Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 70


__ADS_3

Sudah empat hari sejak aku, Aras, dan Ty tinggal di Desa Beringin. Keadaanku telah membaik setelah mendapat penawar coco de mer. Lengan dan kakiku sudah bisa digerakkan seperti semula.


Keadaan Aras juga telah membaik meskipun dia masih perlu banyak istirahat. Racun monkshood tidak mempengaruhinya lagi. Dia tinggal memulihkan luka di punggungnya.


Kemarin, aku dan Aras baru saja pindah dari ruang perawatan ke rumah tamu di Desa Beringin. Setelah kami cukup pulih, Ginger mengijinkan kami untuk meninggalkan tempat perawatan. Tapi setiap pagi, dia akan mengunjungiku dan Aras untuk memeriksa atau sekedar memberi obat.


Aku belum bertemu Ty sama sekali semenjak kami kembali dari Desa Jati. Grante tadi pagi mengunjungiku. Ketika aku menanyakannya tentang Ty, dia bilang jika Ty kemungkinan tidak akan bisa bertemu denganku hingga dua hari ke depan.


“Ty sempat marah karena dilarang bertemu denganmu. Tapi sekarang dia sudah lebih tenang setelah tahu keadaanmu baik-baik saja. Aku sebenarnya agak kasihan dengannya. Tapi bagaimana lagi. Itu peraturan untuk Upacara Kedewasaan,” kata Grante.


“Upacara Kedewasaan? Apa itu?” tanyaku.


“Upacara untuk anak-anak di Desa Beringin ketika mereka berumur dua belas tahun. Kepala Desa lebih paham tentang itu,” jawab Grante.


Aku baru sadar jika selama di sini, aku sama sekali belum bertemu kepala desa.


“Aku belum pernah bertemu kepala desa,” kataku.


Grante mengangguk. “Kebetulan siang ini kepala desa mengundangmu dan Raja Aras ke kediamannya. Aku nanti akan menjemput kalian.”


“Baiklah.”


“Dan ini titipan dari Ginger.” Grante meletakkan dua botol kecil berisi obat. “Satu untukmu dan satu untuk Raja Aras. Tolong berikan padanya ketika dia bangun nanti.”


Aku mengangguk.


Setelah memberikanku dua botol itu, Grante pamit pergi.


***


Siang hari, setelah makan siang, Grante menjemputku dan Aras. Kami berdua mengikutinya ke kediaman kepala desa. Rumah kepala desa tenyata sangat dekat dari tempat kami tinggal.


Rumah kepala desa dihiasai oleh ukiran-ukiran rumit. Kebanyakan menggambarkan kisah-kisah kehidupan dari jaman dahulu hingga sekarang.


Seorang perempuan berumur setengah baya datang menyambut kami. Dia tidak terlalu terlihat tua dan tampak sangat kuat untuk perempuan seusianya.


“Dia adalah Kepala Desa Beringin, Garcinia,” bisik Grante.


Aku agak terkejut ketika Grante memberitahuku. Aku kira semua kepala desa di Klan Hijau adalah laki-laki.


“Selamat datang Raja Aras,” sambut Garcinia.


“Kau tidak perlu memanggilku seperti itu,” kata Aras.


“Kau sekarang telah menjadi seorang raja. Mana mungkin aku bisa memanggilmu tanpa gelarmu. Aku tidak percaya bocah kecil yang dibawa Ash sudah menjadi seorang raja.” Garcinia tertawa kecil sambil mengacak rambut Aras.


Aku melihat pipi Aras agak memerah. Aku memandang Aras dan Garcinia bergantian. Mereka terlihat sangat akrab.


Garcinia ganti menatapku. “Kau pasti Violet. Senang bertemu denganmu. Aku Garcinia, Kepala Desa Beringin.”


Garcinia mengulurkan tangannya. Aku balas menjabatnya.

__ADS_1


“Dulu ketika Aras masih kecil, dia sering bercerita tentangmu,” kata Garcinia.


“Benarkah?” tanyaku terkejut.


“Kau tidak perlu membicarakannya.” Aras menghalangi Garcinia berbicara lebih banyak padaku. “Kita lebih baik segera membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan.”


“Baik. Baik. Halaman belakang adalah tempat paling nyaman untuk mengobrol. Mari kita ke sana.”


Garcinia mengajakku, Aras, dan Grante pergi ke halaman belakang rumahnya. Halaman belakang rumah Gracinia adalah taman kecil yang berada di atas tebing batu. Ada seekor harimau sedang tertidur dengan nyaman di pojok taman.


Kami berempat duduk di atas rumput dengan sandaran batu. Di tengah-tengah kami tersedia berbagai buah dan daging panggang.


“Aku yakin kalian sudah makan siang. Tapi aku harap kalian memakan jamuan ini,” kata Garcinia.


“Terima kasih, Garcinia,” kata Aras.


“Sudah hampir dua tahun setelah terakhir kali kau mengunjungi desa ini.” Garcinia mengawali percakapan.


Aras mengangguk. “Bagaimana keadaan desa akhir-akhir ini?”


“Kami lebih berkembang. Ginger semakin ahli sekarang. Dia sangat bersemangat ketika kau mengirimkan padanya berbagai tanaman herbal. Jika sempat, datanglah ke rumahnya. Rumahnya sekarang penuh dengan obat-obatan yang bahkan aku tidak pernah tahu.”


“Baguslah jika seperti itu.” Aras mengangguk puas.


“Kalian sepertinya sering bertemu.” Aku masuk dalam obrolan Aras dan Gracinia.


Aras dan Gracinia menatapku.


“Setelah bertemu denganmu, Aras sempat tinggal di desa ini beberapa waktu,” kata Gracinia.


“Ceritanya panjang,” kata Aras.


“Aras dibawa ke sini pertama kali oleh Ash, Pemimpin Klan Hitam sebelumnya yang juga merupakan teman lamaku. Mereka berdua memiliki jasa besar di desa ini. Penduduk desa sangat menghargai mereka,” jelas Gracinia.


“Raja Ash sering berkunjung ke desa ini?” tanyaku terkejut.


Aku tidak tahu seperti apa Raja Ash, pemimpin Klan Hitam sebelum Aras. Aras adalah manusia Klan Hitam yang paling terkenal di Klan Ungu. Aku bahkan hampir tidak pernah mendengar nama manusia Klan Hitam lain selain Aras.


Aku tidak mengerti urusan apa yang membuat pemimpin Klan Hitam ke klan lain. Bagiku itu terasa sangat janggal.


“Aku tidak mengira pemimpin Klan Hitam sering pergi ke klan asing,” lanjutku.


“Mungkin bagi pemimpin klan lain selain Klan Hitam, itu memang aneh. Tapi itu sudah sangat biasa bagi pemimpin Klan Hitam,” jawab Gracinia.


“Apa kau pernah mendengar tentang legenda dunia ini? Legenda tentang bagaimana dunia ini terbentuk?” tanya Gracinia.


Kisah yang diceritakan Arnold ketika kami bertarung terlintas di kepalaku. Aku masih ragu dengan cerita itu. Aku rasa aku ingin mendengar legenda dunia ini menurut Gracinia. Mungkin ceritanya berbeda.


Aku menggeleng menggapi pertanyaan Gracinia.


Aras terlihat agak terkejut. Dia tidak menduga jika aku akan menjawab seperti itu karena Arnold sudah menceritakannya padaku sebelumnya.

__ADS_1


“Kau tahu dahulu kala, ratusan ribu tahun yang lalu, Klan Hitam adalah satu-satunya manusia yang hidup di dunia. Tentu saja tidak ada sebutan Klan Hitam pada zaman itu. Manusia Klan Hitam pada zaman dahulu dan zaman sekarang sangat berbeda. Pada zaman dulu, mata dan rambut mereka bisa berbeda-beda. Ada yang hitam, coklat, atau kuning terang. Tapi sepertinya tidak ada warna merah, biru, atau hijau, atau ungu. Aneh bukan kedengarannya?”


Aku mengangguk. Aku tidak pernah melihat rambut cokelat ataupun kuning terang.


“Hanya ada satu raja yang memimpin dunia saat itu. Memimpin dunai sebesar itu sendirian sangat sulit. Kabarnya dunia saat itu memiliki teknologi yang maju seperti Klan Jingga sekarang. Tapi raja saat itu masih kesulitan memimpin dunianya. Hingga suatu hari ditemukannya permata hitam yang memiliki energi yang sangat kuat, melebihi teknologi saat itu. Kau tahu permata apa itu?”


“Obsidian?” tebakku.


Gracinia mengangguk puas.


“Obsidian membantu setiap raja dari waktu ke waktu hingga suatu kejadian yang sangat langka terjadi. Ratu saat itu melahirkan tujuh putra kembar. Biasanya tahta akan diserahkan kepada anak tertua. Tapi raja saat itu berpikir akan lebih mudah jika dia membagi dunia itu untuk diperintah oleh ketujuh anaknya. Maka dia membagi dunia itu untuk ketujuh anaknya. Dia juga memecah obsidian menjadi tujuh bagian. Tujuh pecahan itu menjadi Zamrud, Ruby, Sapphire, Amethyst, Sunkrist, dan dua Obsidian.”


“Lalu bagaimana dengan Diamond?” tanyaku.


“Diamond baru muncul beberapa ratus tahun setelahnya. Aku juga tidak tahu bagaimana. Tidak kisah yang menceritakan tentang permata milik Klan Putih itu.”


“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi setelah itu.


“Awalnya dunia itu berjalan damai. Meskipun ada tujuh wilayah sekarang, ketujuh wilayah itu tetap dibawah kekuasaan sulung dari kembar itu. Pemata yang dia bawa adalah obsidian. Tapi setelah waktu berlalu, terjadilah perselisihan. Semenjak ada tujuh permata kuat itu, tujuh bagian dunia itu terbagi menjadi tujuh klan seperti yang kita tahu sekarang. Perselisihan itu semakin besar hingga terjadi perang. Dan perang itu dimenangkan oleh Klan Putih, keturunan dari anak bungsu dari tujuh bersaudara itu yang tadinya memegang Obsidian seperti kakak sulungnya. Klan Hitam, klan asli dari dunia ini malah menjadi yang paling terpuruk. Klan itu dikalahkan oleh enam klan lainnya. Hasil perang itu yang membentuk kedudukan tujuh klan yang sekarang kita tahu.”


“Lalu apa yang membuat Raja Ash sering datang ke desa ini?” Aku masih belum paham hubungan legenda tadi dengan kunjungan Raja Ash ke desa ini.


Wajah Gracinia mendadak telihat lebih serius.


“Desa Beringin adalah keturunan tertua dari Klan Hijau. Kami masih berpegang teguh dengan ajaran dari para leluhur kami. Karena itu hubungan kami memiliki hubungan yang baik dengan Raja Ash. Setahuku hampir tidak ada keturunan langsung dari tujuh kembar itu yang tersisa selain desa ini.”


“Tujuh permata klan berasal dari Obsidian. Permata klan yang dipakai oleh tujuh klan sekarang adalah permata yang sama dengan permata ratusan ribu tahun lalu. Dan sekarang permata-permata itu hampir mati. Ash dan aku sudah menyadari jika permata klan sudah sekarat sejak lama. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia ini adalah menyatukan kembali tujuh permata klan menjadi Obsidian, seperti awal permata klan ada.”


Aku tertegun mendengar ucapan Gracinia. Penjelasan Gracinia tentang permata klan kurang lebih hampir sama dengan Arnold. Tapi penjelasan terakhirnya sangat berbeda dengan Arnold dan itu sangat mengejutkan.


“Apakah itu satu-satunya jalan? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika ketujuh permata itu disatukan. Bukankah lebih baik jika kita mencari permata klan lain?” kataku.


Gracinia menggeleng tegas. “Tidak. Tidak ada cara lain. Tidak ada permata klan lain di dunia ini selain tujuh permata klan yang telah sekarat ini. Jika kau menemukan permata klan lain, itu hanya pecahan energi dari permata klan yang ada. Permata itu tidak memiliki kekuatan sebesar permata klan yang asli.”


“Tapi–” Aku masih ingin membantah pemikiran Gracinia. Tapi Aras memegang tanganku.


Aku menoleh ke arah Aras. Dia menggeleng pelan padaku. Tapi aku masih belum puas. Aku masih ingin berbicara lagi.


Aras menggenggam tanganku lebih erat, memberi isyarat untuk diam saja.


Aku menghela napas. Aku putuskan untuk mengikuti Aras.


“Garcinia, aku pikir cukup untuk membahas itu. Bukankah itu terlalu berat untuk dibicarakan sekarang. Ini pertama kalinya Violet ke desa ini. Bagaimana jika kita berkeliling saja?” Aras menyudahi obrolan mengenai permata klan.


“Kau benar, Aras. Aku terlalu serius membicarakannya sampai lupa jika aku harus mengajak tamu kita melihat sekitar,” kata Garcinia. Garcinia menatapku. “Bagaimana, Violet? Apa kau ingin berjalan-jalan melihat Desa Beringin?”


Aku mengangguk. “Aku senang berkeliling di tempat yang baru aku ketahui.”


Garcinia menepuk tangannya. “Baiklah kalau begitu. Kita lebih baik segera keluar dan berjalan-jalan.”


Aku, Aras, Garcinia, dan Grante bangkit. Kami kemudian berjalan keluar dari rumah Garcinia.

__ADS_1


 


 


__ADS_2