Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 54


__ADS_3

“Violet!”


BRAKK


Aku merasakan gempa besar mengguncang tanah di bawah kami. Aku membuka mata dengan susah payah. Tanah di sekitarku bergerak dan merekah. Batu-batu tajam menghujam ke atas. Mereka memotong akar-akar yang melilitku dari Miya. Seketika setelah mereka terputus, akar yang melilitku agak melonggar.


Aras berhasil melepaskan diri dari Miya. Aku melihat jejaknya bersinar sangat terang. Energinya mengamuk. Dengan energi sebesar itu, aku yakin manusia tanpa keistimewaan sepertiku pun bisa melihat jejak Aras yang bersinar kehitaman.


Aras melesat ke arahku. Dia mengeluarkan belati miliknya. Dia menebas akar yang melilitku. Aras menangkapku yang terjatuh lemas di lengannya.


Pertarungan itu belum berakhir. Miya melotot padaku dan Aras. Wajahnya terlihat kacau. Kemarahan menguasainya. Puluhan akar muncul dari dalam tanah, siap menyerang kami.


“Berani-beraninya kalian!” teriak Miya.


BRAAKK


Saat itu juga akar-akar itu menyerang kami bersamaan. Aras membawaku menghindar. Dia berlari keluar hutan.


Akar-akar itu masih mengejar kami hingga luar hutan. Miya juga mengikuti kami. Dia tampak seperti wit. Tubuhnya berada di tengah pohon yang dahannya meliuk-liuk liar.


Aras mendirikan benteng batu tajam di antara kami dan Miya. Akar-akar itu terpotong. Tapi akar baru dengan mudah tumbuh dan melewatinya.


Aras menggenggam erat belatinya. Aras akan lebih mudah bertarung jika dia melepaskanku lebih dulu. Tapi dia tidak melakukannya. Terlalu berbahaya saat ini. Akar-akar Miya bisa langusng menyerangku jika aku berbaring di tanah.


Aras menghujamkan belatinya ke tanah. Tiba-tiba semua akar Miya langsung mati dan berjatuhan di atas tanah.


Miya sangat bingung melihat akar-akarnya mati. Dia berusaha menumbuhkan akar lain dari tanah. Tapi tidak ada satupun akar lain yang muncul.


“Apa-apaan ini?! Kenapa mereka tidak muncul?” Miya berseru panik.


“Mereka sudah aku potong di dalam tanah sebelum muncul ke permukaan,” kata Aras.


“Bagaimana mungkin?!” Miya mengepalkan kedua tangannya. Giginya bergemeletuk karena emosi.


“Huh! Ini tidak akan menghentikanku.”


Kedua tangan Miya berubah menjadi kayu dan menyerang kami. Aras membuat benteng untuk melindungi kami. Tapi benteng itu langsung hancur begitu Miya memukulnya.


Aras jatuh terduduk. Kekuatannya belum pulih sempurna setelah dia kehabisan energi ketika melawan wit. Tubuhnya sudah hampir diambang batas kekuatannya. Darah mengalir dari mulutnya.


“A... Aras.” Aku memanggilnya dengan susah payah.


Aku ingin memberitahunya agar lebih baik kita mundur saja. Kondisi kami tidak memungkinkan untuk memenangkan pertarungan ini.


Aras menyeka darah di mulutnya. Dia tersenyum padaku.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja. Kau tunggu di sini sebentar.” Aras membaringkanku di atas rumput.


Aras memandang Miya yang makin mendekat. Belati mengacung di tangannya. Dia kemudian berlari menuju Miya.


Miya tersenyum melihat Aras. “Kemarilah Aras.”


Aras berlari dan melompat menghindari akar-akar yang datang padanya. Dia menebas akar-akar yang menghalanginya. Jaraknya dengan Miya semakin dekat.


Kedua tangan Miya berubah menjadi kayu dan memukul Aras. Tapi Aras melompat dan berhasil menghindar. Belatinya teracung ke dada Miya.


Mata Miya terbelalak ketika menyadari belati itu sudah ada tepat di depan matanya. Aras hampir mengenai Miya hingga tiba-tiba tameng kayu muncul melindungi Miya.


Sebuah sulur berduri dengan cepat melesat dari dalam hutan ke arahku. Aras merubah arah gerakannya. Dia bergegas meloncat ke depanku, memblokir serangan sulur itu.


TANNGGG


Belati Aras memukul sulur itu. Suara tubrukan antara belati dan sulur itu sangat keras. Sulur itu seperti bukan sulur tanaman biasa. Kerasnya hampir seperti kayu. Aras mengayunkan belatinya dan memotong sulur yang menyerang.


Aras berhasil memotong sebagian besar sulur yang menyerang. Tapi sebuah sulur berhasil melesat mencapai wajahku. Pipiku tergores oleh durinya yang tajam. Darah segar mengalir dari luka di pipiku.


Aras segera memotong sulur itu. Sulur berduri itupun tergeletak tak bernyawa di permukaan tanah.


“Berani-beraninya kau!” Aras menggeram.


Puluhan batu mengambang ke atas. Kemudian melesat dengan cepat, menyerang Miya.


Di sela serangan batunya, Aras bergerak cepat ke depan Miya. Dia memotong sulur yang masih mencoba untuk menyerang. Kali ini dia tidak berniat menikamkan belatinya ke dada Miya lagi.


Aras menyentuh tanah di dekat Miya. Batu besar tiba-tiba mencuat dari tanah, mengelilingi Miya. Batu-batu itu mendadak bergerak dan menabrak Miya bersamaan sebelum Miya sempat menyadarinya.


Suasana menjadi hening. Akar-akar tadi yang bergerak liar, kini bergelimpangan di atas tanah seperti akar biasa.


Tidak ada pergerakan lagi Miya. Dia sekarang berubah menjadi bukit kecil. Sebuah tanaman muncul di atas bukit.


Aras mengambil pedangku dari tanah. Dia berjalan menaiki bukit dan menebas tanaman itu. Batang tanaman yang tersisa, diinjaknya hingga tidak ada bagian dari tanaman itu yang tumbuh di sana.


Aras berjalan sempoyong ke arahku. Dia jatuh berlutut di sampingku. Aras menahan tubuhnya agar tidak ambruk.


Tulang rusukku sepertinya patah. Napasku sesak. Pandanganku kabur. Aku tidak bisa melihat wajah Aras dengan jelas.


Tangan Aras yang gemetar menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahku. Dia menyeka darah yang mengalir di pipiku.


“Violet...”


Tangan Aras menggelincir dari wajahku. Aras akhirnya roboh. Dia jatuh berbaring di sampingku.

__ADS_1


Aku dan Aras masih sadar. Tapi kami berdua tidak bisa bergerak.


“Nona! Aras!” Ty berlari menghampiri kami.


Mata Ty berkaca-kaca. Dia berlutut di antaraku dan Aras. Kedua tangannya menggenggam tanganku dan Aras.


“Maaf, Ty,” kataku.


Ty menggeleng. Air matanya mengalir. Dia cemas sekaligus bingung. Aku dan Aras tidak bisa bergerak sama sekali. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


“Kami tidak apa-apa, Ty,” kata Aras. “Jangan menangis di depan orang yang ingin kau lindungi.”


Ty menatap Aras. Ty mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Wajahnya berubah menjadi serius.


“Aku akan melakukan sesuatu,” kata Ty.


Ty berlari menuju tempat kemah kami sebelumya. Dia memindahkan perapian ke tempatku dan Aras sekarang.


Setelah itu Ty mulai membersihkan luka dan darah di tubuhku dan Aras.  Aku merasakan tangannya gemetar ketika menyeka leherku yang memar kehitaman.


“Apa ini sangat sakit, Nona?” tanya Ty.


“Tidak apa-apa, Ty. Kau jangan khawatir. Daya tahan fisik manusia Klan Ungu diatas manusia klan lain. Aku akan baik-baik saja,” jawabku.


Ty mengangguk dengan sedih.


Hari ini kami tidak melakukan perjalanan sama sekali. Aku dan Aras hanya bisa berbaring. Ty merawat kami satu hari penuh.


Ty menambah kayu ke perapian agar api tetap menyala. Dia bolak balik ke hutan untuk mencari makanan. Dia juga kembali ke daerah bersalju untuk mendapatkan air. Selain itu Ty belajar membuat obat dengan intruksi dari Aras. Dia mencari tanaman obat sambil mencari makanan di hutan.


“Ugh..!” Aku menahan dadaku yang terasa makin sesak.


Aku berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit ini. Aku tidak ingin Ty bertambah cemas. Dia sudah melakukan semua hal yang dia bisa untuk merawatku dan Aras.


Ty menggenggam erat tanganku dan Aras ketika rasa sakit melanda kami. Dia juga menyeka keringat kami.


Ty sangat bekerja keras hari ini. Dia dengan sabar merawatku dan Aras. Ketika panas datang, dia mengipasiku dan Aras


Ketika dingin datang, Ty merapatkan mantelku dan Aras juga memperbesar api agar kami tetap hangat. Bahkan dia tetap terjaga ketika malam datang untuk menjaga kami.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2