
“Aku tidak menduga kau benar-benar ke sini.”
Aku dan Ty tersentak. Aku menoleh ke arah suara. Di belakangku dan Ty, Arnold dan dua pengikutnya berdiri, Cyperus dan Rotundus, menatap kami.
Aku menyerahkan coco de mer pada Ty. Aku menyiapkan belati. Ty mengeluarkan kapaknya.
“Jika kau datang mengambil coco de mer, artinya Raja Aras masih hidup, kan? Padahal aku kira dia sudah mati karena kehabisan darah,” kata Arnold.
Aku meremas gagang belati. Berani-beraninya dia berkata seperti itu.
“Ty, pergi dari sini,” perintahku.
“Tapi Nona–”
“Kau harus segera membawa pergi coco de mer itu. Aras membutuhkannya.”
“Hey! Hey! Apa kalian berencana membawa coco de mer itu pergi? Asal kalian tahu, aku tidak akan membiarkannya,” seru Arnold.
Aku berdiri di depan Ty, melindunginya dari Arnold dan pengikutnya.
“Ty, cepat pergi! Apapun yang terjadi coco de mer itu harus sampai di Desa Beringin sebelum malam. Cepat!”
“Tapi–”
“Aku akan menyusulmu. Cepatlah!”
“Berjanjilah Nona akan baik-baik saja,” ucap Ty sebelum dia berlari pergi.
Ty berlari kembali ke pulau tempat tertambatnya perahu kami. Sulur tanaman muncul, berusaha menangkap Ty. Tapi aku segera menebasnya. Ty berhasil menyeberangi jembatan dengan selamat.
Setelah Ty tiba di pulau keluarga kepala desa, Arnold tidak menyerang lagi. Dia membiarkan Ty mendayung perahu, pergi dari desa.
Arnold menatapku. Dia menyeringai.
“Sebenarnya aku tidak terlalu rela Ty membawa coco de mer berharga yang berbuah seratus tahun sekali itu. Tapi jika ditukar denganmu, aku rasa itu cukup sepadan.”
“Siapa yang berniat menukarkan diri. Kau pasti bercanda.” Aku menatap Arnold tajam.
“HA... HA... HA... Ini serius NONA.” Arnold menekankan ucapannya ketika menyebutku “Nona.”
“Aku sudah tahu siapa kau. Kau adalah Ksatria Bintang yang terkenal itu.” Arnold berjalan mendekatiku. “Aku tahu alasan sebenarnya kau dipanggil seperti itu. Itu karena keistimewaanmu.”
Aku diam tidak menanggapi.
__ADS_1
“Aku memiliki tawaran.” Arnold berjalan mengintariku. “Bergabunglah denganku. Jika kau bergabung denganku, aku akan membiarkan Ty pergi membawa coco de mer ke Desa Beringin.”
“Memang apa yang kau harapkan dariku?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti, Ksatria Bintang. Sudah pasti aku menginginkan keistimewaanmu. Kau pelacak jejak. Kau bisa membawa kami menemukan permata klan.”
Aku terkejut mendengar ucapan Arnold. Tapi aku berusaha tetap tenang.
“Apa maksudmu?” Aku mencoba menggali lebih dalam informasi dari Arnold.
“Aku sudah menyebutkan sedikit tujuan kemarin.”
“Menguasai dunia?”
Arnold menenglengkan kepalanya. “Tidak juga sebenarnya. Aku hanya ingin menyingkirkan Klan Putih dan Klan Ungu saja. Klan Biru tidak mengancam. Mereka tidak terlalu kuat tapi sikap mereka membuatku muak. Jadi mereka mungkin akan disingkirkan juga. Aku akui Klan Putih dan Klan Ungu sangat kuat. Jadi, aku perlu permata klan untuk menyingkirkan kalian.”
“Kau pikir aku mau bergabung denganmu setelah mendengar kau akan menyingkirkan klanku?”
“Kau akan mendapat pengecualian, Ksatria Bintang. Meskipun klanmu aku singkirkan, aku akan membiarkanmu hidup. Lagipula kau bergabung dengan Raja Aras karena ingin membantunya menyingkirkan klan lain, kan? Tujuanku tidak terlalu berbeda dengan tujuan Raja Aras. Kau bisa bergabung denganku.”
Aku tertawa kecil. Lalu tersenyum sinis kepada Arnold. “Kau tidak tahu apa-apa.”
Arnold sepertinya masih belum tahu tentang misi Berigin.
Dahi Arnold mengernyit. Jelas dia tidak suka dengan jawabanku. Tangannya memancarkan cahaya kehijauan. Monkshood muncul di tangannya.
Arnold mengayunkan monkshoodnya. Aku segera menghindar. Dia kembali mengayunkannya lagi. Aku meloncat menghindar.
“Jangan terus menghindar, Ksatria Bintang! Tunjukkan kemampuanmu!” seru Arnold.
Aku memutar tubuhku menghadap Arnold. Kemudian menekuk tubuh. Sabit Arnold menebas angin di atasku. Aku tidak bisa membuang-buang tenagaku untuk melawannya. Aku tidak punya banyak energi maupun tenaga untuk melawannya. Yang harus aku lakukan saat ini adalah kabur.
Aku terus bergerak ke arah jembatan selama Arnold menyerangku.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu kabur?” Arnold memotong tali jembatan yang menghubungkan pulau rumah kepala desa dengan pulau keluarga kepala desa.
Aku segera berlari memutar, menuju jembatan yang menghubungkan rumah kepala desa ke pusat desa. Sejak awal aku tidak berencana kabur melewati pulau keluarga kepala desa. Tidak ada kapal atau sesuatu yang bisa membawaku pergi dari sana. Satu-satunya jalanku adalah melewati Desa Jati.
Aku memotong tali jembatan setelah menyeberang. Arnold, Cyperus, dan Rotundus terjebak di pulau kepala desa. Mereka akan kesulitan menyusulku. Aku segera berlari menembus kerumunan, melesat di antara orang-orang yang memenuhi jalan.
Arnold seharusnya tidak bisa mengejarku dengan cepat. Tapi baru beberapa saat aku berlari, Arnold muncul bersama dua pengikutnya. Cyperus adalah pemilik galur murni yang keistimewaannya adalah sulur. Dia pasti yang membantu Arnold keluar dari pulau itu.
Aku menambah kecepatanku. Penduduk desa melihatku bingung. Mereka tidak sempat marah ataupun ketakutan melihat manusia Klan Ungu lewat di depan mereka. Mereka bertambah bingung ketika melihat Arnold mengejarku.
__ADS_1
“Hentikan Klan Ungu itu!” teriak Arnold.
Kebanyakan orang tidak memahami teriakan Arnold. Tapi beberapa orang mengerti perintah Arnold dan memblokir jalanku.
Mereka tidak membuatku menurunkan kecepatan lariku. Aku justru berlari lebih cepat. Ketika aku sudah di dekat mereka, aku meloncat kemudian menginjak kepala mereka untuk melompat lebih tinggi.
Aku naik ke atap rumah. Aku ganti berlari di atas. Arnold dan pengikutnya tetap mengejarku dari bawah. Dari atas sini, aku bisa melihat bahwa tidak hanya mereka bertiga saja yang mengejarku. Di jalan di sisi lain rumah yang aku lewati ada beberapa orang yang mengejarku. Mereka pasti juga pengikut Arnold.
SRAT SRAT
Arnold tidak membiarkanku berlari dengan bebas di atap rumah penduduk. Padahal aku sudah kesulitan berlari dan melompat melewati atap. Sulur-sulur mengejarku di atas sini. Aku memotong setiap sulur yang hampir menangkapku sambil menaikkan kecepatan agar sulur-sulur itu tidak bisa mengejarku.
Aku hampir tiba di jembatan gantung Desa Beringin. Jembatan dan tempat di sekitar sana kosong. Hanya ada dua penjaga yang aku lihat tadi. Mereka tampak siap dengan senjata mereka.
Orang-orang di desa ini sudah mengerti situasinya dan tidak akan membiarkanku lolos dari mereka.
Jarak jika aku meloncat dari atap rumah terdekat ke jembatan agak jauh. Aku tidak bisa menjamin, aku berhasil jika melompat ke sana. Tapi jika aku tidak melakukannya, aku akan tertangkap oleh mereka.
Aku menguatkan tekadku lalu berlari sekencang yang aku bisa. Aku memusatkan energi pada kakiku. Aku kemudian mendorong kakiku dengan kuat untuk melompat sejauh mungkin.
Arnold dan pengikutnya melongo melihatku melompat sangat jauh. Mereka sangat terkejut sampai terdiam di tempat mereka.
BRUK
Aku berhasil mendarat di tengah jembatan dengan mulus. Aku segera berlari sebelum mereka sadar aku sudah hampir lolos.
Nyittt
Luka bekas monkshood di kakiku tiba-tiba terasa sangat sakit. Aku tidak bisa menghiraukannya saat ini. Aku masih berada di jembatan dan orang-orang itu masih mengejarku. Aku memaksakan kakiku untuk berlari.
Aku berhasil masuk ke dalam hutan. Tapi langkahku melambat. Kakiku terasa makin sakit dan aku mulai tidak bisa menggerakkannya.
Arnold dan pengikutnya makin dekat. Aku tidak bisa berlari lebih jauh lagi. Aku menyeret kakiku dan bersembunyi di dalam lubang sebuah pohon.Aku duduk, menekuk kakiku.
Mereka ada di dekatku. Suara mereka terdengar jelas dari sini.
“Cepat sekali dia.”
“Ke mana Klan Ungu itu?”
“Kita berpencar! Bunuh dia ketika kalian menemukannya!”
Aku mendengar suara Arnold memberi instruksi.
__ADS_1