Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 26


__ADS_3

Kedua tangan dan kakiku terikat. Energiku terasa menipis. Aku sepertinya diborgol dengan borgol penyerap energi yang pernah dipakaikan ke Aras dan Azuro. Kedua mataku masih terpejam. Aku ingat apa yang terjadi padaku. Jenderal Albet menidurkanku.


Aku membuka mata. Aku mendapati seorang perempuan bermahkota menatapku penuh benci. Di depanku duduk Ratu Mai. Di sekitarku duduk para menteri dan para jenderal Klan Biru Timur. Di belakangku Aras, Azuro, Bara, Ichi, Ryza, dan Tiha terborgol di lantai. Tiha, Ryza, dan Azuro terbaring lemas di lantai. Mereka masih sadar tapi kehabisan energi. Bara, Ichi, dan Aras masih bertahan dengan energi yang terbatas.


Ratu Mai mengangkat dua kotak berisi sapphire dan amethyst. Aku terperanjat. Mereka sudah mengambil dua permata itu dariku.


“Aku tidak menyangka kalian memiliki misi seperti ini. Mengumpulkan seluruh permata klan untuk menyelamatkan dunia yang hampir hancur? Kalian hanya melakukan hal yang sia-sia.” Ratu Mai menaruh kedua permata di meja. “Yah, selama sapphire berada di Klan Biru Timur, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di klan lain.”


“Perkataan Anda tidak seperti pikiran Anda biasanya, Ratu Mai.” Aras berbicara.


“Raja Aras, maaf atas perlakukanku ini. Padahal Anda sering membantu kami. Tapi aku tidak bisa menoleransi campur tangan Anda dalam misi ini. Sapphire menyakut masalah yang serius,” kata Ratu Mai.


“Kau tidak mengerti apapun tentang misi ini, Ratu Mai,” kataku.


Ratu Mai tertawa. “Aku tahu semuanya. Tujuh klan yang kehilangan sumber energinya. Tujuh pemilik galur murni yang diperintahkan mencari tujuh permata klan. Aku tahu.”


Bagaimana dia bisa tahu misi ini?


“Kalian tidak perlu tahu dari mana aku tahu informasi itu. Aku tidak akan menghalangi kalian mendapatkan enam permata lain. Tapi aku akan bertindak tegas jika kalian ingin mendapatkan sapphire.”


“Kau akan membunuh banyak orang jika tidak memberikan sapphire kepada kami! Kau hanya akan menjadi pembunuh!” seru Bara.


“Pembunuh? Perempuan itu lebih pantas disebut pembunuh!” Ratu Mai menunjukku. “Dia membunuh seluruh keluargaku. Dia membunuh raja, ratu, saudara-saudaraku, penghuni istana ini. Dia membunuh mereka! Dia juga mengambil sapphire untuk Klan Biru Barat! Apa kau tidak tahu betapa berharganya sapphire untuk kami? Dan setelah energi sapphire yang kau ambil habis, kau ingin mengambil sapphire lain dari kami?”


Ratu Mai mendekatiku.


BUKK


Dia memukulku dengan tongkatnya.


“Gara-gara kau, kakakku, Putri Safira harus mengorbankan dirinya. Dia berubah menjadi sapphire untuk menyelamatkan Klan Biru Timur!”


Apa yang baru sja dia katakan. Manusia berubah menjadi permata klan? Apa itu bisa terjadi? Aku masih ingat dengan Putri Safira. Dia adalah pemilik galur murni. Aku sudah tahu pemilik galur murni berasal dari permata tapi aku tidak tahu jika pemilik galur murni bisa berubah menjadi permata klan.


“Aku tidak akan membiarkan sapphire Putri Safira diambil oleh kalian. Klan Biru Timur akan menjaganya, meskipun kami harus dikucilkan oleh seluruh dunia klan!”


“Padahal kau sendiri yang meminta Klan Biru Barat untuk mengambil sapphire.”


“Itu hanya untuk memancing klanmu mengirim kalian. Aku tahu betul Klan Biru Barat tidak akan mau mengirmkan klan mereka sendiri untuk tugas yang beresiko seperti ini.”


“Dan kau!” Ratu Mai mengangkat wajahku dengan tongkatnya. “Kau tidak akan kubiarkan hidup kali ini. Pembunuh harus mati.”


“Violet bukan seorang pembunuh.”


Aku menoleh. Azuro dalam keadaannya yang lemah, dia membelaku.


“Dia benar. Apa kau tidak tahu jika perempuan itu adalah Ksatria Bintang?” Bara ikut membelaku.


“Ksatria Bintang? Rasanya aku ingin tertawa. Aku pernah mendengar nama itu. Tak kusangka itu adalah kau.” Ratu Mai menatapku tajam.


“Kau yang seorang pembunuh sekarang adalah ksatria?” Ratu Mai menggeleng-gelengkan kepalanya. “Benar-benar bertolak belakang. Pembunuh menjadi ksatria sama saja mencoreng nama besar para ksatria!”


“Prajurit, bawa perempuan ungu ini ke lapangan hukuman! Dia akan dihukum mati seperti hukuman yang seharusnya dulu dia jalani.”


Dua orang prajurit menarik kedua tanganku. Mereka hendak menyeretku pergi.


“Tunggu, Ratu Mai. Pikirkan lagi keputusanmu. Jika kau memang tahu tentang misi ini. seharusnya kau paham apa yang sedang kau lakukan!” seru Aras.


“Raja Aras, aku sudah bilang, aku tidak peduli dengan klan lain. Tapi jika rakyat Anda butuh pertolongan, aku siap menolong. Anda sudah banyak berjasa untuk kami.” Ratu Mai menolak perkataan Aras.


Prajurit mulai menyeretku pergi.


“Hentikan! Kau tidak boleh membawa Violet!” Bara berteriak. Energinya meluap. Api merah menyala di sekelilingnya. “Aku tidak akan membiarkan kalian membawa pergi Violet. Dia bukan seorang pembunuh!”


Borgol Bara terlepas. Borgol itu tidak bisa menahan energi Bara yang terlampau besar. Aku merasakan gelombang energi lain. Gelombang itu berasal dari Ichi dan Aras. Mereka mengeluarkan energi mereka. Borgol mereka juga terlepas.


“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.” Aras sudah hilang kesabaran. Dia sudah tidak peduli etiketnya sebagi raja.


“Violet adalah orang yang penting bagi kami. Dia harus tetap bersama kami.” Angin kencang berputar di sekitar Ichi.


Prajurit Klan Biru Timur sudah bersiap di sekeliling kami. Jumlah mereka jelas lebih banyak daripada kami. Tapi Aras, Ichi, dan Bara adalah pemilik galur murni yang kuat. Sulit mengalahkan mereka. Aku yakin para prajurit Klan Biru Timur akan berusaha melawan mereka, tidak peduli seberapa kuat lawan mereka. Bisa banyak korban berjatuhan di sini.


Bara, Ichi, dan Aras sudah siap melakukan serangan.


“Hentikan!”


Semua orang menoleh ke arahku.


“Aku memang seorang pembunuh. Aku membunuh banyak orang di Klan Biru Timur. Aku pantas dihukum mati.”


Ichi, Bara, Tiha, Ryza, dan Azuro menatapku tidak percaya. Mereka pasti terkejut dengan fakta itu.


“Apa yang kau katakan, Violet? Saat itu kau diperintahkan oleh Klan Biru Barat. Jenderal Pasifik yang menyuruhmu membunuh mereka. Kau sebenarnya tidak ingin membunuh mereka, kan?” teriak Aras.


“Tapi bagaimanapun juga aku tetap seorang pembunuh, Aras.” Aku berkata lirih.


“Kalian sudah dengar kan dari mulut perempuan itu sendiri. Dia adalah seorang pembunuh,” kata Ratu Mai. “Apa kalian akan tetap membelanya?”


“Aku tidak peduli. Violet adalah bagian dari kami.” Tiha berteriak.


“Kau ingin meninggalkan misi kita?” Azuro berusaha berdiri. Dia menatapku.


Aku menatap Ratu Mai. “Aku memang bersalah atas pembunuhan yang aku lakukan. Aku siap menerima hukuman mati yang kau jatuhkan. Tapi aku mohon penaguhan untuk menghukumku. Tolong tunda hukumanku hingga misiku berhasil.”


“Tidak bisa. Misi kalian tidak akan berhasil karena aku tidak akan pernah memberikan sapphire pada kalian. Prajurit, bunuh mereka semua!”


Seluruh prajurit menyerang kami. Ichi dan Bara melindungiku, Azuro, Ryza, dan Tiha sementara Aras menghancurkan borgol kami. Borgolku terlepas. Aku mengambil pisau dari balik bajuku. Pedangku sudah disita oleh mereka. Sekarang yang aku miliki adalah pisau dapur Ludwig.


Aku menikam seorang prajurit yang hendak menyerangku dari belakang. Dari depan seorang prajurit menyerangku tapi prajurit itu terhempas oleh sapuan air Azuro. Azuro menyapu seluruh prajurit yang dekat denganku. Dia memberiku jalan menuju Ratu Mai.


“Cepat ambil permata itu!” seru Azuro.


Aku bergegas pergi ke Ratu Mai, permata itu ada di genggamannya. Jalan bersih, tanpa prajurit yang dibuat Azuro tidak bertahan lama. Seorang prajurit menyerangku dari samping. Dia menyerangku dengan tombaknya. Aku berusaha menghindar lalu meloncat ke dekatnya. Aku lalu menebas lehernya.


Aku berhasil membereskan prajurit-prajurit yang menghalangi langkahku. Ratu Mai sudah tidak jauh. Dia ada di atas singgasananya. Aku hanya perlu menaiki tangga. Tapi tiba-tiba aku merasakan hawa dingin. Aishe membekukan seluruh bagian ruangan. Es mulai membekukan kakiku, Aras, Ichi, Tiha, Bara, Ryza, dan Azuro. Kami tidak bisa bergerak. Es itu perlahan-lahan merambat ke tubuh kami.

__ADS_1


Aria datang kepada Ratu Mai. Dia membawa Ratu Mai pergi bersama sapphire dan amethyst. Ryza berusaha menghalangi mereka. Dia mengirimkan sulur-sulur tanaman tapi Aria mengubahnya menjadi abu. Ichi mengirim anginnya. Ratu Mai dan Aria tampak tertekan oleh kuatnya angin Ichi. Mereka bertahan diam di tempat.


Aishe bertindak. Dia membekukan Ichi lebih cepat. Tubuh Ichi sudah setengah beku. Tangannya mulai membeku. Tapi Aras tidak membiarkannya. Saat itu juga dia menyerang Aishe sekaligus Ratu Mai dan Aria. Dia menghancurkan lantai ruangan. Puluhan batu raksasa menyembul dari tanah, memukul musuh-musuh kami.


Ratu Mai dan Aria terlempar. Kedua permata terlempar dari tangan ratu, jatuh ke lantai. Permata itu jatuh di dekatku. Tapi tubuhku membeku. Aku tidak bisa menggerakkannya.


Aku melihat Tiha mengangkat tangan kanannya yang masih belum beku.


“Tutup mata kalian!” seru Tiha.


Aku bisa merasakan cahaya sangat terang menyinari kami ketika aku menutup mata. Selain sangat terang, cahaya itu juga panas. Perlahan-lahan es di sekitar kami meleleh.


Cahaya itu sudah hilang. Aku membuka mataku. Sepatuku masih beku hingga masih menempel di lantai. Aku melepas sepatuku lalu berjalan telanjang kaki, mengambil permata yang ada di dekatku.


Aku bergegas mengambil permata itu. Bersamaan Aria juga berusaha mengambil permata itu. Tanganku hampir menyentuh kotak permata tapi Aria mengeluarkan api birunya ke arahku. Dia membuatku mundur, menjauh. Aria menggunakan kesempatan itu untuk mengambil kedua permata.


“Tidak!”


Aku bergerak cepat ke Aria. Bergerak zig zag, menghindari serangan bola api yang dikeluarkannya. Aku mengayunkan pisau. Aria menghindar tapi lengannya terluka. Aku berhasil melukaibtangan kanannya. Aku menangkap kotak permata itu sebelum mereka jatuh.


“Dapat!”


Aku tidak bisa langsung senang. Dari atas, Aria menyerangku dengan tangan kirinya. Aku berguling ke samping. Lantai yang terkena serangan Aria hancur berantakan. Perempuan ini sedang mengerahkan seluruh energinya. Berbahaya jika aku terkena serangannya.


Sapphire dan amethyst sudah ada di tanganku. Kami sudah bisa pergi.


“Kita mundur!” seruku.


Aras membuat lubang di dinding istana. Aku berlari ke sana, disusul teman-teman yang lain. Aras berjalan di depan. Dia menghancurkan tembok-tembok yang menghalangi kami. Aku berlari di tengah. Ichi, Azuro, Bara, Tiha, dan Ryza melindungiku yang membawa dua permata klan.


Kami tidak bergerak ke arah kota, melainkan benteng utara istana yang berbatasan dengan sungai besar. Di sana banyak kapal-kapal milik istana yang tertambat di sungai. Kami bisa menggunakannya untuk pergi ke Klan Biru Barat. Menelusuri sungai lalu pergi ke laut. Selain itu jika kami pergi ke kota, kami bisa membahayakan penduduk Klan Biru Timur.


Penjaga kapal tidak memberi perlawanan berarti ketika kami mengambil alih kapal mereka. Dengan mudah, kami menduduki kapal terbaik milik Klan Biru Timur. Para prajurit masih mengejar kami. Aku bisa melihat Aria berlari mengejar kami dengan kobaran api di seluruh tubuhnya. Kami tidak memiliki waktu untuk membentangkan layar dan menggerakkan kapal ini secara manual. Prajurit-prajurit itu sudah hampir menyeberangi kapal kami.


Azuro berlari ke buritan kapal. Dengan keistimewaanya, dia menggerakkan air sungai. Dia membuat gelombang besar yang membawa kapal pergi dengan cepat.


Para prajurit tidak diam saja. Aishe masuk ke dalam sungai. Air di sekitarnya membeku. Bekunya mulai menjalar ke kapal kami. Azuro menggerakkan kapal lebih cepat tapi gelombang beku itu bergerak makin cepat.


“Bara!” seru Ichi.


“Aku mengerti.” Bara berlari ke samping Azuro.


Bara menarik nafas dalam. Dia mengarahkan tangannya ke arah sungai. Api besar keluar dari kedua tangan Bara. Dia menghalangi pembekuan sungai. Bara menjaga air sungai tetap bisa di lewati kapal.


Aku memotong tali pengikat layar agar layar dapat terlepas. Empat layar kapal terkembang sempurna. Ichi mengerakkan angin untuk meniup layar kapal. Kapal bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Kami bahkan perlu berpegangan agar tidak terjungkal.


Prajurit Klan Biru Timur sudah tidak terlihat lagi. Kapal juga mulai masuk ke laut. Azuro dan Bara berhenti menggunakan keistimewaaan mereka. Mereka terduduk di buritan kapal dengan nafas terengah-engah. Ichi mengendurkan kekuatan angin yang berhembus. Kapal berjalan lebih tenang.


Aku berjalan ke anjungan kapal. Seseorang harus mengemudikan kapal sebelum kapal ini berlayar tak tentu arah. Aku membuka pintu ruang kendali. Aku agak terkejut ketika melihat ruangan ini. Walaupun kelihatannya kapal ini adalah kapal layar biasa, anjungan kapal ini dipenuhi dengan kendali moderen.


“Klan Biru menyukai hal-hal klasik tapi kami tetap menggunakan teknologi. Banyak kendaraan di Klan Biru yang terlihat tradisional tapi sebenarnya teknologi bekerja di situ. Seperti kapal ini.” Azuro muncul dari pintu.


“Apa kapal ini bekerja?” Aku menatap kendali kapal.


“Bahan bakar kapal ini adalah energi sapphire. Tapi begitu kita mengambil sapphire tadi, sepertinya seluruh benda yang mendapat pasokan dari sapphire menjadi barang rongsokan.” Azuro menatap Klan Biru Timur yang ramai karena kepanikan yang terjadi akibat hilangnya pasokan energi.


“Kita sepertinya menyusahkan mereka.” Ryza masuk ke anjungan kapal. Dia menatap sedih kapal-kapal yang berhenti bergerak.


“Ada sesuatu yang harus dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang besar.” Ichi ikut bergabung.


“Aku harap tidak begitu.” Aku ikut memandang Klan Biru Timur yang mulai agak kacau.


Aku merasa pengorbanan ini terlalu besar. “Sebaiknya Ratu Marine memberikan bantuan kepada mereka setelah ini.”


Azuro mengangguk setuju. “Jika Ratu tidak memberikan bantuan. Perusahaan Geerginlik tidak akan tinggal diam. Kami bisa membantu mereka sebagai bentuk pertanggung jawaban.”


Aku menoleh ke Ichi. “Kau tidak mengendalikan angin untuk layar kapal?”


“Anginnya cukup bagus. Aku tidak perlu mengendalikannya lagi,” jawab Ichi. “Selain itu mesinnya bisa digunakan?”


“Aku rasa aku bisa mengatasinya.” Azuro meletakkan tangannya di kendali kapal. Tangannya berpendar biru.


Azuro mengalirkan energi dari tubuhnya ke kapal.


“Pada dasarnya aku ini juga sapphire. Aku bisa memasok bahan bakar kapal ini dengan energiku.”


Aku melihat kapal mulai dialiri oleh energi. Layar kendali kapal menyala. Tombol-tombol pun bercahaya. Mesin kapal ini hidup kembali.


Azuro menarik tangannya. Dia menyandarkan diri ke dinding kapal. Nafasnya terengah-engah.


“Aku tidak bisa mengisi bahan bakarnya hingga penuh. Energiku sudah terkuras karena pertarungan tadi,” kata Azuro.


“Tidak masalah, Azuro. Ini sudah cukup.” Aku mengamati layar kendali yang menunjukkan bahan bakar kapal sudah terisi setengahnya. “Kau juga harus menjaga energimu sendiri. Kita tidak tahu kapan lagi kita bertarung. Lebih baik kau istirahat sekarang.”


“Mesin kapal sudah menyala. Jadi, siapa yang akan mengemudikan kapal?” tanya Ryza.


Aku, Ichi, dan Azuro saling tatap.


“Ini teknologi Klan Biru. Kau bisa melakukannya, kan, Azuro?” tanya Ichi.


Azuro menggeleng. “Aku tidak pernah mengemudikan kapal. Kau sendiri bagaimana? Kau seorang mayor.”


“Kalau kapal layar saja aku bisa tapi kalau kapal ini…” Ichi diam sejenak. Dia mengamati kendali kapal. “Klan Putih tidak memiliki kapal mesin.”


Ichi dan Azuro menatapku. Tanpa ucapan dari mereka aku bisa mengerti maksud dua laki-laki di depanku ini.


Aku menghela nafas. “Aku akan mengemudikannya.”


Aku mendekati panel kendali. Aku menyalakan seluruh monitor kendali, mengaktifkan mesin dan sensor kapal.


“Kau bisa mengendalikannya?” tanya Ryza.


Aku mengangguk. “Panel kendalinya hampir sama dengan kapal militer Klan Ungu yang lama. Hanya beberapa yang sedikit berbeda. Tapi aku bisa mengatasinya.”


Selagi aku mengendalikan kapal, aku mendengar suara langkah orang berlari menuju anjungan kapal.

__ADS_1


"Ooy, ayo kita makan! Aku dan Tiha menemukan banyak makanan di kapal ini.” Bara berdiri di tengah-tengah pintu anjungan.


Bara mendapatiku mengendalikan kapal. Dia memandangku takjub. “Wah, Violet bisa mengendalikan kapal seperti ini. Hebat! Kau keren sekali.”


Aku tersenyum kaku. Ini bukan keahlian yang luar biasa di klanku. Semua orang di Klan Ungu bisa mengendalikan kapal. Kami dilatih untuk bisa mengendalikan kendaraan apapun.


Ryza dan Azuro mengikuti Bara ke dapur kapal. Ichi juga mengikuti mereka tapi dia berhenti di pintu anjungan.


“Aku akan membawakanmu makanan, Violet,” kata Ichi.


“Tidak perlu. Kapal ini memiliki kendali otomatis. Aku akan ke sana setelah mengaktifkannya,” kataku.


“Kalau begitu aku akan menunggumu.” Ichi berdiri di samping pintu anjungan. Dia memperhatikanku mengaktifkan kendali otomatis kapal.


“Apa dia sedang mendapat buku baru? Apa buku itu sangat menarik sampai membacanya di sini?” tanya Ichi.


“Maksudmu?”


Ichi menunjuk keluar kaca anjungan. Dia menunjuk Aras yang bersandar di dek kapal sambil membaca buku.


“Oh, buku itu berisi hal-hal penting tentang sapphire. Dia mendapatkanya di Klan Biru Timur.”


“Sebaiknya kau tetap waspada kepadanya. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya tapi dia sangat aneh karena mengirim dirinya sendiri yang seorang raja untuk menjalankan misi ini.”


Aku menatap Aras yang berada di bawah.


“Tenang saja. Aku memang selalu waspada.”


*****


Aku dan Ichi pergi ke dapur setelah aku selesai mengaktifkan kendali otomastis kapal. Aroma harum masakan tercium dari dapur. Meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai macam makanan.


Aku dan Ichi duduk di kursi yang masih kosong. Teman-teman yang lain sudah mulai makan dari tadi. Tiha mengambilkanku sepiring daging panggang.


“Terima kasih, Tiha.”


Tiha mengangguk. “Makan yang banyak, Violet. Jarang kita makan makanan seenak ini setelah misi dimulai.”


Aku menatap piringku yang kosong tanpa alat makan. Aku berusaha meraih pisau dan garpu yang berada di tengah meja. Posisiku berada di ujung meja. Jadi, agak jauh untuk menjangkaunya.


Aras mengambil pisau dan garpu. Dia lalu menyerahkannya padaku.


“Terima kasih.” Aku tersenyum. Dia tahu saja jika aku sedang kesulitan mengambilnya.


“Bagaimana dengan lukamu?” tanya Aras.


“Hermes menjahitnya dengan kuat. Tidak ada pendarahan sejauh ini, meskipun aku bertarung,” jawabku.


“Apa yang terjadi ketika kau dan Azuro menghadap Ratu Mai?” Aku ganti bertanya.


Aras menyingkirkan piringnya yang kotor. “Pada awalnya Ratu Mai menyambut kami dengan baik karena dia menghormatiku sebagai Raja Klan Hitam yang sering membantu rakyatnya. Tapi setelah tahu peranku di sana adalah sebagai utusan Klan Biru Barat, dia langsung bermuka masam.”


“Saat itu juga Ratu Mai memberi tahu kami bahwa dia tahu semuanya tentang misi dari Aliansi Klan. Aku tidak tahu tepatnya dari mana Ratu Mai tahu misi kita. Tapi dari perkataannya aku bisa menyimpulkan bahwa Ratu Mai tahu dari seorang Klan Hijau. Dia juga menyebut sesuatu tentang gadis Klan Jingga.”


“Tidak mungkin itu Tiha 'kan?" Aku memelankan suaraku agar tidak di dengan orang lain.


“Bisa jadi karena dia adalah satu-satunya Klan Jingga yang bersama kita.”


“Apa hubungan Tiha dengan Klan Biru Timur?”


“Itu–”


“Wah, kalian sepertinya sudah akur, ya!” Seruan Bara memotong perkataan Aras.


Bara, Ichi, Ryza, Tiha, dan Azuro menatapku dan Aras.


“Di awal misi hubungan kalian tidak terlalu baik. Aku jadi sempat khawatir,” kata Tiha.


“Saling tidak memanggil nama. Aku rasa itu hal yang konyol.” Azuro menambahkan.


“Tapi semenjak di Klan Biru Barat, hubungan mereka membaik. Pasti karena kebaikan Aras yang selalu membantumu di sana. Dia peduli sekali denganmu saat itu. Aku sampai merasa iri.” Tiha tersenyum menggodaku dan Aras.


“Aku tidak bisa membayangkan jika kalian berdua besok bersama,” kata Ryza.


“Iya, kau benar. Aku jadi ingin tahu.” Bara mendukung perkataan Ryza.


“Itu tidak mungkin. Kami berbeda klan. Kalian tahu peraturannya, kan?” Aku menolak tegas perkataan Ryza dan Bara.


“Tapi...” Ryza masih tidak setuju.


“Lagi pula kami memiliki jalan yang berbeda. Cahaya dan kegelapan itu tidak mungkin menyatu.” Aras beranjak dari kursinya. “Aku keluar dulu.”


Semua orang diam. Ryza dan Tiha merasa bersalah. Muka mereka tampak suram.


“Aku akan kembali ke anjungan kapal.”


Makananku sudah habis. Lebih baik aku pergi ke anjungan kapal untuk mengawasi jalannya kapal.


*****


Aku menatap titik hitam kecil di ujung lautan. Itu adalah Klan Biru Barat. Sebentar lagi kami akan sampai. Aku mengarahkan kapal menuju titk itu. Aku sudah menonaktifkan kendali otomatis kapal. Kendali itu memakan banyak bahan bakar. Aku harus menghemat bahan bakar hingga kami sampai di Klan Biru Barat.


Aku melihat Ichi masuk ke anjungan kapal. Dia melihat titik hitam itu lalu layar kendali kapal.


“Kita akan sampai di sana setengah jam lagi,” kata Ichi.


Aku mengangguk. Dari kecepatan kapal dan jarak daratan itu bisa disimpulkan kapal akan sampai setengah jam lagi.


“Tiha tadi bercerita tentangmu di dapur. Aku dengar kau sempat buta dan kehilangan keistimewaanmu. Apa keistimewaanmu sudah kembali?” tanya Ichi.


Aku mengangguk. “Kejadian itu membuatku menjadi lebih kuat dan membuatku bersyukur atas apa yang terjadi.”


“Dan tentang perkataan Ratu Mai tadi. Apa benar jika kau seorang pembunuh?”


“Aku sudah mengakuinya tadi. Tidak masalah jika kau dan teman-teman yang lain berubah sikapnya padaku setelah tahu hal itu. Itu wajar.”

__ADS_1


“Aku pikir mereka bukan orang yang seperti itu. Mereka punya masa lalu masing-masing yang mungkin bisa lebih buruk darimu. Mereka terbiasa dengan pembunuh atau pembunuhan.”


“Kau seperti tahu masa lalu setiap orang saja.”


__ADS_2