut tipis juga menutupi bagian atas ngarai. Kami hanya bisa melihat hingga beberapa meter di depan. Akan lebihm udah jika aku bisa menggunakan keistimewaanku sekarang. Tapi hingga saat ini keistimewaanku belum kembali. Padahal sudah lebih dari dua hari setelah wit menghisapku. Aku jadi agak khawatir.

__ADS_1


Aku menginjak rumput basah dengan resah. Tebing ini luas seperti tanah lapang yang berumput. Tapi jika tidak hati-hati, kami bisa terjatuh dari pinggir tebing karena kabut. Selain rumput dan tanaman kecil, tidak ada pohon lain di sini. Aku juga tidak melihat binatang. Ngarai ini seperti ngarai kematian, hampir tidak ada kehidupan, selain mawar gurun dan lebah raksasa yang kami temui kemarin.


Aku berhenti melangkah. Begitu pula dengan Aras. Ty menatap kami berdua dengan bingung.


“Ada apa, Nona?”


“Aku mencium bau aneh,” jawabku.


“Aku tidak mencium apapun,” kata Ty.


Aku mencium bau menyengat ketika kami berjalan. Baunya seperti bau burung. Tapi agak berbeda dan lebih bau, seperti bangkai. Jaraknya mungkin masih jauh karena baunya masih sangat samar sehingga Ty tidak bisa menciumnya. Bukan hanya bau itu yang membuatku terhenti. Aku juga merasakan bahaya bersama bau itu.


Aku dan Aras bertukar pandang. Dia juga mencium bau itu. Mata kami menatap tajam ke depan. Di balik kabut itu ada sesuatu yang berbahaya.


Tapi Ty malah berlari ke dalam kabut. Dia kemudian jatuh dan meringis kesakitan.


“Aduh! Aku sepertinya menabrak sesuatu.”


PYARR


Terdengar suara seperti barang pecah. Bau amis menguar. Sesaat aku dan Aras bertukar pandang. Kami lalu bergegas menghampiri Ty. Ketika kami makin dekat dengannya, bau tidak enak itu bertambah kuat.


Aku melihat tumpukan kayu di depan Ty. Aku rasa dia menabrak itu. Dari sela kayu, cairan berwarna bening dan kuning merembes keluar. Mataku mengikuti tinggi tumpukan kayu itu.


Napasku tercekat ketika melihat sosok hitam menjulang di balik tumpukan itu. Dia menatap kami dengan sangat marah. Aku segera menghunus pedangku. Aras juga bersiap bertarung.


NGIKKKK


Sosok hitam itu meringkik keras. Dia memiliki paruh yang panjang dan sayang yang lebar. Bentuknya seperti burung tapi tidak memiliki bulu. Dan tingginya tiga kali tinggiku.


“Pterosaurus!” pekik Ty.


Pterosaurus itu mengepakkan sayapnya. Dia menyerang kami dengan cakar besarnya.


Aras membuat tameng batu. Kami segera pergi sebelum pterosaurus itu menghancurkan pelindung kami.


Kami sangat tidak beruntung. Belum matahari juga terbit dengan sempurna, kami harus bertarung dengan binatang raksasa.


NGIKK


Pterosaurus itu mengejar kami. Dia berusaha menangkap kami dengan kakinya. Aku, Aras, dan Ty berlari ke sana ke mari menghindari injakan pterosaurus.


“Violet! Ty!” Aras memanggil.


Tangan Aras melambai kepada kami. Dia berada di tepi tebing. Aku dan Ty segera mendekati Aras.


“Kita akan turun lewat sini!” seru Aras.


Batas tebing sangat dekat dengan posisi kami. Hanya perlu berjalan beberapa meter dan kami sampai. Aku memegang lengan Ty kuat-kuat. Jika dia salah bergerak, dia bisa terjatuh. Kabut membuat batas tebing hampir tidak terlihat sama sekali.


“Kita turun.” Aras menghentakkan kakinya sekali dan tanah yang kami pijak mulai terpisah dan bergerak ke bawah.


NGIIKK


Pterosaurus itu tidak membiarkan kami lolos begitu saja. Dia meninggalkan tebing dan terbang ke arah kami. Paruhnya yang panjang terbuka, siap memakan kami.


TRANG


Aku memukul paruh Pterosaurus dengan keras hingga binatang itu jatuh mundur. Tapi Pterosaurus itu cepat bangkit dan mengepakkan kedua sayapnya yang sangat besar. Dia berteriak marah dan kembali kepada kami.


“Aras! Percepat kita turun!” seruku.


Aras membawa kami turun dengan sangat cepat. Dia memegangi Ty agar tidak terlempar dari tanah karena laju yang cepat. Pterosaurus itu terbang menukik ke arahku. Aku segera menghindar.


Pterosurus itu berbelok cepat menghindari tanah. Dia terbang memutar di langit ngarai. Dia kembali terbang cepat ke arah kami. Kali ini dia menukik ke arah Aras dan Ty. Aras menarik Ty menghindar. Sesaat tanah yang kami pijak terjatuh tanpa kendali. Tapi Aras berhasil mengendalikannya lagi.


Aras mempercepat laju tanah. Kami hampir tiba di dasar ngarai. Sungai besar membentang di bawah sana.


NGIKKK


Pretosaurus itu menukik tajam ke arah Aras. Aku tidak bisa membiarkan Aras dibawanya. Selain itu jika sampai Aras dibawa pergi aku dan Ty bisa terjun bebas ke sungai.  Seandainya kami betul-betul jatuh, aku masih bisa bertahan tapi aku tidak tahu dengan Ty.


Paruh Pterosaurus terbuka lebar. Awalnya aku kira dia hendak memakan Aras tapi ketika aku melihat posisinya yang berubah, aku sadar dia akan menangkap Aras dengan cakar di kakinya. Cakar kakinya sangat besar. Aku yakin tanah ini tidak akan cukup jika pterosaurus itu bertengger di sini.


“Awas!” seruku.


Aku menarik Aras yang berada di pinggir. Pterosaurus itu gagal mendapatkan Aras. Sialnya aku malah terlempar dari tanah yang dikendalikan Aras.


“Violet!” teriak Aras.


Tangan Aras berusaha meraihku. Aku terlempar terlalu jauh. Aku terjun bebas ke sungai. Tapi sesuatu yang kuat mencengkramku. Pterosaurus itu menangkapku dengan cakarnya sebelum aku jatuh. Dia membawaku terbang.


Aku mengayunkan pedangku ke kaki pterosaurus. Selama aku masih di atas sungai, tidak masalah jika pterosaurus ini menjatuhkanku dari ketinggian ini. Sebelumnya aku sudah jatuh berkali-kali ke laut. Jatuh dari pterosaurus tidak bisa dibandingkan dengan jatuh dari Klan Putih.


NGIKK


Aku berhasil merobek kaki pterosaurus. Dia mengerang kesakitan dan melepaskan cakarnya dariku. Binatang itu terbang menghilang dan aku jatuh ke dalam sungai.


Aku segera naik ke permukaan sungai dan berenang ke pinggir. Aras dan Ty sudah menungguku di sana. Mereka berdua tampak baik-baik saja. Meskpiun Ty terlihat sangat pucat dan khawatir. Dia langsung berlari menghampiriku


“Nona!” Ty memelukku sambil menangis. “Aku kira aku akan kehilanganmu.”


Aku menepuk kepala Ty dengan lembut. “Aku ada di sini, Ty.”


Aku melingkarkan tanganku dan balas memeluk Ty. Dia memelukku lebih erat.


Aras berdiri depanku. “Apa kau terluka?”


“Aku tidak apa-apa,” jawabku.


“Nona, kenapa kau selalu dalam bahaya seperti itu? Kemarin kau dihisap oleh wit dan sekarang kau baru saja dijatuhkan oleh pterosaurus ke sungai!” seru Ty. “Aku sangat khawatir.”


Aku memegang kedua bahu Ty dan mendorongnya pelan hingga dia melepaskan pelukannya dariku. Aku menunduk hingga mataku sejajar dengan matanya.


“Untuk ke depannya mungkin akan lebih berbahaya, Ty. Kau jangan terus khawatir padaku. Lebih baik kau memperkuat dirimu dan selalu mendengarkan perkataanku dan Aras,” kataku.


Ty mengangguk. Dia mengepalkan tangannya. “Aku akan menjadi lebih kuat agar bisa melindungi, Nona.”


Aku tersenyum. “Aku menunggunya.”


Aku mengangkat kepalaku, menatap Aras. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan.”


Aras mengangguk.


Kami kembali berjalan menelusuri ngarai menuju Desa Beringin. Awalnya kami berjalan melewati pinggir sungai tapi sungai itu kemudian berbelok ke arah yang bukan menjadi tujuan kami. Ngarai berbatu yang dikelilingi tebing adalah jalan yang kami tempuh sekarang.


Desa Beringin berada di Pegunungan Selatan. Aras mengatakan jika kita mungkin akan menemui satu atau dua desa sebelum tiba di Desa Beringin.


“Bagaimana kau tahu?” tanyaku pada Aras.


Ty saja tidak tahu jika ada desa di dekat Desa Beringin.


“Aku sering berkelana,” jawab Aras singkat. “Aku pernah beberapa kali melihat desa di sekitar sana. Meskipun jaraknya sebenarnya tidak bisa dikatakan dekat.”


Aku mengangguk mengerti.


Kami melewati ngarai dengan damai hingga kami menemukan bangkai dinosaurus. Tidak ada bau busuk yang tercium. Bangkai itu masih baru. Darah segar masih mengalir dari luka besar yang terbuka di bagian perutnya. Lukanya seperti luka gigit binatang. Tubuhnya koyak di banyak tempat.

__ADS_1


GROOO....


Terdengar auman binatang buas. Suaranya mendekati kami. Aku, Aras, dan Ty segera bersembunyi di celah tebing.


Tanah agak bergetar ketika pemilik suara itu semakin dekat. Aku sangat terkejut ketika melihat sosok dinosaurus yang sangat familiar. Tubuh tinggi dan besar dengan otot kaki yang kuat. Giginya tajam seperti mata pedang. Dan yang paling ikonik dari dinosaurus itu adalah dua tangan kecil yang dimilikinya.


“Tyrannosaurus!” pekikku pelan.


“Kau tahu dinosaurus itu?” Ty tampak tertarik karena aku mengetahui dinosaurus yang muncul dihadapan kami.


“Dia terkenal, Ty,” jawabku.


Tyrannosaurus sering muncul di buku-buku cerita Klan Ungu. Dibandingkan dinosaurus lain, Tyrannosaurus adalah yang paling terkenal. Bentuknya yang berbeda dan sifatnya yang buas membuatnya terkenal di Klan Ungu.


Tyrannosaurus itu sendiri. Mereka memang tidak hidup berkelompok. Dia menunuduk di atas bangkai dinosaurus dan mulai memakannya. Dia mengoyak makanannya menggunakan giginya yang tajam. Darah membasahi setengah wajahnya. Matanya masih terlihat awas selagi dia makan. Tyrannosaurus itu membuat kami tidak bisa keluar dari tempat persembunyian.


Hari ini sepertinya adalah hari tersial kami. Tadi pagi kami sudah diserang oleh pterosaurus. Dan sekarang kami bertemu dengan tyrannosaurus. Padahal matahari belum juga tepat berada di puncak.


Tyrannosaurus memiliki penciuman, penglihatan, dan pendengaran yang sangat tajam. Kami tidak bisa bergerak dengan gegabah. Kami sedang beruntung dinosaurus itu fokus dengan makanannya sehingga tidak mencium bau kami.


“Aku akan membuat gua lagi untuk kita lewat,” kata Aras.


“Kau yakin bisa melakukannya?” tanyaku. “Kau sudah memakai keistimewaanmu tiga hari berturut-turut.”


Aras sudah menggunakan keistimewaannya dari awal perjalanannya di Klan Hijau, bahkan dia membuat jurang besar dan gua yang yang sangat panjang. Energinya pasti terkuras habis.


“Aku masih kuat. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Aras. “Begitu guanya terbuka kita harus segera masuk sebelum Tyrannosaurus itu menyadarinya.”


Aras menyentuh dinding tebing. Dia menarik napas panjang tapi sebelum dia sempat membuka gua, aku merasakan kerikil menjatuhiku dari atas tebing.


Aku menengok ke atas. Tidak apa-apa di sana. Tapi kerikil-kerikil tetap berjatuhan dari atas tebing.


Tyrannosaurus itu juga menengok ke atas. Dia diam. Matanya tajam memandang ke atas tebing.


Aku merasakan ada sesuatu yang berlari ke tepi tebing dalam jumlah banyak. Sebuah kaki terlihat dari atas tebing.


GROOOO....


Tyrannosaurus itu mengaum keras kepada dinosaurus-dinosaurus yang turun dari atas tebing.


Aku spontan menarik Aras dan Ty keluar dari celah tebing selagi Tyrannosaurus itu fokus pada mereka. Tapi tyrannosaurus itu menyadari kami. Dia langsung mengejar kami. Tyrannosaurus itu leboh tertarik pada kami daripada dinosurus yang menuruni tebing dengan sangat cepat.


“Ada apa, Nona?” tanya Ty panik.


Aku menoleh mengecek apa sebenarnya turun dari atas tebing. Ty dan Aras juga menoleh. Sepuluh raptor menuruni tebing dengan cepat. Kaki mereka lincah menginjak bebatuan di tebing.


“Velociraptor?!” Ty berseru kaget.


Sepuluh velociraptor itu berlari di belakang tyrannosaurus. Entah siapa yang dikejar mereka. Kami atau tyrannosaurus.


Velociraptor meloncat ke tubuh Tyrannosaurus dan menyerangnya. Tyrannosaurus itu meraung marah. Dia menggoyangkan seluruh badannya agar veliciraptor itu jatuh. Beberapa diantara mereka berjatuhan membentur tanah.


“Kita harus cepat pergi selagi mereka bertarung,” kataku sambil berlari.


Aku, Aras, dan Ty berlari menjahui pertarungan antar dinosaurus buas itu. Suara pertarungan dan lolongan mereka bergema di ngarai. Ty terlihat takut. Dia menoleh ke belakang beberapa kali.


“Ty, fokus saja berlari!” kata Aras.


Ty kembali menghadap depan. Dia berlari. Bibirnya mengatup rapat.


GROOO...


Raungan Tyrannosaurus menggema sangat keras. Setelah teriakan keras itu, tersengar suara langkah kaki yang sangat besar.


Tyrannosaurus berlari cepat di belakang kami. Tubuhnya penuh luka cakar. Tapi dia tetap berlari mengejar kami.


Aras mendirikan benteng besar yang menutupi jalan ngarai. Tyranosaurus itu menabraknya. Dinding itu terlalu tinggi untuk dia lewati. Berkali-kali dia membenturkan dirinya untuk menghancurkan dinding itu. Tapi dinding itu terlalu keras dan tebal untuk dia hancurkan.


Kami kira kami bisa lega. Ketika kami melambatkan langkah kami. Tyrannosaurus itu melolong. Di sela lolongannya yang keras, terdengar suara ringkikan velociraptor. Dua dinosaurus itu bertarung di balik dinding.


Tyrannosaurus dapat berlari cepat menyusul kami. Tapi tubuhnya yang besar membuat kami aman bersembunyi di celah sempit.


Berbeda lagi dengan velociraptor. Tubuh mereka jauh lebih kecil. Mereka sangat gesit dan terkoordinasi dalam menyerang. Indera mereka juga sangat sensitif. Sekali mereka menaruh perhatiannya pada kami, kami akan kesulitan lepas dari mereka. Velociraptor jauh lebih unggul daripada Tyrannosaurus dalam hal berburu.


Tidak ada menang atau kalah di pertarungan mereka. Velociraptor itu lebih tertarik dengan kami. Mereka hanya bertarung sekedar untuk melewati tyrannosaurus. Dengan cepat sepuluh velociraptor itu muncul di atas dinding.


Aku sekali lagi menoleh ke belakang. Sepuluh velociraptor itu menuruni dinding dengan lincah. Langkah mereka besar dan cepat.


“Mereka datang.” Aku memberitahu.


Velociraptor itu membentuk formasi. Tiga velociraptor berlari di masing-masing dinding tebing. Kecepatan yang besar ketika mereka berlari membuat mereka bisa berlari di dinding tebing. Empat lainnya membentuk formasi segitiga di belakang.


Aras memperhatikan sekitar. Enam velociraptor yang berlari di dinding sudah sejajar dengan kami.


“Pegang tanganku!” seru Aras.


Aku dan Ty meraih tangan Aras. Begitu kami berpegangan padanya, tanah yang kami pijak terangkat dan melesat cepat meninggalkan sepuluh velociraptor itu. Tapi rupanya sepuluh velociraptor itu belum menggunakan seluruh kemampuan mereka. Mereka mempercepat langkah mereka dan hampir menyusul kami.


“Binatang menyusahkan,” gumam Aras.


Aras menambah kecepatannya. Kami bergerak semakin cepat. Jalan yang kami lewati ternyata buntu. Di depan kami tebing menjulang tinggi menutup jalan.


“Baiklah.” Aras menyeringai melihat tebing di depannya.


BRAKK


Tanah yang kami pijak berganti arah menaiki tebing. Awalnya velociraptor itu berhasil mengikuti kami hingga tengah tebing. Tapi Aras menjatuhkan batu-batu besar pada mereka hingga mereka berjatuhan dari dinding tebing.


Kami bertiga tiba di atas tebing dengan selamat. Napas kami terengah. Aku menengok ke bawah. Velociraptor itu masih berusaha naik ke atas sini tapi mereka hanya mampu hingga tengah tebing.


“Nona!” Ty memanggilku dengan panik. Dia sedang mengusap punggung Aras.


“Ugh.. Uhuk..” Aras terbatuk di belakangku. Dia berlutut sambil menutup mulutnya.


Aku segera menghampiri mereka berdua.


“Nona! Aras...” Ty menatapku panik.


“Astaga,” gumamku.


Aras batuk darah. Darah keluar banyak sekali dari mulutnya. Tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat. Keadaannya mrmbruk karena energi obsidian dalam dirinya terkuras habis. Dia terlalu banyak menggunakan keistimewaannya. Apalagi dia sekarang tidak berada di klannya sendiri. Ketika pemilik galur murni berada di klan asing, energi mereka akan lebih cepat terkuras. Sekarang Aras sudah mencapai batasnya.


Aku meraih tubuh Aras dan menyandarkannya di bahuku. Aku menyeka darah di mulutnya dengan jubahku. Melihatnya dalam keadaan seperti ini membuatku sedih dan khawatir. Tapi aku berusaha bersikap tenang di depannya.


“Violet,” bisik Aras.


“Ya?”


Aras tidak mengucapkan sepatah katapun. Tapi dia menatapku. Matanya terlihat cemas.


Aku tersenyum kepadanya. Aku menyingkirkan rambut yang menutupi matanya sambil mengusap wajahnya pelan.


“Tidak apa-apa. Kita sudah berhasil. Terima kasih.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2