Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 35


__ADS_3

Semua orang tampak bersemangat menanti kemunculan barang terakhir. Jantungku berdegub kencang. Alasan kami di sini adalah permata hijau itu. Jika permata itu benar-benar Zamrud, kami harus memilikinya bagaimanapun caranya.


Tirai panggung terbuka. Di dalam sebuah kotak kaca, sebuah permata berwarna hijau bersinar.


“Aku tidak merasakan gelombang energi dari permata itu,” kata Tiha.


“Kau benar. Aku juga tidak merasakannya,” tambah Ryza.


Diantara kami tidak ada yang merasakan gelombang energi yang biasa dipancarkan permata klan. Bahkan Ryza yang seharusnya paling sensitif diantara kami tidak bisa merasakan energinya.


“Kotak kaca itu menghalangi gelombang energinya. Permata itu memiliki jejak yang sama dengan Zamrud. Permata hijau itu adalah Zamrud.” Aku memperhatikan jejak kehijauan di bawah Zamrud. Jejak yang sama persis dengan Zamrud yang aku lihat kemarin malam. Keduanya sama-sama agak aneh.


“Aku percaya pada keistimewaanmu, Violet. Meskipun gelombang energi itu tidak kita rasakan, kau tetap bisa melihat jejaknya,” kata Ichi. “Jika menurutmu, permata hijau itu memang Zamrud maka kita harus mendapatkan permata itu.”


“Baiklah Tuan dan Nyonya, lelang akan dimulai dengan harga seratus guinea. Silahkan!” seru pembawa acara.


Peserta lelang langsung mengangkat papan mereka. Aku lihat Marquess Aramco, Duke Goldder, Baron Torn, dan dua orang Klan Hijau itu masih terlihat santai, meskipun hampir semua orang menawar permata itu.


“Wah, sepertinya permata ini sudah sangat terkenal. Hampir semua orang ingin memilikinya.” Wajah pembawa acara berseri-seri. Permata itu akan memberi kebahagian padanya jika terjual dengan harga yang sangat tinggi.


Angka penawaran naik dengan sangat cepat. Sekarang sudah menyentuh sepuluh ribu guinea. Baik kami, Duke Goldder, Marques Aramco, Baron Torn, dan dua orang Klan Hijau itu belum ada yang mulai terlibat dalam penawaran yang ramai.


“Agar semakin menyenangkan, kami akan memperlihatkan salah satu kehebatan permata ini!”


Sebuah pot berisi tanah yang sangat besar ditaruh di panggung, di dekat kotak permata.


“Pot ini sudah diisi dengan sebuah biji. Mari kita lihat jika kotak permata ini terbuka sedikit, apa yang akan terjadi.” Pembawa acara membuka pintu kecil yang berada di bagian bawah kotak.


Aku, Ryza, Bara, Ichi, Aras, dan Tiha tertegun. Kami merasakan gelombang energi permata klan. Semua orang di ruangan juga terdiam. Mereka terkejut dengan tekanan luar biasa yang menyerang mereka. Sementara itu biji di pot mulai tumbuh dengan kecepatan luar biasa.


Pembawa acara membuka pintu itu tidak sampai sepuluh detik. Tapi ruangan ini sudah bisa merasakan kekuatan permata itu. Pot yang tadinya hanya berisi tanah sekarang muncul tanaman yang luar biasa besar di sana. Ukurannya sangat besar hingga menyentuh langit-langit ruangan.


“Bagaimana Tuan dan Nyonya? Kekuatan yang sangat fantastis, bukan? Kekuatannya mungkin setara dengan permata klan!” seru Pembawa acara.


“Bodoh. Permata itu memang permata klan.” Ichi tidak bisa menahan diri ketika sang Pembawa Acara menyebutkan jika permata itu setara dengan permata klan.


“Nah, mari kita mulai kembali. Adakah yang ingin menawar lebih tinggi dari sepuluh ribu guinea?” Pembawa acara melanjutkan lelang.


Penampilan tadi sepertinya membuat banyak orang tertarik karena harga penawarannya meningkat sangat drastis.


“Dua puluh lima ribu guinea.”


“Tiga puluh ribu guinea.”


“Seratus ribu guinea.”


Satu kalimat itu membuat seluruh peserta tercengang. Semua menoleh ke Marquess Aramco. Dialah orang yang menawar dengan harga setinggi itu.


Aku lihat Duke Goldder tersenyum. Dia lalu mengangkat papannya. “ Seratus lima puluh ribu guinea.”


“Wah, penawaran yang sangat tinggi dari Duke Goldder. Apakah ada tawaran lain?”


Aras mengangkat papan. “Dua ratus ribu guinea.”


“Tiga ratus ribu guinea.” Baron Torn rupanya tidak mau kalah. Tidak tanggung-tanggung. Dia langsung menawar dengan harga tiga ratus ribu guinea.


Laki-laki Klan Hijau–bukan Arnoldi, mengangkat papannya. “Tiga ratus sepuluh ribu guinea.”


Arnoldi tertawa. “Kecil sekali penawaranmu.” Dia mengangkat papannya. “Tiga ratus lima puluh ribu guinea.”


“Tuan Arnoldi dari Klan Hijau menawar dengan harga tiga ratus lima puluh ribu guinea. Harga tertinggi saat ini. Apakah ada yang ingin menawarnya lagi?”


Peserta lelang yang lain tidak berani mengangkat papan. Angka itu sudah diluar batas mereka. Hanya ada enam orang yang mengangkat papan secara bersamaan. Siapa lagi jika bukan kami, Baron Torn, Duke Goldder, Marques Aramco, Arnoldi, dan seorang laki-laki Klan Hijau. Lelang ini sekarang adalah pertarungan kami.


“Tiga ratus empat puluh ribu guinea,” tawar Aras.


“Empat ratus ribu guinea,” tawar Duke Goldder.


“Empat ratus lima puluh ribu guinea.” Marquess Aramco menawar.


“Enam ratus ribu guinea!” seru Baron Torn.


“Ck... Orang itu memang sudah gila,” gumam Tiha.


Baron Torn selalu menawar dengan harga yang sangat fantastis. Kami mulai gelisah. Begitu pula dengan Duke Goldder, Marquess Aramco, Arnoldi, dan laki-laki Klan Hijau itu.


Laki-laki Klan Hijau itu mengangkat papan. “Tujuh ratus ribu guinea.”


Rasanya aku berhenti bernapas. Pelelangan ini terlalu menegangkan.

__ADS_1


“Aras, bagaimana jika harganya terus naik?" Ryza mulai khawatir.


“Tidak apa-apa. Kita memiliki tiga juta guinea. Selama harganya masih dibawah itu, kita masih bisa menawarnya,” jawab Aras.


Lelang berlangsung sangat sengit. Kami berenam berlomba-loma menawar dengan harga tertinggi.


“Satu juta guinea.” Laki-laki Klan Hijau itu menawar.


“Wow! Fantastis! Pemata ini sudah mencapai satu juta guinea. Luar biasa!” seru Pembawa acara.


“Satu juta seratus ribu guinea.” Aras mengangkat papan.


Wajah laki-laki Klan Hijau itu langsung menggelap dan kecewa. Dia juga tidak mengangkat papannya lagi untuk menawar dengan harga yang lebih tinggi. Penawarannya sebesar satu juta adalah penawaran terakhir yang bisa dia buat.


Suasana tambah menegangkan setelah angka penawaran menyentuh satu juta guinea. Duke Goldder, Marquess Aramco, dan Baron Torn masih mampu menawar lebih banyak tapi Arnoldi mulai gelisah. Uangnya tidak akan cukup jika harga permata terus naik.


“Satu juta lima ratus guinea.” Arnoldi memberikan penawaran terakhirnya.


Aku menghela napas. Aku sangat khawatir uang kami tidak cukup. Baron Torn selalu


menawar dengan harga yang tidak masuk akal. Duke Goldder dan Marquess Aramco memiliki harta yang tidak terhitung jumlahnya. Saat ini kami dalam keadaan yang berbahaya.


“Satu juta enam ratus guinea,” tawar Aras.


Duke Goldder mengangkat papannya. “Satu juta tujuh ratus guinea.”


Marques Aramco juga mengangkat tangannya. “Satu juta delapan ratus guinea.”


Aku, Ichi, Aras, Bara, Ryza, dan Tiha berdebar menunggu Baron Torn menawar. Hanya dia yang belum mengangkat papannya.


Baron Torn akhirnya mengangkat papannya. “Dua setengah juta guinea. Kau dengar? Dua setengah juta guinea!”


Ruangan langsung ribut. Bara menggebrak meja. Duke Goldder langsung berdiskusi dengan pelayannya. Begitu pula dengan Marquess Aramco. Dia langsung berbicara dengan anaknya. Jumlah yang diucapkan Baron Torn tidak main-main banyaknya.


“Bagaimana ini? Baron Torn menawar sebanyak itu.” Wajah Bara berkerut karena khawatir.


“Tenanglah. Uang kita tiga juta guinea.” Ichi menenangkan.


“Tapi bagaimana jika Duke Goldder dan Marquess Aramco tertular kegilaan Baron Torn? Kita bisa kalah,” ujar Tiha.


“Seharusnya jika mereka masih memikirkan harta mereka, mereka tidak akan menawar lebih dari tiga juta guinea,” kata Aras.


“Tuan dan Nyonya, harap tenang. Pelelangan masih berlanjut.” Pembawa acara berusaha menenangkan peserta lelang.


Setelah cukup tenang, Pembawa acara memulai kembali pelelangan.


“Apakah ada peserta yang mau menawar lebih tinggi dari Baron Torn?” tanya Pembawa acara.


Duke Goldder mengangkat papannya. “Dua juta tujuh ratus ribu guinea.”


Aras baru saja ingin mengangkat papan tapi Baron Torn mengangkat papannya lebih dulu dan menyebutkan angka yang membuat kami diam membeku.


“Empat juta guinea! Aku beli permata itu seharga empat juta guinea!”


Marquess Aramco tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia menggebrak meja dan menatap Baron Torn tajam. “Kau mengerti jumlah yang baru saja kau ucapkan, Baron Torn?”


“Saya sangat mengerti, Marquess. Tenang saja.”


“Apa kau yakin memiliki uang sebanyak itu, Baron?” Duke Goldder juga mempertanyakan kemampuan Baron Torn.


“Tentu saja, Duke. Meskipun saya hanya seorang baron, kemampuan saya bisa Anda percayai.”


“Bagaimana ini? Zamrud akan dimiliki Baron Torn?” Ryza sangat khawatir. Zamrud adalah permata klannya. Dia pasti tidak rela jika permata klannya jatuh ke tangan manusa klan lain.


Aras tiba-tiba berdiri. “Tuan Pembawa Acara, aku mengajukan istirahat selama satu jam. Aku rasa kami perlu berdiskusi mengenai penawaran selanjutnya.”


“Itu tidak perlu Tuan Pembawa Acara. Permata itu jelas akan dibeli olehku,” kata Baron Torn.


“Aku setuju dengan Geerginlik. Aku juga mengajukan istirahat selama satu jam,” ucap Marquess Aramco.


Pembawa acara itu berdiskusi sebentar dengan panitia lain. “Baiklah. Setelah kami diskusikan, pelelangan ditunda hingga satu jam ke depan. Terima kasih.”


***


Kami tidak beranjak dari kursi. Di saat orang lain pergi keluar mencari udara segar, kami lebih memilih tetap di tempat.


“Jadi, bagaimana ini? Uang kita hanya tiga juta guinea dan Baron Torn menawarnya dengan harga empat juta guinea.” Tiha menempelkan kepalanya di meja. Dia frustasi.


“Sepertinya aku bisa membayar kekurangannya,” kata Aras.

__ADS_1


“Apa itu bisa? Kau dan Ichi saja melarangku ketika aku ingin memakai uangku di Klan Ungu untuk membeli pedang damsk.” Aku masih ingat mereka berdua menahan tanganku tadi.


“Jika memang terpaksa, aku bisa mengaturnya,” jawab Aras.


“Tapi jika seandainya kita tidak bisa mendapatkan permata itu di pelelangan ini, kita harus mengambilnya secara paksa. Kita akan mengadakan operasi darurat,” ujar Ichi.


Semua terdiam. Operasi darurat adalah tindakan yang tidak mempertimbangkan untung rugi bagi orang lain. Kami memiliki tuntutan untuk mengumpulkan permata klan secepat mungkin. Bagaimanapun caranya kami harus mendapatkan permata itu.


“Kita tidak bisa melakukan itu di sembarang waktu. Kapal ini berlayar di laut. Tempat gerak kita sangat sempit.” Aku memberi saran untuk operasi darurat.


Ichi mengangguk setuju. “Titanic akan berlayar selama empat puluh hari. Selama itu kita kan berhenti di lima tempat. Tempat pertama adalah Llundain, tempat Titanic berlayar pertama kali. Tempat yang kedua adalah Skout. Kita kan mendarat di sana di hari keenam.”


“Dua hari lagi, ya?” gumam Aras.


“Rencana kita tergantung siapa yang mendapatkan permata itu,” tambah Ichi. “Duke Goldder dan Marquess Aramco kemungkinan akan memiliki keamanan yang lebih ketat daripada Baron Torn. Tapi jika Baron Torn memang berniat memiliki permata itu, dia pasti sudah menyiapkan tempat yang baik untuk menyimpannya.”


Kami berlima mengangguk mengerti. Ichi lanjut menjelaskan rencananya.


“Kita lanjutkan nanti.” Ichi menyelesaikan percakapan setelah banyak orang kembali ke ruangan.


Duke Goldder dan Marquess Aramco juga sudah kembali. Wajah mereka tampak lebih serius dari sebelumnya. Perasaanku tidak enak.


Pembawa acara sudah kembali ke panggung. Pelelangan hampir dimulai tapi Baron Torn tidak terlihat dimanapun.


“Lebih baik kalian mencari orang itu agar acara cepat dimulai,” suruh Marquess Aramco kepada salah satu panitia.


Panitia memutuskan untuk mencari Baron Torn lebih dulu. Bagaimanapun juga, Baron Torn adalah peserta terpenting saat ini karena dia yang memberikan penawaran dengan harga tertinggi.


Satu jam akhirnya berlalu untuk mencari Baron Torn. Aku menghabiskan waktu dengan menikmati pertunjukan musik sambil memakan kue. Bara tertidur di meja karena mengantuk. Malam sudah semakin larut. Harusnya sekarang acara lelang ini sudah selesai.


Panitia-panitia kembali dengan tangan kosong. Mereka sepertinya tidak menemukan Baron Torn. Sebagian dari mereka berwajah panik. Salah satu panitia membisikkan sesuatu pada Pembawa acara. Sekilas orang itu sangat terkejut tapi dengan cepat dia mengendalikan ekspresinya. Kemudian berjalan ke tengah panggung.


“Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Maafkan kami karena keterelambatan kami selama satu jam. Kami harap Anda sekalian menikmati kudapan dan pertunjukkan sembari menunggu. Di sini kami akan mengumumkan suatu hal penting. Mendadak Baron Torn membatalkan keikutsertaan dirinya di pelelangan ini sehingga harga penawaran permata akan turun menjadi harga sebelum tawaran Baron Torn diberikan yaitu dua tujuh ratus ribu guinea atas penawaran Marquess Aramco.”


Marquess Aramco tersenyum senang. Tapi senyumannya itu tidak bertahan lama setelah Duke Goldder mengangkat papannya.


“Dua juta sembilan ratus guinea,” ujar Duke Goldder.


Jantungku berdegub kencang. Tinggal seratus ribu lagi untuk mencapai tiga juta guinea. Jika ada yang lebih dulu menawarnya, kesempatan kami bisa hilang.


Aras dengan cepat mengangkat papannya. “Tiga juta guinea.”


“Tiga juta guinea oleh Wangsa Geerginlik. Apakah ada tawaran lain?” Pembawa acara memastikan.


Aku memejamkan mata saking cemasnya. Aku harap tidak ada seorang pun yang mengacungkan papan lagi. Tiga juta guinea adalah harga yang sangat mahal. Banyak yang harus dipikirkan jika ingin menawarnya lebih dari itu.


“Yak, Tuan. Silahkan!” Pembawa acara tiba-tiba mempersilahkan seorang peserta untuk menawar.


Aku langsung terbelalak dan menoleh ke orang yang dimaksud Pembawa acara.


“Arnoldi?!”


Tiba-tiba saja dia melakukan penawaran. Seharusnya dia sudah tidak mampu lagi menawar di angka ini.


“Tiga setengah juta guinea,” ucap Arnoldi.


Tidak ada yang menyangka Arnoldi akan kembali dalam pelelangan. Dia tersenyum puas melihat para saingannya kebingungan.


Marquess Aramco mengangkat papannya. “Tiga juta tujuh ratus ribu guinea.”


Duke Goldder juga tidak mau kalah. Dia menawar dengan harga empat juta guinea.


Marquess Aramco menggeleng kepada anaknya. Harga itu sudah diluar anggaran mereka. Jika seperti ini kemungkinan Duke Goldder-lah yang mendapatkan permata itu.


Tiba-tiba ketika pelelangan hampir ditutup, Arnoldi memberikan penawaran yang membuat seluruh peserta tercengang.


“Lima juta guinea,” kata Arnoldi.


Duke Goldder kalah telak. Perbedaan satu juta guinea terlalu besar, bahkan untuk seorang duke.


“Anda yakin, Tuan?” Pembawa acara memastikan.


“Sangat yakin. Aku adalah salah satu manusia Klan Hijau terkaya. Tidak perlu khawatir dengan pembayarannya,” jawab Arnoldi.


“Baiklah. Sekali lagi saya tanyakan. Apakah ada yang ingin memberi penawaran lebih tinggi lagi?”


Tidak ada yang mengangkat papan. Duke Goldder bahkan membuang muka.


“Kalau begitu, permata hijau langka telah terjual seharga lima juta guinea!” Pembawa acara memukul lonceng.

__ADS_1


Pertarungan selesai dan kami kalah.


__ADS_2