
Aku tidak bisa berkata-kata setelah Aras menyelesaikan ceritanya. Selama ini aku tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya saat itu. Aku kira selain membunuh Ova, dia jugalah yang membunuh anak-anak panti asuhan. Tapi ternyata bukan. Aku tahu Aras yang membunuh Ova. Tapi aku tidak tahu alasan dibalik tindakannya itu. Aku tidak menyangka, selama ini aku sudah salah paham pada Aras. Dia melindungiku tapi aku malah membencinya.
“Maafkan aku.” Aku menunduk. Aku tidak punya keberanian melihat wajah Aras.
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang menyebabkan semua masalah itu. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu.”
Aku menggeleng. Lalu menatap Aras. “Kau berusaha melakukan yang terbaik.”
Aras menatapku dengan matanya yang melebar karena terkejut. “Kau tidak marah padaku?”
Aras meremas kedua tangannya dan mengalihkan tatapannya dariku. “Ova adalah orang yang berarti untukmu. Dan aku membunuhnya.”
“Ova juga orang yang penting bagimu. Aku tahu itu. Kau pasti sangat terbebani karena membunuh Ova dengan tangamu sendiri.”
Aras diam.
“Aku juga sudah menuduhmu menjadi pembunuh tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Membencimu tanpa tahu kebenarannya. Aku telah menyakitimu. Aku benar-benar minta maaf”
“Tidak. Tidak. Jangan minta maaf. Kau sama sekali tidak salah apapun.” Aras menggeleng dengan cepat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah sangat menyakitimu.”
Aras terdiam kembali. Aku melihatnya menatap api dengan tatapan yang campur aduk. Dia seperti sedang menerawang sesuatu. Aku tidak mengerti apa arti tatapannya itu. Tapi itu membuatku khawatir.
“Aras?” Aku memanggilnya pelan.
Aras terkejut ketika aku memanggilnya. Bahunya tersentak. Padahal aku hanya memanggilnya pelan. Dia menoleh padaku.
“Ah, maaf, Violet. Aku hanya teringat lagi kejadian itu. Kau melihatku membunuh Ova secara langsung. Aku mengerti jika kau menjadi benci padaku. Itu sangat wajar. Tapi yang terpenting kau bisa selamat. Aku sangat lega.” Aras tersenyum.
Aku tersenyum melihatnya tersenyum.
Aku diam memikirkan kejadian yang diceritakan Aras. Aku tidak menyangka Ova hanya menganggap kami sebagai objek penelitian dan bahkan Jenderal Risagu juga terlibat. Mereka berdua adalah orang yang dekat denganku. Keduanya adalah orang yang aku hormati. Aku sangat terpukul mengetahui mereka telah melakukan itu. Dadaku terasa sesak karena kecewa.
Banyak hal yang baru aku ketahui. Tapi aku tidak mengerti kenapa Ova menyebut kami objek penelitiannya. Aku tidak pernah tahu apa yang diteliti Ova sebenarnya. Selama aku tinggal di panti asuhan, aku tidak pernah melihat Ova melakukan hal yang mencurigakan.
“Penelitian apa yang dilakukan Ova pada kita?” tanyaku.
Aras tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu sesaat. “Entahlah.”
Aku merasa Aras menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku tidak bertanya lagi. Mungkin itu memang sesuatu yang tidak boleh diberitahu.
“Tentang Jenderal Risagu, aku harap kau hati-hati dengannya,” pesan Aras.
Aku mengangguk. Vender dulu juga menyuruhku untuk waspada dengan Jenderal Risagu. Dia bahkan melarangku masuk ke dalam pasukan Jenderal Risagu. Aku menduga Vender juga tahu jika Jenderal Risagu terlibat dengan penelitian di balik panti asuhan itu, meskipun Vender tidak pernah memberitahukannya padaku, Sekarang Aras juga menyuruh hal yang sama. Aku jadi penasaran siapa Jenderal Risagu sebenarnya.
Mengingat Vender, aku jadi ingin memastikan apakah benar Aras yang membunuh Vender. Sebelumnya aku telah salah paham dengannya. Mungkin laporan dari Jenderal Risagu mengenai Aras yang ada dibalik kematian Vender juga hanya salah paham.
Laporan tentang kematian kedua orang tuaku menyebutkan nama Aras. Aku ingin memastikan semua kejadian yang bersangkutan dengannya. Aku tidak ingin jatuh dalan kesalahpahaman lagi. Ayah, ibu, dan Vender adalah tiga orang yang aku sayangi. Aku juga ingin tahu tentang kebenaran dibalik kematian mereka.
Tapi ketika aku akan menanyakan pada Aras. Wajahnya kembali seperti tadi. Pandangan matanya campur aduk antara sedih, kecewa, takut, dan menyesal. Aku menjadi ragu untuk menanyakannya.
“Apa ada masalah yang mengganggumu, Aras?” Aku bertanya dengan lembut.
“Tidak. Aku hanya sedikit lelah.”
Aras tersenyum lagi. Tapi senyumannya kali ini malah terasa menyakitkan.
“Menurutmu Ichi adalah orang seperti apa?” tanya Aras.
Aku agak sedikit terkejut Aras tiba-tiba menanyakan pendapatku tentang Ichi.
“Aku belum terlalu mengenalnya. Tapi dia terlihat sangat sungguh-sungguh dalam misi ini. Dia juga orang yang peduli dengan rekannya,” jawabku. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Ichi? ”
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran bagaimana kau memandangnya.”
Aku mengangguk mengerti.
“Ichi sepertinya mencurigaimu. Dia bilang padaku untuk waspada dengamu. Aku pikir itu karena kau tidak setuju dengan misi ini,” tambahku.
“Begitu.”
Aras pasti sudah menduganya. Dia sama sekali tidak terkejut atau penasaran.
“Aku sebenarnya penasaran dengan apa yang direncanakan Kaisar Icus. Misi ini mungkin memang hasil kesepakatan Dewan Lintas Klan tapi bagaimanapun juga dewan itu dikuasai oleh Kaisar Icus.”
__ADS_1
“Apa yang membuatmu tidak setuju? Misi ini bertujuan untuk menyelamatkan seluruh klan. Kenapa kau tidak menyetujuinya?”
Aras tidak menyutujui misi ini. Dia bahkan tidak mengetahui tentang misi ini hingga dia sendiri yang datang ke perjamuan di Istana Levko. Dia pasti memiliki alasan tersendiri untuk menolak rencana ini.
“Aku tidak percaya rencana berigin, rencana mengumpulkan permata klan akan berhasil. Permata klan terlalu berbahaya jika saling berdekatan apalgi jika disatukan. Kita bisa aman karena kotak yang diberikan Azuro. Di awal-awal rapat mengenai berigin, alat itu direncanakan untuk menyatukan tujuh kekuatan permata sehingga tercipta permata yang memberikan kekuatan yang abadi bagi seluruh klan.”
Aku tidak pernah tahu tentang penyatuan tujuh permata klan. Tidak ada satu orang pun yang pernah menyebutkankan hal seperti itu. Aku bertaruh kebanyakan manusia klan mungkin bahkan tidak pernah memikirkannya, termasuk aku.
“Bagaimana Dewan Lintas Klan bisa tahu jika ketika tujuh permata disatukan akan mencipatkan kekuatan abadi? Jika rencana itu berhasil, seluruh klan akan baik-baik saja untuk selamanya tapi jika gagal, semua klan akan dalam bahaya.”
Permata klan adalah hal paling vital pada setiap klan. Jika permata klan hancur keadaan dunia ini akan lebih parah dari sekarang. Dunia akan menghadapi kehancuran.
Aras mengangguk. “Kami sudah tahu. Dewan Lintas Klan sudah mengetahui tentang batas kekuatan permata klan sejak lama. Sultan Harun, Pemimpin Klan Jingga yang memberitahukannya. Klan Jingga telah meneliti permata klan sejak lama. Penelitian mereka menghasilkan kesimpulan jika permata klan itu tidak abadi. Selain itu mereka juga mendapatkan hasil bahwa jika tujuh permata klan disatukan bisa menciptakan kekuatan yang besar. Yang mungkin lebih besar dari energi permata klan. Tapi itu masih asumsi saja.”
“Jika masih asumsi. Kenapa Dewan Lintas Klan tetap menjalankan rencana berigin itu? Bukankah itu terlalu berbahaya? Aku pikir lebih baik misi mencari permata ini digunakan untuk mencari pegganti permata klan yang sudah hampir habis energinya. Meskipun misi ini harus berkali-kali. Tapi jaraknya pun mungkin ribuan tahun lagi untuk misi selanjutnya.”
“Awalnya kami berpikir begitu tapi penelitian mengenai permata klan tidak berhenti sampai situ saja. Mereka berhasil mengetahui cara menyatukan permata klan dan mendapatkan kekuatan besar itu. Setelah itu munculah rencana berigin. Kaisar Icus yang mengusulkannya. Tapi tidak semua pemimpin klan meyetujuinya. Dewan Lintas Klan akhirnya terbelah menjadi dua kubu.”
Aras menarik napas sejenak. “Aku, Sultan Harun, Ziben, dan Raja Taro tidak menyetujui rencana itu. Rencana itu terlalu beresiko jika gagal dan Kaisar Icus sangat bersikeras dengan rencananya hingga membuatku curiga padanya. Menurutku, sangat aneh Kaisar Icus bersikeras untuk menjalankan rencana yang sangat berisiko bagi seluruh klan. Aku tahu hasil penelitian itu bisa menjadi harapan bagi kita tapi resikonya terlalu besar. Ratu Marine, dan Raja Fir, pemimpin Klan Merah mendukung Kaisar Icus. Mereka yakin dengan kesempatan itu.”
“Mayoritas kalian tidak setuju dengan rencana itu tapi kenapa rencana itu tetap berjalan?”
“Itu masih awalnya. Seiring berjalannya waktu Raja Taro dan Ziben setuju dengan Kaisar Icus. Aku dan Sultan Harun kalah jumlah. Sekarang mayoritas Dewan Lintas Klan setuju dengan rencana Kaisar Icus. Tapi karena Sultan Harun tidak setuju, mereka sulit menentukan langkah karena yang paling berperan di rencana itu adalah Klan Jingga. Jadi aku dan Sultan Harun masih bisa menunda rencana itu dan memiliki kesempatan untuk mengubah pemikiran mereka.”
“Rapat tentang rencana berigin terus berlanjut tapi akhir-akhir ini aku tidak pernah mengikutinya karena ada masalah yang harus aku urus. Dan tiba-tiba saja aku mendapat undangan dari Kaisar Icus untuk memilih pemilik Klan Hitam pergi ke jamuan makan malam di Istana Levko. Kaisar Icus tidak menyebutkan tujuan undangan itu jadi aku tidak mempedulikannya tapi aku mendapat informasi bahwa dia mengundang satu pemilik galur murni dari masing-masing klan. Karena itu aku menerima undangan itu dan pergi ke Istana Lecko. Di sanalah aku baru tahu jika rencana berigin akhirnya dijalankan.”
“Tapi apa rencana ini benar-benar berbahaya?”
“Semua bergantung pada berigin. Berigin dibuat oleh perwakilan setiap klan, kecuali Klan Hitam. Tapi mayoritas yang mengerjakannya adalah manusia Klan Jingga. Bagaimanapun juga mereka yang paling menguasai bidang ini.”
Aku bisa mempercayai Klan Jingga, Klan Cendekiwan. Mereka adalah kumpulan manusia klan terjenius yang ada di dunia ini. Mereka pasti bisa membuat berigin dengan sukses. Tapi yang mengganjal bagiku adalah Sultan Harun yang tiba-tiba setuju. Dari awal dia menolak rencana itu. Aku yakin Sultan Harun paling memahami hasil penelitian klannya sendiri daripada pemimpin klan lainnya. Penolakannya berarti kemungkinan rencana itu untuk gagal lebih besar daripada keberhasilannya.
“Kenapa Sultan Harun tiba-tiba setuju?” tanyaku.
“Aku tidak tahu. Kami belum bertemu setelah aku menghadiri rapat terakhir kali.”
“Lalu bagaimana denganmu sekarang? Apa kau sudah setuju dengan rencana itu? Kau bahkan ikut ke dalam misi.”
“Yang terpenting saat ini, kita harus menemukan tujuh permata. Seandainya rencana berigin adalah yang terbaik untuk ketujuh klan, aku akan mendukungnya. Tapi jika ada pilihan yang lebih baik, aku akan memilih pilihan lain itu.”
Aras mengangguk. Dia kemudian menyetuh punggung tanganku.
“Violet, aku sebenarnya mencurigai Ichi karena dia adalah pemilik galur murni yang ditunjuk langsung oleh Kaisar Icus. Aku takut dia memiliki maksud tertentu. Aku terkadang juga tidak menyukai beberapa sikapnya. Tapi sepertinya aku bisa mempercayakanmu padanya. Dia akan melindungimu.”
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Aras tiba-tiba berbicara seolah dia akan menghilang saja.
“Aku yakin tugas utama Ichi di misi ini adalah melindungimu. Kau adalah kunci utama keberhasilan misi. Keistimewaanmu berpengaruh besar karena kau adalah pelacak jejak.”
Kaisar Icus sudah menyebutkan bahwa aku adalah kunci utama misi ini di jamuan makan malam. Masuk akal jika Ichi ditugaskan untuk melindungiku.
“Jika seandainya terjadi sesuatu padaku nanti, kau harus mencari Ichi. Aku tidak tahu apa mereka memiliki rencana lain yang membahayakanmu. Tapi yang jelas selama misi ini berjalan, Ichi akan melindungimu. Kau akan aman bersamanya,” kata Aras.
Aku menatap Aras dengan marah. Aku mengerti dibicara seperti itu untuk memberitahuku dan berjaga-jaga untuk kemungkinan ke depan. Tapi rasanya dia juga mengatakan kalau dia akan pergi.
“Jangan berkata seperti itu. Kita akan bertemu Ichi, Ryza, Tiha, dan Bara bersama-sama. Bukan hanya aku atau bukan hanya kau sendiri.”
Aku menatap Aras. Aku tidak ingin kami terpisah lagi. Sudah cukup kami terpisah karena salah paham, tanah Klan Putih yang tiba-tiba runtuh, ataupun Titanic yang tenggelam.
Saat ini aku dan Aras harus tetap bersama dan menemukan Ichi, Ryza, Tiha, dan Bara. Kami harus segera berkumpul kembali. Kami sudah kehilangan Azuro dan aku tidak mau kita kehilangan siapapun lagi.
“Iya. Kau benar. Kita akan menemui mereka,” kata Aras sambil menepuk bahuku.
Bulan bertambah tinggi, tanda hari telah semakin malam. Angin bertiup kencang. Udara terasa jauh lebih dingin. Aras mengambil kayu yang tadi aku kumpulkan. Dia lalu menambahkan beberapa batang kayu ke dalam api agar api menyala lebih besar.
Bulu kudukku berdiri ketika angin menyapu kulitku. Aku menyilangkan tangan di depan dada sambil meringkuk lebih dekat ke api. Aku menghembuskan napas pelan. Napasku menghasilkan uap tebal di depan wajahku.
Aras melepaskan jubah yang dipakainya. Dia lalu memakaikannya padaku.
“Aras?” Aku memandangnya dengan heran.
“Ini mungkin tidak tebal tapi setidaknya kau akan merasa lebih hangat,” kata Aras sambil menyelimuti tubuhku dengan jubahnya.
__ADS_1
“Kau bisa kedinginan jika memberikannya padaku. Aku cukup kuat untuk menahan dingin.”
“Hmm... aku tidak yakin.”
“Aku pernah mendapat pelatihan musim dingin di daerah bersalju. Kau bisa percaya padaku. Lebih baik kau yang memakainya.”
Aku mencoba melepas jubah Aras padaku tapi Aras menahannya.
“Bukannya saat itu kau pingsan kedinginan? Sudahlah, pakai saja. Aku tahu kau tidak kuat dengan dingin sejak kecil.” Aras merapikan jubahnya padaku.
“Bagaimana kau tahu aku pingsan kedinginan?” Aku menengok ke Aras yang ada di belakangku.
Aku memang tidak kuat dengan dingin hingga pingsan karena kedinginan ketika aku menjalani pelatihan musim dingin. Aras seharusnya tidak tahu kejadian itu karena pelatihan musim dingin dilakukan di Klan Ungu.
Aras melirik ke langit. “Entahlah. Mungkin aku sedang lewat saat itu.”
“Hah?” Aku memandang Aras dengan penuh tanda tanya.
Aras tidak menghiraukan wajah kebingunganku. Dia berpindah ke depanku. Dia menggosokkan kedua tangannya kemudian menggenggam kedua tanganku dengan tangannya yang hangat.
“Apa sudah lebih hangat?” Aras menatapku lembut.
Aku terdiam beberapa detik karena terkejut dengan sikapnya. Tidak hanya tanganku tapi rasanya seluruh tubuhku menghangat karena perlakuannya padaku.
“Hmm.. ya,” jawabku pelan.
Aras meniup kedua tangan kami agar lebih hangat. Pipiku dan Aras sama-sama memerah.
“Kau tahu? Sebenarnya alasanku pergi Istana Levko saat itu karena aku mungkin bisa bertemu denganmu di sana,” ucap Aras. “Aku merasa kaulah yang akan dipilih untuk pergi ke jamuan makan malam. Jadi aku memutuskan untuk pergi. Aku sangat senang ketika melihatmu benar-benar ada di sana.”
Aku teringat kejadian ketika Aras tiba-tiba masuk ke ruang jamuan dan aku mengacungkan pedang kepadanya. “Aku rasa itu bukan pertemuan yang bagus.”
Aras tertawa kecil. “Kau benar. Aku bisa merasakan aura membunuhmu saat itu.”
Wajah Aras tiba-tiba kembali seperti tadi, ketika dia menatap api unggun. Wajah yang memancarkan kesedihan.
Kenapa kau berwajah seperti itu lagi?Apa itu karena aku? pikirku.
“Apa kau sangat sakit hati karenaku? Karena aku membencimu dan mencoba membunuhmu?” tanyaku.
Aras mengangkat kedua aslinya. Dia kembali fokus padaku.
“Aku cukup sedih sebenarnya tapi wajar jika kau bersikap seperti itu padaku.”
“Maafkan aku.” Aku menunduk.
“Sudah aku bilang jangan minta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf padamu.”
Aras mengangkat wajahku dengan kedua tangannya. Mata kami saling menatap. Aku bisa melihat mata hitam jernihnya menatapku dengan penuh perasaan. Sinar bulan yang memantul di matanya membuat matanya seperti permata hitam.
“Violet.” Aras menyebut namaku dengan lembut.
“Sejujurnya aku sangat takut bertemu dengamu lagi. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa kau membenciku. Aku juga merasa bersalah karena akulah yang menyebabkan hidupmu menjadi sulit seperti ini.”
Aku menggeleng. “Ini bukan salahmu.”
Aras tersenyum lemah. Sorot matanya terlihat sangat sedih. Aras memejamkan matanya sejenak lalu tersenyum lebih lebar.
“Tapi aku sekarang sangat bahagia bisa bertemu denganmu dan menghabiskan waktu bersamamu lagi. Rasanya sangat ajaib sampai aku pikir ini mungkin hanya mimpi. Selama ini aku sangat merindukanmu. Rasanya sangat menyakitkan tidak bisa bertemu denganmu. Dulu setiap kali aku memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, meskipun kau menemuiku hanya untuk menjalankan tugas menangkapku, aku sangat senang bisa melihat wajahmu.”
Mataku terasa panas. Lidahku terasa kelu untuk menjawab. Aku hanya bisa mengangguk.
Aku juga merasakan apa yang Aras rasakan. Aku selama ini memburunya. Tapi setiap aku melihatnya, walapun hanya sekilas saja, aku merasa sangat lega. Dibalik kebencianku selama ini kepadanya, aku sangat merindukannya.
Aras mendekatkan wajahku kepadaku hingga dahi kami bersentuhan. Aku bisa merasakan napas Aras yang hangat.
“Aku tahu kita tidak bisa bersama lagi seperti dulu tapi dimanapun kau berada aku akan membuatmu tersenyum. Dimanapun kau berada, aku selalu di sisimu. Sejauh apapun kita terpisah, aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku percaya kita akan bertemu lagi.”
Air mataku mengalir. Aku adalah Klan Ungu dan Aras adalah Klan Hitam. Kami berbeda klan. Apalagi hubungan antara Klan Ungu dan Klan Hitam tidak kalah buruk antara Klan Putih dan Klan Hitam. Kami tidak bisa bersama seperti saat kecil dulu. Saat kami masih belum mengerti apa-apa.
Aku dan Aras tidak bisa bersama dan aku menerimanya. Meskipun di lubuk hatiku paling dalam, aku merasa sangat sedih dengan kenyataan bahwa kami tidak bisa bersama lagi.
Aras menyeka air mataku dengan jarinya.
__ADS_1
Kenyataan itu sangat pahit. Tapi selama kami masih bisa bertemu, aku sudah sangat bahagia. Setelah misi ini selesai, aku dan Aras mungkin akan berpisah. Tapi kami percaya perasaan kami saling terikat dan kami akan bertemu lagi.