
Aku terbangun karena mendengar suara berisik di sekitarku. Tidak ada sinar matahari yang menyambutku, melainkan cahaya lentera yang bersinar lembut.
Aku mengerutkan kening. Seingatku, aku tidur di padang rumput bersama Aras dan Ty. Tapi sekarang aku berada di sebuah rumah berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman dedauan.
Aku memperhatikan sekitarku. Rumah ini tidak besar. Ukurannya kurang lebih seperti kamar pada umumnya. Tidak ada benda apapun di sini selain tikar dan meja yang terbuat dari batu.
Aras terbaring di sampingku. Matanya terpejam. Aras bernapas dengan teratur. Artinya dia baik-baik saja.
Ty tidak ada di sini. Dari celah dinding, aku bisa melihat cahaya dan bayangan orang-orang di luar. Mereka tampak sedang berpesta karena suasananya sangat ramai.
Aku beranjak duduk.
“Eh? Tubuhku baik-baik saja?”
Aku tidak merasakan sakit lagi. Luka dan memar-memar di tubuhku juga menghilang. Napasku juga tidak terasa sesak seperti sebelumnya.
Badanku bahkan terasa lebih segar dari sebelumnya. Sensasi ini sama seperti sensasi setelah Ludwig menyembuhkanku dengan keistimewaannya.
“Tidak mungkin Ludwig ada di sini,” gumamku.
Aku beringsut mendekati dinding rumah, kemudian mengintip keadaan luar dari celah tirai yang dijadikan pintu.
Orang-orang di luar adalah manusia Klan Hijau. Mereka sepertinya memang sedang berpesta. Ada kuali besar di atas api. Beberapa orang memainkan musik dan beberapa orang sedang menari.
Aku tidak melihat seseorang yang memiliki rambut biru ikal sebahu seperti milik Ludwig. Semua yang aku lihat berambut hijau. Mereka adalah manusia Klan Hijau.
Aku kembali berbaring di tempat tidurku semula. Aku tidak bisa keluar sekarang dan menimbukan kegemparan di tengah pesta.
Tapi ini sangat aneh. Manusia Klan Hijau setahuku sangat tidak menyukai manusia klan asing. Bagaimana bisa kami sampai berada di sini. Bahkan dengan luka yang sudah sembuh dengan sempurna. Rasanya tidak mungkin mereka yang menolong kami, bahkan hingga menyembuhkanku dan Aras.
Kemungkinan besar Ty yang membawa kami ke sini. Entah bagaimana caranya. Jika dia sampai memutuskan untuk membawa kami ke sini. Aku rasa tempat ini adlaah tempat yang aman untuk kami.
Aku menutup mataku dan kembali beristirahat.
*****
“Nona!”
Aku merasakan bahuku diguncang. Aku membuka mata. Wajah Ty tepat berada di depan wajahku. Dia menatapku lekat.
Aku mendorong Ty menjauh dariku. Kemudian bangkit duduk.
__ADS_1
“Ada apa, Ty?” tanyaku.
“Aku khawatir karena Nona tidak bangun dari kemarin. Jadi, aku coba membangunkan Nona,” jawab Ty.
“Aku sudah bangun tadi malam sebenarnya.”
“Benarkah?” Ty tidak percaya.
“Kau tidak ada aku bangun. Apa kau ikut berpesta di luar?”
Ty mengusap tengkuk lehernya. Matanya menghindari tatapanku. “Hehehe... iya.”
“Aku tidak mempermasalahkanmu jika kau ikut berpesta, Ty.” Aku menepuk kepala Ty pelan.
Aku melihat ke sampingku. Aras sudah tidak ada di tempatnya. Dia pasti sudah bangun lebih dulu.
“Aras sudah bangun?” tanyaku.
Ty mengangguk. “Dia sedang mengobrol dengan penduduk desa.”
Jujur aku agak terkejut. Aku tidak menyangka Aras akan mengobrol dengan penduduk desa di Klan Hijau. Apalagi setelah kejadian yang menimpa kami kemarin di Pegunungan Salju. Desa ini mungkin betul-betul aman untuk klan asing sepertiku dan Aras.
“Kita di desa apa, Ty? Kenapa kita bisa di sini?” tanyaku.
“Ini Desa Trap. Mereka menemukan kita kemarin dan membawa kita ke sini,” jawab Ty.
Ty mulai menceritakan bagaimana kami bisa sampai di desa ini.
Tadi malam ketika aku dan Aras sudah tertidur. Dua penduduk Desa Trap menemukan kami. Mereka menawarkan diri untuk menolongku dan Aras. Awalnya Ty sempat ragu dengan dua penduduk itu. Lebih-lebih kami sudah ditolak oleh desa di Pegunungan Salju. Ty khawatir jika ucapan mereka hanya akal-akalan mereka saja.
Namun, kedua penduduk itu terus meyakinkan Ty. Mereka mengatakan jika desa mereka tidak membenci klan manapun. Penduduk desa menyambut klan mana saja yang datang ke desa mereka, bahkan jika itu adalah blaster.
Ty masih tidak terlalu percaya dengan dua orang itu. Tapi di lain sisi keadaanku dan Aras bisa terus memburuk jika tidak segera ditangani.
Akhirnya Ty memutuskan untuk menerima tawaran mereka. Ty menerangkan keadaanku dan Aras. Dua orang penduduk itu sangat terkejut ketika Ty memberitahu mereka jika kami kami diserang oleh seorang dryad. Mereka bilang kami sangat beruntung bisa selamat, meskipun dengan luka yang cukup parah.
Dua penduduk desa itu bilang desa mereka memiliki penduduk pemilik galur murni dengan keistimewaan penyembuh. Mendengar itu Ty langsung setuju dan yakin membawaku serta Aras pergi bersama dua penduduk itu ke desa mereka.
__ADS_1
“Kenapa mereka tidak membenciku dan Aras? Kami bukan Klan Hijau.”
Ty mengangkat bahunya. “Entahlah, Nona. Aku juga tidak tahu. Mereka menyambut kalian. Mereka sangat berbeda dengan manusia Klan Hijau pada umumnya yang membenci klan lain. Tapi yang terpenting Nona, mereka menolong kita.”
Aku tersenyum mendengarnya. Setelah ditolak berkali-kali di Klan Hijau, akhirnya kami menemukan tempat yang menerima klan asing sepertiku dan Aras.
“Nona ingin berjalan-jalan di luar?” tawar Ty.
Aku mengangguk. “Aku ingin berterima kasih kepada penduduk yang menyembuhkanku.”
“Baiklah.”
Aku mengikuti Ty keluar rumah.
Desa Trap berbeda dengan desa sebelumnya yang ada di Pegunungan Salju. Jika penduduk desa di sana membangun rumah mereka dari batu, rumah di Desa Trap dibangun dari kayu dan daun. Desa ini terlihat jauh lebih primitif daripada desa di Pegunungan Salju.
Pakaian penduduk desa terbuat dari kulit binatang yang dijahit kasar. Aku melihat senjata berjajar di dinding sebuah rumah. Senjata mereka terbuat dari batu yang diasah hingga tajam. Mereka benar-benar mengandalkan alam untuk bertahan hidup.
Selama aku dan Ty berjalan berkeliling desa, penduduk desa menyapa kami dengan ramah. Mereka sangat bersahabat. Saking ramahnya, aku sampai tidak merasa sedang berada di Klan Hijau.
Aku dan Ty berpapasan dengan Aras di jalan. Dia baru saja selesai berbincang dengan dua penduduk desa. Dia langsung menghampiriku ketika melihat berjalan bersama Ty.
“Violet, apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Aras.
Aku mengangguk.
Aras menghembuskan napas lega. Senyuman terukir di wajahnya.
“Bagaimana dengan keadaanmu?” Aku balik bertanya.
“Aku juga sudah baik-baik saja,” jawab Aras.
“Apa kau ingin bertemu pemilik galur murni yang telah menyembuhkan kita?” tanya Aras.
“Ya. Aku ingin berterima kasih padanya,” jawabku.
“Kebetulan aku juga ingin pergi ke rumahnya,” kata Aras.
Aku, Aras, dan Ty berjalan bersama ke rumah pemilik galur murni yang menyembuhkan kami. Menurut informasi yang didapat Aras dari penduduk sekitar, pemilik alur murni yang akan kami temui ini berumur hampir seratus tahun dan dia adalah orang yang paling dihormati di desa.
__ADS_1