
“Violet, kau dari mana?” Azuro menyambutku di beranda rumah. Dia masih menggunakan mantel tidurnya. Ada Ludwig dan Tiha juga di sana.
“Gunung Jadnew.” Aku tidak bisa memberi tahu lebih banyak dari itu karena ada Ludwig.
“Eh, jangan-jangan matamu.” Ludwig berlari mendekatiku. Dia mengamati wajahku lamat-lamat.
“Kau sudah sehat.” Ludwig memelukku.
Azuro dan Tiha juga tidak kalah kaget.
“Syukurlah jika kau sudah sembuh,” kata Azuro.
Ludwig melepas pelukannya. Aku menatap Ludwig dari ujung kepala hingga kakinya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” protes Ludwig.
Aku tertawa. “Ternyata bayanganku tidak terlalu jauh dengan kenyataan. Jadi, ini kau Ludwig.”
Aku akhirnya bisa melihat Ludwig. Dia memang kecil dengan rambut ikal sebahu. Kulitnya putih sekali. Wajahnya juga tampak seperti anak kecil dan agak cantik seperti perempuan. Mungkin jika aku tidak mengenalnya, aku akan mengira dia masih berumur dua belas tahun.
“Kau pergi bersama Aras?” Tiha melihat Aras yang berjalan menuju beranda rumah.
Aku mengangguk.
“Kenapa kalian ada di luar?” tanyaku.
“Kami merasakan gelombang energi yang besar. Saking besarnya aku sampai meloncat dari tempat tidurku karena terkejut,” jawab Ludwig. “Kau tidak merasakannya?”
“Aku merasakannya,” jawabku.
“Kenapa bisa ada gelombang energi sebesar itu, ya?” Ludwig masih saja penasaran.
Aku dan Aras saling bertatapan, mencari kesepakatan jawaban yang baik.
“Mungkin hanya seorang pemilik galur murni yang sedang berlatih dan tidak sengaja mengeluarkan energi yang kuat.” Azuro yang menjawabnya.
“Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik kita tidur lagi. Aku tidak mau besok pagi kita terlambat bangun ketika kereta Baron Stuart menjemput. Kau pasti juga baru beres-beres besok pagi, kan, Ludwig? Ayo cepat tidur!” Azuro menggiring Ludwig masuk ke dalam rumah.
“Apa-apaan kau, Anak Kecil? Jangan bersikap seolah lebih tua daripada aku.” Ludwig memprotes Azuro.
Tapi Azuro tidak menghiraukannya. Dia menyeret Ludwig masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Azuro kembali muncul di beranda.
“Bagaimana Ludwig?” tanyaku.
“Dia sudah tidur. Dia memang sudah mengantuk. Yah, pada dasarnya dia itu akan langsung tertidur begitu menyentuh kasur,” jawab Azuro.
“Jadi, apa yang kalian dapatkan?” Azuro langsung masuk ke inti percakapan.
“Amethyst. Permata itu ada di bawah bunga violet di puncak gunung,” jawabku.
Azuro dan Tiha sangat terkejut. Tidak ada diantara kami yang menyangka akan mendapatkan Amethyst di Klan Biru.
“Kau bisa menunjukkannya?” tanya Tiha.
Aras menggeleng. “Terlalu berbahaya di sini. Untuk sementara Violet yang akan menyimpannya itu permata milik klannya.”
“Kita harus lebih waspada setelah mendapat Amethyst. Ada kemungkinan jika Amethyst diincar orang lain,” kataku.
Aras, Tuha, dan Azuro mengangguk setuju. Percakapan itu pun berakhir. Kami kembali ke kamar masing-masing.
Pagi ini aku, Aras, Azuro, Ludwig, dan Tiha sudah dijemput oleh kereta kuda Baron Stuart. Ada dua kereta kuda, satu kereta penumpang dan satu kereta untuk barang. Kami memasukkan barang-barang kami ke dalam. Aku, Aras, Azuro, dan Tiha tidak membawa banyak barang. Tapi Ludwig membawa banyak koper berisi alat musiknya.
“Violet, tolong bawakan koper ini.” Ludwig terlihat kesusahan. Dia membawa tiga koper besar sekaligus.
Aku mengambil dua koper dari Ludwig lalu menyerahkannya kepada Aras yang berada dalam kereta.
“Maaf aku hanya bisa mengantar kalian hingga Brasov.” Baron Stuart muncul di dekat kami.
“Tidak apa-apa, Baron. Ini sudah sangat membantu kami,” kata Azuro.
Aku, Aras, dan Tiha berada di kereta yang berbeda dengan Azuro dan Ludwig. Kami naik kereta barang, sedangkan mereka naik kereta penumpang bersama Baron Stuart. Kereta barang jelas tidak senyaman kereta penumpang tapi ini lebih baik bagi kami. Walaupun rambut kami sudah dicat biru, mata kami tetap sama. Kami tidak bisa membiarkan resiko Baron Stuart tahu identitas asliku, Aras, dan Tiha.
“Berapa lama perjalanan ke Brasov?” tanya Tiha ketika kereta sudah bergerak.
“Sekitar enam jam,” jawab Aras.
Tiha menyandarkan tubuh ke koper-koper di dalam kereta.
“Bosan sekali. Kira-kira apa yang dibicarakan Azuro, Ludwig, dan Baron Stuart, ya?” Tiha mengira-mengira.
__ADS_1
“Hal umum yang bagi bangsawan, mungkin? Kekuasaan dan harta,” jawabku.
Tiha menghela nafas. “Bangunkan aku ketika sudah sampai. Aku mau tidur.”
Aku dan Aras mengangguk.
Perjalanan ini cukup membosankan. Selama di kereta aku tidak berbicara dengan Aras. Aku kurang tidur semalam. Jadi, aku memutuskan untuk tidur sejenak di kereta. Perjalanan ke Brasov masih lama.
*****
Aku terbangun oleh guncangan kereta yang mengerem mendadak. Saking kerasnya, aku harus berpegangan agar tidak terpelanting ke depan.
“Maaf Tuan, Nona, ada orang yang tiba-tiba menyeberang.” Kusir kereta meminta maaf.
Kereta mulai berjalan lagi. Sekarang aku sudah mendengar hiruk piruk sebuah kota. Aku melongokkan kepala ke jendela untuk melihat keadaan.
Kusir kereta mengatakan bahwa kami sudah sampai di Brasov. Ada sebuah papan besar bertuliskan “Brasov”. Kereta kami berhenti di depan papan besar itu.
Aku, Aras, danTiha turun dari kereta. Kami juga menurunkan barang bawaan kami. Ludwig dan Azuro sudah menunggu di depan papan besar itu. Mereka sedang berbincang dengan Baron Stuart. Setelah kami semua turun. Kereta Baron Stuart pergi meninggalkan kami.
Brasov lebih ramai dari Jadnew. Ada banyak toko di sini. Orang-orang hilir mudik di sepanjang jalan. Orang-orang di sini juga lebih stylish. Baju yang kami pakai berbeda dengan baju yang biasa dipakai masyarakat Brasov. Kami menjadi menarik perhatian mereka.
“Baju kita terlalu mencolok, ya?” Tiha menarik bajunya.
“Tentu saja. Orang-orang biasa memakai jas dan gaun. Baju kalian jelas berbeda,” kata Azuro.
Hanya Ludwig dan Azuro yang memakai jas diantara kami. Aku, Aras, dan Tiha memakai baju yang berasal dari klan kami masing-masing.
“Gaunnya seperti itu.” Tiha bergumam sambil memperhatikan setiap perempuan yang lewat.
Tiha lalu menyentuh lengan bajunya. Lengan itu memunculkan sebuah layar hologram. Dia menyentuh layar hologram itu beberapa kali. Setelah itu tiba-tiba pakaian berubah seperti baju perempuan Klan Biru.
“Wah, bagaimana kau melakukan itu?” Ludwig takjub melihatnya.
“Teknologi. Seperti yang kalian tahu, Klan Jingga adalah klan paling maju dalam hal teknologi. Baju ini adalah salah satu teknologi Klan Jingga,” jawab Tiha.
“Seharusnya kau bawa banyak baju seperti itu,” kataku.
Tiha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Baju ini adalah baju umum di Klan Jingga. Aku kira klan lain juga memiliki baju seperti ini.”
Wajar jika Tiha berpikir seperti itu. Pengetahuan tentang klan lain memang terbatas. Sebelum aku bergabung di misi ini, aku juga berpikiran sama dengan Tiha, menganggap klan lain kurang lebih sama dengan Klan Ungu. Tapi ternyata banyak hal yang sangat berbeda. Informasi yang aku dapatkan di Klan Ungu tentang klan lain terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya.
“Kita harus segera pergi ke Vienna. Kita bisa menyewa kereta kuda ke sana,” kata Azuro.
“Berapa harga ke Vienna?” tanya Azuro.
Kusir kereta menatap kami dan barang bawaan kami.
“Dengan jumlah kalian dan barang bawaannya, kalian harus menyewa dua kereta. Harga satu kereta ke Vienna adalah satu guinea,” jawab Kusir kereta.
“Mahal sekali. Apa tidak bisa lebih murah?” Azuro menawar harga sewa kereta.
“Ah, kalian tidak memiliki uang, ya? Kalau begitu kalian tidak bisa menaikinya. Cari saja kereta kuda biasa yang murah. Permisi.” Kereta kuda itu pun meninggalkan kami.
“Berani-beraninya bersikap seperti itu kepada bangsawan. Mereka hanya bermuka manis kepada orang yang memiliki uang. Awas saja jika aku bertemu dengannya lagi,” gerutu Azuro.
“Sudahlah Azuro. Kita sekarang memang tidak terlihat seperti bangsawan. Lagipula kenapa kau memberhentikan kereta sewa bangsawan? Harganya jelas lebih mahal dari kereta biasa.” Ludwig menenangkan Azuro.
“Kita hanya punya beberapa shilling. Apa kereta kuda memang semahal itu?” Azuro membuka kantong uang kami. Dia menghela nafas ketika melihatnya.
“Kau tidak tahu harga menyewa kereta, Azuro?” tanya Tiha.
“Bagaimana, ya? Dia ini bangsawan kaya raya yang selalu melakukan sesuatu tanpa mempedulikan harga. Berapapun harganya, seorang Geerginlik pasti mampu membayarnya. Tapi aku rasa dia pengecualian saat ini.” Ludwig melirik Azuro yang sedang mempelototinya.
“Apa Vienna jauh dari sini?” tanya Aras.
“Tiga jam menggunakan kereta kuda,” jawab Azuro.
“Berapa tepatnya uang kita?” tanyaku.
Azuro menghitung uang di kantong. “Dua puluh shilling.”
“Dua puluh shilling itu berapa?” tanyaku.
“Di Klan Biru, dua puluh shilling itu dua puluh koin perak atau satu guinea. Kalau guinea itu sekeping koin emas. Ada juga pence. Itu koin perunggu. Satu shilling sama nilainya dengan dua belas pence.” Ludwig menjelaskan panjang lebar. “Kalau uang kita dua puluh shilling, kita hanya bisa membeli empat tiket kelas ekonomi.”
Ludwig menoleh ke Tiha. “Kau ada uang, kan? Sebelumnya kami hanya merencanakan pergi berempat. Jadi, uangnya hanya cukup untuk berempat.”
Tiha mengalihkan pandangannya. “Aku juga tidak ada uang.”
“Bukannya barang-barangmu masih ada? Kau menghabiskan semua uangmu?” tanyaku.
__ADS_1
Ketika kami berada di Klan Putih, kami diberi seratus keping emas. Itu jumlah yang sangat banyak. Mustahil jika dihabiskan selama empat hari.
Tiha tersenyum masam. “Aku sepertinya bergaya hidup terlalu mewah di Jadnew.”
Aku menepuk dahiku. Bisa-bisanya Tiha melakukan itu.
“Jika kita memakai kereta kuda, kita tidak bisa naik kereta ke Vienna. Tapi jika kita tidak naik kereta kuda, kita juga tidak bisa membeli tiket kereta untuk lima orang.” Azuro memegang kepalanya yang pusing.
“Bagaimana jika kita bermain musik?” Ludwig memberi usul.
“Hah? Maksudmu?” tanya Azuro.
“Maksudmu seperti orang-orang seperti orang-orang di jalan itu, ya. Ketika di dalam kereta, aku melihat beberapa orang melakukan pertunjukan di pinggir jalan,” kata Aras.
“Maksudmu mengamen?” Dahi Azuro berkerut.
“Tidak, aku tidak mau. Tidak mungkin bangsawan sepertiku mengamen. Bagaimana jika ada kenalanku melihatnya? Martabatku akan jatuh.” Azuro menolaknya mentah-mentah.
“Jika itu bisa mengumpulkan uang dengan cepat. Aku rasa tidak masalah.” Aras mendukung Ludwig.
“Tentu saja. Brasov dekat dengan Vienna, kota seni. Penduduk daerah ini juga banyak yang meyukai seni.” Ludwig bertambah semangat setelah mendapat dukungan Aras.
“Ludwig! Bersikaplah seperti bangsawan!” seru Azuro.
Aku menyentuh bahu Azuro. “Kali ini kau harus menyampingkan ego-mu dulu, Azuro. Atau kau mau kami tinggal di sini?"
“Iya. Jangan jadi bangsawan manja seperti di Klan Putih kemarin,” kata Tiha.
Azuro menghela nafas. “Baiklah.”
“Kalau begitu ayo kita rapatkan dulu,” kata Ludwig.
Kami menepi di jalan yang sepi. Ludwig membuka tiga kopernya. Ternyata semua koper Ludwig berisi alat musik.
“Aku membawa dua biola dan flute. Apa kalian bisa memainkannya?” Ludwig menatapku, Aras, Azuro, dan Tiha.
“Kalau biola, aku, sih bisa,” kata Azuro.
“Aku belum pernah memainkan keduanya. Tapi aku bisa bermain seruling. Mungkin aku bisa memainkan flute.” Tiha memberitahu.
“Aku belum pernah bermain alat musik.” Selama ini aku hanya berlatih bagaimana cara bertarung dan bertahan hidup. Kadang aku juga memperlajari ilmu lain yang mendukung kekuatanku. Aku tidak pernah berpikir untuk bermain musik. Lagipula alat musik paling umum di Klan Ungu ada drum dan terompet untuk menyemangati pasukan.
“Aku bisa bermain biola,” kata Aras.
“Kalau begitu Azuro dan Aras akan bermain biola. Tiha bermain flute, ya? Flute tidak jauh berbeda dengan seruling, kok. Dan aku akan menjadi konduktor kalian.” Ludwig memutuskan.
“Lalu aku jadi apa?” tanyaku.
Ludwig berpikir sebentar. “Karena kau tidak bisa bermain musik, aku rasa kita bisa menampilkan sedikit opera. Jadi, kau akan menari.”
Azuro,Tiha, dan Aras terlihat menahan tawa. Aku tidak masalah dengan dansa tapi jika menari sendiri…
“Apa tidak ada yang lain, Ludwig?” tanyaku.
“Jika kau bisa berdansa itu sudah cukup, kok. Kau tinggal merubahnya sedikit untuk menjadi tarian tunggal. Atau kau bisa mengajak penonton untuk menari bersamamu.”
Perkataan Ludwig tidak sama sekali dengan jawaban yang aku inginkan.
Ludwig menepuk tangannya dengan semangat. “Kalau begitu ini kita berlatih dulu. Ini not-nya.”
Ludwig membagikan kertas not. Saking semangatnya, kumpulan kertas not-nya jatuh berserakan di jalan.
“Aduh, hati-hati Ludwig!” gerutu Azuro.
Aku, Aras, Tiha, dan Azuro membantu Ludwig mengambil kertas-kertas not-nya. Kertas not-nya banyak sekali. Beberapa menjauh, diterbangkan angin. Aras dan Tiha harus mengejar utnuk mengambilnya.
“Tulisanmu jelek sekali, Ludwig.” Aku melihat kertas not Ludwig yang penuh coretan dimana-mana. Hampir semua kertasnya seperti itu. “Orang bisa salah membacanya.”
“Hanya sedikit orang yang boleh membaca kertas not-ku.”
Ada satu kertas not yang menarik perhatianku. Tulisan judulnya tidak jelas. “Apa ini? Fur.. Elise?”
Ludwig menengok ke kertas yang aku baca. “Itu bukan ‘Fur Elise’ tapi ‘Fur Violet.’ Itu lagu yang aku buatkan untukmu beberapa hari lalu.”
“Aku tidak bisa membacanya, Ludwig. Tulisanmu terlalu berantakan.”
Ludwig merebut kertas not-nya dariku. Wajahnya cemberut. “Aku tidak peduli tulisanku jelek atau tidak bisa dibaca. Lagipula kau menyukai lagunya, kan. Aku juga sudah menyempurnakan lagunya agar sesuai denganmu.”
“Iya.. iya.”
Aras dan Tiha sudah kembali mengumpulkan kertas not yang terbang. Mereka menyerahkan kertas itu ke Ludwig. Begitu pula Azuro. Setelah semua kertas not terkumpul, Aras, Tiha, Azuro, dan Ludwig berlatih memainkan lagu. Aku memutuskan untuk duduk sambil mendengarkan mereka.
“Violet, kau tidak berlatih menari?” tanya Tiha. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk menggodaku.
“Tidak perlu. Aku akan langsung melakukannya.”
__ADS_1
“Wah, selain ahli pedang kau juga ahli menari, ya?” Tiha masih saja menggodaku.
Ludwig, Azuro, dan Aras juga malah senyum-senyum menahan tawa. Menyebalkan sekali. Jika bukan karena kami butuh uang, aku tidak akan mau menari apalagi di depan mereka.