
Ada delapan kursi yang mengelilingi meja makan. Empat kursi sudah terisi. Mereka berasal dari Klan Merah, Klan Hijau, Klan Jingga, dan Klan Biru. Archi mempersilahkanku duduk di samping perempuan dari Klan Jingga, sekaligus tempat duduk terdekat dengan kursi utama.
“Bukankah ini tempat yang sangat bagus.” Perempuan Klan Jingga itu memulai percakapan denganku.
Aku mengangguk. Istana Levko memang indah, termasuk ruangan ini. Ruang makan yang aku tempati sekarang memiliki atap yang terbuka. Cahaya bulan menyinari kami secara langsung.
“Aku sangat gugup. Ini pertama kalinya aku diundang ke makan malam yang mewah. Bagaimana denganmu?”
“Aku sudah beberapa kali menghadiri jamuan makan malam. Tapi ini adalah undangan jamuan pertamaku di Klan Putih.”
“Wah, sepertinya kau orang penting, ya.”
Aku tersenyum menanggapi perempuan Klan Jingga ini.
“Ah, iya, perkenalkan namaku Tiha. Aku dari Klan Jingga.”
“Aku Violet.”
Tiha terkesiap ketika mendengar namaku.
“Jangan-jangan kau Violet yang terkenal itu? Pemenang termuda Kejuaraan Lavender? Sang Ksatria Bintang?”
“Ksatria Bintang?” Aku belum pernah mendengar julukan itu.
“Violet, Sang Ksatria Bintang. Pemenang Kejuaraan Lavender termuda sepanjang sejarah.” Seorang laki-laki Klan Biru di seberang Tiha ikut berbicara.
“Kau juga tahu? Violet, kau benar-benar terkenal!” Tiha berseru antusias.
“Kejuaraan Lavender adalah kejuaraan tersulit diantara seluruh kejuaraan di dunia klan dan kau adalah pemenang termuda. Wajar saja jika kau menjadi sangat terkenal hingga ke klan lain.”
Aku bisa mencerna pembicaraan mereka tapi rasanya aneh. Aku tidak mengira jika aku dikenal hingga klan lain. Setahuku sulit untuk menerima informasi dari klan lain. Dan apa itu Ksatria Bintang? Bagaimana mereka menyimpulkan nama itu.
“Kenapa aku disebut Ksatria Bintang?”
“Kau ingat pertarunganmu di goa yang penuh para monster? Goa itu gelap sekali tapi kau bisa bertarung dalam kegelapan seolah ada bintang yang menuntunmu melangkah. Pertarungan saat itu sangat luar biasa. Selain itu kau selalu tampak menonjol dibanding orang lain. Itu yang aku tahu.” Kali ini seorang gadis Klan Hijau yang menjawabnya.
“Oh, bahkan kau juga terkenal di Klan Hijau.” Tiha masih saja berseru takjub.
Aku kira manusia Klan Jingga adalah orang yang kaku, mengingat mereka adalah klan Cendekiawan. Orang-orang pintar biasanya seperti itu. Tapi sifat itu tidak aku temukan pada Tiha. Dia seratus delapan puluh derajat berbeda.
“Violet, apa kau–” Perkataan Tiha terputus oleh deritan pintu yang terbuka.
Kami semua duduk di kursi masing-masing dengan tenang. Archi bersuara dengan lantang, mengumumkan bahwa Kaisar Icus akan masuk ke dalam ruang makan.
Kami semua segera berdiri memberi hormat. Setelah itu Kaisar Icus memasuki ruang makan. Rupa dia tidak sendiri, ada seorang laki-laki seusiaku berjalan di belakangnya.
“Silahkan duduk kembali.” Kaisar Icus mempersilahkan.
Aku, Tiha, gadis Klan Hijau, dan laki-laki Klan Biru itu kembali duduk. Laki-laki Klan Putih yang berjalan di belakng Kaisar Icus juga ikut duduk. Dia duduk tepat di seberangku.
“Aku ucapkan selamat datang di Istana Levko. Terima kasih kalian telah memenuhi undanganku,” sambut Kaisar Icus.
Aku belum pernah melihat Kaisar Icus sebelumnya. Aku kira Kaisar Icus adalah pemimpin yang sudah cukup berusia tapi ternyata dia masih muda. Aku rasa umurnya masih empat puluh tahunan, jauh lebih muda daripada Jenderal Risagu. Umur yang masih penuh dengan ambisi dan semangat untuk ukuran seorang kaisar.
“Hari ini aku mengundang tujuh pemilik galur murni. Tapi sepertinya masih ada tamu yang belum datang.” Kaisar Icus menatap kursi kosong di seberangnya.
Aku ikut menatap kursi kosong itu. Kursi itu sejajar dengan kursi Kaisar Icus. Jika Kaisar Icus mengundang pemilik galur murni dari masing-masing Klan, berarti tinggal Klan Hitam yang belum datang.
Menurutku, Klan Hitam tidak terlalu pantas diundang dalam jamuan makan malam di Klan Putih jika ini adalah jamuan makan malam biasa. Apalagi di tempat duduk kehormatan yang berada di ujung meja.
“Akan terlalu larut jika kita menunggu tamu terakhir kita. Jadi aku akan memulai jamuan ini. Pertama aku ingin kalian memperkenalkan diri terlebih dulu sesuai urutan tempat duduk kalian. Ichi, kau bisa memulainya.” Kaisar Icus meminta laki-laki Klan Putih dihadapanku untuk berdiri.
“Aku Ichi, pemilik galur murni Klan Putih.”
Aku pernah mendengar namanya dari Vender. Kalau tidak salah dia adalah mayor termuda Klan Putih. Dia seumuran denganku. Ada luka yang memanjang dari dahi hingga rahangnya. Katanya dia terkenal kasar. Lukanya sendiri sangat mendukung rumor tentangnya.
Ichi kembali duduk. Sekarang giliranku.
Aku berdiri lalu memperkenalkan diri. “Namaku Violet. Aku pemilik galur murni Klan Ungu.”
“Kau pemenang termuda Kejuaraan Lavender itu, ya?” Kaisar Icus berkomentar untuk pertama kali. Tapi entah kenapa dengan pertanyaan yang sama dengan Tiha dan laki-laki Klan Biru itu.
“Benar, Kaisar.”
Kaisar mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia tampak puas.
Aku memandang sekitar, memastikan tidak ada orang lagi yang bertanya tentangku. Aku lalu duduk, ganti laki-laki Klan Biru itu memperkenalkan diri.
“Perkenalkan namaku Azuro Geerginlik, pemilik galur murni Klan Biru. Mohon bantuan untuk ke depannya.” Cara bicaranya sopan selayaknya seorang bangsawan.
“Ah, halo, aku Tiha. Kebetulan aku juga pemilik galur murni Klan Jingga.” Perkenalan Tiha sesuai dengan perkiraanku, gugup dan nonformal.
Sekarang giliran seorang gadis dari Klan Hijau. Dia terlihat sedikit gugup apalagi ketika menghadap Kaisar Icus. Dia diam sejenak sebelum memperkenalkan diri.
“Namaku Oryza tapi orang-orang biasa memanggilku Ryza. Aku berasal dari Klan Hijau.”
Saat pertama kali melihat Ryza, dia adalah tipe perempuan ideal. Dia cantik. Gerakannya anggun, tidak serampangan. Tapi meskipun aku belum mengenalnya lebih dalam, aku bisa melihat dia menyembunyikan sesuatu. Apalagi setelah aku sadar jika orang yang membuatnya gugup adalah Ichi. Ichi memang berparas menarik tapi tidak mungkin dia gugup hanya karena itu.
Ryza sudah selesai memperkenalkan diri. Seharusnya tamu dari Klan Merah sudah berdiri untuk memperkenalkan diri. Tapi dia masih saja duduk sambil menunduk. Tiha menyikut pelan laki-laki dari Klan Merah yang ada di sebelahnya itu.
“Hei… hei… Sekarang giliranmu,” bisik Tiha. “Kau dengar tidak, sih?”
Tiha menyikut laki-laki itu lebih keras.
Brukk
Astaga, laki-laki Klan Merah itu tidur. Dia baru terbangun setelah kepalanya terantuk meja. Pantas dia diam saja dari tadi.
“Huahh…” Laki-laki itu menguap dengan kerasnya.
Semua yang ada di ruang makan, menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya dia melakukan kelakuan yang tidak sopan di jamuan makan malam Klan Putih.
__ADS_1
Kaisar Icus berdehem, memperingatkannya.
“Dimana aku?” Laki-laki itu masih bingung. Dia menatap sekitar lalu berdir tegak di tempatnya. Dia sepertinya sudah sadar dimana dia sekarang.
“Maafkan aku, Kaisar.” Laki-laki itu meminta maaf.
“Tindakanmu baru saja sangat tidak pantas dilakukan di jamuan makan malam ini.” Kaisar Icus memberitahu.
“Sekali lagi, aku maafkan aku.”
Kaisar Icus menghela nafas. “Jangan ulangi lagi. Sekarang perkenalkan dirimu!”
“Baik. Namaku Bara dari Klan Merah. Senang bertemu kalian.” Bara memamerkan senyum lebarnya.
Kesan pertama yang aku dapatkan darinya adalah tidak displin, tidak beretika tapi dia orang yang ceria dan percaya diri.
Bara kembali duduk. Sekarang gilian Klan Hitam. Tapi pemilik galur murni mereka masih belum datang.
“Aku pikir perkenalan kali ini cukup. Mari kita memulai makan malam hari ini. Selamat menikmati.”
Selesai Kaisar Icus berbicara, belasan pelayan masuk ke dalam ruangan sambil membawa berbagai macam makanan.
“Wah, kuenya terbang!” pekik Tiha.
“Lihat, para burung membawa buah-buahan!” seru Bara.
Bara dan Tiha sepertinya sejenis. Mereka sibuk mengagumi hal-hal baru yang mereka lihat.
Jamuan makam malam ini memang fantastis. Aku juga baru pertama kali melihat makan malam sehebat ini. Pelayan-pelayan bergiliran mengantar makanan. Puluhan burung kecil terbang sambil membawa keranjang buah. Beberapa makanan penutup bahkan mengambang diatas awan kecil. Benar-benar mengagumkan.
Jamuan makan malam berjalan dengan lancar. Semua orang terlihat senang. Bara bahkan bercanda ria dengan Kaisar Icus. Makan malam diakhiri dengan makanan penutup yang melayan-layang.
Aku pikir acara ini sudah hampir selesai tapi setelah memakan makanan penutup, burung-burung kembali berterbangan membawa camilan. Semua pelayan sudah pergi. Di ruangan ini hanya ada Kaisar Icus dan enam tamunya, serta burung-burung yang bertengger sambil membawa keranjang camilan.
“Aku akan mengatakan tujuan utamaku mengundang kalian kemari.” Kaisar Icus membuka pembicaraan. “Sebelumnya aku telah menitipkan surat-suratku kepada pemimpin setiap klan. Aku meminta mereka untuk memilih pemilik galur murni terbaik untuk menerima suratku. Dan itu adalah kalian.”
Kaisar Icus menatap kami satu persatu. “Kalian tahu permata klan?”
Belum sempat kami menjawab, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar. Seseorang masuk ke dalam. Mata dan rambut hitamnya berkilauan terkena cahaya rembulan. Semua orang terperanjat melihatnya. Orang itu adalah Aras.
Kenangan buruk melintas di kepalaku. Pembunuhan ayah dan Ibu. Kebakaran yang mengambil nyawa Vender. Tanpa sadar aku bergerak cepat ke depan Aras. Rapier sudah siap di tanganku. Aras adalah penjahat di dunia klan. Keberadaannya sekarang mungkin mengancam Kaisar Icus dan seluruh tamu yang datang.
Bilah pedangku sudah berada di leher Aras sebelum dia sempat mengelak. Di belakang pintu, Archi sudah siap bertarung, menyandang senjata bersama prajurit Klan Putih.
“Ada apa ini?” tanya Kaisar Icus.
Archi sudah membuka mulutnya untuk berbicara tapi dia didahului oleh Aras.
“Maaf Kaisar, aku ke sini untuk memenuhi undanganmu tapi bawahanmu menghalangiku untuk masuk ke sini. Padahal aku sudah menunjukkan kalung yang kau beri.”
Sebuah kalung berbandul hitam tergantung di leher Aras. Kalung itu sama dengan kalung para pemilik galur murni lain yang diundang, hanya bandulnya saja yang berbeda, berwarna hitam.
Kaisar Icus mengamati kalung itu. “Kau memang tamuku. Silahkan duduk.”
“Tapi, Kaisar, dia adalah seorang penjahat.” Aku tidak bisa membiarkan orang sepertinya bergabung bersama kami. Kalung itu mungkin memang asli tapi bisa jadi dia bukan pemilik sahnya.
Aku belum percaya kepada Aras. Aku lebih menekan pedangku ke lehernya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Sudah aku bilang sebelumnya, aku hanya memenuhi undangan Kaisar Icus. Jangan terlalu kaku begitu, Violet. Kita sudah tidak lama bertemu.”
“Jangan panggil namaku.” Aku memperingatkan.
“Violet! Setiap klan memiliki peran penting di pertemuan ini. Jadi, kembali ke tempat dudukmu agar aku bisa melanjutkan pertemuan kita.” Kaisar Icus berbicara tegas kepadaku.
Dengan berat hati aku menurunkan pedangku lalu duduk di kursiku. Sementara itu Aras berjalan ke tempat duduknya. Kaisar Icus menyuruh Archi untuk menutup pintu ruangan.
“Sekarang mari kita lanjutkan pertemuan kita. Tapi sebelumnya aku ingin kau memperkenalkan diri, pemilik galur murni Klan Hitam.”
Aku rasa dia tidak perlu memperkenalkan diri. Semua orang di sini pasti tahu siapa Aras.
“Sebelumnya maafkan aku karena terlambat datang, Kaisar. Namaku adalah Aras. Aku pemilik galur murni Klan Hitam, sekaligus Raja Klan Hitam.
“Raja? Penjahat sepertimu adalah seorang raja?” Kali ini Bara yang membuka mulutnya.
“Aku bukan seorang penjahat. Tidak semua berita tentangku itu benar.”
“Bagaimana dengan Raja Ash?” tanya Bara.
“Kau sepertinya tahu tentang Raja Ash, Klan Merah. Raja Ash telah wafat setahun yang lalu. Semenjak itu aku menggantikannya sebagai raja.”
“Kau adalah anak Raja Ash?” tanya Azuro.
Aras menggeleng. “Aku bukan keturunannya. Klan Hitam tidak menggunakan pemerintahan monarki hereditas seperti Klan Biru.”
“Kau tidak membunuh rajamu, kan?” Pertanyaanku memang tajam dan tidak sopan dilontarkan kepada seorang raja. Tapi aku yakin orang lain juga ingin tahu jawabannya.
Aras tersenyum.“Tentu saja tidak.”
“Aku rasa cukup untuk perkenalannya, Raja Aras. Silahkan duduk kembali. Aku akan memperkenalkan tamu yang lainnya secara singkat,” kata Kaisar Icus. “Dia adalah Ichi, pemilik galur murni Klan Putih. Violet, pemilik galur murni Klan Ungu. Azuro, pemilik galur murni Klan Biru. Tiha, pemilik galur murni Klan Jingga. Ryza, pemilik galur murni Klan Hijau. Dan Bara, pemilik galur murni Klan Merah.”
“Nah sekarang aku akan masuk ke pokok pembahasan kita.”
Semuanya memusatkan perhatian kepada Kaisar Icus.
“Seperti yang kita tahu bahwa alam kita bergantung pada permata klan. Tidak pernah disebutkan permata klan itu abadi dan ternyata sekarang permata-permata itu sudah mencapai batasnya. Itu bisa terlihat dari perubahan di wilayah klan kita.”
Muncul sebuah layar hologram di tengah meja.
__ADS_1
“Ini adalah keadaan Klan Putih. Beberapa wilayah Klan Putih menjadi rapuh. Jika ini dibiarkan wilayah Klan Putih bisa jatuh ke permukaan dan itu akan menimbulkan bencana besar bagi klan lain.”
Gambar pada layar hologram berubah. Layar hologram memperlihatkan sebuah wilayah yang aku kenal.
“Ini adalah daerah di sekitar ibukota Klan Ungu, kota Aruvi. Daerah di sekitar sini mengalami kekeringan yang parah. Begitu juga di tempat yang lain. Tapi mereka sedikit beruntung karena daerah pesisir Klan Ungu tidak mengalami kekeringan atau bencana lainnya sehingga mereka bisa mendapatkan pasokan bahan makanan dari sana.
Gambar pada layar hologram terus berubah, menayangkan keadaan masing-masing klan. Layar itu memperlihatkan wilayah seluruh klan, kecuali Klan Hitam.
“Kami belum tahu keadaan Klan Hitam karena pemimpin Klan Hitam belum memberikan laporan kepada dewan. Mungkin kau bisa menjelaskan keadaan Klan Hitam, Raja Aras?”
“Sejauh ini, klan kami baik-baik saja. Kami memiliki pasokan makanan yang melimpah. Kami siap untuk membantu klan lain jika membutuhkan.” Aras menjawabnya dengan mantap.
“Terima kasih atas bantuannya, Raja Aras. Bantuanmu akan sangat berguna.” Kasiar Icus menyambut tawaran Aras.
“Kekuatan permata telah berkurang drastis. Jika ini dibiarkan seluruh klan akan mengalami bencana dahsyat dan bisa menjadi akhir kehidupan dunia kita. Oleh karena itu Dewan Lintas Klan memutuskan untuk mencari permata klan.”
“Dewan Lintas Klan? Aku baru pertama kali mendengarnya.” Aku bertanggapan.
“Dewan Lintas Klan adalah perkumpulan yang dibentuk untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan antar klan. Dewan itu beranggotakan pemimpin masing-masing klan.” Aras yang menjawabnya.
“Menurut rapat Dewan Antar Klan, hanya para pemilik galur murni yang bisa menemukan permata klan baru. Pemilik galur murni memiliki kepekaan yang kuat terhadap permata klan.”
“Tapi bukankah permata klan hanya ada satu di dunia ini?” Kali ini Ryza yang bertanya.
“Tidak, di dunia ini permata klan tidak hanya satu. Klan Biru memiliki dua sapphire. Satu dipegang Klan Biru Timur. Dan satu lagi dipegang Klan Biru Barat.” Azuro angkat suara.
Informasi dari Azuro cukup mengejutkan. Klan Biru memang tidak begitu harmonis, mereka terpisah menjadi dua, Klan Biru Barat dan Klan Biru Timur. Mereka selalu berperang untuk merebutkan sapphire. Beberapa tahun lalu perang itu telah usai, tapi aku tidak menyangka jika alasan perang itu selesai karena masing-masing wilayah Klan Biru telah mendapat sapphire.
“Apa Dewan Antar Klan mengetahui ini? Dan bagaimana mereka bisa mendapat sapphire lain?” Ichi akhirnya bertanya setelah dari tadi dia hanya diam.
“Kami mengetahuinya. Tapi hanya sebatas itu,” jawab Kaisar Icus.
“Sebenarnya sejak dulu Klan Biru memang memiliki dua sapphire. Keduanya disimpan di Istana Doncer di Klan Biru Barat. Pada akhir perang saudara, Klan Biru Timur berhasil mengambil sapphire paling kuat. Padahal pompos sapphire berada di Klan Biru Barat.” Azuro menambahkan informasi penting.
Setiap klan memiliki pompos. Pompos adalah alat untuk memancarkan energi dari permata klan. Dengan alat itu energi klan bisa digunakan oleh manusia klan untuk kehidupannya sehari\-hari.
“Ratu Marine tidak pernah memberitahu tentang itu di rapat dewan,” kata Kaisar Icus.
“Ratu takut itu akan membuat perang pecah kembali. Bagi Klan Biru, wilayah barat dan timur bisa hidup tanpa perang, sudah cukup, walaupun Klan Biru Barat menjadi paling dirugikan. Jadi, ratu tidak ingin mengungkit kejadian itu.” Azuro menerangkan.
“Kalau itu benar. Ini adalah informasi yang menarik. Kita bisa memulainya dari Klan Biru.”
Semua menatap Kaisar Icus. “Alasan utama kalian diundang ke sini adalah memberi misi kepada kalian. Misi untuk mencari permata klan baru. Dan setelah tujuh permata klan terkumpul, kalian harus membawanya ke berigin. Berigin adalah pompos baru yang dibuat untuk menjadikan permata klan menjadi energi abadi bagi dunia klan.”
“Berigin? Bukannya mayoritas anggota dewan tidak menyetujuinya. Lagi pula itu masih rancangan yang belum tentu berhasil.”
“Raja Aras, kau tidak datang ke rapat Dewan Lintas Klan akhir-akhir ini sehingga kau tidak mengetahui hasil rapat terbaru.”
Layar hologram kembali menayangkan sebuah gambar. Kali ini gambar sebuah bangunan setinggi satu meter, berbentuk seperti jam tapi memiliki tujuh jarum penunjuk dan hanya memiliki tujuh tempat yang bukan angka tapi cawan besar yang berwarna warni.
“Ini adalah berigin. Dibangun dari tiga bulan yang lalu. Mayoritas anggota dewan setuju untuk menggunakan alat ini. Dengan alat ini, kita akan menikmati energi permata klan yang tidak ada habisnya.”
Semua terkesan ketika mendengarnya, kecuali Aras. Wajahnya menunjukkan sikap tidak setuju.
“Sapphire sudah diketahui letaknya. Lalu bagaimana dengan permata klan lain?” tanya Ryza.
Kaisar Icus menoleh ke arahku. “Itulah gunanya ada Ksatria Bintang di sini.”
Aku terkejut mendengar ucapan Kaisar Icus. Aku tidak menyangka Kaisar Icus juga tahu tentang Ksatria Bintang.
“Menurutmu, kenapa kau dijuluki seperti itu, Violet?” tanya Kaisar Icus.
“Sebenarnya aku baru tahu julukan itu di sini dari Tiha, Azuro, dan Ryza. Ryza bilang julukan itu diberikan kepadaku karena aku bisa bertarung dalam kegelapan, seolah dipandu oleh bintang-bintang.”
“Itu benar tapi aku akan memberitahumu arti sebenarnya.” Kaisar menatap sejenak langit malam yang berbintang. “Ksatria Bintang sebenarnya adalah julukan Dewan Lintas Klan padamu karena kau adalah pelacak jejak. Kau petunjuk bagi dirimu sendiri dan orang lain. Layaknya bintang-bintang bagi para penjelajah. Kau petunjuk permata klan. Hanya kau yang bisa melacak letak permata-permata itu.”
Aku mengerti. Kekuatanku sebagai galur murni menjadi penyongkong utama dalam misi ini. Aku bisa melihat jejak, jejak apapun, termasuk jejak permata klan.
Sudah dari lama aku melihat jejak amethyst di Klan Ungu. Ada suatu tempat di Istana Lazuli yang memancarkan jejak amethyst yang luar biasa. Perkiraanku di sanalah amethyst disimpan. Tapi aku memilih untuk diam saja, pura-pura tidak tahu.
Aku tidak pernah memberitahu kekuatanku kepada siapapun, kecuali Vender. Dia juga mewanti-wantiku untuk tidak memberitahu kekuatanku kepada siapapun. Kekuatanku memang terlihat lemah, tapi sebenarnya sangatlah besar. Dulu sekali ada pemilik galur murni yang memiliki kekuatan sama sepertiku. Kekuatannya berkembang pesat. Dia bahkan bisa mengetahui suatu kejadian di tempat lain, melihat masa lalu dan masa depan. Tapi hidupnya tidak berjalan dengan baik. Dia selalu dikejar-kejar untuk memenuhi nafsu manusia pada kekuatan dan harta.
“Dari mana dewan tahu tentang kekuatanku?”
Sebenarnya ada satu lagi orang yang tahu tentang kekuatanku. Apa dia yang memberi tahu Dewan Lintas Klan?
“Kejuaraan Lavender,” jawab Kaisar Icus.
“Panglima jenderal Klan Ungu mengamatimu dari awal kejuaraan hingga kau keluar sebagai pemenang. Dia menyadari bahwa kau adalah pemilik galur murni dengan kekuatan pencari jejak. Semenjak itu kau terus diamati Dewan Lintas Klan karena kau adalah pemilik galur murni yang langka. Lebih-lebih kau sangat kuat.”
Aku sekarang jadi mengerti mengapa Vender melarangku bergabung dengan pasukan elit Klan Ungu. Dia sadar aku sedang diawasi. Oleh karena itu dia membatasiku dengan pemerintah.
“Selain itu kalian harus menjaga kalung yang aku berikan. Kalung itu adalah pengenal kalian sebagai pengemban misi ini. Misi ini sangat rahasia. Hanya Dewan Lintas Klan dan kepercayaannya saja yang tahu tentang misi ini. Kalung ini hanya berguna jika kalian bertemu anggota dewan atau kepercayaannya saja. Prajurit ataupun rakyat biasa tidak akan paham apa arti kalung itu. Jadi, kalian tidak bisa bebas keluar masuk wilayah klan karena kalung ini adalah tiket masuk terbatas.”
“Aku pikir cukup untuk hari ini. Misi akan dimulai besok pagi. Malam ini kalian akan menginap di sini. Kebutuhan dalam menjalankan misi sudah kami siapkan di kamar masing-masing.”
*****
Aku membuka pintu kamarku. Aku baru saja diantarkan pelyan istana menuju kamarku di istana Levko. Kamar yang aku tempati cukup luas. Aku agak terkejut begitu masuk ke kamar ketika melihat puluhan senjata berjajar di salah satu bagian dinding kamar.
“Apa semua kamar di istana ini seperti ini?”
Aku mengamati satu persatu senjata yang terpajang. Ada berbagai senjata di sini. Dari yang tradisional hingga moderen.
Aku lebih suka pertarungan jarak dekat tapi aku juga harus berjaga-jaga. Jadi, aku mengambil sebuah pistol dan pisau. Di sini juga ada pedang tapi aku tidak mengambilnya karena aku sudah rapier. Untuk berjaga-jaga, aku mengambil dua granat.
Aku membawa senjata-senjata pilihanku ke meja. Di meja kamarku sudah ada tas berisi perlengkapan dan bajuku. Tunggu dulu, ini benar-benar bajuku. Baju yang biasa aku pakai ketika bertarung. Jangan-jangan Jenderal Risagu membawanya dari mansion ke sini. Aku tidak bisa membayangkannya.
Aku berjalan menuju balkon kamar. Aku menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
“Ksatria Bintang, ya. Apa aku pantas menyandang gelar itu?”
__ADS_1
Aku menghela nafas. Mulai besok petulanganku dimulai. Aku harus segera beristirahat.