
Aku dan Ludwig mengobrol hingga larut malam di ruang tamu. Kami asyik mengobrol tentang berbagai hal. Ludwig memberi tahuku banyak hal tentang Azuro. Meskipun sebenarnya dia lebih banyak bercerita tentang kue-kue kesukaannya. Aku dan Ludwig baru berhenti mengobrol setelah tengah malam. Ketika kami hendak kembali ke kamar, Ludwig tiba-tiba berseru melihat Aras.
“Itu Aras!”
Ludwig berlari ke luar rumah. Aku tidak tahu untuk apa dia berlari. Mungkin dia hanya ingin segera menyambut Aras. Aku duduk menunggu mereka di ruang tamu.
Ludwig mengajak Aras untuk duduk bersama di ruang tamu. Sepertinya Aras berhasil mendapatkan bunga violet karena sekarang aku mencium bau yang sangat harum.
“Kau terluka, Aras,” kata Ludwig.
“Ini hanya luka kecil. Satu atau dua hari lagi akan sembuh.”
“Bagaimana tadi? Apa sulit? Kau sampai tengah malam begini.” Ludwig mencemaskan Aras.
“Aku tidak meyangka ada orang sebanyak itu yang mengincar bunga violet. Tapi untunglah aku bisa mendapatkannya.”
“Biarkan aku melihat bunganya.”
Aras memberikan setangkai bunga violet kepada Ludwig.
“Harumnya,” puji Ludwig. “Aku bisa merasakan kekuatan besar di bunga ini.”
“Bagaimana aku menggunakannya?” tanyaku.
“Kau bisa memakannya langsung,” kata Ludwig.
Apa aku tidak salah dengar? Memakan bunga?
“Atau kau ingin membuatnya menjadi sup? Memasaknya tidak akan mengurangi khasiatnya, kok.” Ludwig menawarkan pilihan yang lain.
“Sup? Boleh juga.” Aku memutuskan untuk memasak bunga itu menjadi sup. Itu lebih baik daripada memakannya mentah-mentah.
Aras menepuk dahinya. “Ya ampun, Violet. Aku tidak mengira kau akan menerima tawaran Ludwig.”
“Apa kau tidak bisa membuatnya menjadi cairan atau ramuan seperti obat-obat pada umumnya?” Aras beralih kepada Ludwig.
“Aku bukan dokter atau penyihir yang suka membuat ramuan. Aku ini musikus yang suka dengan kue.” Ludwig menolak usulan Aras.
Aku tertawa mendengarnya.
“Sudah, ya. Aku sangat mengantuk. Aku akan memasak bunga ini besok.” Ludwig pergi sambil membawa bunga violet.
Aku pun hendak pergi menyusul Ludwig untuk tidur. Tapi Aras menahan tanganku.
“Ada satu lagi yang harus aku katakan.” Suara Aras terdengar serius.
Aku kembali duduk untuk mendengarkan.
“Ketika aku memetik bunga ini, aku merasakan energi yang luar biasa dari tanamannya.”
“Kau tidak mencabutnya?”
“Tanaman violet itu memilliki bentuk yang berbeda dari tanaman violet pada umumnya. Jika biasanya tanaman violet itu seperti rumput. Tanaman violet yang ada di puncak gunung memiliki bentuk seperti pohon maple. Dan bunganya hanya tumbuh di salah satu tempat dari bagian pohon itu.”
“Lalu tentang energi yang kau rasakan?”
“Aku tidak tahu energi apa itu. Tapi jelas sekali jika energi itu sangat kuat. Tanaman violet itu mengeluarkan energi yang luar biasa. Tidak mungkin hanya sebuah pohon memiliki energi sebesar itu,” lanjut Aras.
“Maksudmu ada permata klan di sana?”
“Kemungkinan seperti itu tapi energi yang aku rasakan tidak sekuat energi permata klan. ”
Aku menggenggam lengan kursi dengan kuat. Aku kesal. Kebutaanku ini membuatku tidak bisa melihat jejak apapun. Aku jadi tidak bisa memastikan energi apa yang dipancarkan tanaman violet.
“Mungkin itu hanya energi biasa yang dipancarkan tumbuhan. Karena tanaman itu dibawa langsung dari Klan Ungu, dia jadi memiliki energi yang besar karena tidak ada makhluk apapun yang membutuhkannya.” Aku memberikan kemungkinan lain.
“Kau mungkin benar. Tapi kita harus tetap waspada. Mungkin saja memang ada permata klan di sana.”
Aku mengangguk setuju.
***
Pagi ini, setelah aku mengecat lagi rambutku, aku kembali mengumpulkan bunga-bunga yang ada di pekarangan Ludwig. Ada banyak bunga di sini. Aku tidak perlu khawatir dengan persediaan yang harus aku jual selama dua hari ke depan.
Ketika aku sedang merangkai buket bunga di beranda rumah, Ludwig datang sambil membawakan sup panas. Dia menaruhnya di meja.
“Ini sup violet khusus untukmu.”
Aku meletakkan bunga yang sedang aku rangkai. Bau hangat sup masuk menyeruak hidungku.
“Terima kasih, Ludwig.”
Aku menyendok sup spesial ini. Aku harap rasanya tidak aneh, mengingat yang aku makan adalah bunga.
Sesendok sup masuk ke dalam mulutku. Lidahku mengecap rasanya.
“Bagaimana?” tanya Ludwig.
“Tidak buruk. Rasanya seperti memakan daun rebus yang wangi.”
“Daun rebus, ya?” Ludwig kehilangan kepercayaan dirinya.
Aku menyendok sup lagi. Lalu memakannya.
__ADS_1
“Jangan kecewa begitu, Ludwig. Meskipun rasanya tidak seperti sup, aku menikmatinya, kok.”
Ludwig menungguku hingga aku memakan sup itu hingga habis.
“Khasiatnya tidak akan langsung terasa. Jadi, bersabarlah,” pesan Ludwig.
Aku mengangguk.
Aku mengemasi buket-buket bunga ke dalam keranjang rotan. Aku harus segera ke pasar sebelum siang.
“Violet!” Aras berjalan menyusulku yang sudah ada di depan rumah.
“Kau mau ikut lagi?” tanyaku.
“Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Bagaimana jika kejadian seperti kemarin terulang lagi?”
“Aku bisa mengatasinya. Lebih baik kau pergi ke gunung Jadnew. Perjalanan ke sana pasti jauh. Kau saja tadi malam pulang larut sekali.”
Aras diam, berpikir.
“Baiklah. Tapi hati-hati,” pesan Aras.
Aku mengangguk. Aku lalu melanjutkan perjalanan menuju pasar.
Tidak sulit pergi ke pasar sendiri walaupun aku buta. Penjelasan Aras kemarin sangat membantuku. Aku bisa dengan mudahnya kembali ke tempat berdagang kemarin. Begitu aku sampai, Eliza dan Lisa juga menyambutku dengan ramah.
Dua hari yang tersisa di Jadnew, aku, Ludwig, dan Aras melakukan tugas masing-masing. Aku berjualan bunga, Ludwig bekerja di kafe, dan Aras yang memetik bunga violet di puncak gunung. Setiap pagi, mengecat rambut sudah menjadi rutinitasku dan Aras. Entah apa yang dilakukan Azuro tapi dia pasti juga sedang berusaha untuk mendapatkan bantuan.
Pekerjaan kami berjalan cukup baik. Buket bungaku selalu habis terjual. Setiap pulang kerja Ludwig selalu membawa makanan dari kafe sehingga kami tidak perlu repot berbelanja. Aras juga selalu berhasil membawa bunga violet. Uang yang kami kumpulkan tidak terlalu banyak. Tapi semoga saja cukup untuk perjalanan kami ke Dumbrige.
Di hari terakhirku di Jadnew, aku berpamitan kepada Eliza dan Lisa. Selama aku di sini, mereka selalu membantuku. Aku memberi mereka masing-masing buket bunga besar yang sengaja aku buat untuk mereka.
“Terima kasih telah menjaga dan membantuku selama ini.”
“Violet, kau membuatku ingin menangis. Padahal kita baru bertemu beberapa hari yang lalu.” Eliza mengusap air mata di pipinya.
“Kau sudah menangis, Eliza,” kata Lisa.
Lisa juga menangis. “Kau adalah anak terbaik yang pernah aku temui.”
Lisa dan Eliza kembali ke tempat mereka. Mereka lalu mengambil kantong dan memasukkan buah serta roti dagangan mereka.
“Ini untukmu.” Mereka menyerahkan kantong itu padaku. “Kalian pasti akan lapar selama perjalanan.”
“Pemberian kalian akan mengenyangkan aku dan teman-teman. Terima kasih, Eliza, Lisa.”
Eliza dan Lisa memelukku. Aku agak terkejut dengan pelukan mereka. Selain Ludwig, tidak ada yang pernah memelukku. Aku juga tidak menganggap pelukan Ludwig itu adalah sebuah pelukan. Eliza dan Lisa membuatku ingat pada keluargaku.
Eliza dan Lisa melepas pelukannya.
Lisa mengusap kepalaku. “Kau sangat beruntung, ya, Nak.”
“Aku sangat iri padamu. Anak itu, si Aras, selalu mengantarmu ke pasar. Dia bahkan menunggumu hingga kau selesai berjualan. Dia baru pergi setelah kau pulang,” kata Eliza.
Apa aku tidak salah dengar? Setahuku Aras pergi ke gunung Jadnew. Tidak mungkin dia mengantarkanku, apalagi hingga menungguku di pasar. Tapi tidak mungkin Eliza dan Lisa berbohong.
“Kau beruntung sekali memilikinya. Aku benar-benar iri padamu,” kata Eliza. “Kau harus berterima kasih padanya.”
Jujur, sebenarnya aku senang sekali mengetahuinya. Aku sangat terharu. Tapi aku juga merasa bersalah dengan Aras. Padahal perlakuanku dingin seperti itu tapi dia tetap saja memperhatikanku. Apa aku dan Aras pantas bersikap seperti dulu?
Aku menendang kerikil-kerikil sepanjang jalan pulang. Aku kembali ke rumah dengan hati yang campur aduk. Aku sedih dengan perpisahanku dengan Lisa dan Eliza. Aku juga rasanya tidak ingin bertemu dengan Aras setelah mendengar cerita mereka. Aku malu. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.
Brukk…
Aku menabrak seseorang.
“Maaf.” Aku pasti melamun hingga tidak menyadari seseorang di depanku.
“Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya tidak menghalangi jalanmu,” kata laki-laki yang baru saja aku tabrak. “Kau mau ke mana? Mungkin aku bisa mengantarmu?”
Aku menggeleng. “Tidak terima kasih. Aku pergi dulu.”
Aku kembali berjalan ke rumah. Kali ini lebih fokus agar tidak menabrak orang lagi.
“Violet?”
Seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku mengenal suara itu. Aku lalu berbalik badan.
“Tiha?”
Aku mendengar langkah seseorang yang berlari mendekatiku. Setelah itu dia memelukku dengan kencang hingga aku terjatuh ke tanah.
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Violet.” Dia menangis sambil memelukku.
“Kau benar-benar Tiha?” Aku masih tidak percaya.
“Jahat sekali. Aku ini Tiha. Aku juga hampir tidak mengenalimu. Warna rambutmu berubah. Bagaimana bisa?”
“Aku mewarnainya. Syukurlah kau selamat. Maaf, ya. Aku tidak bisa melihatmu.”
Tiha bertambah keras menangis. “Kau jangan berkata seperti itu.
“Sudah.” Aku menghapus air mata Tiha. “Ayo ikut denganku. Kau nanti bisa bertemu Aras dan Azuro.”
“Iya.”
Aku dan Tiha berdiri. Dia pun ikut denganku menuju rumah Ludwig. Aku senang bisa bertemu dengan Tiha. Semoga saja ke depannya aku bisa bertemu teman-teman yang lain.
__ADS_1
Tidak ada orang ketika aku pulang. Ludwig, Aras, dan Azuro belum pulang. Aku mengajak Tiha duduk di beranda rumah.
“Kalian tinggal di sini?” tanya Tiha.
Aku mengangguk. “Rumah ini milik sepupu Azuro. Namanya Ludwig. Dia orang yang lucu.”
“Kau habis bekerja, Violet?”
Tiha melihat uang yang aku taruh di keranjang rotan.
“Barang-barangku, Aras, dan Azuro hanyut di laut. Jadi, kami harus bekerja. Kau sendiri bagaimana tiga hari ini?”
“Aku baik-baik saja. Kudaku bisa mendarat di Klan Biru. Tapi aku terpisah dengan yang lainnya.”
“Semoga saja kita bisa segera bertemu teman-teman yang lain.”
Tiha mengiyakan.
“Kau mau kue? Ludwig tadi malam membawa kue cukup banyak,” tawarku.
“Tidak usah. Kau nanti akan kerepotan,” tolak Tiha.
Aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga. Salah satu dari mereka sudah pulang. Tapi dia tidak bersuara. Aku jadi tidak tahu siapa ini.
“Tiha?”
Rupanya Azuro. Dia terdengar terkejut.
“Ah, halo Azuro.” Tiha menyapa.
Azuro bergabung bersama kami. Dia duduk di sampingku.
“Aras dan Ludwig belum pulang?” tanya Azuro.
“Mereka memang biasanya pulang malam,” jawabku.
“Padahal mereka sudah aku suruh pulang lebih awal untuk persiapan ke Brasov besok,” keluh Azuro. “Bagaimana kau bisa bertemu Violet, Tiha?”
“Tiga hari ini aku mencari kalian dan teman-teman yang lain. Tapi aku tidak menemukan kalian. Tadi aku sangat beruntung karena tidak sengaja bertemu dengan Violet di jalan.”
Seseorang kembali datang.
“Tiha?” Aras juga terkejut. “Syukurlah kau baik-baik saja.”
Dia berjalan ke arah kami lalu duduk di dekatku. “Ini untukmu.” Aras menyodorkan bunga violet padaku.
“Terima kasih.”
“Aduh.. aduh.. Apa ini? Jadi selama aku tidak ada, kalian sudah menjadi sepasang kekasih rupanya. Sampai memberikan bunga,” goda Tiha.
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Bunga ini untuk pengobatanku,” sergahku.
Aku menerima bunga violet dari Aras. Aku melepas mahkota bunga violet lalu memakannya. Sejak kemarin, aku memakan bunga violet secara langsung. Rasanya ketika mentah lebih baik daripada dimasak menjadi sup oleh Ludwig.
“Hii… Kau memakan bunga, Violet?” Tiha baru pertama kali melihatku memakan bunga. Dia pasti sangat terkejut.
“Aku, kan, sudah bilang ini obatku. Lagi pula rasanya tidak terlalu buruk,” kataku.
Tiha tidak berkomentar lagi tapi dia menatapku dengan wajah tidak percaya.
“Sebaiknya kita bicarakan perjalanan kita selagi Ludwig belum pulang. Bagaimanapun dia tidak boleh tahu misi kita,” kata Aras.
Aku mengangguk setuju.
“Besok kereta rekan bisnis ayahku akan menjemput kita di sini pagi-pagi. Kita akan ikut bersamanya ke Brasov. Setelah itu kita harus menyewa kereta sendiri untuk melanjutkan perjalanan ke Vienna. Ludwig juga akan ikut bersama kita ke Vienna,” jelas Azuro.
“Siapa nama rekan bisnis ayahmu?” tanyaku.
Tidak sopan jika tidak mengetahui orang yang telah membantu kami. Mengetahui namanya juga akan memudahkan kami untuk menyapanya.
“Edward Stuart, Baron Stuart,” jawab Azuro. “Dia seorang baron yang memiliki bisnis yang besar.”
Aku mengangguk mengerti.
“Kalian tidak mengajakku berkumpul?”
Aku menoleh ke sumber suara. Itu adalah suara Ludwig.
“Wah, ada tamu baru? Perkenalkan aku Ludwig, sepupu Azuro.” Ludwig memperkenalkan diri kepada Tiha.
“Aku Tiha.”
“Tiha besok akan ikut dengan kita. Jadi, apa dia bisa tinggal di sini untuk malam ini?” Aku meminta izin.
“Boleh. Sayangnya, tidak ada kamar lagi untuknya. Kalau kau mau, dia bisa berbagi kamar denganmu.” Ludwig memberi izin.
“Terima kasih,” kata Tiha.
Aku bangkit dari kursiku. “Aku ke kamar dulu. Ayo Tiha.”
__ADS_1