Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 30


__ADS_3

Kapal Geerginlik sudah memasuki wilayah Klan Biru Barat. Dari kejauhan, aku bisa melihat pelabuhan kota Llundain yang sepi. Tiha, Bara, dan Aras sudah bergabung denganku, Ichi, dan Ludwig di dek kapal. Kami berencana pindah ke kapal yang lebih kecil untuk pergi ke pelabuhan tersembunyi milik Geerginlik di pinggiran Llundain.


Satu-persatu kami turun dari kapal dan menaiki sekoci. Bara dan Ichi mendayung sekoci ke barat laut, menuju pinggiran Llundain. Hanya sedikit kapal yang berlayar melintasi laut. Badai hujan asam tadi malam membuat lebih banyak orang memilih diam di rumah daripada beraktifitas di luar.


Pinggiran Llundain ternyata sangat berbeda dengan Llundain, ibukota Klan Biru Barat. Banyak rumah kumuh di sepinggiran pantai. Beberapa mata menatap kami tajam ketika sekoci kami masuk ke bagian sungai di sana. Ada lebih banyak rumah kecil dan tidak tertata di  bantangan sungai. Aku juga beberapa kali melihat manusia klan lain selain klan biru di sini. Tadinya aku heran kenapa mereka tidak terkejut melihat kami yang bukan dari klan Biru, ternyata diantara mereka juga ada klan asing.


Kami terus bergerak hingga masuk ke terowongan saluran air. Makin masuk ke dalam, semakin gelap. Tiha menggunakan keistimewaannya. Dia menangkap cahaya matahari dan memasangkannya di pinggiran kapal.


“Berhenti di dekat lampu itu.” Ludwig menunjuk lampu yang bersinar remang tak jauh di depan sekoci.


Sekoci merapat ke tepi, mendekati lampu yang ditunjuk Ludwig. Ada sebuah tangga yang mengarah ke atas di pinggir saluran air.


Ludwig turun dari sekoci diikuti kami berenam. Tiha berjalan di samping Ludwig untuk menerangi jalan.


“Ini adalah salah satu tempat darurat wangsa Geerginlik. Tapi setahuku tempat ini sudah lama tidak terurus.” Ludwig memberitahu.


Ada sebuah pintu di ujung tangga. Ludwig mengeluarkan sebuah kunci. Dia lalu membuka pintu itu.


“Mungkin akan berdebu di sini,” kata Ludwig.


Pintu terbuka. Ruangan milik wangsa Geerginlik itu terlihat. Kami memasukinya.


“Tidak terurus apanya? Jelas tempat ini masih dipakai,” komentar Tiha saat pertama kali melihat ruangan ini.


Tempat tersembunyi ini bersih, hanya sedikit berdebu. Selain itu ada banyak barang di sini dari pakaian hingga makanan. Tempat ini hanya satu ruangan tapi sangat luas. Di salah satu dinding, terdapat senjata-senjata yang dijajar rapi. Ada juga baju tempur berbagai model yang dipajang di dekat sana.


Di bagian lain, ada kotak kayu berisi cat rambut Geerginlik yang ditumpuk tiga, meja kerja, rak-rak berisi dokumen penting, dan masih banyak lagi.


“Tempat ini mungkin salah satu markas Geerginlik,” kata Aras.


“Kau tidak tahu tentang tempat ini?” tanya Ichi.


Ludwig menggeleng. “Aku hanya keluarga cabang. Hal-hal seperti ini diurus keluarga utama wangsa Geerginlik.”


Aku melihat-lihat meja kerja yang dipenuhi kertas. Mataku tertarik pada sebuah kertas bertulis nama orang yang sepertinya aku tahu. Ada dua nama di kertas itu, Elgar James Peter Orchid dan Viscount Raymond. Mereka berdua adalah orang yang pernah aku temui di Klan Biru Barat. Nama Viscount Raymond sudah dicoret dengan tinta merah. Coretan itu menciptakan prasangka baruku kepada wangsa ini.


“Kalian bisa menggunakan semua barang yang ada di sini, kecuali dokumennya. Kalian tidak bisa membawanya pergi,” kata Ludwig.


“Benarkah?” tanya Tiha.


“Iya, kalian bebas menggunakannya,” jawab Ludwig. “Oh ya, Azuro bilang kalian menitipkan uang tiga juta guinea padanya untuk pelelangan besok.”


Kami mencerna cepat mengenai ucapan Ludwig. Dari ucapannya, uang itu pasti adalah uang yang dimaksud Azuro untuk membeli permata hijau yang akan dilelang di kapal Titanic.


“Aku akan mengurusnya jika kalian berhasil mendapatkan permatanya.”


“Terima kasih, Ludwig,” kataku


Ludwig mengangguk. “Kalian beristirahatlah di sini. Ada beberapa hal yang harus aku urus dulu di luar.”


“Hati-hati, Ludwig,” pesan Bara.


“Aku pergi dulu,” pamit Ludwig.

__ADS_1


Ludwig menutup pintu ruangan. Dia sudah pergi. Aku kembali mencermati dokumen di atas meja. Aku membaca satu persatu dokumen di sana. Selain dua nama tadi, ada nama lain yang aku ketahui. Nama itu adalah Duke Johan Lancaster. Duke Lancaster dulu meninggal karena dibunuh. Seingatku pelaku pembunuhan itu adalah Aras.


Aku melirik Aras yang sedang melihat-lihat senjata yang dipajang. Katanya ketika kasus itu terjadi, Klan Biru Barat sangat gempar karena Duke Lancaster adalah bangsawan sangat berpengaruh saat itu.


Di dokumen ini, nama Duke Lancaster sudah dicoret dengan tinta hitam, berbeda dengan Viscount Raymond yang dicoret dengan tinta merah. Di halaman selanjutnya terdapat riwayat hidup Duke Lancaster dan kasus-kasus yang berkaitan dengannya. Dari dokumen ini aku tahu jika Duke Lancaster adalah oposisi kelompok bangsawan yang mendukung Ratu Mai. Karena popularitasnya yang luar biasa diantara para rakyat, eksistensinya mengancam Ratu Mai.


Sepertinya pembunuhan Duke Lancaster oleh Aras dan wangsa Geerginlik memiliki hubungan. Tapi aku belum tahu hubungan apa itu karena Aras dan Azuro juga terlihat baru pertama kali bertemu di misi ini.


“Violet, apa kau tidak memilih baju bertarung baru?” Ryza menghampiriku, sepertinya dia tadi juga melihat-lihat baju tempur bersama Aras.


Aku menyadari bajuku sudah sobek dan rusak sepanjang misi ini berjalan. Baju bertarungku memang tidak sebagus perlengkapan militer Klan Ungu karena aku ingin baju yang memudahkanku bergerak. Mungkin sekarang waktunya aku berganti baju. Aku sempat melihat sekilas baju tempur  yang dipajang. Beberapa mungkin cocok denganku.


“Aku rasa aku memang membutuhkan baju baru.”


Aku mengikuti Ryza menuju bagian baju tempur. Meskipun disebut baju tempur, baju-baju ini bukan baju yang dilapisi zirah atau baju perang. Ada beberapa yang seperti itu tapi kebanyakan adalah pakaiana bertarung yang ringan dan fleksibel.


Aku memilih pakaian paling cocok diantara puluhan baju di sini. Aku baru menyadari jika baju-baju tempur ini sebagian berbeda baju tempur umum di Klan Biru. Senjata paling umum di Klan Biru adalah pedang. Pistol dan senapan masuk baru-baru ini. Hanya prajurit istana tertentu dan bangsawan kaya raya yang memilikinya. Jadi, baju tempur di sini masih berbentuk zirah. Tapi aku menemukan dua pakaian yang memiliki anti peluru sederhana. Desainnya seperti baju militer Klan Ungu beberapa puluh tahun lalu.


“Ryza, apa kau juga memilih baju baru?”


Baju yang dipakai Ryza sangat sederhana. Hanya sebuah baju terusan berlengan pendek selutut yang terbuat dari kulit hewan. Kulit hewan lebih tahan api daripada kain tapi akan lebih aman jika bajunya lebih tertutup.


“Aku rencananya ingin memakai ini.”


Ryza menunjukkan baju berwarna krem beraksen hijau. Baju itu dilengkapi jubah bertudung. Aku lihat jubah itu adalah jubah tahan api.


“Bagaimana, Violet, menurutmu?”


“Itu bagus. Warnanya bisa membuatmu berkamuflase ketika sedang bertarung menggunakan keistimewaanmu. Jubahnya juga tahan api. Kau akan lebih aman memakainya.”


Setelah beberapa kali melihat, pilihanku jatuh pada baju sederhana berwarna hitam–ungu. Baju yang aku pilih juga memiliki jubah bertudung tahan api. Baju itu juga dilengkapi sepatu bot yang menutupi hingga betis dan sarung tangan.


Ichi, Bara, dan Aras juga memilih baju tempur mereka yang baru. Mereka bertiga memilih baju yang tidak terlalu jauh beda dengan baju mereka sebelumnya, warnanya pun sama. Entah kebetulan atau memang disengaja, hampir setiap model baju tempurnya memiliki tujuh pilihan warna yang berbeda.


“Violet dan Ryza harus tetap memakai gaun selama di Titanic. Tidak masalah baju apa yang dipakai para lelaki. Tapi kita–perempuan harus tetap memakai gaun. Tidak ada perempuan yang memakai baju tempur di sana,” ujar Tiha dari sofa.


Ucapan Tiha benar. Tidak mungkin kami menggunakan baju tempur selama di Titanic. Titanic adalah kapal untuk berpesiar, bukan kapal perang. Para penumpangnya pasti mengenakan pakaian-pakaian bagus mereka untuk berlibur. Namun bukan berarti tidak ada ancaman di sana. Kami harus siap bertarung.


Bertarung menggunakan gaun agak merepotkan tapi aku masih bisa bertarung dengan baik. Aku tidak terlalu mempermasalahkan baju yang aku pakai. Pelatihan militer di Klan Ungu menuntut para pesertanya untuk bisa bertarung dalam keadaan apapun.


“Kalian bisa memakai baju bertarung kalian dibalik gaun.” Tiha menambahkan.


“Tenang saja, Tiha. Aku sudah memikirkannya,” jawabku.


Ryza juga sependapat.


“Kau bermain pedang juga, Ichi?” tanyaku ketika melihat Ichi mengambil sebuah rapier.


“Aku biasa bermain pedang di Klan Putih. Pada awal misi aku sempat membawa pedang tapi pedang itu hilang ketika kita jatuh dari wilayah Klan Putih.”


Bara tidak mengambil senjata apapun. Dia sepertinya sangat percaya diri dengan keistimewaannya. Keistimewaan api memang kuat tapi jika dia masuk ke pertarungan jarak dekat, dia akan kesulitan.


“Kau tidak mengambil senjata, Bara? Kau bisa kesulitan di pertarungan jarak dekat jika hanya mengandalkan keistimewaanmu.”

__ADS_1


“Tenang saja, Violet. Aku ahli bertarung dengan tangan kosong.”


Aku mengangguk mengerti.


Aras juga mengambil senjata. Dia tidak mengambil pedang. Dia mengambil pisau. Terakhir kali aku bersamanya, dia memang sangat payah dalam bermain pedang tapi kemampuannya bertarung menggunakan pisau bisa dianggap lumayan. Seharusnya kemampuannya sudah jauh meningkat dibanding dulu. Selain itu dia juga sangat baik dalam pertarungan tangan kosong.


Aku sendiri mengambil pedang dan pistol. Entah pedang ke berapa ini. Sejak misi dimulai aku sering sekali kehilangan pedang. Selain kedua senjata itu, aku juga mengambil sebuah pisau. Pisau dapur Ludwig masih ada, aku mengambil lagi untuk berjaga-jaga.


“Wah, hebat! Ada ini juga,” seru Tiha.


Dia mengambil sebuah senapan berlaras panjang. Bentuknya agak berbeda dari senapan yang biasa aku lihat. Menurutku, senapan itu terlalu moderen untuk Klan Biru sekarang.


“Ini buatan Klan Jingga, lho, meskipun sudah agak lama. Yah, aku tidak heran dengan jaringan wangsa Geerginlik yang sebesar itu, mereka bisa dengan mudah mendapatkan ini.”


“Pantas saja. Aku ragu Klan Biru yang sekarang bisa membuat senjata semoderen itu.”


Aku memperhatikan senapan itu. Ada lambang Klan Jingga yang terukir di gagang senapan. Bukti jika senjata itu memang dari Klan Jingga.


“Senapan ini bisa menembakkan laser dan peluru biasa. Jika sudah di tembakkan, pelurunya bisa meledak dan menciptakan tiga peluru lebih kecil. Jika terkena tembakan ini, efeknya sangat parah. Tiga peluru itu juga masih bisa meledak menciptakan peluru lebih kecil dan itu terus terjadi hingga ukuran nano jika masuk ke dalam tubuh manusia. Kemungkinan besar, orang yang terkena tembakan ini akan mati atau paling ringan cacat seumur hidup. Lasernya juga bisa menembus baja setebal tiga meter.”


“Senjata yang mematikan.”


“Tapi senapan ini hanya tinggal bisa digunakan satu kali saja. Pelurunya tinggal satu.” Tiha mengecek bagian dalam senapan.


“Klanku sering memperbarui senjata tempur tapi kami tidak suka berperang. Menciptakan senjata adalah hobi dan strategi untuk menakuti klan lain saja agar tidak macam-macam dengan kami. Klanmu Klan militer, kan? Aku yakin senjata di sana lebih mematikan.”


Banyak macam senjata di Klan Ungu. Dari segi persenjataan, klanku memang paling unggul dibanding klan lain, termasuk Klan Jingga. Kami memfokuskan perkembangan teknologi pada senjata. Tapi senjata biasa seperti pedang, pisau, atau panah masih sering kami pakai karena ketiganya adalah senjata dasar. Lagi pula senjata-senjata berteknologi tinggi tidak dijual bebas begitu saja. Perlu ijin rumit untuk memilikinya atau harus menjadi anggota pasukan khusus untuk memakainya.


Aku dan Tiha bergabung di sofa bersama Ryza. Dia sedang baru saja daging panggang. Asapnya masih mengepul diantara udara yang dingin. Ada buah dan camilan lainnya yang diambil oleh Bara. Aras dan Ichi ikut bergabung bersama kami.


“Soal pelelangan itu, apa ada yang sudah pernah melakukannya?” tanya Bara di sela-sela makan.


“Aku tidak pernah ikut pelelangan tapi aku pernah menyaksikannya,” jawab Aras. “Lagi pula biasanya akan diumumkan peraturan lelang sebelum acaranya dimulai.”


"Baguslah kalau seperti itu," kata Ichi.


“Aku agak khawatir perjalanan kita di Titanic,” kata Ryza.


Ludwig tidak ikut kami menaiki kapal Titanic. Kami berenam bukan bangsawan, apalagi bangsawan Klan Biru. Tidak ada istilah bangsawan di klan lain selain Klan Biru. Para bangsawan sering memperhatikan sikap dan harga diri mereka.


“Aku pernah dengar tentang kapal Titanic. Kapal ini adalah kapal pesiar pertama di Klan Biru yang akan berlayar menuju wilayah terluar Klan Biru yang dekat dengan Klan Hijau. Selain yang pertama, Titanic adalah kapal termewah. Aku yakin penumpangnya hanya bangsawan dan mungkin keluarga kerajaan atau pengusaha kaya saja,” terang Aras.


“Semoga tidak terlalu merepotkan di sana,” kata Ichi.


“Aku tidak suka dengan acara para bangsawan. Mereka senang berpesta dan itu hanya membuat capek saja.” Bara menghela napas kesal.


“Anggap saja kita sedang bersenang-senang sejenak di sana. Titanic adalah kapal mewah. Di sana pelayanannya pasti sangat bagus, Manfaatkan kesempatan ini,” kataku.


"Wah, aku tidak mengira kau akan berkata seperti itu. Aku kira kau orang yang hanya berfokus pada misi," komentar Ichi.


"Aku bukan orang yang kaku sepertimu," balasku.


Setelah makan, kami kembali ke aktifitas masing-masing. Aku sendiri sedang menyiapkan barang untuk perjalanan di Titanic. Aku membawa tiga koper besar. Sebenarnya tidak ada barang penting. Hanya gaun dan aksesoris saja juga beberapa keping emas tapi gaun-gaun itu sangat tebal hingga memakan banyak tempat.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk berisitirahat setelah berkemas. Aku perlu mengumpulkan tenaga untuk perjalanan besok.


__ADS_2