
Kereta kuda mulai memasuki kota Vienna. Aku dan Tiha menatap kagum kota seni Klan Biru. Banyak gedung opera di sini. Kami bisa mendengar suara musik dan nyanyian di sepanjang jalan. Ada beberapa orang sedang melukis di pinggir taman. Aku juga melihat hilir mudik orang yang membawa alat musik dan lukisan. Vienna memang surganya para seniman.
“Bagaimana jika kita melakukan pertunjukkan di jalan utama Vienna?” Ludwig mengusulkan dengan semangat.
“Jangan! Banyak orang yang mengenalmu dan aku. Apa kau tidak malu? Selain itu Vienna adalah tempat para seniman. Bagaimana jika penampilan kita jelek?” tolak Azuro.
“Azuro benar. Aku tidak percaya diri jika tampil di sini.” Jarang sekali Tiha sependapat dengan Azuro.
“Jangan pesimis begitu. Kita memiliki Ludwig Sang Musikus Agung. Dia pasti memiliki lagu yang hebat untuk kita tampilkan.” Aku merangkul bahu Ludwig. “Iya, kan?”
Ludwig mengangguk.
“Tidak ada salahnya kita tampil di sini. Jujur saja, aku malah merasa tertarik.” Aras ikut menanggapi.
“Uang kita sudah cukup untuk membeli tiket ke Dumbrige. Aku rela kita naik kelas ekonomi daripada tampil di jalanan kota Vienna.” Azuro masih saja menolak.
“Ini bisa menjadi pengalaman yang bagus, Azuro,” kataku.
Azuro tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak.
“Baiklah kalau begitu. Karena tidak ada yang menolak, kita akan tampil di sini. Aras, ayo kita ke jalan utama kota Vienna!” seru Ludwig.
*****
Kami sudah sampai di jalan utama Vienna. Suasananya sangat ramai. Tempat ini adalah tempat paling ramai di antara semua tempat yang kami singgahi untuk tampil. Banyak orang selain kami yang menampilkan pertunjukan. Semuanya bagus, sangat bagus. Aku jadi agak tidak percaya diri.
Ludwig kembali menyerahkan kertas not lagi.
“Romeo dan Juliet lagi?” Tiha mengangkat kertas not-nya.
“Tapi ini sudah aku arangsemen ulang,” kata Ludwig.
“Ini sulit sekali.” Azuro memperhatikan barisan not di kertas. “Apa kau yakin kami bisa memainkannya?”
Ludwig tersenyum meringis. “Iya, ini memang lebih sulit. Tapi aku yakin kalian bisa memainkannya.”
Kami berjalan bersama ke pinggir jalan utama. Tapi Azuro masih diam di tempat.
“Ada apa Azuro?” tanyaku.
“Dia pasti masih memikirkan harga dirinya.” Tiha berkacak pinggang.
Aku menghampiri Azuro. Aku memotong kain selendangku lalu aku pakaikan untuk menutupi wajah Azuro.
“Apa yang kau lakukan?” Azuro berusaha melepas kain penutupnya.
“Kau tidak ingin identitasmu diketahui, kan? Makanya aku memakaikan ini.” Aku mengikat kain penutup di wajah Azuro.
“Selesai. Ayo kita ke tempat yang lain.” Aku menarik tangan Azuro ke tempat Aras, Ludwig, dan Tiha.
Setelah mendapat tempat yang nyaman, kami memulai pertunjukkan. Aku terkejut ketika musik mulai dimainkan. Ludwig membuat musik yang berbeda. Bagian awal lagu ini membuatku berdebar. Lagu ciptaan Ludwig merasuki tubuh kami.
Aku menari mengikuti irama. Ini lagu yang menyenangkan. Aku bisa menikmatinya. Sekarang aku sudah terbiasa menari. Aku bisa melakukannya sembari mengawasi sekitar.
Orang-orang mulai penasaran kepada kami. Mereka mendekat untuk menikmati penampilan kami dengan lebih jelas. Beberapa orang juga memandang rendah kami. Dari gerak mulutnya, aku bisa tahu mereka sedang membandingkan kami dengan penampilan para professional. Aku tidak ambil pusing terhadap perkataan mereka. Aku ingin menikmati pertunjukkan kami.
Seorang laki-laki berambut panjang maju ke depan tepat ketika adegan Romeo datang. Dia mulai berdansa denganku. Selama ini aku hanya menjadi Juliet yang sendiri. Aku tidak masalah ada yang menjadi Romeo. Lagi pula laki-laki ini menari dengan baik. Dia sepertinya paham cerita apa yang kami tampilkan.
“Bukankah dia Mozart?”
“Tidak mungkin dia tampil di jalanan.”
“Tapi dia sangat mirip.”
Aku mendengar suara bisik-bisik dari penonton. Siapa Mozart? Diantara aku, Aras, Ludwig, Azuro, dan Tiha tidak ada yang bernama Mozart. Apa jangan-jangan Mozart itu adalah orang yang berdansa denganku.
“Bukannya kondaktor itu Beethoven?”
“Apa iya?”
“Aku sudah lama tidak melihatnya.”
"Tidak mungkin itu Beethoven."
Sekarang giliran Ludwig yang dibicarakan. Dia pasti terkenal di sini. Yah, tentu saja. Dia ‘kan Beethoven Sang Musikus Agung. Aku yakin orang-orang Vienna banyak mengenalnya.
Penampilan kami diakhiri dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Aku, Ludwig, Azuro, Aras, Tiha, dan laki-laki yang dipanggil Mozart itu memberi hormat kepada para penonton.
Laki-laki yang dipanggil Mozart itu berjalan mendekati Ludwig lalu memeluknya. “Beethoven, lama tidak bertemu.”
“Lho, Mozart? Sejak kapan kau ada di sini?” Ludwig tidak menyadari jika dari tadi Mozart menari bersamaku.
“Jahat sekali. Dari tadi aku di sini. Berdansa bersama temanmu.” Mozart menunjukku. "Aku bahkan ikut memberi hormat."
“Mozart! Beethoven!”
"Mozart! Kau tampan sekali!"
"Beethoven, aku rindu dengan musikmu."
Orang-orang di sekeliling kami terus memanggil Ludwig dan Mozart.
“Di sini terlalu ramai. Bagaimana jika kalian ke mansionku?” tawar Mozart.
“Asal ada kue, aku mau.” Lagi-lagi Ludwig meminta kue.
“Semua akan aku sediakan terutama untuk para nona.” Mozart mengedipkan satu mata kepadaku dan Tiha.
Kami mengangguk setuju. Setelah membereskan barang-barang, kami berjalan mengikuti Mozart. Aku berjalan bersisian dengan Ludwig.
“Apa dia orang baik?” tanyaku.
“Kau ingat ceritaku? Cerita ketika aku baru saja tuli?” Bukannya menjawab Ludwig balik bertanya.
Aku mengangguk.
“Dia adalah orang yang menyelamatkanku, Mozart Sang Musikus Jenius.”
Aku memandang Mozart yang berjalan di depan. Dia pasti orang yang hebat karena bisa mengeluarkan Ludwig dari masa kelamnya.
Mozart berhenti melangkah lalu menghadapku dan Ludwig.
“Benar sekali. Aku Mozart, Sang Musikus Jenius.” Tangan Mozart menepuk dadanya dengan sombong. Rupanya dia mendengar obrolan kami.
“Nona, katakanlah kau ingin mendengarkan musikku.” Mozart merangkul bahuku.
Seketika pandanganku tentang Mozart berubah. Aku melepas rangkulannya.
“Kenapa kau melepasnya?” Mozart mengeluarkan wajah cemberut.
Ya ampun. Apa semua laki-laki Klan Biru seperti ini. Dari Elgar, Viscount Raymond, bahkan Mozart Sang Musikus Agung adalah seorang penggila wanita.
“Jaga sikapmu. Apa sikap sperti itu pantas bagi seorang Musikus Jenius?” Aku berbicara tegas kepada Mozart.
“Bagaimana, ya? Karena aku jenius, aku boleh melakukan apapun, bukan? Orang-orang akan tetap menyukaiku.” Lagi-lagi Mozart sombong tentang dirinya.
Aku menatap Mozart jengah. Buang-buang tenaga menganggapinya.
Beberapa saat setelah kami berjalan, kami masuk ke dalam sebuah gerbang besar.
“Selamat datang di istanaku!” Mozart merentangkan tangannya.
Mansion Mozart memiliki tiga lantai dan taman yang luas. Saat pertama kali masuk ke mansionnya, aku langsung bisa tahu seperti apa orang yang bernama Mozart ini. Terlihat dari dekorasinya yang unik. Banyak patung minim busana yang menghiasi setiap sudut mansion. Ada juga patung-patung bayi dengan sayap di punggung mereka.
“Violet, aku tidak mau di sini.” Tiha mengenggam bajuku erat. Dia tidak nyaman dengan dekorasi mansion Mozart.
Mozart membawa kami ke taman belakang. Dia lalu mempersilahkan kami duduk di paviliun taman. Tiga orang pelayan membawakan rak bertingkat berisi kue serta teh.
“Aku agak khawatir kau belum datang ke sini sejak kemarin. Aku pikir kau melupakan konsermu di sini.” Mozart menyesap tehnya.
“Aku tidak uang untuk ke sini. Jadi, aku harus bekerja dulu,” kata Ludwig.
“Kau selalu tidak membawa uang ketika ke luar kota.” Mozart meletakkan cangkir tehnya. Dia beralih padaku dan Tiha.
__ADS_1
“Siapa dua nona cantik ini?” tanya Mozart.
“Temanku. Violet dan Tiha,” jawab Ludwig.
Mozart menatap kami. “Penampilan kalian tadi sangat bagus. Bagaimana jika kalian tampil di gala konserku?”
“Mereka saja. Mereka bisa memainkan biola dengan sangat baik.” Tiha menunjuk Aras dan Azuro dengan. Dia sepertinya mengalami phobia dengan Mozart.
Mozart menatap Aras dan Azuro tanpa minat. “Aku tidak tertarik dengan laki-laki. Mereka hanya saingan.”
“Eh, tunggu.” Mozart menatap Azuro. “Sepertinya aku mengenalmu.”
Azuro menggeleng cepat. “Ini pertama kalinya kita bertemu.”
“Tapi aku sepertinya mengenal suaramu. Coba buka penutup wajahmu.” Mozart meraih penutup wajah Azuro.
“Jangan!” Azuro menahan kain penutup wajahnya. “Aku memiliki bekas luka yang mengerikan di wajahku.”
Mendengar itu, Mozart langsung mundur. “Kau mirip sepupu Ludwig yang sombong itu. Siapa namanya? Azuro? Azuro Geerginlik kalau tidak salah.”
Aku tertawa dalam hati. Mozart benar, dia memang sepupu Ludwig. Azuro yang sombong itu. Azuro menatap Mozart dengan dongkol.
Mozart kembali menatapku dan Tiha.
“Maaf tapi kami harus segera pergi ke Dumbrige,” kata Aras.
“Silahkan saja jika kau dan laki-laki bertopeng itu ingin pergi ke Dumbrige. Aku hanya peduli dengan nona-nona ini.” Mozart tidak menghiraukan Aras.
“Kami juga harus pergi,” kataku.
“Lho, kalian juga?” Mozart menatapku dan Tiha kecewa.
“Bagaimana jika kalian pergi besok pagi? Sebenarnya jam enam malam ini aku mengadakan konser di Vienna. Aku ingin kalian melihatnya,” pinta Ludwig.
Aku, Azuro, Tiha, dan Aras saling tatap. Misi kami memang tidak dibatasi waktu. Tapi semakin lama kami menemukan tujuh permata klan, keadaan dunia klan akan semakin berbahaya.
“Maaf, Ludwig. Kami harus segera pergi.” Aku menolak permintaan Ludwig.
Ludwig menunduk sedih. Mozart yang melihatnya menepuk punggung Ludwig.
“Tenang saja. Bukankah konsermu hari ini disiarkan langsung. Mereka pasti bisa melihatnya di kereta.” Mozart menghibur Ludwig.
“Kalau begitu, tolong lihat aku, ya.” Ludwig menatap aku, Tiha, Azuro, dan Aras penuh arti.
Kami mengangguk.
*****
Mozart dan Ludwig mengantarkan kami sampai ke stasiun.
“Aku akan merindukan kalian.” Ludwig memelukku, Tiha, Azuro, dan Aras satu persatu.
“Terima kasih telah membantu kami,” kataku.
Ludwig mengusap air matanya. “Aku senang sudah menjadi teman kalian.”
"Kami juga."
“Tunggu sebentar.” Ludwig merogoh saku bajunya. Dia lalu menyodorkan empat tiket konser. “Kalian mungkin memang tidak bisa datang tapi ini bisa menjadi kenang-kenangan untuk kalian.”
Aku menatap tiket konser yang diberikan Ludwig.
“Terima kasih. Akan aku simpan.” Aku tersenyum kepada Ludwig.
Wajah Ludwig memerah malu. Tapi kemudian kembali sedih. Lebih sedih dari sebelumnya.
Selesai berpamitan, kami masuk ke dalam stasiun. Dari dalam stasiun, aku melihat Ludwig masih berdiri di tempatnya.
“Biar aku saja yang membeli tiket.” Azuro berjalan menuju loket tiket.
Aku, Tiha, dan Aras menunggu Azuro di bangku stasiun. Tidak lama kemudian Azuro menghampiri kami dengan membawa empat tiket kereta.
“Kita akan naik kereta kelas satu. Uang kita cukup untuk membelinya.” Azuro menyerahkan tiket kereta pada kami.
“Habis.” Azuro mengucapkannya tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Bagaimana kita bertahan di Dumbrige nanti?” Tiha protes kepada Azuro.
“Selama kalian di Dumbrige, Geerginlik akan memenuhi kebutuhan kalian. Tenang saja.” Azuro menunjukkan kuasanya.
“Bangsawan memang berbeda,” kataku.
Dari tiket yang aku dapat, kereta kami akan berangkat pukul enam sore. Sekarang masih jam empat sore. Kami harus menunggu selama dua jam di stasiun.
Dua jam kemudian
“Mohon maaf karena terjadi kesalahan teknis, kereta tujuan Dumbrige akan terlambat selama tiga jam. Kepada seluruh penumpang diharapkan pengertiannya.
“Eh, kereta kita terlambat tiga jam?” Tiha membaca jadwal kereta di tiketnya. “Kita baru pergi jam sembilan malam.”
“Bagaimana bisa? Kalau kereta itu kereta kelas dua atau ekonomi aku bisa mengerti. Tapi ini kereta kelas satu. Kereta ini tidak pernah terlambat.” Azuro bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi.
“Kau mau ke mana?” tanyaku.
“Kantor kepala stasiun. Aku tidak mau menunggu di sini selama tiga jam.” Azuro terus berjalan ke kantor kepala stasiun.
Aku tidak bisa membiarkan Azuro sendiri. Tempat ini sangat ramai. Meskipun dia selalu berusaha bersikap keren, dia tetap anak kecil. Aku menyusul Azuro menuju kantor kepala stasiun.
Aku dan Azuro sudah sampai di depan ruangan kepala stasiun. Azuro mengetuk pintu ruangan.
Tidak ada jawaban.
Azuro mengetuk lagi hingga tiga kali. Tapi tetap tidak ada jawaban. Ruangan ini tidak kosong. Aku bisa mendengar suara orang dari dalam.
“Aku sudah muak.”
BRAKK
Azuro membanting pintu ruangan kepala stasiun.
Kepala stasiun terloncat dari sofa. Wajahnya kusut. Ruangan ini berbau alkohol. Sepertinya dia mabuk lalu tertidur.
“Siapa orang yang berani masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu?” Kepala stasiun berteriak marah.
“Jadi ini yang kau lakukan selama bekerja, Claude?” Azuro menatap kepala stasiun tajam.
“Kau mengenalnya?” bisikku.
Azuro mengangguk.
“Siapa kau ini? Lancang sekali padaku.” Claude tidak terima dengan perlakuan Azuro.
Dahi Azuro berkerut. “Kau hanya kepala stasiun. Aku adalah Azuro Geerginlik, putra Earl Geerginlik. Stasiun ini bisa berdiri karena bantuan Geerginlik. Kereta-kereta yang kau pakai adalah milik perusahaan Geerginlik. Siapa yang lancang itu sebenarnya?”
Mata Claude terbelalak.
“Maafkan aku Tuan Muda. Aku tidak tahu jika itu anda.” Claude berlutut di depan Azuro.
Azuro menatap Claude dengan jijik. “Hati-hati dengan sikapmu, Claude. Walaupun bukan aku, kau harus tetap bersikap hormat. Aku bisa memecatmu kapan saja.”
“Maafkan aku, Tuan Muda.”
“Cukup. Aku ke sini bukan untuk mendengar permintaan maafmu.” Azuro duduk di salah satu kursi ruangan. “Bagaimana bisa kereta kelas satu datang terlambat? Apa ini yang didapat penumpang dari harga mahal atas kereta kelas satu?”
“Maaf Tuan Muda. Jalur kereta banyak yang rusak tiba-tiba. Kereta harus mengantri untuk melewatinya.”
“Bukannya perusahaan sudah mencairkan dana untuk perbaikan?”
Claude diam saja.
“Benar-benar tidak tahu diri!”
Azuro bangkit dari kursinya. “Ayo Violet, kita pergi dari sini. Memuakkan berada dalam ruangan seekor tikus.”
Aku mengikuti Azuro keluar ruangan. Dia memang biasanya memiliki harga diri yang tinggi dan sombong. Tapi kali ini dia keterlaluan.
“Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?” Aku perlu tahu alasan Azuro hingga dia memperlakukan Claude seperti itu.
“Tidak perlu mengasihaninya. Dia mengkorupsi dana perbaikan rel kereta. Setelah aku tiba di Dumbrige, dia akan aku pecat."
__ADS_1
“Tikus perusahaannya.” Aku paham apa yang dilakukan Azuro. Jika aku menjadi Azuro, mungkin aku sudah menebasnya di tempat.
Aku dan Azuro sudah sampai di tempat Tiha dan Aras.
“Kita terpaksa menunggu tiga jam lagi,” kata Azuro.
“Yah.” Tiha menjatuhkan diri ke kursi. Tiba-tiba dia bangkit. “Bagaimana jika kita menonton konser Ludwig. Dia memberi kita tiket ‘kan?”
“Kau benar. Kita bisa menunggu kereta datang sambil menonton konser Ludwig.” Aras menyetujuinya.
Aku membaca lokasi konser Ludwig di tiket.
“Gedung opera Teatro La Vienna. Dimana itu?” tanyaku.
“Jalan utama kota Vienna. Kita tadi melewatinya,” jawab Azuro.
“Gedung opera yang besar itu.” Aku teringat gedung opera megah yang aku lihat ketika berada di jalan utama.
“Tidak perlu banyak berbicara lagi. Ayo kita pergi ke sana!” seru Tiha.
Jarak stasiun kereta dengan Teatro La Vienna tidak jauh. Kami hanya perlu sepuluh menit menaiki kereta kuda.
“Tunggu. Ada tempat yang ingin aku datangi. Bisa kita ke sana?” pinta Azuro.
“Aku rasa tidak masalah. Konser masih dimulai satu jam lagi.” Aku menatap jam di kereta kuda.
“Beri tahu aku arahnya, Azuro,” kata Aras.
Kereta berbelok dari jalanan utama menuju jalan lain. Kami memasuki sebuah kompleks rumah mewah di Vienna. Kebanyakan rumah terlihat terang tapi sepi.
“Kenapa di sini sepi sekali?” Tiha memandangi rumah-rumah di sepanjang jalan.
“Para pemilik rumah pasti sedang pergi ke konser Ludwig. Bagaimanapun juga Ludwig adalah orang yang sangat terkenal. Ini konser pertamanya setelah menghilang selama dua tahun. Konsernya pasti dincar oleh banyak bangsawan dan orang-orang kaya,” jelas Azuro.
“Aras, berhenti di rumah itu.” Azuro menunjuk rumah paling besar di antara yang lain.
Azuro turun dari kereta. Aku, Aras, dan Tiha mengikutinya. Kami memasuki halaman rumah mewah ini.
“Rumah siapa ini?” tanyaku.
“Ini mansion milik wangsa Geerginlik di Vienna,” jawab Azuro.
Pintu vila terbuka. Empat orang pelayan menyambut kami. Dua orang pelayan laki-laki dan dua pelayan perempuan.
“Selamat datang Tuan Muda.”
“Aku tidak menyangka kau ada di sini, Blue.” Azuro menatap salah satu pelayan laki-laki.
“Saya memperkirakannya dari pesan anda, Tuan.” Blue membungkuk kepada Azuro.
Dari pengamatanku, wangsa Geerginlik adalah wangsa yang sangat kaya. Terlihat dari mansion mereka yang paling besar di Vienna. Sumbangan pembangunan stasiun. Perusahaan kereta. Aku yakin itu hanya salah satu perusahaan yang dimiliki Geerginlik.
“Hari ini aku hanya mampir sebentar. Aku butuh empat pakaian yang pantas untukku dan teman-temanku,” kata Azuro.
“Baik, Tuan.”
Masing-masing dari kami ditemani satu pelayan menuju sebuah kamar. Dia mengantarku menuju kamar di lantai dua.
Pelayan itu membukakan lemari di kamar. “Pilihlah pakaian yang Nona suka.”
Aku mengambil sebuah pakaian yang elegan tapi cukup praktis. Gaun lain memang lebih indah. Namun pakaian yang aku pilih memudahkanku jika terjadi keadaan darurat.
“Bisa kau keluar?” pintaku.
Pelayan itu mengangguk. Dia lalu keluar kamar.
Aku menanggalkan pakaian Tiha kemudian berganti dengan baju yang aku pilih. Pakaian Tiha sangat efisien. Aku ingin terus memakainya. Tapi aku yakin dia ingin memakai ini. Pakaian biasa sudah terlalu kuno baginya.
Tok tok tok
“Violet, apa aku bisa mengambil pakaianku?” Sesuai dugaanku. Tiha datang untuk mengambil pakaiannya.
“Tunggu sebentar.” Aku mengambil pakaian Tiha di kasur.
Aku membuka pintu kamar lalu menyerahkan pakaian itu kepada Tiha.
“Terima kasih. Pakaian di rumah ini terlalu rumit dan menyusahkan. Aku tidak bisa memakainya,” kata Tiha.
“Kau benar.” Aku mengangguk setuju.
"Ini bajumu." Tiha ganti mengembalikan bajuku yang dikenakannya tadi.
Aku menerimanya. "Terima kasih."
Tiha mengangguk. Dia kemudian kembali ke kamarnya. Pelayan yang bersamaku tadi mendatangiku.
“Nona, mari saya antar anda ke ruang tamu.”
Aku mengangguk.
Aras dan Azuro sudah berada di ruang tamu. Azuro mengenakan setelan jas biru bercelana pendek dengan pita dasi. Aras sendiri mengenakan setelan jas hitam panjang dengan mantel hitam. Mereka juga memakai tongkat khas seorang bangsawan.
“Bagaimana dengan amethyst? Kau tidak melupakannya ’kan?” tanya Aras.
“Tenang saja. benda itu selalu aku bawa,” jawabku.
“Masukkan permata itu ke sini.” Azuro menyodorkan sebuah kotak bening kecil. “Kotak ini biasa untuk menyimpan serpihan sapphire dalam penelitian yang dananya ditunjang Geerginlik.”
Aku mengawasi sekitar, memastikan tidak ada orang di dekat kami. Walaupun hanya pemilik galur murni yang peka merasakan energi permata, manusia biasa juga dapat merasakannya jika dekat dengan permata atau permata mengeluarkan gelombang yang sangat besar seperti kemarin.
Aku mengeluarkan amethyst. Aras dan Azuro tersentak ketika amethyst muncul. Mereka pasti merasakan energi amethyst yang besar. Aku memasukkan amethyst ke dalam kotak lalu menutupnya. Seketika energi amethyst itu menghilang. Sebenarnya tidak menghilang tapi menjadi kecil sekali. Mungkin hanya aku, pemilik galur murni Klan Ungu saja yang dapat merasakannya.
“Aku datang.” Tiha berjalan dari tangga utama. Dia memakai gaun berenda dan topi bonnet. Rambutnya dikucir dua seperti biasa.
“Kau selalu terlambat, Tiha.” Azuro melihat jam sakunya. “Ayo kita berangkat. Ini sudah jam tujuh.”
Kami menaiki kereta kuda milik wangsa Geerginlik. Kereta ini jelas berbeda. Ada lambang wangsa Geerginlik di pintu kereta. Penariknya adalah dua kuda hitam yang gagah. Desainnya berkelas dan sangat nyaman. Kereta Geerginlik berjalan mulus seolah tidak ada jalan yang kasar. Ini adalah kendaraan paling cocok untuk Azuro dan Aras. Mereka tidak akan muntah seperti kemarin.
Kereta kuda berhenti di depan Teatro La Vienna. Kusir kami, Blue membukakan pintu kereta.
“Silahkan Tuan Muda.”
Azuro turun dari kereta lebih dulu. Disusul aku, Aras, kemudian Tiha. Gedung ini ramai didatangi orang-orang dengan pakaian bagus. Kami menyerahkan tiket kepada salah satu petugas.
“Mari saya antar Tuan dan Nona menuju tempat duduk Anda sekalian.” Petugas itu memandu kami.
Kami naik ke lantai dua gedung, menuju kursi penonton VIP yang berada di lantai dua.
“Silahkan Tuan dan Nona.” Petugas itu membukakan pintu ruangan.
Ini adalah ruangan khusus tamu VIP. Kami rmendapatkan ruangan pribadi dengan kursi sofa yang empuk. Minuman dan camilan yang selalu tersedia di meja. Dan teropong pribadi untuk melihat pertunjukkan lebih dekat.
Kami sudah terlambat. Konser sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Tapi kami masih punya waktu setengah jam untuk menyaksikan konser Ludwig sebelum pergi ke Dumbrige.
Aku hanya pernah melihat Ludwig bermain piano dan menjadi konduktor kecil. Sekarang dia tampak mengagumkan. Tidak seperti Ludwig yang aku kenal. Dia sekarang berubah menjadi orang yang bisa mengusai seluruh orang di Teatro La Vienna. Padahal dia berdiri membelakangi penonton tapi dia terlihat kuat dan meyakinkan. Ludwig menyihir semua pendengarnya untuk mendengar musiknya lebih lama. Menyadarkan semua orang bahwa musiknya mengagumkan.
Telinga dan mataku tidak bisa lepas dari permainan Ludwig. Sungguh sayang, Ludwig tidak bisa mendengar karyanya sendiri.
Ludwig selesai menampilkan beberapa lagu. Sebelum dia melanjutkan ke lagu lain, dia berbalik badan ke penonton.
Seorang laki-laki muncul dari bawah panggung. Dia memegang sebuah kertas.
“Hari ini Tuan Ludwig van Bethoveen akan menampilkan sebuah lagu baru. Lagu utama untuk konser ini. Lagu ini tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan. Namun sayangnya laki-laki ini tidak bisa mendapatkan perempuan yang dicintainya. Dengarkanlah Fur Elise.”
Tawaku menyembur keluar saat melihat wajah Ludwig yang bingung dan kesal karena laki-laki itu salah membacakan judul lagu barunya. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain kembali menghadap pemain orchestra dan memulai penampilannya. Dia mengangkat batonnya. Tanganya mulai bergerak, memberi perintah pada pemain orchestra.
Musik mulai mengalun. Fur Elise ternyata memang Fur Violet, lagu yang diciptakan Ludwig untukku. Ludwig membuatnya atas permintaanku ketika kami masih di Jadnew.
Lagu itu masih sama tapi lebih indah dan sedih. Aku bisa merasakan perasaan Ludwig dalam lagu Fur Elise. Dia memang pernah mengatakan suka kepadaku tapi aku kira dia hanya main-main saja.
Ludwig mendapat standing ovation setelah menampilkan lagu Fur Elise. Semua orang mengangumi lagu barunya. Ludwig berbalik badan sekali lagi untuk memberi hormat. Saat itu mataku bertatapan dengan Ludwig.
Cukup dengan tatapan mata, aku dan Ludwig bisa berbicara satu sama lain.
Aku sudah bilang orang lain akan salah membacanya.
Kau benar. Aku menyesal.
Tapi terima kasih. Itu sangat indah.
__ADS_1
Dia tersenyum kepadaku lalu kembali berbalik kepada pemain orchestra, melanjutkan konsernya.