Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 69


__ADS_3

Aku memandang Aras yang terbaring kesakitan di tempat tidurnya. Dia belum mendapat penawar racun monkshood. Ginger masih sedang membuatnya.


“Bagaimana keadaan Aras sekarang?” tanyaku.


Grante tersenyum. “Syukurlah, dia masih bisa bertahan.”


Aku menghembuskan napas lega.


Kelopak mata Aras terbuka sedikit. Bola matanya melirik ke arahku.


“Violet...” Aras memanggilku pelan.


Aku menghampiri Aras. Tapi beberapa langkah aku berjalan, aku kembali merasakan rasa sakit di kakiku. Aku diam sejenak.


Mata Aras yang sayu menatapku bingung. Dia menyadari ada yang tidak beres denganku.


“Violet..?” Aras berusaha untuk bangkit, kemudian mendekatiku. Tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Aku segera menghampirinya sebelum Aras malah memaksakan diri dan terjatuh dari tempat tidurnya.


Aku mengusap kepala Aras lembut. Sayup-sayup Aras menutup kedua kelopak matanya.


Setelah Aras tenang. Aku melangkah menjauh darinya. Kakiku masih terasa sakit dan menyebar ke hampir setengah dari seluruh badanku.


Aku hampir jatuh ketika berada di depan Ty dan Grante. Tapi Grante segera memegangiku. Mereka tampak panik.


“Nona–”


Aku meletakkan telunjukku di bibir, memberi isyarat untuk tenang. Aku tidak mau mengganggu Aras dan membuatnya menyadari keadaanku sekarang.


Ty dan Grante mengangguk mengerti.


Grante kemudian mengangkat tubuhku dengan hati-hati agar tidak menimbukan suara. Dia lalu membaringkanku di tempat tidur yang ada di samping Aras.


Tubuh terasa sangat panas seperti terbakar. Napasku juga terasa sesak. Seluruh bagian bawah tubuhku sudah mati rasa dan makin menjalar ke atas, disertai rasa sakit yang luar biasa. Aku mengepalkan tanganku. Keringat dingin memasahi kulitku.


“Ty, cepat panggil, Ginger!” seru Grante pelan.


Ty mengangguk. Dia bergegas pergi keluar ruangan.


Tak lama kemudian, Ty datang bersama Ginger. Ginger berdecak ketika melihat keadaanku. Lebam-lebam biru terlihat di banyak tempat di tubuhku.


“Racun Monkshood-nya sudah menyebar,” ucap Ginger.


Aku hampir tidak bisa bergerak sama sekali. Padanganku juga menjadi buram.


Beberapa orang yang tadi merawat Aras berpindah mendatangiku. Aku mendengar seruan panik tertahan diantara mereka ketika mereka melihat perbanku yang menjadi merah dan kakiku yang membiru.


Di antara keributan itu, samar-samar aku melihat Aras memandangku. Dia terbangun. Wajahnnya terlihat sangat pucat.


Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi aku yakin dia sedang menangis. Air mata mengalir di pipinya.


Aku ingin mengatakan padanya untuk jangan menangis. Tapi suaraku tidak mau keluar. Aku hanya bisa menatapnya sambil tersenyum hingga aku menutup mata.


***


Ginger adalah orang pertama yang aku lihat setelah aku membuka mata. Dia tampak sangat terkejut melihatku.


“Ginger,” gumamku.

__ADS_1


“Kau sudah bangun?! Kau benar-benar sudah sadar?” Ginger membeliak padaku.


Aku bangun duduk, memberi bukti padanya bahwa aku memang sudah sepenuhnya bangun.


Pemandangan di sekitarku agak berubah. Aku masih di tempat yang sama. Tapi kini ada tirai pembatas yang memisahkan tempat tidurku dengan tempat tidur Aras.


“Padahal aku baru memberimu penawar satu jam yang lalu. Kau seharusnya bangun paling cepat besok pagi!” Ginger masih menatapku tidak percaya.


Aku melirik kakiku. Ada perban yang membukus kakiku hingga lutut. Aku mencoba menggerakkan kakiku. Kaki sudah bisa bergerak seperti sedia kala. Lebam-lebam di tubuhku juga sudah hilang.


“Padahal aku pikir kau akan mati karena racun itu. Tapi kau malah pulih jauh lebih cepat dari dugaanku. Rumor tentang kekuatan manusia Klan Ungu memang benar rupanya.” Ginger tertawa hampa.


“Apa keadaanku separah itu sampai kau pikir aku akan mati?”


“Tentu saja. Karena kau tidak mendapat perawatan langsung setelah terkena racun monkshood, racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhmu. Kau bahkan seharusnya sudah mati sebelum sempat pergi ke Desa Jati.”


“Sayangnya aku tidak akan semudah itu untuk mati.”


Ginger menghembuskan napas kesal. “Klan asing selalu membawa masalah saja. Gara-gara kau, aku jadi makin kerepotan. Keadaan Raja Aras memburuk karenamu.”


“Keadaan Aras memburuk?!”


“Raja Aras berusaha menghampirimu dengan keadaannya yang seperti itu. Dia akhirnya terjatuh dari tempat tidurnya dan luka dipunggungnya mengalami pendarahan hebat.”


“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”


Ginger menatapku. Ekspresi wajahnya sedikit melunak. “Raja Aras masih tertidur. Tapi dia baik-baik saja. Kau sebaiknya segera sembuh agar Raja Aras tidak terus menerus mengkhawatirkanmu.”


Ginger melambaikan tangan padaku. Dia kemudian pergi keluar.


Aku menyibak tirai yang membatasiku dan Aras. Setelah Ginger pergi, ruangan ini sepi. Tidak ada siapapun. Hanya ada aku dan Aras yang berbaring di tempat tidur di sampingku.


Aku berjalan mendekati Aras. Aku menarik kursi kayu di dekatku lalu duduk di samping Aras. Aras sudah tidak pucat atau terlihat kesakitan. Napasnya teratur. Dia tampak seperti manusia biasa yang sedang tidur dengan tenang.


Ketika Aras mengakui perbuatannya, aku seharusnya marah padanya. Membencinya. Tapi perasaan yang aku rasakan malah jauh dari itu. Aku merasa lega. Sangat aneh. Mungkin aku merasa lega karena dia telah mengakui perbuatannya. Tapi itu tetap saja aneh.


Aku menyentuh rambut Aras. Semua ini membingungkan. Aku tidak tahu siapa yang harus aku percayai sekarang. Aras bilang dia membunuh orang tuaku. Arnold dan Ichi bilang jika Aras ingin menyingkirkan klan lain. Ichi juga bilang jika dia masih membawa Zamrud. Itu bertolak belakang dengan apa yang Aras katakan padaku.


Aku memandang wajah Aras. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan. Bagiku dia tidak terlihat merencanakan sesuatu yang jahat. Tapi kenapa dia berbohong padaku?


Aku memejamkan mataku lalu menghela napas dengan berat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini.


“Violet...”


Aku membuka mata.


Aras masih belum sadar. Dia hanya menggumamkan namaku di sela tidurnya. Aku tersenyum mendengarnya.


Tanpa sadar, aku duduk di samping Aras hingga tertidur. Aku terbangun ketika merasakan seseorang menyentuh rambutku.


Aku membuka mata. Aras sedang tersenyum, memandangku. Tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahku. Saat menyadari aku telah bangun, Aras langsung menarik tangannya. Dia juga memalingkan tatapannya.


“Kau sudah bangun?” Aku bangkit duduk. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”


“Ya.” Aras menjawab dengan singkat.


Aras masih menghindari tatapannya ke arahku.


“Ada apa?” tanyaku.

__ADS_1


Aras melirik ke arahku. Matanya memancarkan kecemasan.


“Kau lebih baik tidur di tempat tidurmu. Kau juga harus beristirahat.”


“Aku sudah baik-baik saja.”


“Tapi tetap saja kau harus istirahat. Kau kemarin sama sekali tidak terlihat baik-baik saja.”


Aku tersenyum kepada Aras. “Keadaanku sudah sangat baik. Kau tidak perlu khawatir.”


Aras menatapku. Dia memandangku beberapa saat hingga aku mendengarnya menghembuskan napas lega.


“Bagaimana keadaanmu?” Aku ganti bertanya.


“Aku merasa jauh lebih baik. Efek racun monkshood sudah menghilang,” jawab Aras.


Aku sangat senang sekaligus lega mendengarnya.


“Syukurlah.” Aku menggenggam tangan kanan Aras.


Aras sangat terkejut ketika aku menggenggam tangannya. Matanya terbuka lebar. Dia langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak terlihat malu. Tidak ada semburat merah di pipinya. Tapi Aras malah terlihat sangat sedih.


“Kau tetap bersamaku...” ucap Aras pelan.


“Tentu saja.”


“Tapi kenapa? Aku sudah mengatakannya padamu jika aku yang–”


“Sshh...” Aku mendiamkan Aras. “Kau tidak perlu mengatakannya lagi.”


Aras meremas tanganku. Matanya yang memerah menatapku. “Maaf. Maafkan aku.”


Aku mengigit bibir. Wajah ayah dan ibuku muncul di depanku. Kejadian ketika mereka peluru menembus tubuh mereka tergambar di kepalaku.


Aku melepas genggaman tanganku pada Aras. Tubuhku gemetar. Aku berusaha untuk menahan tangis.


“Aku benar-benar minta maaf. Jika aku tidak melakukan itu, kau mungkin masih bisa hidup bahagia bersama keluargamu.”


Aku menarik napas dalam. “Sudahlah, Aras. Semuanya sudah terjadi. Tapi aku lega kau sudah mengakuinya padaku.”


“Kau terlalu baik padaku, Violet. Aku sudah menghancurkanmu. Tapi kau justru mempertaruhkan nyawamu untuku. Aku tidak pantas bersamamu. Sangat memalukan aku masih hidup sambil terus berharap bersamamu.”


Aku menggeleng. “Berhenti berkata seperti itu. Jika kau tahu aku sudah susah payah mempertaruhkan nyawa, jangan menyerah seperti kemarin! Berjanjilah kau akan terus berusaha tetap hidup apapun yang terjadi!”


Aras menatapku.


“Berjanjilah, Aras.” Aku menatap lurus Aras.


Aras mengulurkan kedua tangannya kepadaku. Dia merengkuhku dalam pelukannya.


“Aku janji. Aku berjanji akan terus bertahan hidup apapun yang terjadi.”


Air mata memenuhi kelopak mataku. “Kau sudah berjanji. Jangan menyerah seperti kemarin.


“Apa aku sangat egois jika aku ingin terus bersamamu?” gumam Aras.


Aku membenamkan wajahku di dada Aras. Air mataku membasahi kulitnya. “Jangan tinggalkan aku.”


Aras memelukku lebih erat. “Maafkan aku. Dan juga... terima kasih karena telah bersamaku.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2