
Aku membuka mataku. Sekelilingku gelap. Tentu saja karena aku buta. Aku duduk di kasur. Udara terasa dingin, artinya sekarang masih malam. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebuah jejak terlihat. Aku menggosok mataku untuk memastikan apa yang aku baru saja kau lihat.
“Jejak?”
Aku masih tidak yakin dengan penglihatanku. Aku memastikan sekali lagi jejak yang aku lihat.
“Itu jejak Tiha?”
Aku melihat ke sekeliling. Mungkin ada jejak lain yang bisa aku lihat. Aku mendapati sebuah jejak yang bersinar sangat terang. Jejak itu sama dengan jejak amethyst yang biasa aku lihat di Klan Ungu.
“Apa itu Amethyst?”
Aku melangkah mendekati jejak itu.
Duakk
“Aduh.” Aku mengusap kepalaku yang terbentur kaca jendela.
Aku tidak tahu jika jejak itu di luar rumah Ludwig. Jejaknya terasa dekat sehingga aku mencobanya untuk melihat lebih dekat. Tapi aku malah membentur jendela. Meskipun aku sudah bisa melihat jejak, aku masih tetap buta secara “normal.”
Aku membuka jendela kamarku. Angin malam berhembus kencang. Aku merasakan gelombang energi yang begitu besar. Energi yang sama dengan amethyst.
Aku teringat ucapan Aras tentang bunga violet yang ada di puncak gunung. Jangan-jangan di bawah bunga itu memang ada permata klan seperti dugaan Aras.
Aku meloncat keluar kamar melalui jendela kemudian berlari ke arah gunung Jadnew. Aku harus segera memastikan keberadaan amethyst di sana.
Perjalananku ke gunung Jadnew cukup lancar setelah keistimewaanku kembali. Sekarang aku baru bisa melihat jejak. Kurang lebih rasanya seperti ketika bertarung dalam kegelapan. Aku bisa menghindari makhluk hidup dan benda yang teraliri energi permata klan.
Semakin dekat dengan puncak gunung, semakin banyak jejak manusia yang terlihat. Pemilik jejak-jejak itu pasti adalah orang-orang yang mengincar bunga violet.
Benar saja. Saat aku sampai di puncak gunung, tempat itu dipenuhi oleh jejak manusia. Dari jejaknya, aku bisa tahu jika para pemilik jejak itu ada di tempat ini pada waktu yang sama. Ada jejak Aras diantara ratusan jejak lain. Jejaknya mencolok karena kebanyakan pemilik jejak di sini adalah Klan Biru. Aku bisa membayangkan persaingannya dengan orang-orang ini untuk mendapat bunga violet. Dia benar-benar bekerja keras.
Aku berjalan ke tanaman violet yang berada di tengah-tengah puncak gunung.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku berbalik badan. Aku melihat jejak Aras.
“Kau mengikutiku?” Aku balik bertanya.
“Aku terkejut melihatmu tiba-tiba melompat dari jendela kamar,” jawab Aras. “Apa yang membuatmu ke tempat ini?”
“Tentang energi yang kau rasakan kemarin, aku melihat jejaknya. Dugaanmu sepertinya benar. Ada permata klan di sini karena jejak energi itu sama dengan jejak amethyst di Klan Ungu.”
“Kau bisa melihatnya? Matamu sudah sembuh?”
Aku mengangguk. “Tapi hanya sebatas melihat jejak saja.”
Aku dan Aras mendekati tanaman violet. Jejaknya bersinar makin terang. Aku bisa merasakan amethyst di sini. Energinya memancar dengan sangat kuat. Tubuhku sendiri menyerap energi itu. Hangat dan ringan. Luka-lukaku tidak terasa nyeri lagi.
Aku menyentuh pangkal batang tanaman violet. Aku bisa merasakan energi yang lebih kuat di sini. Aku berkonsentrasi mengikuti jejak yang dibuat amethyst.
__ADS_1
“Itu dia!”
Aku bisa melihat pusat jejak amethyst. Amethyst benar-benar ada di sini. Tepat di bawah tanaman violet.
“Aku bisa melihat amethyst tepat di bawah tanaman ini. Apa kau bisa mengambilnya? Letak amethyst-nya agak dalam,” tanyaku.
“Akan aku coba.”
Aras maju ke depan. Dia berkonsentrasi. Tanah di sekitar kami bergetar. Setelah itu tanah di bawah tanaman violet bergerak ke atas.
Jantungku berdegub kencang. Amethyst belum terlihat tapi aku sudah bisa merasakan kekuatan mahadahsyatnya.
Tiba-tiba aku melihat jejak tanaman violet bergerak ke arah Aras. Itu adalah batang tanaman. Tanaman itu hendak menyerang Aras. Aku bergerak cepat memotongnya dengan pisau. Beruntung batang itu bisa aku potong. Semenjak rapierku hilang, aku menyimpan pisau dapur Ludwig sebagai senjataku. Untung saja pisau itu sudah aku asah setajam mungkin.
“Ada apa?” tanya Aras.
“Tanaman violet itu sepertinya pelindung amethyst. Dia menyerang karena mendeteksi ada pergerakan yang mengancam amethyst,” jelasku.
Tanaman itu kembali menyerang. Kali ini tidak hanya satu tapi empat batang menyerang kami bersamaan. Aku segera memotongnya. Tapi pisau memiliki ukuran yang kecil. Aku agak kesulitan untuk menjangkau batang-batang yang lain. Aras membantuku dengan menghancurkan batang-batang itu dengan batu tajam yang dimunculkan dari tanah.
Tanaman violet terus menyerang dan semakin ganas. Sebuah batang menamparku hingga terlempar beberapa meter.
“Kau baik-baik saja?” tanya Aras.
“Kau fokus saja mengeluarkan amethyst. Biar aku yang menangani tanaman ini.”
Aku berdiri di belakang Aras, melindunginya dari serangan tanaman violet. Aku mencabut batu-batu tajam yang dimunculkan Aras dari tanah. Batu itu tajam dan panjang. Lebih mudah memotong batang yang menyerang dengan itu.
Tiba-tiba aku merasakan kejutan listrik di belakangku. Aku berbalik menghadap Aras. Sebuah benda yang jejaknya sangat terang menyilaukan mataku. Dia berhasil mengeluarkan amethyst dari dalam gunung.
“Ambil permatanya. Hanya galur murni milik permata itu sendiri yang bisa memegangnya,” seru Aras.
Aku meraba bentuk amethyst. Bentuknya tabung enam sisi. Ada ukiran-ukiran yang di setiap sisinya. Samar-samar aku melihat bentuk amethyst. Warnanya ungu dan berkilauan. Bentuknya semakin jelas hingga aku bisa melihat keseluruhan amethyst.
“Kau berhasil mendapatkannya?” tanya Aras. Dia sudah berhasil menumbangkan tanaman violet.
“Ya, aku berhasil mendapatkan–”
Perkataanku terputus. Suatu keajaiban mengejutkanku.
“Ada apa denganmu?” Aras bingung dengan sikapku.
Astaga, apa ini mimpi? Aku bisa melihat Aras dengan jelas. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku masih bisa melihat Aras. Dunia yang aku lihat tidak segelap kemarin lagi.
“Apa matamu sakit?” tanya Aras.
Aku mengusap kedua mataku. “Aku sudah bisa melihat. Aku bisa melihatmu.”
Aras menyibak sebagian rambut yang menutup mataku. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke padaku agar bisa melihat mataku dengan jelas.
“Benarkah? Kau bisa melihatku?”
Aku mengangguk.
Wajah Aras terlalu dekat. Aku mati-matian menahan wajahku agar tidak merah.
“Syukurlah.” Akhirnya dia menjauh dariku. Saat itu juga aku menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
Aras melirik amethyst yang ada di tanganku.
“Bagaimana dengan amethyst?”
Aku memperlihatkannya di depan Aras. “Tadi aku bisa merasakan kekuatannya. Aku pikir energi amethyst mempengaruhi penyembuhan mataku. Tapi sekarang amethyst terasa seperti batu biasa. Sangat sedikit energi yang keluar, hampir tidak ada.”
“Simpan amethyst-nya. Permata itu hanya bisa dipegang olehmu secara langsung tapi orang lain juga bisa memegangnya meskipun tidak secara langsung.” Aras memberitahu.
Aku mengangguk. Aku lalu memasukkan amethyst ke dalam kantong bajuku. Untuk sementara aku akan menyimpannya di situ. Setelah tiba di rumah Ludwig, aku akan memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
“Kita harus segera pergi dari sini. Amethyst memancarkan energi yang besar ketika kita mengambilnya. Energinya pasti menarik banyak orang. Bisa jadi diantara mereka ada yang tahu dan mengincar amethyst.” Aras bersiap meninggalkan puncak gunung.
Aku dan Aras turun dari gunung. Setelah penglihatanku kembali, aku bisa bergerak cepat seperti dulu. Selama perjalanan, beberapa kali aku melihat orang yang bergerak menuju puncak bukit. Sepertinya mereka mencari tahu gelombang energi yang bersumber di puncak gunung tadi.
Aku dan Aras sudah sampai di padang rumput. Aku memandang sekelilingku. Sudah empat hari aku tinggal di tempat ini tapi baru kali ini aku melihatnya. Dari kejauhan, aku bisa melihat sebuah rumah kecil di tengah-tengah padang rumput.
“Itu rumah Ludwig?” Aku menunjuk rumah itu.
Aras mengangguk.
Kami berjalan santai ke sana. Bintang-bintang bersinar cerah hari ini. Tak ada salahnya untuk menikmatinya sebentar. Lagi pula besok kami pergi dari Jadnew.
Aku dan Aras berjalan tanpa suara. Kami menikmati perasaan masing-masing. Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan pada Aras. Tapi semenjak kami bertemu, aku dan Aras hanya membicarakan tentang misi saja, tidak lebih. Aku merasa canggung dengannya.
“Terima kasih untuk empat hari ini.” Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.
Aras menoleh ke arahku. “Tidak perlu dipikirkan.”
Aras, kenapa kau begitu baik padaku? Padahal kau telah membunuh orang tuaku, membunuh Vender, membunuh Ova. Kau ada dibalik banyak kejahatan di dunia ini. Kamu sebenarnya seperti apa? Apa sebenarnya selama ini aku yang salah? Atau kau hanya menjadi kambing hitam banyak orang? Aku terus memikirkan hal ini. Bagaimanapun juga dia pernah menjadi orang yang berharga bagiku.
Perkataan Eliza. Perkataan Lisa. Cerita Ludwig. Cerita Azuro. Semuanya mengatakan seolah-oalah Aras adalah orang yang baik. Aku yakin Azuro tahu siapa Aras. Tapi dia juga mengatakan hal yang sama. Aku bingung.
“Kenapa kau berhenti?”
Aku tidak sadar jika aku menghentikan langkahku. Aras yang sudah berjalan di depan sana, ikut berhenti.
“Kenapa kau bersikap baik padaku?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Kenapa kau bersikap baik padaku?” Aku mengulanginya lagi. “Kau membantuku ketika aku buta. Menjagaku. Padahal kau membunuh Ova. Kau membunuh orang tuaku. Kau membunuh Vender. Kau membakar rumahku. Kau membakar panti asuhan kita. “
“Apa panti asuhan itu tidak berharga untukmu? Apakah kau sangat benci di sana? Kenapa kau menyianyiakan nyawa Ova yang sudah mengurus kita? Apa kau tidak tahu seberapa berharganya mereka untukku? Sebenarnya apa arti semua ini bagimu? Padahal dulu kau baik sekali.”
Air mataku mengalir. Semua yang aku pendam akhirnya keluar. Kebingunganku. Kemarahanku.
“Maafkan aku.” Hanya itu yang Aras ucapkan.
“Sebegitu mudahnya kau minta maaf? Kau tahu? Aku sangat membencimu! Sampai rasanya aku ingin membunuhmu. Tapi aku tidak bisa.” Aku jatuh terduduk di rerumputan. Air mataku menetes ke tanah.
Aras mendekatiku. Dia kini benar-benar ada di hadapanku.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku memang sudah memiliki banyak dosa. Jadi, biarkan aku berbuat baik untuk menebusnya.”
Dosa?
Aku ini juga manusia yang penuh dosa.
Aku mengelap air mataku kemudian berdiri. “Maafkan aku, Aras. Aku memang tidak tahu diri. Padahal aku sendiri memiliki lebih banyak dosa darimu.”
__ADS_1
Aku melangkahkan kaki menuju rumah Ludwig yang jaraknya sudah tak jauh lagi, meninggalkan Aras yang memandangku sedih.