
“Jangan terus menyuruhku untuk memakannya,” keluhku.
Pagi ini Aras datang membawa berbagai buah dan rusa yang sudah dikuliti. Ty memasaknya menjadi rusa panggang yang sangat enak. Kami sarapan dengan makanan yang mewah. Aras dan Ty terus menyuruhku untuk makan, bahkan ketika aku sudah kenyang.
“Nona, kau harus banyak makan agar cepat pulih.” Ty menatapku sambil menyuapkan potongan daging ke mulutku.
“Buah sangat penting untuk kesembuhanmu.” Aras menyodorkan buah asing yang sudah dikupas.
Aku menghela napas. “Ayolah, aku hanya diserang wit. Aku baik-baik saja. Lihat!” Aku berdiri kemudian melompat-lompat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja.
“Kau lebih baik istirahat.” Aras menarikku untuk duduk.
Aku berdecak kesal. Ty dan Aras sangat berlebihan hari ini. Aku tahu mereka berniat baik tapi ini merepotkan untukku.
“Wit bukan masalah sepele, Nona,” ucap Ty pelan.
“Kau masih hidup karena kau adalah Klan Ungu yang memiliki energi besar,” tambah Aras.
“Karena itu aku baik-baik saja. Jadi, berhentilah bersikap seperti ini!” seruku.
Aras dan Ty tidak menghiraukanku. Mereka terus menjejaliku dengan makanan.
Jujur, aku saat ini merasa sangat baik-baik saja. Wit menyerap energiku tapi aku tidak merasakan perubahan besar pada tubuhku selain keistimewaanku yang agak bermasalah.
“Kalau kalian terus begini, bisa-bisa aku malah sakit perut! Berhenti!” Aku berteriak.
Aras dan Ty terdiam. Aku berdiri lalu meninggalkan mereka yang menatapku pergi tanpa berkedip saking terkejutnya.
“Aku tidak tahu Nona bisa semengerikan itu,” ujar Ty.
“Iya. Aku juga sudah lama tidak melihat sisi mengerikannya,” tambah Aras.
Kalian pikir aku tidak bisa mendengarnya?!
Aku berbalik menghadap Aras dan Ty sambil melotot kepada mereka. Aras dan Ty langsung mengalihkan pandangan mata mereka ke arah lain.
Aku mendesah melihat kelakuan mereka. Aku tidak terlalu peduli lagi sekarang. Setidaknya aku bisa pergi dari mereka yang terus menyuruhku untuk makan.
Aku menelusuri padang rumput yang terbentang luas. Hampir tidak ada pohon di sini. Aku bisa melihat gunung-gunung lain yang ditutupi rumput hijau di sekitar sini. Tidak ada kabut yang menghalangi pandanganku. Aku bisa melihat sekitar sejauh mataku memandang.
Di selatan terdapat sebuah pegunungan yang tertutup salju putih. Letaknya sepertinya tidak terlalu jauh karena hawa dingin di pegunungan itu sudah bisa aku rasakan di sini.
Ketika aku kembali, Aras dan Ty sudah bersiap untuk pergi.
“Nona, Aras memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi aku bilang untuk melihat keadaan Nona dulu sebelum berangkat. Tapi dia tidak menghiraukanku,” lapor Ty.
“Ah, tidak apa-apa. Kita memang lebih baik berangkat. Kita sudah terlalu lama istirahat.”
Ty mengangguk setuju setelah mendengar pendapatku.
Aras menatap Ty datar. Padahal Ty tadi menolak mentah-mentah perintah Aras untuk melanjutkan perjalanan. Tapi ketika aku mengiyakan, dia langsung menyetujuinya.
Kami bergerak lebih lambat daripada kemarin. Aras menyesuaikan kecepatan kami dengan keadaan kami. Ty dan Aras baik-baik saja tapi kulitku masih kemerahan. Aras memutuskan untuk tidak terlalu terburu-buru seperti kemarin, meskipun aku sudah mengatakan padanya bahwa energiku sudah pulih seperti semula.
“Aras, aku kemarin melihatmu membelah tanah ketika bertarung dengan wit. Apa kau pemilik galur murni?” tanya Ty sembari berjalan.
Aras mengangguk. “Aku pemilik galur murni Klan Hitam.”
“Awalnya aku pikir kau ini blaster.”
“Jika kau melihat mataku. Kau seharusnya langsung tahu kalau akau bukan blaster tapi manusia Klan Hitam.” Aras menunjuk matanya.
“Aku baru sadar kalau kau Klan Hitam ketika melawan wit kemarin. Aku tidak pernah melihat Klan Hitam selama ini. Jadi aku berpikir kalau mungkin Klan Hitam sudah tidak ada.”
“Kejam sekali mengatakan klanku sudah hilang. Jumlah kami memang sedikit tapi kami masih ada.”
Aku tertawa kecil mendengar percakapan mereka. Bisa - bisanya Ty mengatakan Klan Hitam sudah menghilang di depan raja Klan Hitam sendiri. Sampai sekarang Ty belum tahu jika Aras adalah pemimpin Klan Hitam.
"Nona, kau juga pemilik galur murni, kan?”
Aku mengangguk. “Aku pernah bilang padamu jika aku adalah pemilik galur murni Klan Ungu.”
“Wah, hebat!” Ty berseru takjub. “Dari dulu aku ingin menjadi pemilik galur murni tapi pemilik galur murni adalah berkat dari lahir. Jadi itu mustahil bagiku.”
“Pemilik galur murni tidak selalu hebat. Kami juga manusia biasa,” ucapku.
Ty menggeleng. Dia berdiri di depanku dan Aras, menghadap kami sambil merentangkan tangannya pada kami.
“Kalian sangat hebat. Keistimewaan kalian luar biasa. Aku sangat mengagumi pemilik galur murni.”
Aku tersenyum. “Terima kasih, Ty.”
“Apa keistimewaan Nona?” tanya Ty.
Aku terdiam sejenak. “Itu rahasia.”
“Eh?!” Ty menatapku tidak percaya. “Kenapa rahasia?”
“Keistimewaan pemilik galur murni bukan sesuatu yang bisa diumbar - umbarkan pada orang lain.” Aras yang menjawab.
Ty cemberut mendengar ucapan Aras.
“Tapi aku tahu keistimewaanmu. Keistimewaanmu pasti mengendalikan tanah. Kau menggunakannya ketika bertarung dengan wit,” tebak Ty.
“Yah, mudahnya kau anggap saja seperti itu.”
“Kalau kau bicara seperti itu, keistimewaanmu yang sebenarnya itu apa?” Ty masih penasaran dengan keistimewaan Aras.
“Sesuatu yang lumayan mengejutkan.”
Aku jadi ikut penasaran tentang keistimewaan Aras seperti Ty. Aku tidak pernah mendengar jika mengendalikan tanah bukan keistimewaan Aras yang sebenarnya.
“Kau juga sepertinya penasaran, Violet.” Aras menatapku.
“Tentu saja. Aku hanya tahu keistimewaanmu itu mengendalikan tanah,” jawabku. “Katakan apa keistimewaanmu sebenarnya!”
Aras diam sesaat sebelum tawanya menyembur.
“Aku hanya bercanda. Kalian terlalu serius.”
Aku menatap Aras tidak percaya. Bisa-bisanya dia membuat candaan tentang keistimewaannya.
“Dasar pembohong!” teriak Ty.
__ADS_1
Entah hanya khayalanku atau bagaimana tapi aku melihat sekilas senyum di wajah Aras menghilang. Wajahnya tampak muram. Tapi dengan cepat dia kembali tertawa.
“Jika kau menganggap pemilik galur murni itu hebat, berarti kau juga mengakui jika aku hebat?” Aras menyeringai kepada Ty.
“Humph! Harus aku akui, kemarin Aras memang luar biasa.” Ty mengatakannya dengan pelan sambil menghindari pandangan Aras. Pipinya merah karena malu.
Aras tertawa kecil mendengar pujian malu-malu dari Ty untuknya.
“Tapi– tapi tentu saja Nona jauh lebih luar biasa. Nona bisa bertahan dari wit, itu sangat mengagumkan!” Ty memandangku dengan wajah berbinar.
“Terima kasih, Ty,” jawabku sambil menepuk kepala Ty lembut.
Ty tersenyum lebar.
“Lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan.” Aras tiba-tiba berjalan mendahuluiku dan Ty.
“Dasar tidak sabaran! Kau meninggalkanku dan Nona Violet tahu!” teriak Ty.
Aras tidak menanggapi teriakan Ty. Dia tetap berjalan menuju arah pegunungan bersalju sambil bersungut-sungut.
Kami belum sampai di pegunungan yang bersalju. Kami masih jauh di bawah mereka. Tapi udara terasa sangat dingin. Asap tipis selalu muncul di depan mulut kami ketika berbicara.
Tempat kami sekarang berbeda delapan puluh derajat dari tempat sebelumnya. Jika tempat sebelumnya adalah padang rumput dengan angin sejuk, sekarang kami berada di tanah lapang kecokelatan yang tandus dengan ngarai raksasa di depan kami.
“Kita akan turun,” kata Aras.
“Kau yakin? Ini sangat luas.” Ty melongok ke bawah ngarai kemudian bergidik ketakutan. “Dan dalam.”
Ngarai di depan kami tidak tidak seperti ngarai biasa. Lebarnya seperti lautan dan panjangnya tak berujung. Kami tidak bisa menemukan ujung ngarai sejauh kami mencari.
Ngarai di depan kami mengeluarkan bunyi-bunyi ketika angin berhembus. Angin dan air yang menggerus tebing-tebing di ngarai, membuatnya menjadi labirin alam terbesar yang pernah aku lihat.
“Kita tidak punya pilihan lain selain melewatinya,” kata Aras.
“Tapi bagaimana kita turun?” tanya Ty.
Aras memberi kode padaku dan Ty untuk mendekat padanya.
“Bersiaplah! Kita akan turun.” Aras memberitahu.
“Bagaimana caranya?” Ty tidak mengerti. “Kita tidak mungkin lompat, kan?”
“Tentu saja tidak. Kau sebaiknya siapkan dirimu agar tidak terjungkal.”
“Hah?”
Aras menggesek kakinya sedikit di tanah. Tanah tempat kami pijak tiba-tiba bergerak turun.
“Huwaaa!” Ty berteriak kaget.
Aku segera menarik kerah baju Ty sebelum dia dia terjungkal dan jatuh ke dasar ngarai.
“Aras sudah memperingatkanmu sebelumnya untuk bersiap, kan?! Kau bisa mati jika aku tidak menarikmu tadi!”
“Maafkan aku, Nona.”
“Kau seharusnya menghiraukan ucapan Aras!” Aku masih mengomeli Ty.
Ty menunduk. “Maaf, Nona.”
“Sudahlah, Violet. Aku pasti terlalu cepat bergerak hingga mengejutkan Ty.” Aras menengahi.
“Kau sudah memberi tahu Ty sebelumnya tapi Ty tidak menghiraukanmu,” kataku.
Aku ganti menatap Ty. “Kau harus memperhatikan ucapan orang di sekitarmu.”
Ty mengangguk. “Baik, Nona.”
Aku menghela napas. “Bagus kalau begitu.”
Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Ty yang biasanya banyak bicara menjadi pendiam.
“Violet, Ty sepertinya sangat terkejut ketika kau memarahinya tadi,” bisik Aras.
“Aku tidak memarahinya. Aku hanya memperingatkannya karena dia tidak menghiraukanmu. Dia hampir jatuh tadi karena tidak mendengarkanmu.” Aku membela diri.
Aras menghembuskan napas pelan dan tersenyum tipis. “Walaupun begitu, dia sedih Violet. Lebih baik kau menghiburnya.”
Aku memandang Ty yang menunduk dan berdiri agak menjauhiku. Aku menghela napas.
“Jangan terlalu jauh, Ty. Kau bisa jatuh.” Aku merangkul bahu Ty dan menariknya mendekat padaku.
Ty tampak terkejut karena perlakuanku padanya.
“Maafkan aku jika aku tadi membuatmu takut. Aku hanya tidak ingin kau dalam bahaya.” Aku mengusap kepala Ty.
Ty menunduk. Tubuhnya gemetar. Dia mengusap air mata yang menetes dengan lengannya.
“Eh, Ty? Apa aku sangat menakutimu tadi?” Aku panik karena tiba-tiba Ty menangis.
Ty menggeleng. “Aku senang Nona memperhatikanku. Aku hanya kesal karena aku telah mengecewakan Nona.”
Aku menghembuskan napas lega. Aku kira Ty menangis karena dia takut padaku.
“Mulai sekarang, aku tidak akan membuat Nona khawatir lagi,” kata Ty.
Aku menepuk bahu Ty. “Aku senang mendengarnya.”
Kami bertiga hampir tiba di dasar ngarai. Kami berhenti dengan meninggalkan suara gema yang menyebar ke penjuru ngarai.
Kami mulai menyusuri dasar ngarai. Ngarai ini sepi dan kosong. Saking sepinya, ketika ada batu yang jatuh. Suaranya bisa menggema hingga kemana-kemana.
“Apa tempat ini benar-benar kosong?” Ty heran dengan kekosongan ngarai ini. “Seharusnya masih ada kehidupan di sini. Setidaknya kadal. Tapi aku tidak melihat makhluk hidup apapun selain kita.”
Aku berusaha untuk fokus menggunakan keistimewaanku. Tapi akibat serangan wit, keistimewaanku belum stabil. Jejak Aras dan Ty yang berada di dekatku saja, aku kesusahan melihatnya.
“Apa ini?”
Di tengah perjalanan, kami mendapati ngarai yang penuh dengan tanaman. Tanaman itu bukan tanaman biasanya. Mereka merambat memenuhi ngarai di sekitarnya dengan daun dan batang yang sangat besar. Mereka terlihat sangat cantik dengan bunga-bunga besar yang mekar di sepanjang batangnya.
Aku menyiapkan pedangku. Mereka cantik tapi mencurigakan. Bentuk mereka yang besar mengingatkanku pada wit.
“Tidak apa-apa, Violet. Ini hanya mawar gurun.” Aras memberitahu.
__ADS_1
“Mawar gurun? Sebesar ini?” Aku menurunkan pedangku.
“Yah, seperti yang kau tahu. Tanaman di Klan Hijau memang agak berbeda.”
Aras berjalan mendekati mawar gurun. Dia melompat menaiki batangnya. Tidak ada yang mencurigakan. Aku memutuskan untuk mengikuti Aras. Ty berjalan menyusulku.
Kami berjalan dan melompat menyelusuri batang mawar gurun. Mereka tumbuh subur di tempat ini. Kami sudah menghabiskan lebih dari satu jam untuk melewati mereka.
“Mereka terlalu subur,” komentar Ty ketika melewati mawar gurun yang tidak ada habisnya. “Astaga, sampai mana mereka tumbuh?”
Sebenarnya tidak ada yang buruk ketika melewati mawar gurun, selain lelah karena terus meloncat dari batang satu ke batang lainnya.
Bunga mereka sangat harum dan lembut. Ty beberapa kali terjatuh di atas bunga. Dia langsung tenggelam di sana, seolah-olah dia terjatuh di kasur yang terbuat dari bulu angsa.
Tiba-tiba aku merasakan ada bahaya yang mendekat. Aras sepertinya juga merasakannya. Aku melihat raut wajahnya berubah. Samar-samar, aku mulai mendengar suara dengungan. Dengungan seperti lebah.
"Sembunyi!” seru Aras.
Kami turun dari mawar gurun dan bersembunyi di antara batang sulurnya yang tebal. Suara dengungan itu semakin keras. Selain itu angin tiba-tiba berhembus lebih kencang.
Aku terbelalak melihat segerombolan lebah raksasa berterbangan di atas kami. Tapi yang paling membuatku terkejut adalah sengat mereka yang berkilau keperakan. Sengat mereka panjang dan tajam, mengingatkanku pada rapier. Manusia bisa langsung mati jika disengat oleh mereka.
Kami diam menunggu kawanan lebah itu di bawah mawar gurun. Celah antara batang mawar gurun terlalu kecil untuk kami lewati. Menunggu mereka pergi adalah keputusan paling tepat saat ini.
Lebah-lebah itu menghinggapi bunga-bunga mawar gurun, mengambil sari bunga. Beberapa sari bunga menetes di dekat kami, menguarkan bau harum yang manis. Tidak hanya sari bunga yang mereka jatuhkan. Jutaan serbuk bunga menghujani ngarai. Sayap mereka yang mengepak menerbangkan serbuk bunga kemana-mana.
Aku, Aras, dan Ty menutup hidung. Sekarang serbuk bunga ini lebih bermasalah dari sengatan lebah. Serbuk bunga menghujani kami dengan deras. Aku tidak bisa membuka mulut untuk berbicara, membuka mata pun sulit. Tumpukan serbuk bunga sudah mencapai lututku. Jika kami tetap diam di sini, bisa-bisa kami terkubur oleh serbuk bunga.
Aku melihat Aras meletakkan tangan kanannya di tebing.
BOMM
Aras membuat lubang gua di tebing. Suara keras yang dibuat Aras membuat lebah-lebah itu berhenti mengambil sari bunga. Mereka menatap kami.
Tanpa basa-basi lagi, aku mendorong Ty masuk ke dalam gua. Aras menyusul masuk. Lebah-lebah itu tidak membiarkan kami pergi begitu saja. Mereka berusaha masuk ke dalam gua juga. Aras bergegas menutup gua sebelum lebah-lebah itu masuk.
“Oh, tidak!” Mata Ty terpaku pada lebah besar yang siap menyengat Aras yang sedang menutup pintu gua.
Seekor lebah berhasil masuk ke dalam gua tepat selagi Aras menutup gua. Aku segera mencabut pedangku.
TRANGG......
Pedangku dan sengat lebah berbenturan. Senjata kami bertubrukan dengan sangat keras hingga percikan api besar muncul di sekitar senjata kami. Aku meringis, menahan sekuat tenaga serangan lebah. Lebah ini sangat kuat. Ukurannya yang lima kali lebih besar darikku dengan dua sayap yang kuat berhasil membuatku mundur hingga menabrak Aras.
“Maaf!” seruku.
Aras terguling. “Tidak perlu pedulikan aku.”
Pintu gua belum tertutup sempurna. Beberapa ekor lebah berusaha melewati celah pintu. Aras buru-buru bangkit dan menutup pintu.
Aku mendorong lebah menjauh. Lebah itu berhasil aku dorong mundur tapi dia tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan cepat dan melesat sambil mengarahkan sengatnya padaku.
Aku segera menghindar. Sengatnya menancap di tanah. Aku segera mengambil kesempatan itu untuk menyerangnya. Aku mengayunkan pedangku ke tubuhnya.
TANGGG
Suara pedangku yang memukul tubuh lebah menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Tubuh lebah itu sangat keras. Aku seperti baru saja memukul tameng tebal. Pedang dan tanganku sampai gemetaran.
“Lebah macam apa ini?!”
Lebah itu kembali menyerangku. Aku merasakan kepercayaan diri lebah ini meningkat setelah salah satu temannya berhasil lolos masuk ke dalam gua. Saat ini Aras sedang bertarung melawannya.
Aku mengatupkan gigiku rapat. Aras juga sedang bertarung. Aku tidak bisa mengharapkan bantuannya. Lebah, lawanku mengepakkan sayapnya lebih cepat, berusaha mendorongku mundur.
Aku memberi sedikit dorongan, kemudian melompat menghindar dan menendang sengat lebah. Aku terlempar ke langit gua yang pendek. Aku bergerak cepat mengarahkan kakiku ke langit gua. Tepat ketika kaki menyentuh langit gua, aku mendorong tubuhku ke arah lebah. Pedangku siap mengincar celah antara kepala dan tubuh lebah yang lunak.
JLEBB....
Pedangku berhasil menusuk tubuh lebah. Lebah itu meronta kesakitan. Aku berpegangan erat pada pedangku sambil menusuknya lebih dalam. Lebah itu menabrakkan tubuhnya ke dinding gua, berharap pedang yang menusuknya terlepas dan menjatuhkanku. Tapi berkali-kali dia berusaha, aku masih gigih bertahan di tubuhnya.
BRAKK
Untuk kesekian kalinya dia menabrakkan tubuh ke dinding gua. Aku tebak dia tidak merasa kesakitan karena tubuhnya yang keras seperti tameng. Lebah ini tidak memiliki masalah menabrakkan tubuhnya sebanyak apapun. Dia mungkin mengerti kalau aku tidak akan bertahan jika dia terus menabrakkan tubuhnya seperti ini.
“Pintar juga dia,” desisku.
Aku menarik pedangku meyamping, membuat luka robek di tubuh lebah. Lebah ini meronta lebih liar. Aku sampai terlempar. Tapi tanganku masih menggenggam erat pedangku. Aku menarik pedangku bersamaan ketika aku terjatuh. Aku memanfaatkan beratku untuk membuat luka yang lebih besar pada tubuh lebah.
Cratt...
Darah kehijauan memancar dari luka yang aku buat. Lebah ini mulai berterbangan tanpa arah. Kepakan sayapnya perlahan-lahan melemah. Kami berakhir dengan menubrak dinding gua lalu jatuh di tanah.
Aku berdiri kemudian mencabut pedangku yang masih menancap di tubuh lebah. Aku mengayunkan pedangku untuk menghilangkan darah hijau yang menempel di pedangku. Aku memegang pedangku dengan hati-hati. Lebih dari setengah tubuhku terlumuri darah lebah. Aku tidak mau mengotori pedangku yang sudah bersih.
“Nona!” Ty yang pertama kali menghampiriku.
“Ty, pegang ini. Aku tidak mau mengotorinya dengan darah hijau ini lagi.” Aku menyerahkan pedangku pada Ty.
Ty memeluk pedangku yang ukurannya hampir sepanjang tubuhnya. Dia menatapku khawatir.
Aras juga sudah selesai mengalahkan lebah lain. Dia menghancurkan lebah itu dengan menghantamkannya ke dinding gua. Darah hijau dari lebah yang sudah dikalahkannya itu menetes dari dinding.
Aras menghampiriku. Aku melihat luka gores di wajahnya dan beberapa luka sobek di tubuhnya. Darah merahnya tidak terlalu terlihat karena baju hitamnya.
Aras dan Ty menatapku dengan cemas.
“Kalian berdua, berhentilah menatapku! Aku benar-benar menjijikkan sekarang,” kataku.
Darahku dan darah lebah yang aku lawan tercampur menyelimutiku. Selain itu serbuk bunga yang ikut masuk ke dalam bunga banyak menempel di tubuhku.
“Hachuu..!!.” Serbuk bunga itu membuat hidungku gatal.
“Violet!”
“Aku tidak apa-apa... Hachuuu...! Ugh..”
“Kau lebih baik berpindah tempat, Violet,” saran Aras.
Aku mengangguk. Aku pergi ke bagian gua yang jauh lebih bersih dari sebelumnya.
“Kalian jangan mendekat.” Aku memberi peringatan.
Aku mengibaskan tangan dan kakiku. Serbuk dan darah yang menempel di tubuhku bercipratan. Darah dan serbuk bunga masih banyak yang menempel tapi sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
“Aku rasa kita harus mencari air,” kata Aras setelah melihatku.