Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 57


__ADS_3

Aku tersentak ketika terbangun. Pandanganku berputar. Kepalaku terasa pusing. Saat aku berusaha bangun, aku menyadari kedua tangan dan kakiku diikat.


Aku memandang sekitar. Aku tidak lagi berada di rumah Ginko. Sekarang aku berada di sebuah kurungan kayu kecil yang ditutupi oleh kulit binatang. Di sampingku Aras dan Ty tertidur. Kaki dan tangan mereka berdua juga diikat.


Seringai Ginko muncul di kepalaku. Aku kira kejadian tadi hanya mimpi. Tapi ternyata itu kenyataan. Aku masih bisa merasakan rasa asam di lidahku. Kami terlalu lengah hingga berhasil diracuni.


Aras membuka mata. Dia kemudian duduk. Matanya memperhatikan sekitar. Keningnya mengerut.


“Aku hampir berpikir itu tadi adalah mimpi,” kata Aras.


“Kau ingat juga yang terjadi tadi,” kataku.


Aras mengerjapkan mata beberapa kali. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Efek racun masih sedikit mempengaruhinya.


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku.


“Aku baik-baik saja. Aku hanya masih sedikit terpengaruh oleh racun Ginko.”


Racun yang diberikan Ginko bukan racun yang berbahaya. Racun yang dia pakai hanya memiliki efek bius pada kami.


Ty masih tertidur. Efek racun yang diberikan Ginko padanya masih bekerja. Tubuhnya tidak sekuat aku dan Aras. Kemungkinan dia perlu waktu yang lama untuk bangun.


Dari dalam kurungan, aku mendengar suara yang sangat ramai dari luar. Jauh lebih ramai dari malam sebelumnya. Mereka pasti kembali berpesta. Kali ini aku mencium bau daging dari luar.


Aku dan Aras mengintip keluar melalui celah kurungan. Sesuai dugaanku, di depan sana ada pesta seperti kemarin malam. Kuali besar yang aku lihat sebelumnya juga masih berada di tempatnya.


Beberapa penduduk sedang bekerja di dekat kuali. Mereka memasukkan berbagai sayuran ke dalamnya.


Ada api unggun tambahan di sana. Di atas api itu, mereka membakar daging giling. Tapi bentuk daging itu tidak seperti binatang. Tidak ada binatang yang memiliki tubuh hampir seperti persegi panjang.


Aku melihat ke arah lain. Mataku terbelalak ketika melihat sebuah potongan kaki manusia dimasukkan ke dalam kuali. Perutku terasa bergejolak. Aku mengalihkan pandanganku dan berhenti mengintip keluar.


Aku membenturkan kepalaku pelan ke jeruji. “Apa aku masih di dalam mimpi?”


“Kau sudah sepenuhnya bangun, Violet,” kata Aras.


Aras juga berhenti melihat ke luar kurungan. Kami berdua bertatapan.


“Kau melihatnya?” tanyaku.


Aras mengangguk.


“Itu kaki manusia, kan?”


“Aku pikir juga begitu.”


Aku menelan ludah. “Ayo kita pastikan lagi.”


Aku dan Aras kembali mengintip keluar.


Penduduk desa sudah tidak memasukkan sesuatu lagi ke kuali. Mereka sedang mengaduk kuali itu, menunggu makan malam mereka matang.


Aku kembali memandang keluar, menjelajahi sekitar. Mataku terpaku pada tumpukan tulang di sudut rumah. Tulang-tulang itu bukan tulang hewan. Itu tulang manusia. Ada tengkorak juga di sana.


Aku segera menarik diri setelah melihat tumpukan tulang manusia. Jantungku berdetak kencang. Kepalaku menunduk, memikirkan apa yang baru saja aku lihat.


‘Tulang manusia. Apa mereka kanibal?’ pikirku.


Aku pernah mendengar berita tentang manusia kanibal. Tapi aku belum pernah menemui kejadian seperti itu seperti secara langsung.


“Violet,” panggil Aras.


Aku mengangkat kepala, menatap Aras.


Baru aku akan mengatakan sesuatu, obrolan orang-orang di luar kurungan membuat tenggerokanku tercekat.


“Aku sangat penasaran dengan rasa manusia Klan Hitam. Kita hanya pernah merasakan blaster.”

__ADS_1


“Rasanya mungkin sama saja dengan blaster. Aku tidak menyukainya. Daripada rasa Klan Hitam itu, aku lebih tertarik dengan rasa manusia Klan Ungu. Kita belum pernah merasakannya.”


“Ah, kau benar. Kapan, ya, mereka akan dikeluarkan? Aku sudah tidak sabar.”


“Mungkin besok? Besok adalah kita akan melakukan upacara.”


Jantungku berdetak makin kencang. Ini sangat gila. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini seumur hidupku. Daripada pertarungan antara hidup dan mati, Desa Trap ini lebih mengerikan. Keringat dingin sampai menetes di pelipisku.


“Violet, kau baik-baik saja?” tanya Aras.


Aku mengangguk.


Aras masih menatapku setelah aku menjawabnya. Dia terlihat tidak yakin denganku.


“Tidak apa-apa. Aku ada di sini.” Aras mendekat padaku.


Wajahku pasti sangat pucat sampai Aras berbicara seperti itu padaku.


“Pertama kita harus melepaskan ikatan ini. Apa kau bisa melepasnya, Violet?” tanya Aras.


Aku mengangguk.


Tali yang dipakai untuk mengikat kami hanyalah tali yang terbuat dari serat tumbuhan. Dengan kelebihan yang dimiliki manusia Klan Ungu, aku bisa memutuskan tali ini dengan mudah.


Aku menarik tanganku berlawanan arah. Aku tidak memerlukan tenaga besar hingga tali yang mengikatku putus. Setelah tangan dan kakiku terbebas dari tali, aku melepas tali yang mengikat  Aras dan Ty.


GOONGGG


Aku dan Aras terlonjak mendengar suara pukulan menggelegar dari luar. Aku dan Aras segera mengintip keluar, mencari tahu apa yang baru saja mereka lakukan hingga terdengar suara semenggelegar itu.


GOONNGGG


Suara itu muncul lagi. Suara itu berasal dari benda bulat besar pipih dari kuningan yang dipukul oleh salah satu penduduk.


“Gong,” gumam Aras.


Penduduk desa tertawa senang. Gong yang dipukul tadi menjadi pertanda bahwa pesta telah dimulai.  Penduduk desa memainkan musik. Keramaian itu bisa menutupi pelarian kami. Ini kesempatan bagus untuk kabur.


“Kita harus segera pergi selagi mereka berpesta,” kata Aras.


“Aku akan menghancurkan jerujinya,” kataku.


Pedangku diambil oleh mereka. Jadi, aku tidak bisa menggunakannya untuk menghancurkan jeruji. Sebagai gantinya, aku menendang jeruji kayu itu. Mereka langsung hancur dengan satu kali tendangan.


Suara jeruji yang hancur tenggelam oleh keramian pesta. Tidak ada yang menyadari jika kurungan mereka telah hancur.


Aras menggendong Ty. Kami bergegas keluar dari kurungan. Kami berjalan mengendap ke dalam hutan.


“Hey, bukannya kalian tangkapan kami. Bagaimana kalian bisa keluar dari kurungan?”


Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari arah hutan. Sebuah pedang yang familiar berada di tangannya.


Sebelum dia berbicara lagi, aku berlari ke arahnya, membekap mulutnya lalu memukul tengkuk lehernya. Laki-laki itu jatuh ke rumput, tidak sadarkan diri. Aku mengambil pedangku yang dijatuhkannya.


“Mereka kabur!” seru seorang penduduk yang melihat kami dari tempat pesta.


Aku dan Aras langsung berlari kabur. Penduduk desa meneriaki kami. Mereka ramai mengejar kami sambil membawa senjata.


SLASH


Aku melihat anak panah meluncur ke arah kami. Aku mengayunkan pedangku dan menghalau panah itu. Panah lain datang menyusul.


“Jangan biarkan mereka pergi!” seru Penduduk Desa Trap. Penduduk Desa Trap menghujani kami dengan anak panah.


Aras mendirikan tembok tinggi yang memisahkan mereka dengan kami. Tapi penduduk desa memanjatnya tembok itu dengan mudahnya. Mereka menembak anak panah dari atas tembok.


JLEBB

__ADS_1


Aku meringis ketika sebuah anak panah menancap di bahuku.


Aras menarik tanganku. Tiba-tiba tanah yang kami pijak runtuh. Aras membawaku dan Ty ke bawah tanah.


Penduduk Desa Trap tidak meyerah begitu saja melihat kami menghilang ke dalam lubang, mereka menembaki lubang itu dengan anak panah.


Aras yang mengetahui serangan itu langsung membawa kami berbelok. Penduduk desa itu tidak bisa menyerang kami lagi. Aku, Ty, dan Aras sudah terlindung.


Aku menghembuskan napas lega ketika melihat Ty tidak tergores anak panah sama sekali.


Aku bersandar di dinding gua. Bahuku yang tertancap panah terasa nyeri. Rasa kaku menjalar hingga leherku.


“Duduklah, Violet. Aku akan mencabut panahnya,” kata Aras.


Aras membaringkan Ty di tanah. Dia kemudian mendekatiku. Aras berdiri di depanku. Dengan bantuan sinar bulan yang bersinar redup di dalam sini, Aras mencabut anak panah di bahuku dengan hati-hati.


Aku meringis menahan sakit ketika Aras mencabut anak panah di bahuku. Anak panah itu menyangkut di tulang selangkaku. Aras harus ekstra hati-hati agar dia tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebih ketika mencabutnya,


“Panah beracun,” desis Aras cemas ketika melihat mata panah yang berwarna kehitaman.


Aras menekan lukaku. Dia berusaha mengeluarkan racun yang ditinggalkan anak panah.


Aras merobek bajunya. Dia mengikatkannya ke bahuku yang terluka.


“Aku sudah mengeluarkan sebagian besar racunnya. Aku harap kau baik-baik saja,” kata Aras.


Bahu dan leherku masih terasa kaku. Tapi rasa sakit ini tidak menyebar ke bagian lain. Aras berhasil mengeluarkan racunnya.


“Aku rasa racunnya sudah tidak menyebar,” kataku.


“Syukurlah kalau begitu.”


Ty kembali digendong oleh Aras. Dia membuat jalan bawah tanah sambil menggendong Ty.


Aku mengikuti Aras di belakang. Dia membawaku dan Ty bergerak menjahui Desa Trap. Kami berjalan di bawah tanah yang gelap gulita.


“Aku tidak percaya rumor tentang desa kanibal itu benar,” kata Aras.


“Aku juga pernah mendengarnya. Aku kira itu hanya dongeng.”


Ada rumor mengenai desa yang dihuni oleh penduduk kanibal di Klan Hijau. Mereka selalu bersikap baik kepada orang asing yang masuk ke dalam desa mereka. Tapi itu hanya sebuah tipuan. Orang asing yang masuk ke sana tidak akan pernah kembali. Kabarnya mereka dimakan oleh penduduk desa kanibal itu sehingga tidak bisa kembali.


Aku tidak mengira desa itu benar-benar ada. Tapi aku sudah mengalaminya sendiri dan bahkan hampir menjadi makanan mereka. Rumor itu sudah terbukti benar.


“Aku awalnya sempat curiga dengan desa itu karena mereka bersikap jauh berbeda dengan manusia Klan Hijau pada umumnya. Tapi aku malah terlena karena mereka sangat ramah,” kata Aras.


“Aku juga sama sekali tidak merasakan niat jahat dari mereka. Mereka sudah membuat jebakan yang sangat bagus.”


Aras mengangguk setuju.


“Tapi untuk apa mereka menyembuhkan kita?”


Akan lebih mudah bagi mereka jika aku dan Aras masih lemah.


“Aku rasa karena mereka tidak mau kehilangan kita. Luka kita, terutama mlikmu adalah yang paling parah. Tapi kita juga beruntung ditemukan oleh mereka. Kalau tidak, mungkin kita tidak bisa melanjutkan misi ini,” kata Aras.


“Kau benar,” kataku.


“Akan lebih baik jika ada pemilik galur murni yang keistimewaanya adalah penyembuh bergabung bersama kita.”


“Tapi itu tidak mungkin,” kataku.


“Aku rasa itu bisa terjadi jika aku berbicara pada Kaisar Icus, dia pasti akan mempertimbangkannya.”


Perkataan Aras ada benarnya. Dia adalah anggota Dewan Lintas Klan. Aras juga memiliki hak ikut campur dengan rencana berigin.


 

__ADS_1


 


__ADS_2