Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 60


__ADS_3

“Serahkan Zamrud juga cincin Zamrudku padaku. Aku mungkin akan melepaskan kalian jika kalian menyerahkan permata klan itu,” ucap Arnold.


Jelas aku dan Aras menolak tawaran Arnold. Kami tidak mungkin memberikan Zamrud dan cincin Zamrud padanya. Selain itu saat ini kami tidak memiliki Zamrud, tidak seperti pikiran Arnold.


Aku dan Aras memantapkan posisi kami. Pedangku sudah siap menyerang kapanpun.


“Kami menolak. Kami tidak akan menyerahkan Zamrud atau cincin Zamrud padamu,” jawabku atas tawaran Arnold.


Kedua ujung bibir Arnold terangkat. Seketika aku dan Aras diserang sulur dari empat arah.


Aras memotong sulur-sulur itu dengan batu tajam.


Sulur lain muncul dari dalam tanah. Aku dan Aras meloncat menghindar. Aras ikut menarik Ty.


“Berlindunglah di tempat yang aman,” kata Aras pada Ty.


“Aku juga akan bertarung!” tolak Ty.


“Tidak sekarang, Ty! Ini berbahaya. Kau harus pergi dari sini!” teriak Aras.


Ty tersentak mendengar seruan Aras. Ini pertama kalinya Aras berteriak pada Ty.


Ty sangat terkejut, tapi dia menjadi mengerti seberapa berbahayanya posisi kami sekarang.


Ty mengangguk. Dia berlari ke menjauh dari arena pertarungan. Tapi Pengguna Pisau menghalanginya. Dia menangkap Ty, mencengkram kerah baju Ty.


Aku memukul orang itu dengan gagang pedangku di hidungnya.


“Arghh!”


Orang itu berteriak kesakitan sambil memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah. Dia melepaskan cengkramannya pada Ty.


“Cepat pergi!” seruku.


Ty berlari cepat dan menghilang. Aku dan Aras kembali ke posisi kami. Setelah Ty pergi, aku dan Aras bisa bertarung lebih leluasa.


Aku berkonsentrasi. Ada lima musuh di depanku dan Aras yaitu Arnold bersama empat pengikutnya. Satu orang membawa sabit besar. Satu orang menyerang menggunakan pisau. Satu orang bersenjata tombak. Dan dua orang lagi bersenjata panah, meskipun hanya ada satu pemanah yang siap menyerang.


Ada tiga pemilik galur murni di antara mereka, termasuk Arnold. Dua lagi adalah salah satu dari pemegang tombak dan satu lagi adalah pemanah. Tapi pemanah itu entah masih pingsan atau sudah terbangun dibalik pohon setelah aku serang tadi.


SLASH


Arnold mengayunkan sabitnya ke arahku. Aku bergerak menghindar.


SLOP

__ADS_1


Penombak ganti menyerangku. Tombaknya melesat di depanku. Aku menarik gagang tombak hingga pemiliknya ikut tertarik ke depanku. Aku kemudian menendang wajahnya.


“Ternyata rumor tentang manusia Klan Ungu yang kuat sepertinya benar,” kata Arnold. “Mari kita coba tes dengan ini.”


Arnold menjentikkan jarinya. Seketika sepuluh Arnold muncul membawa sabit. Sabit mereka adalah sabit biasa, bukan monkshood.


Sepuluh bayangan Arnold menyerangku. Aku menarik napas panjang dan mulai menari menggunakan pedangku.


CLING


TRANG


Suara logam saling berbenturan. Aku menahan serangan, memutar tubuh, kemudian menebas. Aku melompat ke atas ketika bayangan Arnold menyerangku dari belakang. Kakiku mendarat di kepalanya kemudian menendangnya keras sebelum aku menginjak tanah. Bayangan-bayangan itu berhasil aku kalahkan.


SRATTT


Tiba-tiba saja Arnold mengayunkan monkshood nya secara mendatar kepadaku. Aku segera meloncat. Tanganku merogoh pisau yang aku sembunyikan. Aku kemudian melemparkan pisau ke arah Arnold.


Arnold terkejut dengan serangan pisauku. Dia nyaris terlambat menghindar. Pisauku berhasil menyayat pipinya cukup dalam. Darah beraroma bunga mengalir dari luka di pipinya.


Arnold menggeram. Dia kembali mengayunkan monkshood padaku. Aku meloncat menghindar. Monkshood menancap dalam di tanah.


Aku memanfaatkan momen itu untuk menendang kepala Arnold. Tapi sulur tiba-tiba mengikat tubuhku. Aku ditarik paksa ke tanah.


Aku berhasil terlepas dari ikatan sulur dan segera berdiri. Tapi Arnold sudah muncul di depanku sebelum aku sempat bergerak. Monkshood diayunkan mendatar padaku. Monkshood mengekangku dan akan memenggal tubuhku.


“Violet!” teriak Aras.


Tanah yang aku pijak tiba-tiba naik, mendorongku ke atas hingga terlepas dari kekangan monkshood. Aku melompat dan mendarat dengan mulus di belakang Aras. Tapi aku merasakan sedikit perih di kakiku. Kaki kananku tersayat oleh monkshood. Lukanya tidak dalam, aku harap itu menjadi masalah.


TRANG


Pedangku menahan mata tombaknya yang mencoba menyerang Aras dari belakang. Di belakangku Aras sedang bertarung melawan Pengguna Pisau dan Pemanah.


SLASH SLASH


Pemanah menyerangku dan Aras. Meskipun hanya satu orang, dia bisa menghujani kami dengan anak panah.


Aku dan Aras bertukar tempat. Aras segera membuat perlindungan. Aku ganti menahan serangan Pengguna Pisau.


GREB


Aku memegang tangan Pengguna Pisau. Aku memutar tangannya hingga dia menjatuhkan pisaunya. Kakiku kemudian menendang punggungnya.


Pengguna Pisau itu menendang kakiku ketika dia terjatuh sehingga aku ikut jatuh setelahnya. Ketika aku agak lengah, dia mengambil kembali pisau yang aku jatuhkan.

__ADS_1


Pengguna Pisau itu mengayunkan pisaunya padaku. Tapi sebelum dia berhasil menikamku, Aras meleparkan batu besar ke tangannya. Pisaunya kembali jatuh. Tangannya memerah dan berdarah.


Aku segera bangkit dan menyingkirkan pisau pengikut Arnold.


Arnold bergabung dalam pertarungan. Dia mengayunkan monkshood dan menghancurkan benteng buatan Aras. Monkshood terayun ke arah Aras. Aku bergerak ke samping Aras, melindunginya. Pedangku menahan ayunan keras monkshood.


Aku mengatupkan gigiku rapat. Aku dan Arnold saling menatap tajam.


“Berikan Zamrud padaku!” seru Arnold.


“Tidak akan!”


Aku dan Arnold mendorong senjata kami. Mataku menangkap sekelebat bayangan melintas cepat menuju Aras yang sedang bertarung dengan Penombak. Itu adalah si Pengguna Pisau. Tapi dia tidak lagi memegang pisau. Belati berada di tangannya siap menebas Aras.


Jarak belati itu sudah sangat dekat dengan tengkuk Aras. Meskpiun Aras sudah menyadarinya, dia tidak akan bisa menghindari serangan itu.


Aku melepas genggaman tangan kiriku dari pedang. Tanganku menutupi leher Aras sehingga belati itu mengenai lengan tangan kiriku. Darah menetes dari tanganku ke leher Aras.


Aras berbalik setelah memukul Penombak mundur. Dia ganti memukul wajah si Pengguna Pisau.


Tangan kananku masih memegang pedang, menahan serangan monkshood Arnold.


Arnold memanfaatkan situasi dimana aku hanya memegangi pedangku dengan satu tangan. Dia menarik monkshoodnya kemudian menebas kembali dengan kekuatan yang lebih besar.


Pedang terlempar dari tanganku. Aras menarikku mundur dengan cepat. Nyaris saja monkshood mengenai kepalaku. Serangan Arnold berhasil memotong beberapa helai rambutku.


Luka di lengan kiriku sangat dalam. Aku nyaris tidak bisa menggerakkan tangan kiriku.  Darah dengan cepat membasahi lengan bajuku hingga bajuku meneteskan darah.


Aku mengambil pedang yang tergeletak tidak jauh dariku. Aku menggenggam pedang dengan satu tangan.


Napas Aras memburu di belakangku. Sebagian pakaiannya basah terkena darahku.


“Violet, tanganmu?!”


“Aku baik-baik saja.”


Arnold, satu orang pemanah, dan Penombak berdiri mengelilingiku dan Aras. Si Pengguna Pisau sudah terluka parah. Dia pingsan.


“Kalian memang kuat tapi sampai kapan kalian bisa bertahan. Ini Pegunungan Selatan. Kami jauh lebih kuat di sini. Aku yakin kalian sudah hampir mencapai batas kalian,” kata Arnold.


Aku mempererat peganganku pada pedang. Aku dan Aras kehilangan energi berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Pertarungan dan Pegunungan Selatan menguras energi kami habis-habisan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2