Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 40


__ADS_3

“Ty, apa cincin itu milikmu?” tanyaku sambil menunjuk cincin Zamrud di jarinya.


Selagi kami sarapan, aku menanyakan cincin Zamrud pada Ty.


Ty mengangkat tangannya sambil memperhatikan cincin yang dipakainya.


“Bukan. Aku juga heran kenapa cincin ini tiba-tiba ada di jariku. Padahal setahuku cincin ini sudah hilang sejak lama,” jawab Ty.


Aku terperanjat. “Kau tahu cincin ini milik siapa?”


Ty mengangguk. “Cincin ini milik ayahku tapi cincin ini sudah hilang sejak lama.”


Aku tambah - tambah terkejut. Begitu pula dengan Aras. Ada kemungkinan Ty memiliki hubungan darah dengan Arnold. Jangan-jangan mereka adalah anak dan ayah.


“Ayahmu bernama Arnold?” Aku bertanya dengan hati-hati. Ty bilang hubungannya dengan keluarganya tidak terlalu baik. Pertanyaan tentang keluarganya bisa menjadi hal yang sensitif baginya.


Dahi Ty mengerut. Dia menggeleng. “Arnold adalah nama salah satu bawahan ayahku.”


Aku tambah bertanya-tanya.


Bawahan? Siapa sebenarnya ayah Ty? pikirku.


“Mungkinkah ayahmu adalah pemimpin Klan Hijau? Kepala Desa Jati, Ziben, Durio Zibenthus?” Aras menebak.


Ty mengangguk.


“Pemimpin Klan Hijau?!” Aku berseru kaget.


Aku menyibak rambutku ke belakang. Aku sangat terkejut mengetahui Ty adalah anak dari pemimpin Klan Hijau. Pepohonan di daerah kekuasaan ayah Ty bergoyang pelan. Rasa gelisah tiba-tiba muncul dalam benakku.


“Aku dalam masalah besar menjadikan anak pemimpin Klan Hijau menjadi pelayanku,” gumamku.


Ty segera melambaikan tangannya. “Tidak.. Tidak. Ayahku tidak akan melakukan apapun pada Nona. Seandainya dia ingin menghukum Nona, aku tidak akan membiarkannya.”


Aku harap begitu, batinku.


Ty beralih ke Aras. “Bagaimana kau tahu ayahku?”


Aras menyilangkan kedua tangannya. “Ayahmu adalah kenalanku.”


Ty menatap curiga laki-laki Klan Hitam di depannya. Tapi dia tidak mengajukan pertanyaan lagi.


“Apa kau tahu cincin apa yang kau pakai itu?” tanya Aras.


Ty tidak langsung menjawab. “Aku tidak bisa mempercayai orang asing sepertimu. Tapi aku yakin kau juga tahu cincin apa ini karena kau adalah kenalan ayahku.”


Aras dan Ty saling bertatapan.


“Lalu bagaimana bisa cincin itu ada padamu? Kau bilang cincin itu hilang, kan?” tanya Aras.


“Sudah kubilang aku tidak tahu. Cincin ini sudah hilang sekitar dua tahun yang lalu.”


“Kami bertemu Arnold di Titanic dan dia memakai cincin itu. Kami kira kalian memiliki hubungan,” kataku.


“Aku hanya sebatas tahu jika dia adalah bawahan ayahku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan cincin ini. Aku tidak dekat dengan Ayah jadi aku tidak tahu banyak tentang cincin ini.”


“Seberapa banyak yang kau tahu dari cincin itu?” tanyaku.


“Ini adalah cincin Zamrud. Permata di cincin ini terbuat dari pecahan Zamrud. Ada dongeng yang terkenal di Klan Hijau tentang Zamrud. Dulu ribuan tahun yang lalu Zamrud adalah permata klan yang sangat besar paling besar dan terkuat di antara enam permata klan lain. Tapi Zamrud tiba-tiba pecah menjadi beberapa lima bagian. Zamrud di cincin ini adalah bagian terkecilnya.”


“Lalu bagaimana dengan empat bagian lain?” tanyaku.


“Tiga pecahan Zamrud ada di Klan Hijau. Yang pertama adalah cincin ini. Kedua di Desa Jati, disimpan oleh kepala desa di sana. Dan yang ketiga berada di desa tertua di Klan Hijau, Desa Beringin. Dua lainnya tidak diketahui dimana.”


Aku mengangguk mengerti.


“Nona, boleh aku bertanya?” Ty menatapku.


“Tanyakan saja.”


“Apa kalian mengincar Zamrud? Maaf Nona jika aku lancang tapi sebagai manusia Klan Hijau, aku pikir aku berhak mengetahuinya.”


Aku melirik Aras. Aras balas menatapku. Misi kami adalah misi rahasia yang besar. Kami bahkan tidak memberi tahu Ludwig sedikitpun tentang misi kami, meskipun dia sudah sangat membantu kami.


Wajah Aras menunjukkan jawaban, “Terserah padamu. Aku mengikutimu.”


“Apa kau akan menghalangi kami jika kami mengincar Zamrud?” Aku menatap Ty tajam.


Ty menggeleng. “Aku adalah pelayan Nona. Aku akan melaksanakan apa yang Nona perintahkan padaku. Aku akan selalu mengikuti Nona.”


“Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan? Zamrud adalah hal penting bagi Klan Hijau. Kau membiarkan klan lain mengambilnya?” Aras ganti menatap Ty tajam.


“Aku adalah milik Nona.”


Aras menghela napas. “Kau seharusnya mengingatkan majikanmu jika majikanmu berbuat salah. Itu tugasmu sebagai pelayan yang baik.”


“Bukankah itu berkhianat?” Ty bingung.


“Selama kau tidak berbalik menyerangnya, kau tidak berkhianat,” jawab Aras.


“Tapi aku yakin Nona Violet tidak berbuat sesuatu yang buruk,” ujar Ty.


“Yah, kau benar.” Aku mengangguk setuju. “Kalau begitu, Ty, apa kau mau memberikan cincin itu padaku.”


Ty mengangguk. Dia melepaskan cincin Zamrud dan menyerahkannya padaku.


Aku menerima cincin itu dari Ty. Ketika aku memakainya, aku tidak merasakan energi apapun yang berefek buruk padaku.


“Kau bisa mempercayakan cincin ini padaku, Ty,” kataku.


“Baik, Nona. Aku percaya pada Nona.”


Tanpa sadar sarapan kami sudah habis bersama obrolan serius barusan.


“Jadi, Nona. Kemana kita akan pergi? Mencari teman-temanmu?” tanya Ty.


Aku diam berpikir. Aku dan Aras sudah mengetahui letak Zamrud lain. Di sisi lain Ichi juga sudah mendapatkan Zamrud dari pelelangan. Aku tidak tahu apakah kami memerlukan pecahan Zamrud lain atau tidak tapi aku cukup yakin kami tidak memerlukannya. Aku rasa lebih baik kami mencari Ichi, Bara, Ryza, dan Tiha.


“Mungkin sekarang kita bisa mencari teman-temanku,” jawabku.


“Tidak. Lebih baik kita mencari pecahan Zamrud lain,” tolak Aras.


Aku dan Ty menoleh kepada Aras.


“Hey, kau tidak dengar Nona bilang apa?” Ty melirik sinis Aras.


Aras tidak menghiraukan Ty. “Ichi tidak membawa Zamrud bersamanya.”


Aku terbelalak. “Bukannya dia berhasil mendapatkannya?”


“Entahlah.”


Aku menggigit bibir dengan khawatir. Rasa bersalah menyelimutiku. Azuro dan Ludwig sudah banyak membantu kami untuk mendapatkan Zamrud tapi kami tidak berhasil mendapatkannya.


Seharusnya aku tidak tertangkap basah oleh Arnold. Kalau aku lebih bekerja keras saat itu, kami pasti bisa mendapatkan Zamrud, pikirku.


Aku tersentak ketika Aras menepuk bahuku.


“Kita masih memiliki kesempatan lain untuk mendapatkan Zamrud. Kita juga mendapat banyak informasi di Titanic. Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” kata Aras seolah mengetahui pikiranku.


Aku mengangguk lesu.


“Ty, kau bisa menunjukkan kepada kami jalan ke Desa Beringin?” tanya Aras.


Ty mengangguk. “Tapi jarak ke sana sangat jauh dari sini. Mungkin dua sampai empat minggu baru sampai di sana.”

__ADS_1


Aku terdiam sejenak mendengar percakapan Ty dan Aras. Setelah bertemu dengan Aras, aku terlalu fokus pada misi hingga lupa jika pada awalnya aku akan mengantar Ty ke keluarganya. Beruntung tujuan kami sekarang menuju ke Desa Beringin. Kami bisa mendapatkan Zamrud dan Ty bisa bertemu pamannya.


“Kalau begitu kita harus bergegas ke sana,” kata Aras yang diikuti anggukanku dan Ty.


*****


Perjalanan kami bertiga menuju Desa Beringin berjalan lancar. Ty tidak kelelahan seperti sebelumnya. Setelah Aras mengobatinya, dia tampak lebih kuat. Aras juga terlihat tidak terganggu dengan sakitnya. Tidak ada wit yang menyerang kami juga.


Klan Hijau memang luar biasa. Pepohonan di hutan menjulang tinggi dengan lingkar pohon yang sangat besar. Butuh sepuluh orang untuk memeluk satu pohon. Tumbuhan-tumbuhan yang langka ataupun sudah punah di klanku tumbuh sumbur di sini. Mereka lebih beragam dan sangat cantik. Mataku dimanjakan oleh warna warni bunga yang mekar. Bau bunga-bunga itu sangat harum dan manis. Aku tidak heran ketika melihat lebah sebesar kepalaku sedang hinggap di salah satu bunga.


Selain tumbuhan langka, banyak tumbuhan yang tidak pernah aku lihat. Aku yakin tidak ada di klan manapun yang memiliki tanaman dimana bunganya berpendar keemasan dan menjatuhkan bubuk emas setiap kali bergoyang.


Binatang-binatang di sini pun tidak ada yang pernah aku lihat sebelumnya. Mereka tampak asing dan membuatku penasaran. Aku sudah mengunjungi banyak daerah di Klan Ungu. Aku menemukan banyak hal unik atau tidak biasa di beberapa tempat. Itu membuatku terkadang merasa bosan karena sudah lebih dulu tahu daripada orang lain. Tapi setelah melihat Klan Hijau ini, aku sadar ternyata duniaku masih sempit. Masih banyak hal di luar sana yang belum aku ketahui. Misi ini mungkin akan menjadi sesuatu yang paling berpengaruh pada hidupku nanti.


“Kita sebentar lagi akan sampai di padang rumput,” kata Ty.


Aku bisa mencium bau rumput segar yang terbawa oleh angin. Aku juga mendengar berbagai suara binatang dari arah padang rumput. Aku sudah tidak sabar melihat pemandangan yang ada di depanku.


Ty menunjukkan padang rumput hijau yang terbentang sangat luas. Di tengah-tengah padang rumput itu terdapat danau yang penuh berbagai binatang di tepiannya.


“Tempat ini adalah tempat yang sangat cocok untuk beristirahat.”


Air danau itu terlihat sangat biru. Pemandangan yang amat mengagumkan. Tapi bukan itu yang membuatku paling terkejut.


“Dinosaurus?!” pekikku.


Pandanganku tidak bisa lepas dari sebuah dinosaurus berleher panjang yang sangat besar. Tanah yang aku pijak bergetar setiap dinosaurus itu menghentakkan kakinya.


“Apa kau tidak pernah melihat dinosaurus, Nona? Apa di Klan Ungu tidak ada?” tanya Ty.


“Tentu saja tidak ada!” seruku.


Selain dinosaurus berleher panjang, ada juga dinosaurus berukuran lebih kecil dengan tanduk besar di hidungnya dengan hiasan seperti bunga mekar di pangkal kepalanya. Mereka sedang bersenang-senang di pinggir danau.


Sekawan bangau putih berenang agak jauh dari para dinosaurus. Beberapa dari mereka menyelinap di antara para dinosaurus. Seekor bayi dinosaurus tampak tertarik dengan para bangau. Dia berlari mendekati kawanan bangau yang sedang berenang. Alhasil, kawanan bangau yang jumlahnya ribuan ekor itu terbang, membentuk pemandangan yang mengagumkan. Aku, Ty, dan Aras sama-sama takjub dengan ribuan bangau yang terbang di atas kami.


“Hebat! Bahkan ada dinosaurus di Klan Hijau.” Aku tidak bisa berhenti kagum.


“Mereka binatang yang sering ditemui di Klan Hijau. Aku tidak tahu jika di Klan Ungu tidak ada dinosaurus. Di Klan Hitam pasti ada dinosaurus juga, kan? Kau tidak terkejut ketika melihatnya.” Ty menatap Aras.


“Di Klan Hitam tidak ada dinosaurus,” jawab Aras.


“Eh?!” pekik Ty. “Bukannya dinosaurus itu ada di semua klan?”


“Tidak ada klan lain selain Klan Hijau yang memiliki dinosaurus. Di klan lain, dinosaurus sudah mati sejak jutaan tahun lalu. Lingkungan Klan Hijau sangat bagus bagi mereka. Jadi mereka bisa hidup di sini sejak zaman dahulu.” Aras menjelaskan.


"Pantas saja aku tidak melihat satu ekor pun dinosaurus di Klan Biru. Aku kira mereka hanya bisa ditemui di tempat tertentu. Ternyata memang tidak ada.” Ty baru mengerti kenapa dia tidak melihat dinosaurus di klan lain.


Aku, Aras, dan Ty memutuskan untuk beristirahat di padang rumput. Kami duduk tak jauh dari para dinosaurus. Matahari bersinar cerah. Langit tampak cantik dengan warna biru cerahnya yang tidak tertutup awan. Angin sejuk yang berhembus lembut membuat tempat ini serasa sempurna


Kami makan siang sambil memandang para binatang yang bermain di danau. Suasananya terasa damai dan menyenangkan. Rasanya kami sekarang sedang berpiknik di musim panas.


“Nona, dinosaurus yang berleher panjang itu namanya brontosaurus.”


“Kalau yang mirip badak itu Triceratops. Ah, Nona tahu badak, kan? Itu, lho, binatang berkulit tebal yang memiliki tanduk di hidung mereka.”


“Kalau yang itu...”


Ty bersemangat menjelaskan berbagai binatang yang ada di sekitar danau padaku. Matanya berbinar setiap menceritakan mereka. Aku terus tersenyum sambil menanggapi Ty. Aku senang melihatnya bersemangat seperti ini.


“Nona, aku ingin melihat mereka dari dekat!” Ty menunjuk kawanan brontosaurus.


“Baiklah. Hati-hati. Jangan sampai kau terinjak,” jawabku.


“Tenang saja. Aku sudah sering bermain dengan dinosaurus.” Ty menepuk dadanya.


Ty berlari menuju danau. Dia sengaja memutar jalan melewati kawanan burung. Dia membuat semua burung itu terbang berhamburan karena terkejut dengan kehadirannya. Aku tertawa melihat kelakuan nakalnya.


Tanpa aku sadari, Aras sudah memperhatikanku dari tadi. Dia menatapku sambil tersenyum.


“Kau tampak senang,” ucap Aras.


Aras mengangguk setuju.


“Kau juga terlihat menikmatinya.” Aku melihat rona kemerahan di wajah Aras.


“Tentu saja. Aku senang bisa piknik denganmu lagi.” Aras menjawab sambil tersenyum lebar.


Selama menjalankan misi aku belum pernah melihatnya tersenyum selebar itu. Aku terakhir kali melihatnya tersenyum seperti itu ketika kami masih kecil. Aku jadi sedikit rindu saat-saat kami masih kecil.


Ctakk


“Ah!” Aku memekik terkejut.


Aku menyentuh dahiku yang terasa panas. Aras baru saja menjentik dahiku.


“Apa yang kau pikirkan sampai seorang Ksatria Bintang tidak menyadari kalau aku akan menjentik dahinya?”


Aras berusaha menjentik dahiku lagi tapi aku lebih cepat bereaksi sehingga dia gagal melakukannya.


“Sakit tahu!”


“Eh, benarkah? Coba aku lihat.”


Belum sempat aku bereaksi, Aras sudah memegang tanganku dan menyingkirkannya dari dahiku. Dia mengusap dahiku dengan lembut.


“Nah, sudah sembuh.”


Aku bisa merasakan wajahku memanas. Aku merasa sangat malu hingga tidak bisa bergerak.


“Eh? Kenapa wajahmu memerah? Apa kau merasa kepanasan dengan cuacanya?” Aras bergegas duduk di depanku, menghalangiku dari cahaya matahari. Tapi dia tersenyum puas melihat wajahku yang memerah.


“Menyingkir kau!” Aku mendorong Aras dari hadapanku.


Aku mendorong Aras dengan kencang hingga dia terjungkal ke belakang.


“Astaga, aku memang seharusnya hati-hati dengan manusia Klan Ungu. Mereka kuat sekali.” Aras berbicara seolah-olah menyadari kecerobahannya tapi dia mulai menertawakanku.


Aku memalingkan wajahku dari Aras. Dia benar-benar menyebalkan. Tiba-tiba saja dia menggodaku seperti itu. Rasanya malu sekali.


“Jadi, apa yang kau pikirkan?” tanya Aras sekali lagi. Dia sudah berhenti menertawakanku.


Aku tidak menjawab. Aku masih sangat kesal dengannya.


Aras menepuk kepalaku. “Jangan memikirkan hal yang merepotkan. Kau harus menikmati piknik kecil di sela-sela misi kita. Ini kesempatan yang langka, kan?”


Wajahku mungkin terlihat terlalu menyedihkan sampai Aras bisa menyadarinya. Aku menghela napas. Lalu mengangguk kepada Aras.


Aras tersenyum dan duduk di sampingku. Kami duduk bersampingan sambil mengawasi Ty yang berlarian mengejar brontosaurus yang sedang berjalan lambat.


“Aku rasa Ty sangat menyukaimu,” kata Aras.


“Yah, sepertinya begitu.”


“Aku tidak percaya kau menjadikan anak kecil sebagai pelayanmu.” Aras menggodaku lagi.


“Bukan aku yang menginginkannya!” teriakku.


Aras tertawa kecil. “Iya. Iya. Aku tahu.”


Aku mendengus kesal. Sampai kapan dia ingin menggodaku seperti itu.


“Tapi aku sangat terkejut. Ty sampai bersumpah padamu untuk menjadi pelayannya. Apa kalian benar-benar melakukan sumpah itu? Sumpah Klan Ungu bukan sumpah biasa, kan?”


“Tentu saja kami tidak melakukannya. Bisa-bisa dia malah menjadi manusia Klan Ungu atau malah menjadi blaster. Aku hanya melakukan sumpah yang sedikit mirip karena aku bingung bagaimana cara menerimanya sebagi pelayan.”

__ADS_1


“Pantas saja dia masih manusia Klan Hijau.”


Sebuah angin besar tiba-tiba berhembus dari arah danau. Aku dan Aras menatap danau yang mulai berombak dengan waspada. Aku menyiapkan pedangku. Binatang-binatang tampak tegang. Ty juga terdiam memandang danau.


Gemuruh besar terdengar dari seberang danau. Binatang-binatang berlarian panik.


“Ty!” seruku.


Ty berada di tengah kawanan binatang. Dia bisa terinjak oleh para binatang yang ketakutan. Ty berlari ke arahku dan Aras. Tapi dia kalah cepat dengan para dinosaurus yang memiliki langkah besar. Kaki besar seekor brontosaurus berada tepat di atasnya.


“Ty!”


Tanah di sekitar Ty naik, melindunginya dari injakan brontosaurus. Aras bergerak cepat menuju Ty. Aras berhasil membawa Ty pergi tepat sebelum kaki brontosaurus lain menginjak Ty. Wajah Ty terlihat sangat pucat ketika tiba.


“Ty, kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir.


Ty mengangguk.


“Apa itu sebenarnya? Wit?” Aras menatap bayangan hitam besar yang bergerak cepat menyeberangi danau.


Wit dengan ukuran luar biasa besar kembali muncul. Dia bergerak lebih cepat daripada wit yang aku temui sebelumnya. Wit itu bahkan terlihat sangat mudah menyeberangi tengah danau yang dalam.


“Lari!” seru Aras.


Aku dan Ty mengikuti Aras berlari. Kami berlari berlawanan arah dengan dari arah kabur binatang-binatang dari danau. Kami bisa terinjak mereka jika mengikuti mereka. Selain itu lebih mudah berlari tanpa penghalang para binatang.


Wit sudah hampir tiba di tepi danau. Dia mulai berbelok. Daripada mengejar kawanan binatang yang jumlahnya ribuan, dia lebih memilih arah yang kami lewati.


“Sial!” gumam Aras.


Wit lebih memilih manusia Klan Hijau untuk dimangsanya daripada binatang-binatang itu. Apalagi di sini ada Zamrud dan dua pemilik galur murni. Kami pasti terlihat seperti makanan yang sangat lezat di matanya.


Aku, Aras, dan Ty berlari ke arah pegunungan. Tidak ada pepohonan besar yang bisa menutupi kami dari wit. Tempat ini adalah pegunungan padang rumput. Kami bisa melihat dengan jelas jika wit sudah sangat dekat dengan kami. Sulur-sulur pohonnya bergelayutan berusaha meraih kami.


Aras tiba-tiba berhenti berlari. Dia berdiri menghadap wit yang jaraknya kurang dari lima ratus meter. Aku dan Ty ikut berhenti.


“Ty, tunggu di sini. Perhatikan sekitarmu! Jangan sampai lengah!” pesanku.


Aku berlari mendekati Aras. Pedangku sudah siap di posisinya. Wit itu semakin dekat. Jaraknya mungkin hanya seratus meter. Saat itu juga Aras memukul tanah.


Tanah di bawah wit itu terbelah. Wit terlihat panik. Dia berusaha meraih pinggiran jurang yang dibuat Aras dengan sulur-sulurnya.


SLASH


Aku memotong sebuah sulur yang berusaha menyerang Aras.


“Terima kasih,” ujar Aras.


“Kau berkonsentrasi saja untuk memperbesar jurang itu,” jawabku tanpa berpaling dari wit.


Sulur-sulur wit itu kembali berdatangan. Wit ini pasti cukup pintar. Selain berusaha mempertahankan diri agar tidak terjatuh, dia juga menyerang orang yang membuatnya dalam masalah.


Aku mengayunkan pedangku kesana kemari. Sulur-sulur ini berusaha menyerang Aras dari berbagai arah. Aku menebas dengan cepat sebelum sulur-sulur lain datang. Beruntung wit kali ini tidak memiliki regenerasi yang cepat seperti wit sebelumnya.


Aku mulai mengungguli pertarungan dengan sulur-sulur wit. Aku bisa menebas mereka lebih cepat dari kecepatan mereka untuk menyerang. Aku berhasil menjauhkan mereka dari Aras.


Jurang yang dibuat Aras sangat besar. Tapi wit itu sudah menancapkan sulur-sulurnya di tebing. Sebesar apapun jurang yang dibuat Aras, wit itu masih bisa bertahan.


Aku berlari menuju wit. Aku menebas semua sulur yang menghalangiku. Aku meloncat menaiki wit kemudian menebas setiap sulur yang menancap di tebing. Wit ini tidak diam saja. Dia segera menancapkan sulur-sulur lain  setelah aku menebas sulurnya. Dia juga mengirimkan sulur lain untuk menyerangku.


Meskipun begitu, pergerakanku lebih cepat daripada wit. Aku berhasil memotong seluruh yang menempel di tebing bagian utara. Aku segera berpindah tempat sebelum sisi utara wit terjatuh. Sama seperti sebelumnya, aku menebas bagain selatan wit dengan cepat.


SRTT....


Sebuah sulur menyerangku dari belakang ketika aku sedang menghadapi empat sulur di depanku.


BRAKK


Sebuah batu menabrak sulur di belakangku. Sulur itu hancur menabrak tebing. Aras menolongku. Dia sudah berhenti melebarkan jurang. Di sekitarnya sekarang, puluhan batu mengambang di bawah kuasa Aras.


Aku segera berpindah dari tubuh wit ke pinggir jurang. Aras mengayunkan tangannya ke arah wit. Saat itu juga puluhan batu itu melesat dengan kecepatan tinggi menghantam wit. Aras tidak hanya menyerang bagian bawah wit, dia juga menyerang bagian atas wit yang menjulang lima puluh meter di atas kami.


Aku menjauh dari jurang. Batu-batu besar terus menghantam wit dengan kuat hingga pinggiran jurang mulai longsor. Kepulan debu tebal mengganggu penglihatanku. Tapi aku masih bisa melihat jejak sebuah sulur yang melesat dari kumpulan debu. Aku meloncat menghindar. Namun, tindakanku ternyata sangat tidak tepat. Sebuah sulur tiba-tiba muncul dari atas ketika aku meloncat. Sulur itu berhasil melilitku sebelum aku memotongnya.


“Ugh!” Aku merasakan panas di sekujur tubuhku yang bersentuhan dengan sulur wit.


Wit membawaku naik ke atas. Sulurnya mencengkramku dengan sangat kuat. Setiap aku bergerak, sulur ini bertambah kuat mencengkramku.


BRAKKKK


Wit mulai roboh. Perlahan-lahan dia mulai terjatuh ke dalam jurang. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman sulurnya. Aku tidak mau ikut jatuh bersamanya ke dalam jurang.


SLASHH


Aras muncul dari balik kepulan debu dan memotong sulur yang mengikatku. Dia lalu membawaku mendarat ke tebing. Wit jatuh ke dasar jurang dan berakhir dengan suara dentuman yang sangat keras.


Aras menurunkanku dari gendongannya. Dia mengarahkan tangannya ke jurang. Jurang itu perlahan mulai menutup. Aku bisa mendengar suara kayu yang hancur terhimpit ketika jurang itu tertutup.


Aras berlari mendekatiku. Wajahnya terlihat khawatir ketika dia menatapku dari dekat.


“Kau terluka.”


Aras menyibak rambutku yang menutupi leher. Leher dan bahuku memerah dan terasa perih ketika Aras menyentuhnya. Tidak hanya leher dan bahu, bagian tubuhku yang tadi bersentuhan dengan wit memerah.


Ty yang tadinya berada di seberang jurang bergegas menghampirku dan Aras. Dia juga terlihat khawatir. Dia sangat terkejut ketika melihat kulitku yang kemerahan.


“Astaga, Nona!” Ty meraih tanganku yang memerah dengan hati-hati.


“Kau diserap wit.” Ty melihat tanganku dengan wajah sedih.


“Aku tidak apa-apa. Ini hanya terasa sedikit perih.” Aku menenangkan Ty dan Aras.


Aras dan Ty mendesah. Keduanya tidak tampak baik.


Kami memutuskan untuk duduk sejenak di tengah padang rumput. Aras mengobatiku dengan pereda nyeri yang sudah dia buat sebelumnya. Dia mengoleskan cairan ungu itu ke kulitku yang kemerahan.


“Nona...” Ty memanggilku lirih.


Ty sangat ketakutan ketika wit melilitku. Dia pernah melihat manusia Klan Hijau terlilit oleh sulur wit. Dalam sekejap mata, manusia Klan Hijau itu mati kering. Ty takjub sekaligus lega ketika melihatku masih hidup setelah dililit wit. Tapi dia sangat cemas karena aku terlilit sulur wit cukup lama.


“Apa kau merasa lemas?” tanya Aras padaku.


Aku mengangguk. Setelah Aras melepaskanku dari lilitan wit, aku merasa energiku banyak terkuras. Pandanganku juga buram. Sekarang sudah lebih baik tapi jejak yang biasanya selalu aku lihat, timbul dan tenggelam. Aku mencoba untuk fokus tapi jejak itu terkadang menghilang dari pandanganku.


"Wit menyerap energimu. Beruntung kau adalah pemilik galur murni Klan Ungu. Kau miliki daya tahan fisik dan energi yang besar. Tapi kau akan lemas beberapa saat. Keistimewaanmu mungkin  juga tidak akan berfungsi dengan baik.” Aras menjelaskan.


Aku mengangguk mengerti.


“Aras, apa kita akan melanjutkan perjalanan?” tanya Ty.


Aras menengok ke sekitar. “Aku akan mencari tempat istirahat. Kau di sini saja. Tolong jaga Violet.”


“Baik.” Ty mengangguk.


Aras kemudian melesat pergi.


 


 


 


 


Bonus:

__ADS_1



ORYZA SATIVA


__ADS_2