
Tinggal aku, Aras, dan Grante yang tinggal di ruangan. Ginger telah pergi setelah Gracinia pergi. Dia bilang masih banyak urusan yang menantinya.
Keadaanku dan Aras tidak separah yang dibayangkan. Kami hanya mendadak lemas karena terlalu lama di dekat Banyan. Setelah kami kembali ke rumah tamu, keadaanku dan Aras kembali seperti biasa.
Selagi aku dan Ara sedang tidak melakukan apa-apa. Aku ingin menanyakan beberapa hal padanya.
Aku melirik Grante yang sedang duduk di pojokan ruangan. Dia sedang menyerut puluhan anak panah.
“Grante, apa kau bisa meninggalkan kami sebentar? Ada yang aku ingin bicarakan berdua saja dengan Aras,” ucapku.
Grante terlihat agak terkejut. Tapi kemudian dia mengangguk.
“Aku ada di luar jika kalian butuh sesuatu,” kata Grante sebelum keluar ruangan.
“Grante,” panggil Aras.
Grante menghentikan langkahnya. Dia kemudian menoleh ke arah Aras.
“Ya?”
“Kemarilah sebentar,” kata Aras.
Grante memutar badannya dan menghampiri Aras.
Aras memberikan isyarat kepada Grante untuk mendekatkan telinganya ke dekat mulut Aras.
Grante menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan wajah Aras. Aras kemudian membisikkan sesuatu padanya.
Aku melihat mereka dengan sedikit kesal. Ada tiga orang di ruangan ini, aku, Aras, dan Grante. Tapi Aras dan Grante malah membicarakan sesuatu rahasia mereka berdua di hadapanku.
“Baik,” ucap Grante sambil mengangguk setelah Aras selesai membisikkan sesuatu padanya. Dia lalu pergi meninggalkan kami.
Kini tinggal aku dan Aras di dalam ruangan. Aku duduk menghadap Aras. Aras juga duduk menghadapku. Tapi dia mengalihkan pandangan matanya dariku. Aras tampak gugup.
“Aras, ada yang aku ingin tanyakan padamu.” Aku memulai obrolan.
Aras menatapku. Aku bisa melihat kekhawatiran terpancar di matanya.
“Tanyakan saja padaku.” Aras mempersilahkan.
__ADS_1
Sesaat aku agak ragu untuk menanyakannya. Aku merasa waktunya kurang tepat untuk bertanya hal ini. Hubungan kami sedang baik-baik saja sekarang. Pertanyaanku ini mungkin bisa merubah hubungan kami seratus delapan puluh derajat, kembali seperti dulu. Tapi aku harus tetap bertanya agar tahu dimana pihak Aras sekarang. Dia kawan atau musuh.
“Kemarin, saat kita dikejar oleh Arnold, kau bilang jika kau adalah pembunuh ayah dan ibuku.” Aku memulai pertanyaanku perlahan. “Apa kau tidak berbohong?”
Aras memejamkan matanya sejenak sambil menghela napas panjang.
“Ya, aku melakukannya.”
Aku masih terkejut mendengar pengakuan Aras dari mulutnya sendiri. Padahal dia sudah memberitahuku sebelumnya. Jenderal Risagu dan Ichi bahkan juga sudah memberitahuku. Tapi aku masih tetap saja terkejut.
Dadaku terasa berat. “Kenapa?”
“Karena itu pekerjaanku. Aku diperintahkan untuk membunuh mereka.”
Aku menarik napas panjang. “Apa tujuan dari pembunuhan itu?”
“Aku tidak tahu. Sangat sulit hidup di Klan Ungu sebagai manusia Klan Hitam. Aku berkali-kali kabur dari prajurit yang ingin menangkapku. Aku selalu beruntung hingga hari itu.”
“Aku tertangkap. Aku kira mereka akan membunuhku tapi ternyata tidak. Mereka memberi penawaran. Jika aku mau bergabung ke dalam misi khusus, mereka akan melepaskanku dan mengirimku ke Klan Hitam jika aku mau. Aku langsung mengiyakan ketika mendengar misinya. Misi itu dilakukan berkelompok jadi aku pikir itu akan mudah.”
“Misi itu tidak berjalan mulus. Orang tuamu sudah menyadarinya. Kami bertarung dengan pasukan ayahmu tapi karena aku kecil aku mudah lolos dari mereka. Aku naik ke lantai atas dan menemukan ibumu. Kemudian–”
Aku tidak perlu mendengar lanjutan penjelasan Aras. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika sebuah bayangan muncul dan menembak ibuku. Aku tidak mau mengingatnya.
“Aku benar-benar minta maaf, Violet.”
Aku merasa sesak. Aku menarik napas panjang. Aku menyesal menanyakan topik ini terlebih dahulu. Perasaanku malah menjadi kacau.
“Aku akan ganti bertanya tentang hal lain,” kataku.
“Baiklah,” jawab Aras. Aras masih tampak khawatir. Rasa bersalah menggelayut di wajahnya.
“Kemarin ketika aku pergi ke Desa Jati, aku bertemu dengan Ichi.”
Aras tampak terkejut. Tapi dia tidak mengucapkan apa-apa.
“Dia bilang Zamrud masih ada padanya. Tapi kau bilang Ichi kehilangan Zamrud ketika Titanic tenggelam. Apa kau berbohong padaku?”
“Maafkan aku, Violet. Aku memang berbohong padamu soal itu. Tapi aku punya alasan untuk itu.”
__ADS_1
“Apa? Aku harap alasanmu tidak mengecewakanku, Aras.”
Aras menarik napas panjang. Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berbicara.
“Aku pernah memberitahumu jika aku bertengkar dengan Ichi sebelumnya. Apa kau ingat?”
Aku mengangguk. Pertengakaran mereka yang terjadi setelah Titanic tenggelam membuat Aras dan Ichi memutuskan untuk berpisah.
“Saat itu tanpa sengaja kami mendapar pesan secara bersamaan. Aku mendapat informasi jika Klan Putih merencanakan hal yang berbeda dengan rencana berigin. Mereka berniat mengumpulkan tujuh permata untuk kepentingan mereka sendiri. Di saat yang sama Ichi juga mendapat informasi tentang siapa aku dan bagaimana masa laluku. Dia juga mendapat informasi tentang rencana jika Klan Hitam dan sekutunya berusaha mengubah dunia ini menjadi Klan Hitam saja.”
“Jadi, yang dikatakan Arnold itu benar? Kau ingin membinasakan seluruh klan, kecuali Klan Hitam?”
“Tidak. Tidak begitu, Violet.”
“Desa ini sekutumu, kan? Gracinia juga bilang hal yang hampir sama dengan Arnold. Kalian menganggap jika satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia ini adalah menjadikan dunia ini kembali seperti dulu.”
“Violet, dengarkan aku dulu!” Aras menggenggam tanganku.
Aku membuang tatapanku dari wajah Aras. Jujur aku merasa sangat kecewa. Di sisi lain aku juga merasa takut. Aku takut menerima kenyataan jika aku dan Aras berada di sisi yang berlawanan.
“Violet, orang-orang yang mendukung Klan Hitam, kebanyakan memang berpikir seperti itu. Tapi aku tidak. Aku tidak ingin menyingkirkan klan manapun. Aku terus mengikuti misi ini karena aku pikir aku bisa mendapat solusi yang lebih baik bagi tujuh klan.”
“Tapi bagaimana kau akan melakukannya?” Aku akhirnya menatap Aras.
“Aku pernah mengatakannya padamu, Violet. Jika misi berigin ini berhasil seperti tujuan yang kita tahu. Kita bisa menyelamatkan seluruh klan. Tapi jika misi ini gagal atau Klan Putih bertindak egois, setidaknya kita memiliki permata klan untuk masing-masing klan.”
“Tapi Gracinia bilang permata klan yang kita temukan hanya serpihan energinya saja.”
“Itu yang Gracinia tahu. Tidak ada yang tahu bagaimana tepatnya kebenaran tentang permata klan yang kita temukan. Kita masih memiliki harapan untuk bertahan dengan permata-permata klan yang kita temukan.” Aras memegang kedua pundakku. Matanya menatapku lurus. “Kau percaya padaku, kan?”
Aku masih ragu, namun aku mengangguk menjawab pertanyaan Aras.
“Tapi kenapa kau harus berbohong tentang Zamrud?” Aku kembali pertanyaan ke sebelumnya.
Aras melepas tangannya dari bahuku.
“Kau membawa semua pertama klan yang kita temukan. Dan Ichi membawa Zamrud. Akan lebih baik jika kita memiliki Zamrud sendiri. Jika sampai Ichi mendapatkan seluruh permata klan yang kau bawa, aku takut misi ini akan gagal. Jadi, nanti ketika kita kembali bergabung bersama yang lain, jangan sampai kau menyerahkan permata klan kepada siapapun.”
Aku mengangguk mengerti.
__ADS_1